Tahun Politik (Percobaan)

Karena ini Tahun Politik Indonesia sekaligus Tahun World Cup…maka tahun ini adalah tahun yang mendebarkan sejak tahun 1998 silam….saya mau nulis status2 Politik aaahhh…nah…sekarang soal PDIP Continue reading

Advertisements

CERITA TENTANG NAIK KELAS (Part 2)

Previous story:     Cerita terakhir di part 1 menceritakan tentang kelangkaan sebuah jam tangan antik yang membuat sebuah jam tangan tua mampu dihargai sampai miliaran rupiah.

Memang tidak mayoritas yang akan mengincar jam tangan super langka tersebut, namun barang ini akan tetap dikejar oleh beberapa kelompok. Bangsawan, para elite atau para keluarga kerajaan. Ya masa saya yang mau beli jam tangan itu. Ngimpi! Kalau kata om Jin.

Dalam beberapa artikel ekonomi yang saya baca (sok aja, padahal cuma baca judulnya), indeks peringkat ekonomi Indonesia masih di ranking 50 dalam persaingan di pasar globalisasi, padahal tetangga kita aja, Singapura ranking dua dunia.
Indeks dalam Global Competitiveness yang disurvey oleh WEF (World Economic Forum) ini melambangkan kemakmuran suatu negara, dan indeks ini sering dipakai oleh kepala negara untuk menunjukkan kemajuan negaranya atau ketika mempromosikan surat utangnya.
Dalam hal ini, terlihat bahwa usaha Indonesia dalam persaingan globalisasi masih terlihat kurang kreatif dan kurang mau berusaha lebih tinggi lagi dalam mewujudkan sebuah ke-authentic-annya dalam menciptakan produk level dunia yang khas.
3. Cerita tentang Masakan Khas yang Mendunia
Dalam artikel tulisan Wiliam Wongso – Pakar masakan Indonesia di majalah National Geographic Indonesia edisi awal 2012 (lupa edisi bulan apa), bahwa kita memiliki beragam kebudayaan, salah satunya masakan khas Indonesia, salah satunya lagi yang paling terkenal adalah masakan Padang, saya konsentrasikan lagi, rendang Padang. Banyak sebenarnya orang-orang asli Padang yang tersebar di seluruh negara di belahan dunia, yang terbanyak adalah di Belanda. Banyak orang Padang yang tinggal di Belanda dan membuka restoran Padang di sana. Namun rasa rendang Padang yang dijual di sana rasanya benar-benar jauh dibanding resep asli rendang Padang di Indonesia. Mereka tidak mempertahankan ke-authentic-an resep aslinya. Cara memasak rendang Padang yang sebenarnya harus dimasak dengan api kecil dalam air santan dan diaduk sampai 8 (delapan) jam. Banyak orang yang memasak rendang Padang tidak mau repot melakukan hal rumit seperti itu, dan menggantinya dengan bumbu instan dan menjadikannya dalam 1-2 jam saja. Itu kalau di Padang disebutnya ‘Kalio’, bukan rendang! (Sebagai orang Padang, saya juga merasa sebal).
Terlihat dalam cerita di atas, bahwa kita masih kurang memperhatikan value dari sebuah proses yang dikata merepotkan. Padahal proses tersebut yang menjadikan produk kita jadi jauh lebih mahal harganya dibanding dengan produk yang biasa-biasa saja prosesnya.
“Make everything as simple as possible, but not simpler” -Albert Einstein-
4. Cerita tentang Produksi Pasir Silika
Kebetulan dalam setahun ini, saya sedang bekerja sama dengan perusahaan tambang nasional yang di mana bos-bosnya tambang ini sering mengeluhkan bahwa tenaga kerja di Indonesia masih banyak yang malas untuk disuruh melakukan pekerjaan rumit. Mereka hanya bisa menambang dan menjual dalam bentuk raw material (bahan dasar) saja.
Dalam industri tambang silika misalnya, di Indonesia hanya mampu menyediakan raw material pasir silika dalam butiran pasir 10-50 mesh dengan harga Rp100.000 per 50kg dan paling bagus harga bisa mencapai Rp500.000 per 50 kg bila menjadi (sub) mikro-silika 50-200 mesh (Mesh adalah hitungan teknik mengenai jumlah lubang dalam luasan 1 inchi. Misal ukuran 10 mesh, artinya dalam penampang seluas 1 inchi terdapat 10 lobang yang per lobangnya menjadi ukuran silika tersebut).
Indonesia belum mampu memproduksi produk silika lebih tinggi dari yang di atas. Padahal permintaan atas kebutuhan negara-negara maju seperti Jepang dan Jerman, pemilik industri ban-ban radial, moto GP dan pembuat ban pesawat, mereka membutuhkan silika murni 99% dengan ukuran nano (200-900 mesh) dengan harga mencapai Rp1.000.000 per 10kg. Ditambah peraturan menteri Permendag No. 02/M-DAG/PER/1/2007 mengenai ijin ekspor silika di mana mineral yang lain dilarang diekspor. Menunjukkan bahwa kekuatan produksi di Indonesia masih diharapkan bisa meningkat lagi.
Dalam kasus tambang di atas, memperlihatkan bahwa kelas kita baru kelas penyedia komoditi saja, kelas raw material atau bahan dasar. Belum bisa mencapai minimal level barang ber-value. Seperti cerita parfum yang dijual Singapura dan Perancis di artikel ‘Cerita tentang Naik Kelas (part 1)’
Untuk mencapai value yang dapat meningkatkan harga jual memang perlu melalui proses yang lebih rumit ketimbang memproduksi raw material belaka, perlu penanganan oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya. Memerlukan waktu yang lebih panjang, cost yang lebih besar. Namun hasil yang diperoleh pun akan lebih bernilai pastinya. Apalagi untuk mencapai kelas kelangkaan? Sudah, yang penting kita tingkatkan diri dahulu untuk mencapai kelas value. Untuk memiliki produk yang bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi, dan meningkatkan kualitas produk-produk di Indonesia.
Sama seperti pesan-pesan di akhir semua tulisan saya, “Semoga bermanfaat” J

THE BILLIONAIRE, sebuah resensi film (Spoiler Alert)

Siapa bilang menjadi entrepreneur bisa berbuat semaunya? Siapa bilang menjadi entrepreneur tidak perlu menurut pada siapapun? Siapa bilang seorang entrepreneur itu lebih bebas dibanding pegawai? Menjadi entrepreneur itu justru harus lebih disiplin dari orang lain. Ia harus mampu menjadi atasan bagi dirinya sendiri, harus tepat waktu terhadap dirinya sendiri maupun client bisnisnya. Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang film yg baru-baru ini saya tonton. Istilah kerennya ada resensi film. Film ini berjudul THE BILIONAIRE.

Sebelumnya, apakah ada yang pernah makan camilan rumput laut yang bermerk Tao Kae Noi? Biasanya dikemas dengan bungkus plastik berwarna hijau seperti ini.

Dulu saya mengira snack ini adalah buatan Jepang yang memang khas dengan rumput lautnya alias nori. Ternyata produk ini asli buatan Thailand. Tao Kae Noi sendiri merupakan bahasa Thai yang artinya pengusaha muda. Tao Kae Noi memang diciptakan oleh seorang pengusaha muda yang bernama Ittipat Kulpongwanich, yang biasa dipanggil TOP. Kisahnya bermula dari semenjak ia duduk di bangku SMA. TOP saat itu adalah seorang pecandu game online dengan prestasi akademik yang mengenaskan. Namun dari game online itu ia mulai belajar mengenal trading. Ia menjual item-item dari dunia game tersebut dan mendapatkan uang riil. Uang yang dihasilkan dari bisnis ini cukup banyak sampai-sampai TOP mampu membeli mobil di usianya yang masih sangat muda. Mungkin terlihat aneh tapi ini adalah fenomena nyata. Saya sendiri pernah melakukan trading serupa, dan jika dilakukan secara serius memang hasilnya cukup besar. Sayangnya bisnis seperti ini merupakan transaksi ilegal sehingga lama kelamaan akun gamenya di hapus atau istilahnya di BAN. Di lain sisi prestasi akademisnya hancur dan ia tak lulus ujian masuk universitas negeri. TOP dimarahi dan kemudian bertengkar dengan orang tuanya. TOP sesumbar akan mengurus biaya hidupnya sendiri dan tak perlu bantuan orang tuanya.

Berawal dari itu, TOP memulai bisnis riil pertamanya. Dari sisa uang berjualan di dunia maya, ia mulai bisnis DVD player. TOP muda yang belum berpengalaman harus menelan pil pahit pertamanya, ia tertipu oleh supplier dan kehilangan banyak uang. Dari sini ia belajar bahwa menggali informasi sangat penting dalam memulai bisnis. Tak menyerah, ia memulai bisnis keduanya yaitu berjualan Chesnut. Belajar dari kegagalan pertamanya, kali ini ia lebih baik dalam mempersiapkan bisnisnya. Ia menggali informasi sebanyak mungkin, langsung ke lapangan, ke para pedagang chesnut panggang. Ia bertanya ke banyak orang, mencoba, gagal, dan terus mencoba sampai akhirnya ia berhasil membuat chesnut panggang yang sangat enak.

TOP sedang berjualan chesnut panggang bersama pamannya

Disaat teman-teman sebayanya sedang asyik menikmati masa muda, TOP mengisi hari-harinya dengan berjualan chesnut. Ia membuka gerai-gerai di supermarket. Ia sangat terobsesi untuk berekspansi dengan membuka banyak cabang. Namun masalah lain menimpanya. Ayah TOP bangkrut dan kabur ke China beserta seluruh keluarganya. Selain itu Ayahnya meninggalkan hutang sebesar 40 juta Bath (sekitar 12Milyar Rupiah) sehingga rumah dan pabrik mereka kini disita. TOP kini harus tinggal hanya bersama pelayan setia keluarganya (yang biasa ia panggil paman).

Bisnis chesnut panggangnya pun mulai tak berjalan mulus, ia mendapat berbagai masalah terkait ekspansinya. Suatu hari, saat ia sedang berpergian bersama pacarnya. Ia melihat si pacar sedang memakan nori yang telah dikeringkan. Setelah ia coba ternyata rasanya enak, dan TOP bertanya dimana membelinya. Ternyata camilan itu hanya ada di sebuah propinsi yang cukup jauh. Dari situlah TOP mendapat ide, bagaimana bila coba membuat dan berjualan camilan serupa. Tak tanggung-tanggung, TOP menjual semua gerai-gerai chesnutnya untuk modal usaha barunya. Namun kali ini ia kesulitan untuk mendapatkan informasi bagaimana membuat dan mengawetkan rumput lautnya karena memang tidak ada yg melakukan bisnis serupa disana. Membuat camilan rumput laut sendiri adalah hal yang sulit. Ia dan pamannya menghabiskan berkardus-kardus rumput laut untuk mendapatkan camilan yang enak. Karena terlalu kecapekan menggoreng rumput laut, pamannya sampai jatuh sakit. Namun TOP tetap keras kepala, mencoba menggoreng sendiri sampai tangannya melepuh terkena minyak panas. Perjuangan tanpa henti akhirnya membuahkan hasil. TOP berhasil menemukan resep yang pas untuk camilan tersebut. Masalah lain muncul, bagaimana membuat camilan tersebut tetap awet? Tak kehabisan akal, ia mencari ahlinya. Dengan cerdik ia merayu dekan fakultas teknologi pangan. TOP kemudian diajari bagaimana cara mengawetkan rumput lautnya.

Belajar dari bisnis chesnutnya dulu, TOP berpikir bagaimana cara membuat bisnisnya dapat berkembang dengan cepat tanpa terganggu oleh persoalan pembukaan gerai satu-persatu yang memakan banyak waktu dan tenaga. Suatu malam, ketika ia berbelanja 7eleven, TOP mendapat jawabannya. Yak, kerjasama dengan chainstore adalah solusinya. TOP lalu datang sendiri ke kantor 7eleven sambil membawa produknya. Namun produknya ditolak karena berbagai alasan seperti ukuran yang terlalu besar, harga terlalu mahal, dan kemasan yang tidak menarik. TOP menanggapi segala penolakan itu dengan bijak, ia menjadikan penolakan tersebut sebagai saran dan melakukan perbaikan pada setiap aspek tersebut. Setelah melakukan perbaikan, TOP kembali menawarkan produknya ke 7eleven dan berhasil mendapatkan kontrak. Kali ini TOP harus mampu memenuhi persyaratan 7eleven yang sangat berat yaitu memasok sekitar 6000 cabang 7eleven dan memenuhi persyaratan pabrik yang higienis. Perlu diketahui saat itu TOP baru memulai usahanya dengan skala rumah tangga dengan hanya dibantu pamannya. Dan yang lebih mengagetkan lagi saat itu ia baru berumur 19tahun. Bagaimana kelanjutannya, silahkan tonton sendiri yah.

The Founder of Tao Kae Noi

Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini sangat bagus ditonton bagi siapa saja, terutama bagi yang ingin menjadi Entrepreneur. Film ini penuh dengan nilai-nilai dan pelajaran berharga yang sangat diperlukan bagi siapapun yang ingin memulai dan mengembangkan bisnisnya. Oh ya, Ittipat yang menjadi inspirasi film ini juga tampil sebagai cameo dalam film ini, silahkan mencari moment dimana ia muncul :D. Selamat menonton.

The Last Light (OST.THE BILLIONAIRE)

รอนแรมมาเนิ่นนานเพียงหนึ่งใจ
Going on a trip for so long, only one heart
กับทางที่โรยเอาไว้ด้วยขวากหนาม
On a path that’s scattered with thorns
ถูกแหลมคม ทิ่มแทง
Being sharply stabbed
จนมันแทบจะทนไม่ไหว
Until it nearly can’t take it
ชีวิตทำไมยากเย็นขนาดนั้น
Why is life that difficult?
สองมือจะมีเรี่ยวแรงขนาดไหน
However much strength two hands have
แต่หัวใจของคนยังยืนยันจะไม่ถอดใจ
The human heart still stands, not discouraged

ในค่ำคืนที่ฟ้านั้นไม่มีดาวอยู่ตรงนี้ ฉันยังคงก้าวไป
During the nights with starless skies, I’m still moving forward
ยังคงมีรักแท้เป็นแสงนำไปในคืนที่หลงทาง
I still have true love as my guiding light during the nights I get lost

วันเวลาไม่เคยจะหยุดเดิน
When we never stop walking
อย่างไรเราคงต้องเดินไปกับมัน
No matter what, we must walk on with it
เก็บทุกความผิดพลั้ง เป็นคำเตือนให้เราเข้าใจ
Keep every mistake as a reminder for us to understand
ชีวิตเริ่มตรงที่คำว่าฝ่าฟัน
Life begins at the struggle
ขอเพียงใจเราเท่านั้นไม่หวั่นไหว
All I ask is that our hearts don’t waver
บทชีวิตของเรา เราจะทำให้มีความหมาย
We’ll make our life lesson significant

ในค่ำคืนที่ฟ้านั้นไม่มีดาวอยู่ตรงนี้ ฉันยังคงก้าวไป
During the nights with starless skies, I’m still moving forward
ยังคงมีรักแท้เป็นแสงนำไปในคืนที่หลงทาง
I still have true love as my guiding light during the nights I get lost
นาทีที่ความฝันนั้น พร้อมเป็นเพื่อนตาย
The moment that dreams are ready to be true friends
เส้นทางนี้ฉันยังมีจุดหมาย
I still have a goal on this path
ตราบใดที่ปลายท้องฟ้ามีแสงรำไร
So long as the horizon has a faint light
จะไปจนถึงแสงสุดท้าย ยังมีแสงสุดท้าย
I’ll go until the last light, there’s still the last light

ความเดียวดายในคืนเหน็บหนาว
Loneliness during the cold nights
แหงนมองฟ้ายังนึกถึงวันเก่า
Looking up at the sky, I still think of the old days
มันคงจริงที่ทางยาวไกล กร่อนหัวใจ
It’s probably true that the road is long, eroding our hearts
ภาวนากับความมืดมิด ขอให้รักยังคุ้มครองเราอยู่
I pray in the darkness for love to still protect us
เติมพลังให้ใจดวงนี้ ไม่ยอมแพ้
Fill our hearts with strength, we won’t give up

ในค่ำคืนที่ฟ้าท้าทายใจคนอยู่ตรงนี้
During the nights that the sky dares the heart of this person right here
และฉันยังคงก้าวไป
And I’m still moving forward
ยังคงมีรักแท้เป็นแสงนำไป ในคืนที่หลงทาง
I still have true love as my guiding light during the nights I get lost
นาทีที่ความฝันนั้น พร้อมเป็นเพื่อนตาย
The moment that dreams are ready to be true friends
เส้นทางนี้ฉันยังมีจุดหมาย
I still have a goal on this path
ตราบใดที่ปลายท้องฟ้ามีแสงรำไร
So long as the horizon has a faint light
จะไปจนถึงแสงสุดท้าย
I’ll go until the last light

Kepintaran "5cm"

“Luck is what happens when preparation meets opportunity” (Seneca)
Dunia ini mengenal dua macam orang, si pintar dan si bodoh. Pembagian dua kelas ini sudah mengakar kedalam sistem sebuah masyarakat bahwa setiap orang akan melihat seseorang itu pintar atau bodoh. Pembagian ini biasanya tampak dari bagaimana seseorang berpikir, berbicara, dan bertingkah dalam setiap kondisi. Orang pintar mau bagaimanapun caranya akan dipandang sebagai orang yang lebih baik dari orang bodoh.
Jangan terlalu bangga menjadi orang pintar bung! Pepatah sering mengatakan bahwa diatas langit masih ada langit. Adam yang tadinya di Surga turun juga ke bumi karena kesalahannya. Balon yang terbang terlalu tinggi  akan meletus. Burung yang terbang diudara akan tiba saatnya untuk mendarat. Bola yang dilempar keatas akan turun kembali. Orang pintar pun tak selamanya pintar jika ia tidak turun kebawah.
Orang pintar pertama adalah pintar 5cm. Jika diukur dari atas maka kepintarannya hanya 5cm dari bagian tubuh paling atas. Dialah orang yang pintar otaknya. IQ-nya melebihi manusia normal, sehingga ujian hanyalah menjadi selingan.
Orang pintar kedua adalah pintar 10cm. Orang ini lebih maju 5cm dari yang sebelumnya. Kemampuan kognitifnya amat pintar ditambah ia juga memiliki kepintaran vokal. Mereka adalah orang yang pintar dalam berbicara. Perkataannya adalah sesuatu yang amat berharga untuk didengarkan.
Orang ketiga menjadi lebih turun lagi yaitu pintar tangan. Mereka adalah orang yang melaksanakan. Orang ini cakap dalam melaksanakan segala sesuatu. Kinerja mereka patut diacungi jempol. Mereka pandai melaksanakan perintah secara sempurna tanpa melanggar aturan-aturan yang ditetapkan.
Terakhir yaitu orang yang pintar kakinya. Pernah dengar Bob Sadino kan, ini salah satu contoh orang yang melangkah kepintarannya dari bawah. Orang-orang seperti ini pandai dalam melangkah. Segala sesuatu mereka lakukan dengan konsep “just do it”. Orang seperti ini tidak hanya pandai melaksanakan tetapi juga melihat peluang dan menjadi orang pertama yang melakukannya.
Fix and Growth Mindset
Secara biologis, tubuh manusia memiliki sebuah syaraf yang disebut lapisan Myelin. Myelin berada diantara axon dan neuron. Ia terbuat dari berbabai tipe sel, berbagai komposisi kimia dan sistem, namun Myelin memiliki fungsi sama yaitu sebagai respon. Semakin besar lapisan Myelin yang terbentuk maka akan semakin cepat respon terhadap suatu impuls yang sama, Myelin juga menghambat memori yang tersimpan di Axon agar tidak cepat hilang.
DNA Myelin sangat mudah ditemukan pada seorang Entrepreneur. DNA Entrepreneur umunya memiliki lapisan Myelin yang tebal. Myelin menjadi tebal karena dilatih oleh tahapan-tahapan dalam aktivitas manusia. Seorang Entrepreneur memiliki Myelin yang tebal karena mereka telah terbiasa melatih Myelinnya. Hidup mereka berisi 99 kekalahan dan satu kali kemenangan. 99 kekalahan yang dirasakan oleh para Entrepreneur itu menjadikan Myelin mereka tebal sehingga setiap impuls masalah manajemen dapat mereka selesaikan berkat latihan dari kekalahan. Hingga akhirnya mereka merasakan satu kemenangan, kesuksesan besar.
Mari kita kembali lagi pada 4 tipe kepintaran. Keempat kepintaran diatas adalah hal wajib yang dimiliki bagi setiap individu. Setidaknya minimal cukup salah satu dimiliki oleh seorang individu. Baik itu pintar 5cm, 10 cm, tangan ataupun kaki. Kita semua tidak ada yang ingin disebut bodoh bukan? Maka milikilah minimal salah satu kepintaran diatas. Orang pintar akan selalu lebih baik daripada orang bodoh bagaimanapun keadaannya.
Tetapi ada satu kondisi khusus ketika orang pintar dikalahkan orang bodoh. Orang pintar memang lebih pintar dari orang bodoh tetapi semua itu akan hancur jika ia memuja-muja kepintarannya. Pemujaan terhadap kepintaran yang melekat pada diri sendiri akan mengarah pada rasa takut, takut kehilangan kepintarannya. Ia takut, maka ia akan selalu membodoh-bodohi orang bodoh agar tidak menjadi pintar dan mengalahkannya. Sebaliknya orang bodoh,sebagian dari mereka ada yang putus asa, sebagian  dari mereka ada yang berusaha. Mereka yang putus asa akan selalu dibodoh-bodohi orang pintar, tetapi tidak bagi mereka yang berusaha. Mereka yang berusaha akan belajar untuk menjadi pintar. Menjadi pintar agar tidak dibodoh-bodohi karena bagi mereka, orang bodoh, menjadi pintar hanyalah hasil dari usaha. Ketika orang pintar yang ketakutan bertemu orang bodoh yang berusaha maka terjadilah kondisi khusus itu. Kondisi khusus ketika orang pintar berubah menjadi orang bodoh dan orang bodoh menjadi pintar.
Kita memang selalu berbicara mengenai usaha atau perjuangan. Usaha adalah penggerak dari hidup ini. Hidup ini tidak berharga jika tidak ada usaha yang dikejar. Manusia hidup dengan berusaha. Berusaha mengejar apa yang dikejarnya, baik ketaatan pada Tuhan ataupun mengejar kasih sayang kemanusiaan. Orang yang berusaha adalah orang yang selalu menjadi lebih baik di mata yang lain. Sedangkan orang yang berdiam diri hanya akan merugi.
(28 Januari 2012, when i got luckily attending Mr Rhenald Kasali discussion)

The Power of SMK: Belajar dari Mobil Kiat Esemka


Akhirnya, saya dan rekan sekerja bisa liburan awal tahun (org2 mah akhir tahun :P). Kali ini kami berkesempatan berkunjung ke dua kota, Solo dan Yogyakarta. Sekitar pukul 5.30 WIS (Waktu Indonesia Bagian Solo), saya dan rombongan tiba di stasiun Solo Balapan. Dengan mata yang masih sembap karena tak bisa tidur meski naik Argo Lawu (dasar ndeso!), kami sudah ditunggu oleh supir mobil travel untuk kemudian bersiap menuju Grojogan Sewu, Tawangmangu. Berhubung masih pagi dan perut sudah keroncongan, kami memutuskan untuk sarapan di Soto Seger Mbok Giyem (recommended sob!) sebelum berangkat ke tempat tujuan.

Di perjalanan menuju Tawangmangu, saya dan rekan “memergoki” sebuah mobil hitam bertipe SUV dengan plat AD 1 A. Kami pun “mengabadikan” momen berharga tersebut lewat ponsel teman dan fotonya langsung diupload ke Twitter (ndeso kabeh :D). Well, mobil apa sih itu? Ya, saya memang akan bicara tentang sebuah mobil yang sedang happening banget di Indonesia: Esemka! Saking happeningnya, pasca Jokowi (Walikota Solo) menjadikan mobil tersebut sebagai kendaraan dinasnya, kembaran saya Afgan (ngayal :p) pun ikut-ikutan ingin membeli mobil tersebut. Sepulang dari Solo, saya pun termenung bagaimana bisa sebuah mobil Esemka “diciptakan” oleh sekumpulan anak SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)? Apa sich kehebatan anak-anak SMK sampai-sampai produk mereka sekarang menjadi buah bibir di kalangan masyarakat? Sebuah artikel “oleh-oleh” dari saya tentang kekuatan SMK yang mampu menunjukkan kontribusinya bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

Serba-Serbi SMK: Dari Pasukan Tawuran Hingga Kumpulan Engineer Muda Pilihan

Jujur, saya membuat sub judul ini bukan bermaksud untuk menjelekkan nama SMK, sama sekali tidak. Waktu saya masih SD di daerah Lebak Bulus, tempat tinggal saya berada cukup dekat dengan sebuah SMK (nama sekolah dirahasiakan). Nah, kebetulan sebagian siswa di SMK tersebut punya “hobi” tawuran dengan sesama pelajar SMK/SMA lainnya. Selain itu, pada era 1999-2000an pemberitaan tentang tawuran antar sekolah biasanya didominasi anak-anak SMK atau dahulu biasa disebut Sekolah Teknik Mesin (STM). Itulah mengapa citra SMK atau STM dahulu terkesan negatif di mata masyarakat.

Sudahlah, yang lalu biarkan berlalu. Saatnya kita melihat SMK sebagai wajah baru yang mampu mencerahkan bangsa. Berdasarkan Data Pokok SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Kementerian Pendidikan Nasional per Desember 2011, jumlah SMK baik negeri maupun swasta yang tersebar di 33 propinsi di Indonesia saat ini adalah 9875 sekolah. Jika dipecah lagi menurut keahliannya, SMK di Indonesia memiliki enam bidang keahlian yaitu teknologi dan rekayasa; teknologi informasi dan komunikasi; kesehatan; seni, kerajinan dan pariwisata; agribisnis dan agroindustri; bisnis dan manajemen.

Dilihat dari kacamata potensi, jumlah SMK didukung dengan ragam keahlian yang dimiliki menjadi potensi SDM yang tidak bisa diremehkan. Hal ini sangatlah beralasan mengingat porsi kurikulum yang diterapkan di SMK 70% bersifat praktik lapangan dan 30%-nya adalah pemberian teori di kelas. Namun jika dilihat dari jumlah siswa, jumlah siswa SMK saat ini berjumlah 849.196 orang dimana jumlah tersebut masih kalah dibandingkan dengan siswa SMA/MA yang mencapai 1.346.853 orang. Masih sedikitnya jumlah pelajar yang tertarik melanjutkan pendidikannya di SMK disebabkan oleh beberapa hal yaitu Sekolah Menengah Atas masih menjadi pilihan utama para siswa, masih adanya anggapan bahwa pelajar SMK tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, orientasi para siswa pasca bersekolah di SMK yang pada umumnya ingin langsung mendapat pekerjaan dan stigma negatif bahwa siswa SMK sebagai biang tawuran terlanjur melekat di masyarakat. Hal-hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang berat namun sangat mungkin diselesaikan jika ada kesungguhan dan upaya efektif dari pihak-pihak yang terkait. Upaya pertama yang perlu dilakukan adalah “memulihkan” nama baik SMK agar para siswa sekolah menengah pertama tertarik melanjutkan pendidikannya di SMK. Lalu, bagaimana caranya?

Mobil Esemka: Sebuah Getuk Tular Yang “Menular”

Ketika menulis bagian ini, saya jadi teringat iklan layanan masyarakat tentang SMK yang dibintangi oleh om Tantowi Yahya dan Dewi Yull beserta anaknya di sinetron Kiamat Sudah Dekat. Di iklan tersebut ditampilkan “perdebatan” kakak-adik di depan ibunya (Dewi Yull) tentang bersekolah di SMK. Si adik (lupa namanya) bersikeras meyakinkan sang kakaknya (yang ini juga lupa namanya :p) bahwa melanjutkan SMK juga berpeluang mencerahkan masa depannya. Kebetulan sang adik ingin mengambil jurusan elektronika di sebuah SMK dan pilihan tersebut menjadi bahan olok-olokan si kakak dengan redaksi kurang lebih seperti ini: ”Ngapain belajar di SMK? Paling-paling abis lulus cuma jadi montir ?!!”.

Dengan santai, sang adik mengatakan bahwa tetangganya yang dahulu bersekolah di SMK sekarang sudah menjadi manajer dari sebuah perusahaan dan dia juga menguatkan bahwa setelah bersekolah di SMK dia dapat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Alhasil, si kakak dengan gengsi yang masih terpasang di wajah mengakui “kekalahannya” dan sang adik pun berhasil “memenangkan” hati si kakak. Di akhir pariwara, om Tantowi Yahya dengan gaya khasnya mengatakan kalau lulusan SMK selain cerdas tapi juga terampil diikuti sederet kalimat yang berisi pesan bahwa bersekolah di SMK menjanjikan masa depan cerah. Namun keefektifan iklan tersebut masih perlu kita buktikan. Saya pribadi terkadang menilai iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh pemerintah cenderung normatif dan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Contoh saja, alih-alih buat iklan 100% cinta produk Indonesia, eh produk impor semakin membanjir di pasaran tanpa diimbangi penguatan dan perlindungan pada produk domestik yang memadai (tanya kenapa?).

Terus apakah semua upaya pemerintah selalu terkesan “begitu-begitu saja”? Tentu tidak. Seorang garda depan pemerintah daerah Solo berani menggebrak dengan upaya konkret: memakai mobil karya putra daerahnya sendiri yang bersekolah di SMK sebagai kendaraan dinas! Siapa dia? Ya, dia adalah Joko Widodo atau yang beken disapa Jokowi. Walikota Solo yang satu ini tengah menjadi buah bibir di masyarakat karena kesederhanaan dan inovasinya yang menyegarkan guna mewujudkan kota Solo menjadi kota yang tertata dan berbudaya. Menurut saya, inilah langkah nyata pemerintah guna mendukung dua hal penting yaitu karya anak negeri dan promosi SMK tanpa perlu embel-embel iklan layanan masyarakat. Pribadi Jokowi yang sederhana namun cerdas menggagas dan keunggulan mobil Esemka yang dibuat oleh siswa-siswa SMK di Solo berhasil membentuk kolaborasi yang apik dan mampu memberi dampak yang luas. Mobil Esemka buatan SMK Solo segera menjadi primadona pemberitaan di berbagai media, disukai tua dan muda, pejabat bahkan artis. Bahkan Dahlan Iskan, Menteri Negara BUMN, di dalam blognya mengatakan bahwa M. Nuh perlu berterima kasih kepada Jokowi karena telah berhasil “mempromosikan” program kerjanya di Kemdikbud. Mobil Esemka dan Jokowi kini menjadi sebuah getuk tular yang berhasil “menularkan” semangat berkarya di kalangan siswa SMK dan sekaligus membuktikan bahwa bersekolah di SMK mampu mewujudkan karir yang menjanjikan bagi para siswanya di masa yang akan datang. Tiba-tiba terlintas sebuah postulat marketing di lintasan pikiran saya yang terinspirasi dari kisah Jokowi & Esemka: Pakai Dulu Baru Pasarkan!

Jokowi VS Dahlan Iskan: Dua Pandangan, Satu Dukungan

Sebuah fenomena tentu tidak akan lepas dari kontroversi. Mobil Esemka menjadi topik “seksi” yang tidak hanya dipuji namun juga menuai caci. Ketika Jokowi memutuskan mobil Esemka menjadi kendaraan dinasnya, hal tersebut sempat membuat Walikota Semarang, Soemarmo meradang. Menurutnya, upaya Jokowi ketika menggunakan mobil Esemka hanya sebuah upaya cari perhatian agar dirinya semakin populer. Bahkan dia mengatakan tidak akan menggunakan mobil Esemka karena tidak ingin disebut cari perhatian. Orang no. 1 di kota Semarang ini “tidak rela” jika kepopuleran mobil Esemka mengalahkan mobil SMK 7 dan SMKN 1 Semarang. Di sebuah artikel online beliau mengatakan: ”Saya kira di Jateng tidak ada yang melebihi SMK 7 dan SMKN 1. Belum dilaunching sudah kedisikan sik (kedahuluan).”

Saya tidak ingin membahas kritikan kelas teri macam itu (ups, sorry pak). Dari sekian banyak pemberitaan yang berkembang, berita tentang pendapat Dahlan Iskan terhadap mobil Esemka dan pernyataan balik Jokowi atas pendapat Dahlan Iskan menarik perhatian saya. Saya sempat kecewa dengan tanggapan awal pak DI yang menyatakan bahwa mobil Esemka hanya sebuah pembelajaran bagi murid-murid SMK, bukan ditujukan untuk industri. Agar jelas, saya coba searching di belantara Google untuk memahami maksud pernyataan beliau. Di artikel “Jangan Paksa Tiba-Tiba Makrifat”, mantan Dirut PLN ini menjelaskan secara gamblang makna di balik pernyataannya tersebut.

Dia menegaskan bahwa Esemka harus dipahami secara berbeda dengan mobil-mobil lain yang sudah lebih dulu diproduksi massal. Bos jaringan JPNN (Jawa Pos News Network) ini juga menambahkan bahwa untuk menggarap industri mobil nasional diperlukan pembangunan pabrik yang memadai diikuti dengan production line yang serius. Terkait tanggapan Pak Dis (Dahlan Iskan), Jokowi punya jawabannya sendiri. Pria yang dipilih kembali menjadi Walikota Solo tanpa mencalonkan diri ini mengatakan bahwa pernyataan Dahlan Iskan hanya salah persepsi saja.

Menurut Jokowi, mobil Esemka memang dijadikan sebagai media pembelajaran namun tidak menutup kemungkinan hasil produksi para siswa itu diproduksi secara massal. Dia juga menambahkan bahwa mobil Kiat Esemka yang dibuat oleh siswa SMKN 2 Surakarta akan diproduksi PT Solo Manufaktur Kreasi setelah mobil tersebut melengkapi izin dari pihak terkait. Meski berbeda pandangan, dua tokoh yang saat ini digadang-gadang sebagai calon presiden RI 2014 ini memiliki satu apresiasi yang sama: mobil Esemka adalah karya yang bagus dan membanggakan! Bagaimana tidak, SMK yang selama ini dikenal sebagai biang tawuran kini berubah menjadi menjadi “Pabrik SDM” yang berkualitas dan siap terjun ke industri. Menurut kabar terbaru, sebanyak 23 SMK di Indonesia sudah ditunjuk oleh Kementerian Pendidikan melalui produsen otomotif PT Autocar untuk merakit komponen kendaraan Kiat Esemka (antaranews, 2012). Untuk tahun 2012, jumlah mobil Esemka yang siap diproduksi mencapai 500 unit. Semoga sukses sob!

Akhir kata, semoga citra buruk SMK yang buruk di masa lalu dapat berubah menjadi lebih baik. Kolaborasi kompak antara sesama SMK, dukungan “nyata” pemerintah dan tentu saja kita sebagai konsumen dapat menjadikan SMK menjadi salah satu mesin ekonomi Indonesia tangguh.

SMK = Semangat Membuat Keonaran (dahulu)

SMK = Semangat Membangun Karya (sekarang)

Amin :-).

Artikel referensi:

-http://news.okezone.com/read/2012/01/17/340/558698/jokowi-saya-marah-kalau-esemka-dijelek-jelekkan

-http://news.okezone.com/read/2012/01/15/340/557453/soal-mobil-esemka-jokowi-dahlan-iskan-belum-tahu

-http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/01/16/jangan-paksa-tiba-tiba-makrifat/

-http://otomotif.antaranews.com/news/1326596161/mesin-kiat-esemka-solo-disuplai-smk-bekasi

-http://news.okezone.com/read/2012/01/13/340/556810/dahlan-iskan-esemka-mobil-pembelajaran-bukan-industri

-http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/01/289414/289/101/Wali-Kota-Semarang-Nilai-Pengguna-Mobil-Esemka-Cari-Perhatian