Antara Dukun dan Perekonomian

Oleh: Syarif H.
Mengkaitkan sesuatu adalah naluri dasar manusia. Bagi banyak orang, mengkaitkan-kaitkan berbagai permasalahan merupakan hal yang menyenangkan. Lihat saja berbagai berita di TV, ada yang mengkaitkan antara perceraian artis x dengan hubungannya dengan artis y, mengkaitkan antara kasus Gayus dan kasus Century, mengkaitkan gempa jogja dengan lumpur lapindo, dan banyak lagi.
Sudah menjadi “hobi” bagi ekonom untuk mengkait-kaitkan sesuatu. Sebut saja ekonom yang bernama William Philips, beliau mencoba mengkaitkan antara tingkat inflasi dan angka pengangguran, dan hebatnya teorinya bertahan hingga sekarang. Ada juga yang mengkaitkan antara kemiskinan dengan tingkat suku bunga, demokrasi dengan pendapatan, dan banyak lagi. Sebagai seorang ekonom, tentunya penulis juga punya hobi untuk mengkait-kaitkan sesuatu. Pada tulisan ini, penulis mencoba mengkaitkan antara preferensi seseorang untuk melahirkan melalui  bantuan dukun dengan pertumbuhan ekonomi.
Pekerjaan membuat penulis berkewajiban untuk menyambangi perpustakan data BPS. Di sana, penulis mendapati buku “statistik Indonesia 2007”. Pada buku tersebut, terdapat berbagai indikator-indikator Indonesia, seperti indikator pertanian, pertambangan, perdagangan, dll. Salah satu indikator yang menarik perhatian penulis adalah pada bab “indikator sosial” dan sub bab “kelahiran bayi”. Penulis baru mengetahui, bahwa pada tahun 2005, jumlah kelahiran yang dibantu oleh dukun (metode tradisional lainnya) mencapai 26% dari total kelahiran, jauh di atas kelahiran yang dibantu oleh dokter yang hanya mendapat porsi 11,04%. Memang, porsi terbesar masih dipegang oleh bidan yang mencapai 58,19%, akan tetapi data ini cukup menggelitik penulis, mengingat bahwa anekdot yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia lebih percaya dukun dibandingkan dokter cukup terbukti pada data-data tersebut.
Pada buku tersebut, data “kelahiran bayi” yang ditampilkan adalah data tahun 2005 dan 2006. Ada hal yang cukup mengejutkan, dimana terjadi kenaikan angka kelahiran dibantu oleh dukun menjadi 30,14% di tahun 2006. Di sisi lain, angka kelahiran dibantu dokter turun menjadi 9,66% dan oleh bidan turun menjadi 56,47%. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru, apa yang menyebabkan angka-angka tersebut bergeser. Faktor apa yang menyebabkan terjadinya perpindahan konsumsi bidan dan dokter menjadi konsumsi dukun. Penulis mencoba mengkait-kaitkan hal ini dengan kondisi perekonomian Indonesia saat itu.
Perekonomian kita tahun 2005 dan 2006
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa perekonomian Indonesia mengalami gejolak hebat di tahun 2005. Kenaikan drastis harga BBM menjadi penyebabnya. Pada tahun 2005, tingkat inflasi Indonesia mencapai 17,1%. Hal ini dipicu oleh kenaikkan harga barang-barang yang mengikuti kenaikkan drastis harga BBM. Implikasi dari kenaikkan BBM ini terasa di tahun 2006. Jumlah penduduk miskin Indonesia mencapi 39 juta jiwa (17,75%), melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang “hanya” 35,1 juta jiwa (15,97%). Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga merosot 5,5 %, yang alhasil membuat jumlah pengangguran Indonesia mencapai 10,9 juta jiwa. Jadi, bisa disimpulkan bahwa terjadi kemerosotan ekonomi yang cukup tajam dari tahun 2005 ke tahun 2006. Lalu, apakah hubungannya dengan “konsumsi” jasa dukun.
Luxurius dan Inferior
Dalam teori barang dan jasa dikenal istilah barang luxurius dan barang inferior. Barang luxurius adalah barang yang konsumsinya akan meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan. Contohnya adalah hubungan antara mobil dan motor. Ketika pendapatan seseorang sedang tinggi (baru naik gaji, dapat gaji ke-13, dll), maka dia akan memilih untuk membeli mobil daripada motor. Akan tetapi, jika pendapatan sedang rendah, maka dia akan lebih memilih motor daripada mobil. Hal ini mungkin terjadi pada hubungan antara “konsumsi” dokter, bidan dan dukun.
Tidak bisa dipungkiri, yang bisa mengakses dokter (untuk membantu kelahiran) hanyalah orang-orang tertentu, yang mempunyai pendapatan menengah ke atas. Di sisi lain, yang mengakses dukun adalah kalangan berpendapatan rendah. Untuk bidan, ini merupakan kasus khusus. Pada dasarnya bidan dapat di akses masyarakat dari berbagai kalangan. Dengan tersebarnya puskesmas di seluruh daerah Indonesia dan adanya askeskin, masyarakat berpendapatan rendah mungkin dapat mengakses layanan bidan. Akan tetapi, seringkali lebih mudah dan murah untuk mengakses dukun daripada bidan. Sehingga, bisa disimpulkan (sementara) bahwa bidan bisa digolongkan ke dalam barang luxurius.
Hipotesis penulis, adanya guncangan ekonomi pada tahun 2006 (akibat kenaikan BBM tahun 2005) menyebabkan terjadinya pergeseran pola konsumsi masyarakat, dari yang tadinya memakai jasa dokter dan bidan menjadi memakai jasa dukun. Berarti, apabila perekonomian masyarakat melemah, maka masyarakat akan berbondong-bondong mencari alternatif lain dalam membantu persalinan, yaitu dukun. Semakin “gawat” kondisi ekonomi Indonesia, maka semakin larislah profesi dukun.
Sudah tentu semua di atas hanyalah hipotesis awam penulis. Bisa benar, bisa juga salah. Banyak variabel yang harus dipertimbangkan untuk menilai apakah memang perekonomian mempengaruhi pilihan seseorang dalam hal melahirkan. Kita bisa memperhitungkan variabel jarak antara masyarakat ke bidan atau dukun, ketersediaan bidan-dokter-dukun di suatu daerah, atau tingkat ekonomi masyarakat di beberapa daerah. Banyak variabel yang harus dipertimbangkan, dan sekali lagi, ini hanyalah upaya penulis untuk mengkait-kaitkan fenomena yang ada. Benar atau tidaknya, mari diteliti lebih lanjut.
Advertisements