Kiamat (Perekonomian) Dunia Di 2012


by: Benjamin ridwan gunawan

Beberapa minggu yang lalu, saya berdiskusi dengan beberapa teman saya yang seorang dosen ekonomi, beliau adalah orang yang menekuni ekonomi makro. Dari diskusi tersebut kami temukan isu yang mengatakan resesi ekonomi 2008 belum berakhir, akan ada gelombang berikutnya yang jauh lebih besar, dan kejadian tersebut dikatakan akan terjadi di tahun 2012. Bila anda pernah mendengar isu kiamat di tahun 2012, maka ini kami sebut “Kiamat Perekonomian Dunia.”

Sistem keuangan yang sudah bobrok dan tak pernah diwujudkan solusi konkritnya. Uang itu sendirilah masalahnya.
Pada jaman dahulu, sistem transaksi kita menggunakan sistem barter, dan alat tukar standarnya adalah emas. Dengan berjalannya waktu, emas tersebut disimpan dalam gudang dan digantikan dengan surat sertifikat kepemilikan emas, dengan alasan jauh lebih praktis ketimbang membawa emas yang berat kemana-mana. Ketika semua orang menyimpan semua emasnya dan menggantinya dengan surat sertifikat kepemilikan emas, awal mula kebobrokan sistem dimulai. Jumlah surat kepemilikan dengan jumlah emas yang disimpan sudah berkembang menjadi tak sama lagi. Jaminan emas sudah diabaikan, yang ada hanya kepercayaan pada selembar surat dari kertas, yang bertuliskan surat kepemilikan emas. Dan surat tersebutlah yang kini berbentuk uang kertas yang sering kita pakai.
Perbankan mencetak uang kertas melampaui persediaan emas yang disimpan, menandakan bahwa uang kertas yang kita pegang tersebut benar-benar tak bernilai sama seperti kertas lainnya. Hanya nilai kepercayaanlah yang melekat pada uang kertas tersebut sehingga kita masih bisa menggunakannya untuk bertransaksi.
Sekarang coba bayangkan, anda memiliki satu koper uang senilai satu milyar rupiah, apakah anda dapat bertransaksi di negara lain seperti di Singapura ataupun di Afrika? Anda harus menukarnya dahulu dengan jenis uang setempat. Nah misalnya lagi, anda memegang uang Euro, atau dollar, yang dikata lebih universal. Apakah uang universal tersebut bisa anda gunakan saat anda tersesat di hutan Amazon dan bertemu dengan orang suku pedalaman setempat? Bandingkan bila pada saat di Amazon, bukan dollar yang anda bawa, tapi emas, jauh lebih bernilai yang mana?
Sebenarnya kita telah merugi, hanya dengan memiliki uangnya saja, bahkan tak pernah anda belanjakan misalnya. Karena nilai uang kertas yang kita pegang terus tergerus oleh inflasi. Harga gula pada tahun 2005, dengan uang sepuluh ribu rupiah bisa anda peroleh 2kg, namun sekarang beli 1kg saja masih kurang genap. Padahal uangnya sama, tulisannya tertera sama “Sepuluh ribu rupiah”, kenapa nilainya menjadi berbeda. Itulah yang disebut dengan inflasi. Akan datang suatu masa, di mana uang yang kita gunakan saat ini tak ada nilainya lagi.

Belajar dari sejarah
Sudah sering diperlihatkan oleh sejarah, sejarah kelam kehancuran perekonomian dunia: Setiap satu-dua dekade selalu terjadi krisis. Perang Dunia I, Perang Dunia II, Krisis Black-Gold, Resesi 1998, Resesi 2008. Tapi kita tak pernah belajar dari masa lalu, kesalahan yang sama selalu terulang kembali. Kesalahan yang dibiarkan ini akan terjadi kembali, dan besok akan terjadi resesi besar lagi.
Investasi di Indonesia kini sedang bagus, tingkat bunga pengembalian hingga mencapai 7-8%. Bandingkan di Amerika dan Jepang hanya 0,5-1% saja. Namun investor yang mendanai perekonomian Indonesia mayoritas adalah orang asing. Begitu uang investasi asing ditarik, maka seperti bangunan setinggi 100 lantai, di mana lantai 1 sampai 80 tiba-tiba menghilang. Puncak bangunan akan terjun bebas, dan mendarat dengan hancur berkeping-keping. Dan ini bukan sebuah perandaian, dan resesi besar tersebut akan benar-benar terjadi.
Inflasi besar-besaranan akan terjadi, suku bunga perbankan meningkat drastis, pinjaman-pinjaman beragunan akan membengkak, banyak terjadi kredit macet, dan akan banyak perusahaan yang gulung tikar atau merger dengan perusahaan lainnya demi menyelamatkan diri.

Solusi

Kekacauan ekonomi yang terjadi ini akan terus terjadi dan terjadi lagi tiap satu-dua dekade, selama kita masih menggunakan uang kertas yang kita pakai sehari-hari. Namun solusi mengganti uang kertas yang kita pakai, dan secara mendadak menggantinya ke sistem lama, sistem barter dan emas, itu tidaklah mudah seperti membalik telapak tangan. Sistem keuangan ini sudah mengakar, dan perlu effort yang luar biasa besar untuk mebetulkannya. Perlu kecerdasan dalam menghadapi keadaan yang dilematis ini, di mana kita tetap berada dalam sistem keuangan yang salah, namun kekayaan anda dapat diselamatkan. Berikut adalah solusi yang bisa anda aplikasikan.
Amankan kekayaan anda:
1.    1.   Milikilah bisnis bersistem yang memutar uang anda yang dapat memberikan nilai lebih dari nilai uang anda sebelumnya. Mengapa harus memiliki bisnis bersistem? Uang anda adalah masalahnya. Anda diamkan saja uang tersebut, maka nilainya akan semakin turun tergerus oleh inflasi. Putar uang tersebut dan hasilkan laba, menjadikan uang anda bertambah nilainya. Namun perlu diingat, kecepatan inflasi juga kadang berakselarasi dengan cepat. Maka akan terjadi pertarungan antara kecepatan pertambahan nilai uang anda yang berasal dari laba dengan kecepatan inflasi yang menggerus nilai uang anda. Lebih cepat yang mana, kecepatan laba anda atau inflasi.
2.     
            2.  Investasi, pilih investasi yang tepat, bukan reksa dana maupun investasi saham pada perusahaan Tbk, hal itu tidak ada bedanya dengan memiliki bisnis bersistem. Tapi investasikan kekayaan anda dengan tanah, properti, dan yang utama adalah emas. Mengapa tanah, properti atau emas? Makna dari investasi ini bukan untuk memperoleh laba dengan cepat. Namun makna investasi adalah melindungi dan memberikan keuntungan pada kekayaan anda untuk jangka yang sangat panjang. Maka investasikan uang (tak berharga) anda pada suatu barang yang sangat tidak likuid (tidak mudah diuangkan kembali), semakin tidak likuid suatu barang, semakin jauh dari kerugian atas uang itu sendiri.
3.    
          3,   Jadilah manusia yang berkualitas, berguna, miliki skill yang bermanfaat buat orang lain, dan perbaiki moral anda. Saat bisnis-bersistem anda bergejolak bertarung cepatan mana dengan inflasi, sedangkan investasi anda sedang melindungi nilai kekayaan anda. Kontribusikan kemampuan anda untuk hidup maka hidup akan berkontribusi untuk anda. Bila memang kekayaan anda semakin terancam nilainya, dan uang akan benar-benar tak bernilai, maka satu-satunya yang bernilai adalah diri anda sendiri. Jadilah manusia yang dapat berkarya untuk keluarga, masyarakat, dan negara.
4.     
         4.  Extra tips, lakukanlah sedekah. Perbanyak sedekah dari sebagian kekayaan anda, sebelum kekayaan anda menjadi benar-benar tak berharga. Anda tidak akan pernah menyangka The power of Gift akan sangat ampuh berguna untuk masa depan anda.
Hidup memang indah, hidup itu mudah bila kita tahu ilmunya, jangan pernah berhenti belajar dan waspada, “Keep your soul and love to the God, and God will save you in every moment”.

Memperkuat Nasionalisme Ekonomi

Oleh: A.P. Edi Atmaja*
BERLAKUNYA Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan China (ASEAN-China Free Trade Agreement/ACFTA) terhitung sejak 1 Januari 2010 rupanya memberi dampak kerugian bagi produk dalam negeri. Pengusaha domestik kalang-kabut lantaran belum siap menghadapi terpaan produk-produk dari China.
Secara umum, pengusaha-pengusaha kita, baik di sektor kecil, menengah, maupun besar, mengeluhkan kekurangsigapan pemerintah dalam menyediakan instrumen yang mendukung persaingan setara di antara kedua negara. Produk-produk China acapkali lebih berhasil merebut pasar dalam negeri lewat produk-produk yang lebih ramah kantong, variatif, dan mendominasi nyaris di setiap lini, mulai dari barang elektronik, tekstil, makanan, permebelan, mainan anak-anak, dan sebagainya.
Kita tidak bisa dengan begitu saja mengatakan bahwa pemerintah sematalah yang mesti bertanggung jawab atas “kekalahan” produk kita di negeri sendiri. Kendati kita tidak menafikan peran pemerintah yang seharusnya dominan dalam memberikan proteksi terhadap produk domestik.
Sebagai contoh, pemerintah, dalam upaya melakukan pengamanan pasar dalam negeri, antara lain telah mengoptimalkan Standar Nasional Indonesia (SNI), melakukan labelisasi bahasa Indonesia, mengoptimalkan proses antidumping/safeguard/countervailing duty, dan meningkatkan pengawasan di pelabuhan impor dan penyelundupan barang impor.
Namun demikian, kita sebagai konsumen pun mestinya turut memberi andil, dengan memperbesar kecintaan pada produk bikinan negeri sendiri. Itu yang sejatinya kurang tampak pada bangsa kita. Kita, dibandingkan bangsa lain, dikatakan sebagai bangsa konsumtif. Kita memiliki kadar konsumerisme yang sangat tinggi, yang membuat beberapa perusahaan asing—pabrikan telepon genggam Nokia, misalnya—memilih melakukan uji-coba produk penjualan perdananya di sini. Setidak-tidaknya, itu menandakan bahwa negara ini merupakan pangsa pasar menggiurkan buat pengusaha dan perusahaan manapun.
Namun, mengapa yang kini terjadi justru pengusaha domestik kalah bersaing dengan asing di kandangnya sendiri? Mengapa masyarakat lebih tertarik produk asing ketimbang produk sendiri?
Inilah saatnya program “Aku Cinta Produk Indonesia” digalakkan kembali. Kunci kemakmuran bangsa dan kemaksimalan pasar dalam negeri ada di tangan kita sendiri. Kita mesti memperkuat nasionalisme ekonomi dengan lebih mengutamakan produk-produk dalam negeri.

*) Penulis adalah Bekas Pimpinan Redaksi LPM Gema Keadilan,Fakultas Hukum Universitas Diponegoro