Roundabout Roundabout

Ada yang kenal manusia di samping ? Ini gambar dari film Into The Wild,

isinya tentang kehidupan pasca wisuda seorang Chris McCandless.

Banyak orang komentar, film ini bener2 menggugah, tapi menurut saya si biasa aja. Saya tenang-tenang kuliah sehabis SMA dan seiring berjalannya waktu, film ini pun melapuk dan hilang dari ingatan. 
Sampai kira-kira 3 minggu yg lalu, film ini kembali muncul dan mengusik pikiran.
Pemicunya ada 2:
dp bbm temen & quotes dari dialog film tsb di tumblr (tuh quotes-nya ada di gambar di atas).
FYI, sebentar lagi saya lulus kuliah (setahun lagi sih :p)

Keberanian si McCandless untuk lepas dari hidup a’la peradaban modern memang menggugah.
Tapi itu tetap terdengar mustahil untuk saya. Pikiran saya jauh lebih tertarik menyoroti pandangan pendapat McCandless soal karier (liat gambar Emile Hirsch di atas), dan apa pemicu lahirnya pendapat tersebut.

Bicara karier, ingatan saya langsung lompat ke buku dibawah ini:
                                           Judulnya,“Your Job is Not Your Career”. Buah karya Pak Rene Suhardono inilah yg pertama kali memperkenalkan saya perbedaan antara karier dan pekerjaan. 
Kalo saya gak salah, karier itu lebih mirip “alur jalan” atau “path”, sedangkan pekerjaan adalah titik langkah yang dilalui selama meniti “path” tersebut.
Buku itu juga sukses menjabarkan soal passion. Sesuatu yang sepengertian Saya berarti:

Sesuatu yang sangat kita minati, hingga sering tanpa sadar kita latih dan pelajari secara mendalam. Jadi pendorongnya murni karena kita menyukai aktivitas / pekerjaan tersebut. 

Klimaks buku itu kalo saya gak salah, ketika kita sampai pada suatu titik, dimana passion itulah profesi kita (full time job)

Saya gk tau bener gk itu yg dimaksud sebagai pesan dari penulis buku itu. Abis bacanya udah lama bgt si, hehehehe…

Setelah buku itu, pikiran saya lompat ke sebuah analogi atas kehidupan rata-rata manusia, era sekarang:
Yup, 2 kata: rat race

Penjelasan soal istilah ini bisa didapat melalui komik dibawah ini:
tak ketinggalan curcol bernutrisi tinggi dari Bang Tyler Durden :
Kalo masih gak paham, berarti katro… atau mungkin, tanpa sadar 
anda telah sukses terjebak dalam rat race“.
(kok kalo selip dikit bisa mirip ama death race ya hehehehhe…)
Ok ok, cukup soal resensi dan testi soal buku dan film. 
Let’s be original a little bit…
Setelah semua hal di atas, otak saya keinget sama kebijakan naiknya UMR Jakarta Desember lalu,
Waktu itu, saham Astra International terjun bebas saat isu mulai beterbangan dan penurunan terus terjadi sampai 2 hari pasca penetapan resmi aturan tsb.
Intinya pesan yg ingin disampaikan pelaku bursa saham adalah,
“Kami gk terlalu suka dengan hal ini.”
Ok, lalu pikiran saya mencoba mengaitkan hal ini dengan inflasi,
langkahnya kira-kira begini:
> UMR: Batas bawah gaji bagi pemangku jabatan terbawah

>> UMR naik, pekerja (employee) yg misalkan tadinya udah ngurangin belanja karena gajinya gak cukup, akan kembali “menormalkan” / menaikkan pengeluarannya.
Atau semisal sang pekerja tidak merasa perlu “menormalkan” pengeluarannya, maka dia bisa nabung atau investasi.

>>> UMR naik, pengeluaran gaji naik, maka HPP (COGS) naik.

>>>> kalau gak ada reorganisasi operasi atau kenaikan harga jual / kuantitas penjualan, profit perusahaan (employer)  tergerus.
gini ilustrasinya:
Jadi, kalau:
-b2 naik
-c3 naik
Maka ada ada 2 skenario:
 -Skenario A: Perusahaan menaikkan harga jual, karena beban produksi meningkat (perusahaan enggan memangkas profit margin. (cost push inflation).
-Skenario B: Para pekerja memilih untuk menaikkan standar hidup, dus membeli lebih banyak barang & jasa (demand pull inflation).
Jadi, kalo bener b2 & c3 sama2 naik, ya sama aja bohong.
Kenaikan upah pekerja langsung terhapus sama kenaikan harga barang & jasa di pasar,
dan jikalau si pekerja sempat menaikkan konsumsinya,
dan hal seperti ini terjadi secara agregat
(rata2 pekerja melakukan hal serupa),
maka kemungkinan tingkat konsumsi para pekerja akan turun lagi,
karena permintaan yg meningkat akan berpeluang menaikkan harga.
(mempertimbangkan sedikitnya lahirnya produk baru atau lapangan pekerjaan baru).
Berhari-hari saya mikirin, berharap dan ngebayangin, saya bisa ketemu semacam bukti ilmiah soal kemungkinan terjadinya hal di atas…
Sampai akhirnya post Suhu Kongming88 ini muncul di kaskus:

Penjelasan dari Suhu Kongming88:
kolom pertama (FCRPI) nunjukin IHK (indeks harga konsumen) / tingkat harga barang & jasa di pasar
kolom kedua (FCWI) nunjukin labor price index. (upah pekerja)
walaupun gak sangat kuat, tapi korelasi keduanya positif
(Jika IHK naik, LPI ikut naik dan bila IHK turun, LPI juga turun.)

kenapa?

karena kenaikan biaya tenaga kerja memaksa produsen menaikkan harga jual produknya 
(cost push inflation).

Doooorrrr !!!!!
 Akhirnya datang juga hal yg saya tunggu-tunggu…
Lo tuh tinggal bener2 spesifik ngebayangin apa yg lu mau dapetin !
layaknya orang lagi ngebidik sasaran tembak !
Maka yg lo bayangin itu datang / terjadi di saat paling tak terduga…
Ok, back to the topic,
Kalo UMR aja naik, otomatis gaji pekerja2 di tingkat lebih atas juga ikut naik.
Minimal liat kalo pegawai negara naik gaji, pasti rame-rame (serentak bareng-bareng).
Jadi kalo udah kaya gini, masih relevankah mimpi dalam bentuk kalimat,
Kapan ya naik gaji ?
Malah, kalau Saya boleh usul, kalimat di atas bisa diganti dengan kalimat,
Kapan ya saya bisa berkontribusi lebih ?
Kapan ya saya bisa handle lebih banyak tanggung jawab ?
Kapan ya saya bisa lebih pintar ?
Saya kira semuanya kembali ke awal,
kalo mau karier yang asik,
ya harus punya kerjaan yang asik juga.
Bayangin gini, kalo di rat race, bentuk rodanya tu tegak ke atas kan
(cek gambar tikus yg ber-hustlin‘ ria di atas)
Roda tegak itu kan perlambang harapan si tikus akan naik dia ke anak tangga berikutnya, yg berati nominal gaji yg lebih tinggi, yang kemudian diartikan sebagai  level kehidupan / kesejahteraan / kebahagiaan yg juga lebih tinggi
Namun sayang seribu sayang, semua itu hanyalah sebuah ilusi…
dan bahkan bisa dibilang cuma imajinasi yg tercipta akibat kekurang pahaman atas proses terjadinya inflasi !

Selanjutnya, mau gimana ?
Ada pepatah bilang, merubah kerjaan gk semudah membalik telapak tangan,
Ya memang iya, Saya juga setuju,
makanya sebelum merubah kerjaan, coba rubah dulu itu isi pikiran…
Sekarang bayangin aja, kalo roda di rat race itu jatuh, runtuh, dan tengkurep kaya roundabout di bawah ini:

Maka praktis yang anda kejar ya cuma mempercepat putaran roundabout atau beratraksi melewati pegangan / rintangan yg ada (tergantung cara pandang anda ini sih ;) )
Inget aja rasa seru / excitement waktu main kaya ginian semasa kecil dulu.
Selanjutnya soal menggapai sesuatu yg lebih tinggi, atau memberi efek positig bagi lingkup yang lebih luas.
Ya… anggap aja  roundabout-nya berbentuk kaya’ di bawah ini:

Jadi, selalu ada, yang harus dipanjat…

Soal apa dan gimana bentuk implementasi roundabout ini di alam kehidupan sadar anda,
Maka ada 1 hal yg harus anda temukan: passion.

Temet Nosce,-

Advertisements

Jungkat – jungkit Ekonomi 2

Ekonomi adalah permainan.
Bahagia ada dalam proses dan tujuannya.

Dalam permainan, ada menang, ada kalah. 
Kalau di olah raga, hal ini sulit ditebak. 
Tapi, kalau di ekonomi…

Hidup makmur berarti menang, 
hidup miskin berarti belum pernah menang.

Dasar permainan dan daftar pemain besar, 
sudah dibabar di Jungkat-jungkit 1.

Seorang Maha Suhu Trading pernah berkata:

kalau kita berbicara tentang uang pada 1000 orang
1000 orang akan paham

kalau kita berbicara tentang harga pada 1000 orang tersebut
hanya 100 orang yang paham

kalau kita berbicara tentang ekonomi moneter pada 100 orang yang sama
hanya 10 orang yang bisa memahami

saat kita berbicara tentang bank pada 10 orang tersebut
hanya 1 orang yang akan memahami 

Kutipan di atas bicara soal tugas dari Bank Sentral: Mengatur jumlah uang beredar; Mengontrol pergerakan hargaMenjaga kestabilan moneter negaranya; serta Mengawasi aktivitas perbankan di negaranya.
Hal seperti ini ada hampir di seluruh dunia.


USD adalah “bos” dari semua mata uang di dunia sejak 1944 -mid 1970. Dalam sistem Bretton Woods ini, nilai mata uang di seluruh dunia dipatok pada USD, lalu nilai USD dipatok pada emas.

Pada tahun 1971, sistem pematokan nilai tukar sebesar $35 untuk setiap ons emas ini dicabut. Nilai mata uang selain USD pun mengambang. Aksi Presiden Nixon ini dikenal dengan sebutan:

Kebijakan ini ditentang keras oleh berbagai aliran ekonomi non-mainstream, contohnya Austrian School.
Bahkan akhir-akhir ini banyak pelaku ekonomi menyalahkan kebijakan ini sebagai pemicu munculnya fenomena seperti: nyangkutergagalnya usaha 2 negara Asia menyaingi USA; makin pendeknya jeda antar krisis finansial; serta pertumbuhan ekonomi semu memanfaatkan siklus boom and bust.

Walau demikian, bumi berputar, waktu berlari, bisnis terus bergerak, show must go on

Meski tidak lagi dipatok pada emas, posisi USD sebagai world reserve currency tidak goyah.
Bahkan krisis terhebat setelah Great Depression, yaitu Krisis perumahan USA 2008 kemarin pun tak mampu menggantikan posisi USD sebagai cadangan devisa utama.

Lagipula, coba bayangin, kalau USD melemah atau collapse, negara-negara berkembang juga yang apes, cadangan emas dan peraknya tiris, tiwas selama ini ngotot nimbun USD buat gemukin cadangan devisa
(ini juga salah satu syarat meraih gelar “investment grade”  looh).

Tapi tetep si alasan utama negara-negara tetap nimbun USD ya biar hemat biaya konversi, pas beli commo, yang label harganya ditulis dalam USD.

 Pada suatu ketika, ada negara yang berniat untuk menjual hasil produksi vitalnya, HANYA dalam EUR ataupun emas.        Tak lama berselang, ada patung yang diturunkan di negara itu.

Cukup soal sejarah, saatnya main !!!

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ketika Rupiah menguat, maka jika:
Indonesia beli  (import) : Harga produk made in China makin murah, lebih banyak commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri yang dijual ke luar negeri, makin mahal.

Giliran Rupiah melemah, maka ketika:
Indonesia beli (import)  : Harga produk made in China makin mahal, lebih sedikit commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri, yang dijual ke luar negeri, makin murah.

*Saya memakai istilah “made in China” sebagai penghormatan atas kemampuan negara itu memenuhi rak-rak pusat perbelanjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Walaupun memang masih ada made in…, made in… lainnya.

Mari kita gali efek pembelian barang dari luar negeri (import):

Dari sisi konsumsi, kemiskinan membuat rakyat Indonesia lupa kualitas dan menggemari barang murah. Produk made in China pun jadi solusi, selain itu produk jenis ini juga membuka peluang usaha bagi banyak pengusaha pemula, karena akses dan persyaratan modal yang dirasa lebih ringan.

Dari sisi produksi, produk made in China memicu kreativitas dan efisiensi badan usaha lokal (efisien bukan berarti potong gaji, kadang geser posisi mesin dan colokan listrik bisa jadi solusi).

Ada keuntungan, ada pula risiko, yaitu: pembunuhan industri lokal. Begini kira2 reka ulangnya:

.Oversupply produk made in China (udah tu barang aslinya murah banget, eh, jumlahnya juga banyak bener)

2. Memicu perang harga (lomba nurunin harga, yang penting barangnya abis).

3. UMKM yang gk bisa bertahan akhirnya bangkrut
(namanya juga usaha kecil, duit seret coy ! daripada potong gaji pegawai ngamuk, ya mending tutup sekalian)

4. Para pekerja UMKM yg tutup pun nganggur, dan ketika tangis anak mulai ngalahin raungan knalpot bajaj, putus asa pun menyerang (neosep kagak bisa jadi obat ! lah duit buat beli juga kagak ada !).

5. Maka sang pengangguran pun berpotensi jadi penjahat dan lingkungan a’la Gotham pun jadi nyata
(tinggal nunggu pahlawanan bertopeng deh, yg pas doi baru muncul aja, langsung pada ngibrit tu penjahat).

Sekarang kita liat efek pas jual barang ke luar negeri (eksport):

Para eksportir berjasa menyumbang USD ke cadangan devisa negara.
Selain membuka lapangan kerja (yg relatif besar, terlepas urusan modal), mereka juga menjadi “duta” bagi nama dan kualitas Indonesia di dunia internasional.

Gak cuma eksportir maupun importir yg terlibat, pengusaha yg ngandelin pasar lokal juga bisa kena, kalau ada bahan baku-nya yang dibeli dari luar negeri.
Harga bahan baku import ini nanti ngaruh ke ongkos produksi, yg ujungnya ngaruh ke laba, dimana kalo ngambil untungnya aja udah dikit (profit margin), mau gk mau para produsen akan naikin harga jual.

Kalo banyak pengusaha yg naikin harga jual,  maka inflasi akan naik, peristiwa DOMPET JEBOL pun akan marak terjadi.

Apalagi, kalau demi nyelamatin pasokan bahan baku, si pengusaha terpaksa “merumahkan” pegawainya, ya gak asik tu judulnya (pahlawan bertopeng juga ni ujung2nya)

Maka, secara garis besar, 
Fundamental ekonomi suatu negara, tergambar dari nilai tukar mata uangnya, Vice Versa.
Q: Dari tadi yg disebut tu pengusaha sama penggangguran. Nah, kalo kita bukan pengusaha, masih karyawan (baik di swasta maupun negara), dan gaji masih jalan, apa pengaruhnya ???

A: Pengaruhnya banyak, cuman biar gk ribet. Intinya mau gimana pun Kamu bisa ambil untung dari aksi Bank Sentral.

Q: Kok bisa ? Gimana caranya ?

A: Cekidot:

* Aksi pada Suku Bunga
Kerjaan Bank Sentral tu fokus ngatur Bunga, makanya Kamu wajib catat ni jadwal rapat Bank Indonesia.
Bunga itu, ibarat pengatur kecepatan ekonomi (cek lagi Bagian 1 klo bingung).
– Saat ekonomi gerak terlalu lambat, BI akan nurunin suku bunga –
Kalau suku bunga turun, ini saatnya ambil utang !
  • Buat buka usaha
  • Buat beli rumah
  • Buat beli mobil
  • Buat beli mesin cuci, dan jangan utk beli hp (ya kali beli hp sendiri ngutang, malu lah !)

Itu aja ? Masih banyak… bunga turun tu berarti BI ingin ekonomi bergairah, berarti…
  • Beli saham produk branded, saham produsen alat berat industri, alat berat di rumah tangga, mobil, motor, dan benda2 mahal dan gede lainnya.
  • Beli saham penghasil energi untuk ngasih tenaga pembangunan ekonomi (gas, batu bara, minyak)
  • Beli saham produsen teknologi dan elektronik 

– Saat ekonomi gerak terlalu cepat, BI akan naikin suku bunga –
      Ini saatnya pilih2 berbagai aset investasi:
  • Kalo kamu pemula dalam investasi, ini waktu yg enak banget untuk ambil deposito. Mau milih 1, 3, 6 bulan atau setahun ? liat prospek ekonomi… (kalo kira2 bunga bakal naik terus, ya ambil aja yg per 1 bulan sekalian, biar compound interest-nya)
  • Bunga naik berarti laba bank (minimal, secara nominal) akan naik. Jadi kamu bisa beli saham Bank.
  • Selain saham Bank, semisal keadaan mulai menyerempet krisis, segera beli saham kebutuhan sehari-hari (mau krisis tetep mandi plus ngerokok dong) atau kebutuhan dasar (telpon, listrik, air).
  • Bunga naik berarti ekonomi melambat, kalo ternyata bunga udah beberapa kali naik, dan ekonomi keliatan akan terus melambat, Kamu bisa beli emas atau USD.

Pada masa ini, semua orang akan hati-hati sekali menggunakan uang, karena BI sendiri pengen memperlambat ekonomi. Karena kalo ekonomi jalan kenceng terus2an, itu yg namanya inflasi bisa naik tinggi dan otomatis bikin kantong Kamu dan orang2, jebol sejebol jebolnya…

Q: Udah, itu aja ?
A: Masih ada 1 lagi, inget2 kalimat di bawah ini:

Dalam jungkat-jungkit ekonomiThe Federal Reserve adalah pemain terpenting. 


Setiap hasil pertemuan The Fed wajib diperhatikan!

 Segala kebijakan The Fed akan memengaruhi keputusan pada  dan bank sentral lainnya, termasuk BI.

Q: Ok, terus ada lagi ?

A: Iya, klo ada waktu, tolong baca buku bikinan Si Bapak Ekonomi di bawah ini:


Judulnya “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations”,  
Minimal, baca Chapter IV yg udah ada di link di atas, dari situ niscaya dapet pencerahan lebih lanjut soal uang.

Q: Ada lagi ?

A: Ada sih, coba mulai sekarang rutin baca berita sama liat
chart IHSG,
Chart USD/IDR, sama
chart harga emas.

setiap hari,-

Udah, itu aja,

sekian.

Jungkat-jungkit Ekonomi 1

Yang Kaya Makin Bergaya Yang Miskin Makin Aking

Main jungkat-jungkit harusnya menyenangkan
Gak kaya’ duo gajah di atas…
Ekonomi juga begitu, menyenangkan walau melelahkan, makin cerdas menuju tujuan.

Interaksi antar pelaku ekonomi, mirip gambar hand car di bawah ini:

Sewaktu bocah, John Lennon ditanya, “Kalo udah gede mau jadi apa?” Lennon jawab: BAHAGIA.
Nah, kalo menurut saya, namanya bahagia, paling terasa pas main.
Terutama main jungkat-jungkit !









Ekonomi + Jungkat-jungkit =


Main jungkat-jungkit dalam ekonomi kudu tau hal dibawah ini:
Aturannya >>  Ada yang naik, ada yang turun. Vice Versa.
Trik              >> Tahu & ngerti isi pikiran, tujuan, dan keinginan temen main kamu.
Tips              >>  Ciptakan & jaga selalu, keseimbangan diri sendiri ! 
Sekarang mari kita liat, para pemain besar jungkat-jungkit ekonomi:

Bank Sental

Pemain yg satu ini banyak mau. Gak suka kalau hand car yg terlalu lambat, gak juga boleh terlalu cepat, maklum, beliau mudah mabuk (bayangin kamu naik jungkat-jungkit yang gerak sekenceng sayap lebah, gimana?).

Jadi, saat hand car dirasa terlalu lambat, maka beliau akan melakukan gerak ekspansi. Giliran isi perut mulai naik ke tenggorokan, beliau segera menyerukan kontraksi.

Btw, ECB itu Bank Sentral Eropa, The Fed punya Amerika Serikat, kalo BoJ itu Jepang. Indonesia punya juga, namanya Bank Indonesia.

Pemerintah

Kalo yg ini denger2 si pengayom banget sifatnya. Tapi yg pasti beliau sangat memperhatikan keseimbangan antara “pesona” dan sifat “disiplin”.
Pesona untuk menarik perhatian investor asing dan mengangkat martabat bangsa (katanya…), sembari disiplin menjaga kewibawaan dan kekuasaan di depan rakyat (gk pake jelata ya…).

Perusahaan

Perusahaan disayang pemerintah, karena nyerap banyak tenaga kerja. Perusahaan sangat menjaga keseimbangan neraca serta proporsi pengeluaran dan pemasukan. Perusahaan mengutamakan keberlanjutan usaha dalam setiap aktivitas, termasuk aktivitas main jungkat-jungkit ekonomi.

Bank

Bank asal Jerman ini, pemilik bursa saham di Amerika Serikat. Juga sempat jadi pemilik 67% rumah di suatu negara bagian, pas Krisis Perumahan di Amerika Serikat kemarin.

Kalo yg di atas ini, eksis pas jemuran derivatifnya sukses diterbangin oleh angin Boaz. 
Bank penemu intrumen derivatif saham ini, sekarang berstatus sebagai Bank terbesar di  AS.
Bank mungkin sering salah, tapi gak berarti jahat. Kerjaan mereka tu ngumpulin duit trus nyalurin tu duit ke tempat yang berpotensi ngasih cuan. Apalagi bank2 di negara maju sulit untung dari spread, karena suku bunga di negara maju tu udah rendah banget.
Jadi mereka masuk ke segala sub-pasar (yup, yg namanya pasar, cuma ada 1), 
demi meraih laba juga melayani krediturnya. 
Lebih dalam soal Bank, silahkan baca artikel pengupas pola pikir Bank ini.
Pasar cuma ada 1 (globalisasi menghapus segala batas). 
Ekonomi agak beda, karena tiap negara punya pemerintah dan bank sentral sendiri2.
Namun dalam hidup individual, kita gk cuma mainin satu jungkat-jungkit
*Kita main dengan pemerintah2 (kalau melancong ke luar Indonesia, otomatis berurusan dengan pemerintah setempat). 
*Kita main dengan Bank (ada orang yg rekening Bank-nya cuma 1 ?)
*Kita juga berurusan dengan berbagai Perusahaan (sebagai karyawan, sebagai investor di pasar modal, juga sebagai konsumen).
Yang penting, jangan sampe kita merasa selalu kalah, namanya jungkat-jungkit wajar kalo naik-turun.
Kadang di atas kadang di bawah. 
Tinggal cara kita mengatur diri (jaga keseimbangan, ngatur napas, suara, adrenalin) dalam menjalani pengalaman hidup.
Karakter pemain2 besar belum dijabarin,
Sabar… pahami yg ini dulu…
Baru nanti lanjut ke bagian 2…
Jungkat-Jungkit, Cita-citaku Selangit
Jungkat-Jungkit, Hilang Segala Pikiran Sakit
Jungkat-Jungkit, Dompet Makin Sempit
Jungkat-Jungkit, Hore ! Ekonomiku Bangkit !

Kalau Banyak yang Kaya’ Aku
Apalah Guna Berseteru
Ketika Solusi Dunia Tergenapi
Awan & Api, Itu Urusan Nanti

By Petaniuang

                 sumber gambar
Sumber gambar lainnya: Google

Rokok & BLT: Kunci Potensi Ekonomi Indonesia

                             

sumber gambar: chocoplay

Program sejenis BLT (Bantuan Langsung Tunai) berpotensi menambah kadar kemalasan  pada para penerimanya.

-Ibu Dosen Etika Profesi-

“Merokok merupakan contoh penyia-nyiaan sumber daya kelas berat. Nasib suatu keluarga sebenarnya bisa berubah, bila uang untuk beli rokok tadi, dipakai untuk beli susu maupun keperluan pendidikan anak dalam keluarga tersebut.”

-Bapak Dosen Akuntansi Keuangan Lanjutan II-

           Banyak jurnal dan artikel membahas efek dari pemberian hibah secara cuma-cuma (gratis) bagi para penerimanya. Menurut kalangan menengah dan terdidik, efek positif dari hibah gratis dinilai terlalu kecil (suatu penelitian melahirkan kesimpulan, bahwa nominal BLT masih terlalu kecil untuk merintis suatu usaha), dan malah melahirkan efek negatif jangka panjang  (rasa aman dan nyaman tanpa usaha / kerja yang memicu kemalasan akut). Walau begitu, BLT tetap diterima dengan antusias oleh kalangan masyarakat yang merasa berhak menerimanya. Namun karena berbagai kritik atas program BLT, pemerintah nampak enggan menyelenggarakan program serupa (cek gugel: tidak ada soal BLT di apbn 2013).


           Ada lagi, rokok, benda yang menjadi semacam “musuh” bagi sebagian masyarakat, dengan alasan dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis dan efek polutif bagi masyarakat non-perokok. Namun tetap menjadi idola bagi kalangan masyarakat yang lain. Kalangan ini senantiasa mengorbankan sumber dayanya (waktu, uang, kekuatan psikis dalam menerima cibiran dan protes dari orang lain) demi menyentuh dan menghisap sang rokok tercinta. Pemerintah Indonesia sampai sejauh ini sudah menerapkan pembatasan waktu tayang bagi iklan rokok, juga melarang penjualan rokok terhadap anak-anak.

 Hhmm… Selanjutnya mari kita telaah, mulai dari, Siapa yg berhak menerima BLT ?

Kriteria Penerima BLT (Bantuan Tunai Langsung)

1.     1. Luas lantai tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi per-orang.
2.    2.  Lantai tempat tinggal: tanah/ bambu/ kayu yang murah.
3.     3. Dinding tempat tinggal : bambu/ rumbai/kayu yang murah atau tembok tidak diplester.
4.    4.  Tidak ada WC/toilet/kakus sendiri/bersama.
5.    5.  Tidak ada PLN.
6.    6.  Air minum yang digunakan: sumur/sungai/air hujan.
7.    7.  Untuk memasak : kayu bakar/ arang/minyak tanah.
8.   8.   Konsumsi daging/susu/ayam sekali seminggu.
9.     9. Membeli  1 stel pakaian sekali setahun.
1. 10. Makan : 1 atau 2 kali sehari.
1.11.  Tidak mampu membayar biaya puskesmas/poliklinik.
1. 12. Kepala rumah tangga: petani dengan luas 0,5 Ha/buruh tani/nelayan/buruh bangunan/buruh perkebunan dengan penghasilan di bawah Rp 600.000,- per bulan.
1  13. Kepala rumah tangga : tidak lulus SD/ lulusan SD.
 114.Tidak mempunyai harta benda yang mudah dijual dengan nilai Rp 500.000,-
Keterangan:
a.      Sangat miskin               = 14 kriteria.
b.      Miskin                             =  11 kriteria.
c.       Hampir miskin            =   8 kriteria.

(sumber : blog Bapak ini, hasil googling,”kriteria penerima BLT”)

Soal Pengaruh BLT pada APBN ?

    mengutip suatu berita dari DepKeu:
Kemensos telah memberikan dua opsi yaitu memberikan BLT sebesar Rp100 ribu atau Rp150 ribu per Kepala Keluarga (KK). Anggaran yang dibutuhkan jika pemberian bantuan tersebutsebesar Rp100 ribu per KK adalah sebesar Rp17 triliun. Sedangkan jika Rp150 ribu adalah sebesar Rp25 triliun.
Angka tersebut adalah jika BLT diberikan kepada 30 persen dari 40 persen masyarakat berpenghasilan terendah di Indonesia. Ini tergantungkalo misalnya 100 ribu dan 30 persen itu sekitar Rp17 triliun. Kalau Rp150 ribu dan 30 persen yang ingin dijangkau itu sekira Rp25 triliun. Itu hasil simulasi dan hitung-hitungannya. Itu akan masuk dalam APBN-P,” tambahnya.

Sumber: depkeu 2012

Cukup soal BLT, sekarang mari kita beralih ke soal rokok:


– Hasil data Riskesdas 2007 menunjukkan rata-rata jumlah konsumsi rokok orang dewasa adalah 10 batang perhari, laki-laki 11 batang dan perempuan 7 batang perhari. 
Maka rata-rata perokok membakar:
 Rp 11 ribu per hari
Rp 330 ribu per bulan
 (Asumsi harga rata2 sebungkus rokok adalah Rp11 ribu dan jika rokok dibeli ketengangan, harga per batang Rp 1000,- )

– Mengutip pernyataan suatu produsen rokok besar nasional dalam Laporan Tahunan 2011,”Terjadi peningkatan signifikan penjualan yang mencerminkan peningkatan daya beli konsumen, pada produk rokok murah dan sedang.”
(Kategori harga ‘sedang’ adalah Rp 6.000-9.000 dan yang ‘rendah’ adalah kurang dari Rp 6.000 per bungkus.)
Sumber: AR_GGRM_2011
           Hal ini mengindikasikan, akibat kecanduan yg parah, para perokok dari kalangan yang berhak menerima BLT berpotensi menghabiskan uang BLT untuk membeli rokok.
Bila demikian, alangkah baiknya apabika pemerintah “mentraktir” penerima BLT dengan memberi opsi berupa:

1. Memberi opsi bantuan berupa rokok dalam skema hibah
2. Bebas menentukan besaran proporsi, antara rokok dan uang sebagai hibah.

Sehingga

Bantuan Langsung Tunai

berubah menjadi

Bantuan Langsung Tunai & Rokok


Kebijakan ini secara eksplisit akan memberi efek berupa:

A. Bagi keluarga penerima BLT yang anggotanya merokok:
+ Mengurangi beban pengeluaran atas rokok.
+ Memicu timbulnya pertimbangan akan prioritas dan manfaat, antara uang & rokok.
+ Kesempatan memilih yang krusialitasnya tidak kalah dengan urusan memilih calon pemimpin.

B. Bagi keluarga penerima BLT tanpa perokok:
# Kesempatan berwirausaha, menjual rokok dengan modal pokok / COGS Rp 0.
# Kesempatan memilih yang krusialitasnya tidak kalah dengan urusan memilih calon pemimpin.

C. Bagi industri rokok:

+ Fix demand bernilai besar dan selama periode pemberian hibah berlangsung.

D. Secara implisit kebijakan ini juga dapat memicu munculnya:
* diskusi dalam keluarga-keluarga di Indonesia, soal rokok
* perenungan dan pencarian fakta atas efek konsumsi rokok
* alasan bagi pemerintah untuk kemudian memberikan peringatan2 dan pengetatan aturan bagi industri rokok
* alarm bagi pelaku industri rokok untuk segera menyusun exit strategy dari industri rokok (semisal, melakukan IPO semasa hibah berlangsung maupun right issue untuk kemudian menyasar lahan industri baru)


E. Bagi pemerintah, negara dan masyarakat:
# Bertumbuhnya kesadaran luas atas perbandingan antara rokok dan uang.
# Potensi munculnya win-win solution antara pihak “pembela kesehatan” dengan pihak industri rokok.


          Penulis termotivasi menerapkan cara berpikir positif, menemukan peluang dalam setiap masalah. Selain itu penulis juga percaya dalam kebebasan individu untuk berpikir dan menentukan pilihan. Jadi, demikianlah pemaparan atas ide yang terlintas dari otak penulis. Ada komentar ?

Uang & Darah: Sebuah Analogi

Alam sangatlah efisien,
semua benda buatan alam, mempunyai sketsa yg serupa.
Globalisasi membuat batas antar wilayah tak lagi berarti,
terutama untuk benda ciptaan manusia yg satu ini: U A N G.
Setiap negara penganut USD sebagai bentuk cadangan devisa & punya SDR di IMF
otomatis punya skema aliran dibawah ini:
**Suatu negara ibarat tubuh makhluk hidup**
Darah berfungsi sebagai alat transportasi penghantar gizi dan oksigen dalam tubuh manusia.
Uang melancarkan aktivitas ekonomi masyarakat suatu negara (transaksi tak lagi barter, repot).
Darah (pada manusia) memiliki klasifikasi golongan (A, O, B, Ab) di tubuh jenis apa ia dapat berfungsi.
Mulanya, uang memiliki zona eksklusif dimana ia dapat beroperasi (Rp on INA, JPY on JPN)

Seiring waktu, manusia belajar soal efisiensi, maka sekarang negara-negara yang hampir serupa dapat memakai satu currency (EUR on Euro Zone).

Fungsi uang pun berjalan semakin optimal, quote konversi currency yg dulunya: USD/EUR 
perlahan berubah menjadi EUR/USD.
Indikator perekonomian (GDP, BoP, etc) ibarat indikator kebugaran tubuh.
GDP yg terus bertumbuh, mengindikasikan sebuah tubuh yang sehat.
Sampai di sini dulu,
Temet Nosce.

PS:
credit to: Maha Suhu Funda-Trader