Batik dan Ekonomi Bangsa?

Oleh: Izzur Rozabi*

Indonesia merupakan negara terdiri dari berbagai macam budaya dan latar belakang yang mempunyai begitu banyak kekayaan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Budaya itu sendiri merupakan sebuah identitas kebanggaan masyarakat Indonesia dan dengan kecintaan tersebut maka masyarakat Indonesia akan berjuang untuk memelihara identitas bangsa agar tetap terjaga eksistensinya. Permasalahan kebanyakan masyarakat Indonesia yang selama ini, ialah cenderung kurang mencintai budaya sendiri danbertendensi menyamarkan atau kurang bangga akan budayanya.
Berkembang pesatnya budaya asing yang masuk ke Indonesia dikarenakan derasnya arus globalisasi sebenarnya bukanlah hal yang harus dihindari, terlebih lagi apabila nilai-nilai yang dibawa adalah nilai-nilai yang baik dan bermanfaat. Namun, yang harus menjadi perhatian utama adalah kita sebagai warga Negara Indonesia harus tetap menjaga budaya sendiri dan memeliharanya agar tidak punah,berusaha menjadi warga dunia yang selalu keep in touch dengan teknologi dan perubahan, namun tetap memiliki global thinking and local action atau merupakan prinsip yang harus dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia.
Salah satu peninggalan budaya leluhur yang menjadi primadona bangsa adalah batik. Batik adalah salah satu Heritage of Indonesiayang berhubungan erat dengan cara pembuatan bahan pakaian. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.
Selain itu, batik juga termasuk kedalam binis industri kreatif yang mengacu pada dua hal. Hal yang menjadi acuan pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam (wax resist dyeing) sedangkan yang kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik wax resist dyeing disertai tambahan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Dan seperti yang kita tahu, bahkan di banyak tempat di Indonesia, sentra batik yang selama ini menjadi produk industri kreatif ini, merupakan karya yang dibuat dengan kerajinan dan tingkat seni tertentu melalui teknik yang rumit.
Batik merupakan budaya khas Indonesia yang harus dilestarikan. Batik yang merupakan salah satu hasil karya kebudayaan nasional bidang industri kreatif, berfungsi untuk memberikan identitas kepada aneka warna orang Indonesia. Akan tetapi sejauh ini orang Indonesia sendiri, khususnya pemuda kurang begitu memiliki tingkat penghayatan dalam memakai batik atau memakainya karena adanya suatu trend.
Sebagai bangsa yang masih harus berjuang dengan citra budaya batik , berbagi macam masalah kebutuhan primer, ekonomi, sosial-budaya, dan politik yang mengancam eksistensinya, saat ini bangsa Indonesia belum optimal menghasilkan karya-karya besar yang dapat dibanggakan sebagian besar warganya, yaitu yang dapat memberi kebanggaan dan identitas nasional kepada mereka. Untuk itu, sejak tahun 2009 pemerintah menggencarkan pelestarian batik dengan mempromosikan batik melalui beragam cara, salah satunya mewajibkan memakai baju batik pada hari tertentu dan pada acara tertentu pula. Seperti yang dilakukan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X sudah mengeluarkan surat edaran sejak tanggal 31 Juli tahun 2007 tentang penggunaan pakaian dinas harian yang isinya mewajibkan pegawai Pemprov setiap hari Jumat dan Sabtu memakai batik. Ini wujud komitmen Pemprov melestarikan batik. “Komitmen kita sudah sejak lama, ” kata kepala Bidang Hubungan Masyarakat Pemprov DIY Biwara Yuswantara.






*Izzur Rozabi, mahasiswa tingkat dua, Universitas Brawijaya.
Advertisements

Koruptor, Back the Money!

Oleh: Nenny Makmun*, 529 kata.

Aku orang biasa, aku tidak pintar hitung menghitung dan kalkulasi total. Hanya saja aku merasa sedih dengan keberadaan bangsa ini yang sebenarnya sangat kaya raya tapi hanya dinikmati beberapa golongan tertentu. Duh Gusti mau diapakan orang-orang yang miskin dan tinggal di kolong-kolong jembatan, para preman yang merajalela karena kelaparan dan semakin berbuat jahat meresahkan masyarakat saja! Belum lagi pengangguran para pemuda mau diapakan mereka? Mereka yang punya energy hanya tercampak begitu saja.
Yang kutahu Negara kita ini sangat kaya dengan berbagai potensi kekayaan alam, wisata, dan tenaga kerja. Tetapi kemana semua itu, kenapa rakyat Indonesia banyak sekali yang berada pada golongan miskin.
Belum lagi hutang bangsa ini terhadap IMF (International Moneter Fund) yang kabar-kabar ini akan dibebankan pada cucu keturunan kita sampai berapa silsilah. Walah….walah kalau orang tua meninggal dunia yang ditinggalkan warisan buat anak cucunya. Bangsa yang kaya raya sampai hanya meninggalkan hutang-hutang. Jaman edan!
Tapi kalau melihat Korupsi yang telah menggerogoti dari jaman orde lama yah mau diapain lagi, kecuali kesadaran tinggi para koruptor mau mengembalikan sebagian hasil korupsinya buat Negara dan dialokasikan buat kesejahteraan rakyatnya.
Pemasukan dari pajak juga besar, saya saja yang stafbiasa tiap bulannnya berapa ratus ribu udah otomatis di slip gaji selalu kena debet untuk memberi upeti buat bangsa. Jujur jadi nggak ikhlas banget karena turun ke rakyatnya paling cuma berapa persen dari total penyetoran pajak orang-orang yang kena wajib pajak.
Jadi nggak beda jauh bangsa ini dengan negeri-negeri dongeng yang bercerita rajanya menarik upeti tapi untuk memperkaya golongan-golongan tertentu sementara rakyatnya sudah miskin masih saja dipecutin untuk bekerja keras demi upeti-upeti yang harus disetorkan tiap bulannya.
Dari sebuah tulisan yang pernah aku baca dari kegiatan para koruptor sampai Keuangan (BPK) menyatakan dalam lima tahun terakhir menemukan sejumlah laporan keuangan milik instansi pemerintah yang terindikasi tindak pidana korupsi.
“Itu berdasarkan pemeriksaan lima tahun terakhir, ada 318 temuan yang mengandung unsur korupsi dengan kerugian negara mencapai Rp29,5 triliun dan 450 juta dollar,” ungkap Wakil Ketua BPK Hasan Bisri dalam peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia di gedung KPK, Jakarta, Jumat (09/12).
Sedangkan menurut ICW Total kerugian negara akibat korupsi mencapai Rp 10,9 triliun dari 140 kasus yang berhasil diidentifikasi Indonesia Corruption Watch (ICW).
Kita dalam proses untuk pengumpulan para ahli untuk menemukan kerugian negara itu. Karena menentukan kerugian negara tidak mudah. Banyak unsur yang diperlukan untuk mendapatkan kerugian negara, faktor ekonomi dan sebagainya. Hanya saja ini akan sampai kapan? Badan-badan anti korupsi sendiri terlalu banyak masalah internal bagaimana mereka akan bekerja efektif memberantas kasus-kasus korupsi yang mencapai ratusan.
Imagine! Apabila ada badan yang benar independent, clean! Secara serius mengungkap satu persatu kasus korupsi hingga pada titik penyitaan untuk dikembalikan negara dan dikelola untuk kepentingan rakyat pasti akan banyak uang yang akan bertahap pulang ke kas bangsa dan bisa dipergunakan sebagaimana mestinya. Demi kemajuan, kesejahteraan yang merata.
Imagine! Kalau semua badan-badan yang mempunyai amanat untuk mengelola kekayaan negara juga tahu akan pentingnya uang tersebut pada masyarakat sehingga tidak ada niatan untuk mencuri dari kas bangsa maka tidak akan muncul kasus-kasus koruptor yang saat ini sepertinya bukan hal yang memalukan. Malahan mereka seperti bintang yang berhari-hari tidak kalah heboh dengan artis beritannya. So bila para koruptor masih punya hati nurani Back The Money!To This Beloved Country.
Jakarta, 06 Januari 2012



*Nenny Makmun – Alumni Magister Management Universitas Sebelas Maret Surakarta. Saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta.

Keusangan Sistem Ekonomi Kapitalisme Vs Kegemilangan Sistem Ekonomi Islam

Oleh: Andi Asrawaty*, 1000 kata.

Kau tahu bagaimana pendidikan di negeri kami? Jika dahulu pendidikan hanya mampu dikecap oleh para bangsawan, sekarang tetap sama, namun ada yang berbeda. Sama-sama hanya dinikmati oleh segelintir orang bukan semuanya. Pendidikan saat ini hanya dapat dinikmati oleh orang-orang kaya, mereka yang memiliki uang, mereka yang modal. Saya jadi teringat sistem ekonomi yang membagi menggolongkan kebutuan menjadi tiga yaitu primer, sekunder serta tersier. Dan dalam sistem ekonomi saat ini, melalui lembaga perdagangan dunia World Trade Organization (WTO), menetapkan pendidikan adalah salah satu industri sektor tersier, karena kegiatan pokoknya adalah mentransformasi orang yang tidak berpengatahuan dan orang yang tidak punya ketrampilan menjadi orang  berpengatahuan dan berketrampilan. [1]
Menelisik sistem pendidikan yang begitu mahal dan langka, tentunya mengundang segudang pertanyaan terlintas untuk mencari akar masalahnya. Kenapa kemudian pendidikan yang merupakan hak semua orang harus dikomersilkan. Ternyata hal tersebut tidak terlepas dari sistem ekonomi kapitalis yang dianut dunia saat ini. Dalam sistem ekonomi kapitalis, pemegang kendali adalah para kapital atau dengan kata lain pihak swasta.
Tujuan ekonomi dari sistem kapitalisme tentu saja mengejar profit di segala sektor. Maka sangat wajar kemudian jika pendidikan kita menjadi mahal dan langka. Hal ini juga di fasilitasi oleh pemerintah yang memberikan akses yang luas kepada pihak swasta untuk mengkomersilkan pendidikan. Fakta ini tertuang dalam Perpres no.111/2007 di bidang Penanaman Modal dalam usaha yang tertutup dan terbuka. Kedua hal tersebutlah yang menjadi kegagalan mendasar sistem kapitalisme.
Gambaran Kegemilangan Sistem Pendidikan dalam Islam
Hal tersebut sangat berbeda dengan penerapan pendidikan dalam sistem Islam, di mana Islam menjadikan ilmu sebagai kebutuhan primer atau pokok. Setiap muslim berkewajiban untuk menuntut Ilmu, karena untuk menjalankan ibadah yang benar lagi lurus serta tidak sekedar ikut-ikutan, seorang muslim dituntut  memiliki ilmu agama yang cukup bahkan luas. Allah SWT berfirman dalam surah Al Mujaddila ayat 11
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)
Oleh karenanya Islam sangat mengecam adanya komodifikasi pendidikan untuk memperoleh keuntungan. Imam al-Ghazali mengingatkan dengan bahasa yang lugas dalam mukaddimah kitab “Bidayatul Hidayah” bahwa Menjadikan pendidikan atau ilmu pengetahuan sebagai komoditas, sama saja menghinakan ilmu pengetahuan itu sendiri.
Faktor majunya suatu bangsa adalah kemandirian serta tertanamnya karakter bangsa. Dengan berlepas tangannya pemerintah dalam sistem pendidikan serta terbukanya modal asing dalam bidang pendidikan tentu saja mengundang kekawatiran akan mudahnya ideologi-ideologi serta budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa disusupkan dengan mudah melalui pendidikan.
Jika kita mempelajari sejarah dengan baik dan objektif sebenarnya pendidikan yang  diperuntukkan kepada semua kalangan tanpa biaya mahal bahkan gratis pernah diterapkan di dunia ini. Yah, sejarah membuktikan dan mencatat tentang kegemilangan Pendidikan islam
Berdasarkan sirah Nabi SAW dan tarikh Daulah Khilafah – sebagaimana disarikan oleh Al Baghdadi (1996) dalam buku Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, negara memberikan pelayanan  pendidikan secara cuma-cuma (bebas biaya) dan kesempatan seluas-luasnya bagi seluruh warga untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dengan fasilitas (sarana dan prasarana) sebaik mungkin. Kesejahteraan dan gaji para pendidik sangat diperhatikan. Dana pendidikan ditanggung negara yang diambil dari kas baitul maal.  Sistem pendidikan bebas biaya dilakukan oleh para shahabat (ijma), termasuk pemberian  gaji yang sangat memuaskan kepada para pengajar yang diambil dari baitul maal. [2]
Contohnya, Madrasah Al Muntashiriah yang didirikan Khalifah Al Muntashir di kota Baghdad. Di sekolah ini setiap siswa menerima beasiswa sebesar  satu dinar (4,25 gram emas).  Kehidupan keseharian mereka dijamin sepenuhnya. Fasilitas seperti perpustakaan, bahkan rumah sakit dan pemandian  tersedia lengkap di sana.   Begitu pula dengan  Madrasah An-Nuriah di Damaskus yang didirikan  pada abad keenam Hijriah oleh Khalifah Sultan Nuruddin Muhammad Zanky. Di sekolah ini terdapat fasilitas lain seperti asrama siswa, perumahan staf pengajar,  tempat peristirahatan untuk siswa, staf pengajar dan para pelayan serta ruang besar untuk ceramah.  Khalifah Umar Ibnu Khattab jauh sebelum itu, memberikan gaji kepada tiga orang guru yang mengajar anak-anak di kota Madinah masing-masing sebesar 15 dinar setiap bulan.
Sejarah pun mencatat para ilmuan Islam yang telah menyumbangkan pemikirannya sebagai warisan ilmu penetahuan. Beberapa diantaranya, Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037) dikenal sebagai seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter.  Ibnu Khaldun, seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi  dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah  (Pendahuluan). Banyak teori ekonominya yang jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Artinya, ia lebih dari tiga abad mendahului para pemikir Barat modern tersebut.
Keunikan Sistem Ekonomi Islam
Yah, tentu gambaran pendidikan Islam yang ditawarkan sangat ideal sehingga seakan-akan kita diajak bermipi, tapi ternyata tidak. Sistem Islam bukanlah sistem utopis tanpa konsep. Untuk mewujudkan sistem pendidikan yang ideal Konsep Islam yang menyeluruh juga memberikan gambaran keunikan sistem Ekonomi Islam yang dapat menopang sistem pendidikan.
Dalam sistem ekonomi Islam, berbeda dengan kapitalis yang memberikan bahkan menjamin kebebasan Individu dalam mengelola semua sektor dalam kehidupan, Sistem Ekonomi Islam telah membagi kepemilikan menjadi tiga, yaitu yang pertama kepemilikan individu (al-milkiyah al-fardiyah) seperti : hasil kerja bekerja, warisan, hibah, hadiah. Kedua,Kepemilikan umum (al-milkiyah al-‘âmmah) seperti : fasilitas umum, bahan tambang dan sumber daya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki individu, dan yang ketigakepemilikan negara (al-milkiyah ad-dawlah) yaitu harta seluruh kaum muslimin, sementara pengelolaannya menjadi wewenang dan amanah negara, sehingga negara dapat memanfaatkannya untuk kepentingan rakyatnya. [3]
Seperti yang kita ketahui Indonesia sangatlah kaya dengan sumber kekayaan alam. Di seluruh dunia, Indonesia dikenal dengan zamrud khatulistiwa, salah satu penyair bahkan menggambarkan bahwa Indonesia adalah sepotong tanah dari surga. Dalam sistem kepemilikan di atas semua barang tambang dan kekayaan alam harus dimiliki dan dimandaatkan oleh negara untuk kepentingan rakyat, dan haram untuk dikelola asing. Kekayaan ini tentunya sangat menyokong proses pendidikan. Konon katanya, menguasai PT Freeport saja, Indonesia sudah dapat membiyayai pendidikan secara gratis selama tujuh turunan.
Mengenai teknologi dan Sumber Daya Manusia yang selama ini selalu dijadikan kendala sebenarnya hanya sebatas mitos yang membuat bangsa kita selalu pesimis. Bayangkan ratusan tenaga ahli kita yang bekerja untuk asing. Ribuan lulusan perguruan tinggi yang seharusnya sudah sanggup untuk mengelola kekayaan alam kita secara mandiri. Oleh karenanya, satu-satunya solusi paling praktis untuk membebaskan negeri ini dari segala keterpurukan yaitu dengan mengganti sistem kapitalisme yang usang dengan sistem Islam yang merupakan rahmatan lil alamin.

[1] Sofyan Effendi, Menghadapi Liberalisasi Perguruan Tinggi, Harian Seputar Indonesia, 12-13 Maret 2007[2] Abdurrahman al Baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, Al- Izzah, Bangil, 1996[3] Taqiyuddin An-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam,Hizbut Tahrir, Jakarta, 2011



*Penulis adalah Mahasiswi Sastra Inggris Universitas Hasanuddin yang tertarik pada bidang ekonomi, politik.

Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Oleh: Marzuki*

Saat ini kiblat perekonomian dunia ada 2 yakni USA dan CHINA, lalu dimana posisi Indonesia, sudah menjadi rahasia umum jika Indonesia merupakan budak USA, yaa apalagi kalo hutang luar negeri kita yang seabrek gunung sampai – sampai anak cucu kita yang lahir langsung memiliki hutang yang ntah kapan minjamnya, hidup di Indonesia ini memang sangat aneh, mungkin hanya di negeri inilah satu-satunya tempat yang memiliki sumber daya alam yang terbesar di bumi ini. Penduduknya lebih miskin dari pada sebongkah pulau kecil yang disebut dengan Singapura yang bahkan lebih luas kota Jakarta.  Indonesia memiliki sumberdaya alam yang sangat melimpah, tapi mengapa semua hasil sumber daya alam itu sebagian besarnya di kirim ke Negara yang melakukan pengalian? Dan Indonesia hanya mendapatkan pajak yang tidak seberapa dengan hasil yang mereka peroleh, serta tenaga kerja yang diperlakukan seperti hewan di rumah sendiri, yaa inilah Indonesia menjadi tamu di Negara sendiri. Mengapa bisa menjadi demikian? Hal tersebutlah yang masih sangat sulit untuk dijawab oleh semua orang yang ada di Negara ini.
Indonesia memiliki orang-orang yang cerdas, jenius, professor, risk taker, kaum professional, seniman, musisi, dll, yang keseluruhanya memeiliki level yang diatas rata- rata, namun apa yang terjadi di lapangan? Orang-orang yang tampil hanyalah orang-orang yang memiliki level kelas 2, lalu kemana orang-orang Indonesia yang memiliki level kelas 1? Tentu saja mereka lari keluar negeri, karena merasa karya yang mereka hasilkan di dalam negeri tidak mendapat apresiasi dari pemerintah, mereka jauh lebih dihargai di luar negeri akan kerya mereka. Kita semua telah mengetahui di negeri ini bahwa ada satu rahasia umum yakni “jika bisa dipersulit, mengapa harus di buat mudah?” hal itulah yang menghancurkan negeri ini. Para pengambil keputusan tentu akan melihat setiap keputusan yang mereka ambil apakah akan mendatangkan keuntungan ataukah tidak, jika tidak yaa maaf saja.. kira-kira seperti itulah wajah pengambil keputusan yang ada di Negara ini.
Dengan semua permasalahan diatas, bisakah perekonomian kita bangkit dan menjadi tuan rumah di rumah sendiri? Tentu saja bisa, terdapat banyak cara, berikut beberapa cara yang saya tawarkan:
1. Cegah putra-putri terbaik bangsa untuk pergi keluar negeri, belajar di luar negeri itu baik, namun setelah mereka menyelesaikan pendidikanya, segera tarik mereka kembali kedalam negeri untuk membangun Negara ini. Tentu saja dengan imbalan yang sesuai untuk mereka.
2. Pemimpin yang memiliki mental baja, serta tidak takut akan tekanan dari Negara lain.
3. Kembalikan perekonomian kerakyaatan yakni koperasi. Sadar atau tidak saat ini kita telah menganiut ekonomi liberal, perekonomian kerakyaatan pancasila hanyalah sebuah teori yang tidak pernah terlaksana, koperasi kian hari kian tengelam, kembalikan perekonomian Indonesia seperti ciri khas yang dimiliki Negara ini.
4. Percaya akan kemampuan diri sendiri, saat ini putra putrid Indonesia memiliki ide yang sangat brilian tapi mengapa tidak ada yang muncul ke lapangan, butuh support dari pemerintah.
5. Lunasi hutang luar negeri secepat mungkin, saat ini hutang luar negeri Indonesia sekitar 1000 triliun rupiah, tentu angka yang sangat besar, namun jika ada keseriusan dari pemrintah tentu hutang itu bisa di bayar kapanpun kita mau, karena kita merupakan Negara yang kaya raya.
Demikian beberapa langkah dasar yang menjadi titik tolak agar Negara ini bisa berpijak dengan kaki sendiri, serta menatap masa depan dengan penuh ambisi.
Jika diperhatikan dan jika kita mau membandingkanya dengan Negara lain di dunia, secara rasional tentu kita akan berfikir bahwa Indonesia merupakan Negara terkaya di dunia, dengan sumber daya alam yang melimpah serta tidak akan habis. Flora dan fauna yang eksotis, terletak di antara persilangan dunia, lalu mengapa Indonesia masih berada di level Negara berkembang? Jawabanya karena kita tidak memiliki rasa percaya diri, mulai saat ini kita harus bisa bangkit dan menjadi super power, karena semua yang dibutuhkan untuk hal tersebut dapat kita penuhi sendiri.
Semoga artikel ini dapat bermamfaat bagi kita semua, serta dapat membangkitkan jiwa kita yang telah lama tertidur untuk bangkit kembali dan memimpin perekonomian dunia, mohon maaf jika terdapat kekurangan maupun kesalahan,karena saya hanyalah manusia biasa yang penuh dengan kesalahan, tiada manusia yang sempurna.


*Mahasiswa Jurusan Akuntansi 2009 Universitas Sriwijaya.

Agenda Penting untuk Ekonom(Gila) Indonesia

Oleh: Zulham A. Hafid
Saya termasuk warga negara yang masih optimis akan masa depan ekonomi bangsa ini. Apa pasal? Bukan karena kita dapat investment grade baru-baru ini, tetapi karena satu alasan sederhana, yakni, kita masih hidup di atas tanah air Indonesia! ;)
Tanah air ini merupakan modal terbesar kita, sekaligus menjadi alasan kita untuk tetap hidup sejahtera. Bukankah sejarah kolonialisme di Indonesia berawal dari keinginan bangsa lain untuk menguasai kekayaan kita? Memang, jamak kita jumpai saban hari di pinggir jalanan kota, masih ada anak-anak kurang beruntung yang mencoba bertahan hidup dengan caranya sendiri, namun, itu bukan berarti kita betul-betul sudah miskin. Seperti kata Pak Tanri Abeng, bisajadi hal tersebut disebabkan karena adanya mismanagement.
Lantas, bagaimana mengubah mismanagement menjadi Mrs. Management? :) Sederhana saja, nikahkan nona itu! Hehe… Untuk mengubah perekonomian kita agar lebih kuat dan berpengaruh bagi masyarakat, setidaknya para pakar ekonomi dengan teori-teori lamanya, kita diajarkan tentang faktor sumberdaya alam, modal, organisasi, teknologi, industrialisasi, faktor sosial dan sumberdaya manusia serta kestabilan politik-pemerintahan. Teori di atas adalah teori-teori lawas, tidak salah, namun seiring dengan perkembangan kompetisi ekonomi yang begitu atraktif saat ini, teori tersebut harus mengalami penyesuaian pada beberapa tempat.
Mendidik dengan Gila
Jika salahsatu faktor pendukung diatas ada pada sumberdaya manusia, maka isu pendidikan adalah intinya (disamping kesehatan). Saya masih yakin, ekonomi yang kuat selalu ditopang dan dijalankan oleh orang-orang yang telah tercerahkan pikirannya. Oleh karena itu, menurut saya bukan lagi zamannya berpolemik tentang ujian nasional. Saya setuju dengan konsep pendidikan karakter. Peserta didik bukan hanya dinilai dengan ‘angka-angka’ tetapi juga dinilai secara ‘kualitatif’. Saya menyarankan, anak tingkat SMA-pun saat ini diwajibkan membuat proyek kewirausahaan sebagai prasyarat mengikuti ujian nasional. Jangan salah, saat ini tanpa disadari oleh kita, generasi-generasi muda yang kreatif telah lahir di negeri ini. Arus teknologi informasi telah membentuk karakter awal mereka menjadi lebih adaptif dan memicu lahirnya inovasi. Mereka cuma butuh penguatan kapasitas.
Jika generasi ini mulai mendapatkan penguatan kapasitas, maka saya yakin industri kreatif akan menjadi masa depan bangsa Indonesia. Penguatan kapasitas dapat dilakukan secara formal, pemberian beasiswa kuliah, business coaching, dan permodalan. Bayangkan jika tiap tahun ada 1.000 anak bangsa diberikan beasiswa ke luar negeri untuk kuliah S3, dengan disiplin ilmu yang berbeda dan dengan komitmen nasionalisme bisnis yang kuat untuk membangun bangsa. Bukankah itu suatu langkah yang gila? Sekarang memang sudah ada program semacam itu. Namun, bangsa ini tidak butuh satu dua orang saja. Bangsa ini dihuni oleh 240juta jiwa lebih. Dan dengan jumlah penduduk yang besar itu, Indonesia butuh tambahan 4,1juta pengusaha baru. Kita masih membutuhkan doktor pertanian yang berjiwa pengusaha, doktor peternakan yang mampu mencapai swasembada daging di Indonesia, para insinyur yang mampu membangkitkan industri strategis, pakar-pakar telematika untuk merebut pasar IT dunia, seniman handal yang mampu menciptakan tren baru di dunia, dan cendekiawan-entrepreneur yang mampu men-drive sektor jasa lainnya. Saya juga membayangkan, penguatan kapasitas ini dapat dilakukan dengan memberikan permodalan kepada minimal 1 juta anak muda kreatif per tahun untuk menjalankan bisnisnya.
Jika bertolak dari realitas anak-anak miskin kota yang kerap kita lihat di pinggir jalan, maka satu-satunya cara gila yang bisa menjadi solusi buat mereka adalah dengan menyekolahkannya, secara gratis dan tetap menjaga kualitasnya! Gila? Iya. Namun saya yakin, jumlah mereka tidak begitu membebani anggaran pemerintah kita yang APBN 2012-nya sudah tembus Rp1.400Triliun. Dengan begitu, akan ada revolusi pendidikan yang perlahan menciptakan subyek dan pendorong perekonomian kita. Saatnya memang bicara tentang pemerataan, bukan hanya tentang pertumbuhan. Pancasila kita-pun mengamanahkan demikian.
Pindahkan DKI!
Saya mau bicara tentang teori David Ricardo tentang keuntungan berbanding. Dalam konteks Indonesia, saya pikir ada benarnya pula jika kita menerapkan ajaran Ricardo. Menurut saya, Indonesia memang harus dirancang dengan tata ruang ekonomi yang lebih menspesifikasikan diri pada produk-produk unggulan daerah. Saya setuju dengan isu pemindahan ibukota negara. Jawa saya pikir harus direlakan menjadi daerah yang berbasis pada kegiatan industrialisasi. Sumatera menjadi daerah berbasis perkebunan, Kalimantan berbasis pertambangan, Bali-Nusa Tenggara berbasis pariwisata, dan Maluku-Papua berbasis pertanian. Lantas Sulawesi kemana? Saya bermimpi, Sulawesi menjadi pusat jasa dan pemerintahan baru di Indonesia, atau dalam kata lain, di Sulawesi akan dibangun sebuah Daerah Khusus Ibukota (DKI) baru, mensubstitusi Jakarta yang sudah tidak ekonomis. Sulawesi saya anggap lebih strategis daripada Kalimantan. Selain tepat berada di tengah-tengah Indonesia dengan kondisi geografi yang mendukung, beberapa kawasan masih relativ mudah untuk dibentuk menjadi pusat pertumbuhan baru.
Konsekuensi dari penetapan tata ruang baru ini tentunya harus diimbangi dengan konektivitas yang mumpuni. Bandar udara, pelabuhan, jalan, jembatan dan rel kereta api harus dibangun secara massif. Untuk mendukung itu pula, diperlukan pasokan energi yang cukup. Maka potensi-potensi energi juga wajib untuk dikelola. Pembangunan infrastruktur baru ini, otomatis pula meningkatkan permintaan tenaga kerja. Pertumbuhan 1 persen dalam perekonomian kita ekivalen dengan penyerapan 450.000 tenaga kerja baru.Hal ini berimbas pada produktivas masyarakat yang pastinya meningkat pula.
Teknologi Kepemerintahan
Kita optimis tentang masa depan ekonomi bangsa ini dengan asumsi-asumsi khusus yang kita yakini bersama. Tak salah jika reformasi birokrasi menjadi agenda yang harus dituntaskan. Untuk mengubah ini, butuh keberanian dalam penerapan konsep korporasi dalam pemerintahan. Sebagai seorang birokrat di daerah, sayapun meyakini bahwa apa yang saya hadapi dalam proses kepemerintahan memang masihlah terlalu ribet, tidak efisien. Oleh karena itu, saya menyarankan pentingnya penerapan teknologi informasi kepemerintahan. Sejauh ini menurut saya, dengan teknologi informasi, KKN dapat diminimalisir.
Di samping penerapan e-government yang meminimalisir KKN, salahsatu agenda reformasi birokrasi adalah dengan perekrutan anak bangsa terbaik dalam pemerintahan. Saya membayangkan negara ini menjamin penghargaan yang besar kepada talenta anak muda kita yang brilian. Mereka harus mendapat posisi yang layak sesuai dengan kapasitas mereka. Birokrasi masih diyakini mampu men-drive perekonomian menjadi lebih berdaya saing.
Sebuah Renungan
Dilihat dari segi demografi jumlah kita cukup banyak, sumberdaya alam kita melimpah, peluang bertumbuh ke depan sangat positif, kelemahan-kelemahan sudah teridentifikasi dengan baik, dan tantangan yang ada saatnya diterobos dengan cara-cara ‘gila’. Tiga agenda di atas, menitikberatkan pada: penguatan kapasitas sumberdaya manusia, peningkatan produk nasional yang berbasis di daerah, dan reformasi birokrasi. Oleh karena itu, optimisme diperlukan di sini. Saatnya mulai menjadi ‘gila’ agar ekonomi Indonesia lebih powerfull.        
—-
ZULHAM A. HAFID
Kelahiran Palopo, 13/09/1987, Alumni STIE Muhammadiyah Palopo-Sulawesi Selatan.