Apa Maksudnya "Jika ada wanita yang melamar saya terlebih dahulu, maka saya akan menjanjikan dia peluang 80%"

Oleh: Aulia Rachman Alfahmy
Sebagai seorang “ekonom gila”, saya selalu terbiasa menggunakan angka dalam menjelaskan dan mengungkapkan sesuatu agar dapat dipahami dengan mudah. Kisah dari tulisan ini dimulai dari sebuah pernyataan yang cukup unik, “Jika ada wanita yang melamar saya terlebih dahulu, maka saya akan menjanjikan dia peluang 80% keberhasilan”. Terlepas saya suka dia atau tidak, dia cantik atau biasa-biasa saja, kaya atau miskin, intinya kita anggap tidak ada faktor lain yang memengaruhi (kecuali faktor agama kali ya? :P). Saya sudah berjanji memberikan “80%” saya kepada dia. Adapun saya melakukan ini karena 1) Saya menghormati keberanian perempuan menyatakan lebih dahulu; 2) Untuk saat ini, melihat dari kondisi saya yang belum mapan dan menjadi apa-apa, pastinya sang perempuan benar-benar melihat lebih dari sekedar materi, 80% adalah reward saya.
Tapi ada satu hal yang menganggu saya akhir-akhir ini. Apa sebenarnya makna dari ungkapan “80%” ini? Bagaimana praktik di lapangannya? Apa konsekuensi pernyataan ini bagi masa depan rumah tangga saya? Apakah ungkapan ini dapat menjelaskan siapa saya?  Apa manfaat mengetahui makna angka-angka ini bagi para pembaca Ekonom Gila?
Pengertian 80% pada Umumnya
Mari kita berasumsi 1) cateris paribus, pilihan atas pelamar objektif, tidak ada tendensi atau kecenderungan 2) bahwa yang namanya melamar hanya ada dua jawaban, “Ya” dan “Tidak”, jadi di sini kita beranggapan bahwa seseorang tidak akan memberikan jawaban menggantung, tidak ada jawaban, “sebenarnya saya menerima, tapi tunggu saya lulus/tunggu kamu lulus/tunggu kamu sudah kerja/tunggu kakak sudah nikah/dan jawaban-jawaban sejenis lainnya. Jika kita melamar seseorang, maka probabilitas normalnya adalah 50%, karena ada dua jawaban “Ya” dan “Tidak” (dalam rujukan hukum Islam, seorang wanita yang belum menikah, jika “diam” maka bisa dianggap menjawab “iya”, karena diasumsikan ia malu mengatakan “iya”). Nah, pencerahannya adalah dalam situasi normal, maka setiap lamaran yang kita ajukan ke seseorang sebenarnya memiliki probabilitas diterima 50%! (tentunya juga probabilitas ditolak 50% hehehehe), cateris paribus  :P.
Lalu apa makna 80%? Jika kita bersandarkan pada pengertian dan kasus 50%-50% di atas, maka bisa diartikan maksud dari 80% adalah sebuah ungkapan untuk memberikan penekanan atas probabilitas diterima yang lebih besar. Artinya hukum ya-tidak 50%-50% berubah menjadi 20% untuk tidak, dan 80% untuk iya. Dengan kata lain ini adalah sebuah ungkapan yang mengisyaratkan: “Ayo lamar aku duluan, InsyaAllah kamu akan saya berikan prioritas untuk diterima. Kemungkinan ditolakmu amat sangat kecil…”
Konsep Probabilitas ala Saya…
Penjelasan di atas tidak akan selesai begitu saja. Akan ada masalah jika ada yang bertanya, “Kalau memang hanya sekedar memberikan kecenderungan untuk diterima, kenapa gak 75%? Kenapa gak sekalian 99%? Apa bedanya 80% dengan 90%? Bukannya semua ungkapan ini sama saja? Kenapa harus 80%? Apa itu hanya retorika belaka, biar kelihatan cool dan keren?”.

Baiklah, mungkin memang saya dulu tidak sengaja beretorika. Terpaksa saya membuka buku-buku lama saya lagi, dan mungkin jawabannya ada di buku Basic Econometrics buatan Pak Gujarati dan logika yang dipakai cukup berbeda dengan logika 50-50 di atas. Dan mungkin nanti jika ada anak matematika yang membaca artikel ini, ia akan banyak mengkritisi tulisan ini karena mereka lebih mengetahui hakikat probabilitas ketimbang diri saya. Aka tetapi… lagi pula itulah kenapa ini blog ini disebut Ekonom Gila bukan? Hehehehehe. So nekat saja…

Pada Bab  5 yang ngomongin masalah interval estimation and hypothesis, pak Gujarati menyinggung apa yang dimaksud dengan confidence interval atau biasa disingkat dengan CF (biasanya dengan angka 90%, 95%, dan 99%). Misalnya dalam bagian ini Pak Gujarati menerangkan apa yang dimaksud dengan CF 95% dalam sebuah interval nilai 0.4268 sampai 0.5914. Beliau menjelaskan maksud CF itu seperti ini:

Given condition 95%, in the long run, 95 out of 100 cases interval like (0.4268, 0.5914) will contain true β2.   

Tapi beliau juga meningatkan!

We cannot say that the probability is 95% percent, that the specific interval (0.4268, 0.5914) contains the true β2 because this interval is now fixed and no longer random, therefore, either lies in it or does not: The Probability that specified fixed interval include the true β2 is therefore 1 or 0.

Anda bingung? Hahahahaha, Sama saya juga! Mungkin pengertian Gujarati di atas sebenarnya tidak bisa dipakai dalam kasus “dilamar = 80%” saya. Karena di atas adalah sebuah kasus yang harus digunakannya sebuah data empiris, ada observasi, ada standar deviasi, dan CF yang bergabung dan berujung pada sebuah kesimpulan pada diterima atau ditolaknya hipotesis. Tapi mungkin ada baiknya kita menggunakan sedikit pengertian di atas untuk kasus “dilamar = 80%” ala saya. Oke ini ala saya, silakan bagi teman-teman yang ahli matematika mengoreksi secara akademis tulisan ini, eheheheheh.
Terinspirasi dari pengertian CF di atas, saya menggunakan pengertian 80% seperti ini: Dalam jangka panjang dari kasus 100 wanita yang duluan melamar saya, maka 80 lamaran yang ada adalah lamaran yang saya terima. Wah artinya, apa saya punya bakal 80 istri?

Interpretasi Liar…
Baiklah, mari kita kecilkan angka 80% ini menjadi 8 dari 10 atau 4 dari 5. Jadi misalnya dalam jangka panjang ada 10 wanita melamar saya duluan maka 8 lamaran itu saya terima, atau lebih kecil lagi, jika dalam hidup saya (jangka panjang) ada 5 wanita yang melamar saya, maka 4 lamaran itu akan saya terima. Nah, sekarang sudah ada 4 istri, kalau di Islam kan boleh punya 4 istri? Apa ini maunya penulis? Hehehe: Bukan. Itu bukan concern saya, bukan jumlah orang yang diterima, tapi justru jumlah orang yang ditolak.
“Hikmah” dari probabilitas ala saya di atas adalah dapat dijelaskan seperti ini: anggaplah saya memiliki fans 100 orang wanita, dan anggaplah ada pengamatan peneliti peradaban, saat ini 10% dari fans wanita biasanya mau dan rela melamar duluan. Jadi dengan fans yang saya estimasi sekitar 100 orang maka ada 10 orang dalam hidup saya yang akan melamar saya duluan. Maka jika demikian ada 8 yang diterima dan 2 orang yang tidak diterima. Dengan demikian, jika saya konsisten dengan prinsip 80% dan jika kondisi-kondisi soal estimasi fans dan wanita pelamar benar, maka jatah menolak “wanita pelamar duluan” sepanjang hidup saya hanya ada 2 orang. Jika fans saya hanya ada 50 orang sepanjang hidup, maka 5 orangnya akan berani melamar duluan. Dengan prinsip 80% diterima, maka jatah menolak saya hanya 1 orang. Bagaimana jika hanya ada 3 pelamar dalam hidup saya, tidak ada yang bisa saya tolak sedikit pun, karena ketika saya menolak satu orang saja maka rumusnya bukan lagi 80% tapi 66,6%.
Oke apa hikmah dari “logika-logika” di atas? Menjawab pertanyaan dasar di atas bahwa angka 80% ada bedanya dengan 90% dan 70%. Ternyata ungkapan-ungkapan 70%, 80%, 90% menunjukkan perbedaan 1) tingkat kepercayaan diri seseorang atas seberapa banyak jumlah fansnya dan 2) bisa mengetahui seberapa banyak jatah orang yang bisa dia tolak. Semakin tinggi nilai probabilitasnya maka menunjukkan bahwa orang tersebut kurang percaya diri = merasa fansnya sedikit, artinya dia memiliki prinsip “Siapa saja! yang penting mau sama saya…”, Semakin rendah maka bisa dikatakan adalah orang yang sangat pemilih dengan memperbanyak “jatah menolak” = yakin bahwa dalam hidupnya akan banyak yang melamar dia.

Note: ingat bahwa ini adalah kasus di mana kita dilamar oleh seseorang tanpa tendensi/kecenderungan apa-apa, murni tanpa ada chemistry, objektif tanpa ada rasa di hati :p, jadi tidak bisa kita bantah oleh orang yag sudah menikah, “Saya ini pemilih loh, tapi..lamaran pertama atas diri saya saya terima tuh, karena memang saya dari awal sudah suka sama dia! Kosep ini batal!”. Itu kasus dengan asumsi yang berbeda.

Perbedaan Kondisi-Kondisi yang Dibutuhkan
Ingat bahwa 80% itu adalah standard saya pribadi bagi wanita yang “melamar duluan”. Kredit lebih saya berikan bagi mereka yang berani mengambil inisiatif dengan landasan berpikir bahwa di era peradaban saat ini wanita yang berani melamar duluan adalah wanita yang punya perbedaan dan nyali (not ordinary). Mungkin bisa jadi kasus ini bagi wanita berbeda, bagi mereka “Pria Melamar duluan” adalah hal yang biasa, dan tidak perlu diberikan kredit lebih. Tetap kembali ke konsep probabilitas awal 50-50, “iya” atau tidak” (note: konsep 50-50 sebenarnya tidak bisa diartikan jika ada 10 orang melamar, 5 orang adalah jatah ditolak, karena concern-nya di opsi pilihan.”ya” dan tidak”, karenanya probabilitas 50%).
Sebenarnya konsep 80% saya bisa diterapkan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Misal mbak A, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia seorang lulusan S1”, Mbak B, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia adalah seorang yang alim dan faqih dalam agama”, Mbak C, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melama saya jika dia adalah seorang yang kaya raya, atau Mbak D, “Saya akan memberikan 99,99% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia adalah seorang yang lulusan S1, alim dan faqih dalam agama, seorang yang kaya raya dan ganteng…”, ingat: cateris paribus.
  1. Bagi mbak A: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria lulusan S1 melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok S1 itu
  2. Bagi mbak B: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria yang alim dan faqih dalam agama melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok alim dan faqih itu
  3. Bagi mbak C: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria yang kaya raya melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok kaya raya itu
  4. Bagi mbak D: Semisal dalam hidupnya ada 1 saja atau bahkan 100 orang pria lulusan S1, alim-faqih, kaya raya, dan ganteng melamar dia, maka tidak ada satu pun yang “sempat” dia tolak (satu aja belum tentu ada dalam hidup…)

Sama seperti saya, “Saya akan memberikan 95% bagi wanita yang melamar dulu, sholehah dan pinter”, dari 80% menjadi 95%, ada peningkatan probabilitas dan pengertian secara teknis di lapangan akan berbeda.
Hikmah dan Kesimpulan
Bagi orang yang ingin melamar saya: lihat kira-kira seberapa terkenal saya, seberapa keren saya, berapa kira-kira jumlah fans saya, berapa kira-kira orang yang akan melamar saya dalam jangka panjang, lalu cari tahu sudah berapa orang yang saya tolak, lamarlah saya ketika jatah menolak sudah habis dan anda akan saya terima sebagai bentuk konsistensi saya terhadap apa yang saya janjikan pada diri sendiri. Hehehehehehehe
Bagi kita semua (penulis dan pembaca Ekonom Gila): Menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik akan meningkatkan probabilitas diterimanya lamaran kita kepada seseorang, karena orang yang kita lamar akan kehabisan “jatah” untuk menolak.
Sekali lagi, mungkin banyak yang akan mengkritik pedas tulisan saya mulai dari konsep probabilitasnya yang ngawur hingga ke masalah “perasaan” hati dan kejelimetan saya soal hal-hal yang remeh temeh ini: Pernikahan, “Sudahlah Aulia, ngapain pusing-pusing hitung-hitung probabilitas, kalau suka ya terima aja, kalau gak suka tolak saja, tidak usah banyak dipikirkan, dirasakan saja….”.
Selama menjalani kehidupan ini, saya akhirnya sadar bahwa masa depan, serapi apapun manusia merencanakan, Allah yang berkendak. Manusia sebatas merencanakan, rencana Allah niscaya lebih indah. Termasuk dalam hal jodoh, kita tidak bisa tahu apakah memang benar-benar pasangan hidup yang ada di depan kita adalah yang terbaik dari kacamata pribadi dan perasaan kita saja, Allah-lah yang akan menunjukkan kepada kita siapa yang terbaik bagi kita, sekali lagi, manusia hanya bisa merencanakan”. Probabilitas yang rumit di atas adalah rencana saya, Allah-lah yang berkehendak di hasilnya. Saya akan kesampingkan emosi dan perasaan saya dalam menentukan sebuah pilihan yang besar dalam hidup saya: Istri, lalu akan menggantinya dengan bersikap objektif dan profesional melalui sebuah rencana dan doa agar selalu diberikan ilham yang benar dan baik bagi hidup dan agama saya. Semua kembali ke Allah…

“..either lies in it or does not: The Probability that specified fixed interval include the true β2 is therefore 1 or 0.”

Selasa, 4 Juni 2013
Waktunya untuk merenung dan merenungkan..
Advertisements

Spousonomics: Solusi untuk Keretakan Rumah Tangga Anda!

Gara-gara dulu Mas Gilang pernah suggest buku yang kayaknya bagus ini (pas zaman-zamannya Para Ekonom Gila Cinta masih pada mabuk kepayang sekian tipe: galau jomblo, galau nggak laku-laku, galau mau nembak, sampai galau mau nikah) akhirnya saya bela-belain juga membaca ini buku dengan harapan buku ini akan menyelesaikan masalah galau skripsi saya (loh?!? Hahaha~). Buku ini berjudul “Spousonomics: or How to Maximize The Biggest Investment of Your Life” karya Paula Szuchman dan Jenny Anderson. Tulisan ini akhirnya sengaja dibuat khusus untuk kakak seperguruan Ekonom Gila, Mas Syarif, dan kakak pemandu AAI saya zaman dulu, Mbak Kiki. Tapi jangan salahkan saya kalau setelah membaca tulisan ini, aka nada dua kubu pembaca: Kubu yang merasa masalah-masalah rumah tangganya terpecahkan DAN Kubu yang merasa menikah itu kok ya rada merepotkan ya (pendapat pribadi, hahaha~).

Dalam tulisan ini, percaya atau tidak, dalam sebuah survei pada sekian banyak keluarga yang ada di US tentang permasalahan apa yang bisa mereka selesaikan sehingga akhirnya pernikahan mereka bisa awet, top 3 jawabannya adalah: Uang, Anak-Anak, dan yang terakhir… Pekerjaan Rumah Tangga (dan segala tetek-bengeknya). Jadi, lagi-lagi percaya atau tidak, saya akan menuliskan sekian banyak teori ekonomi yang dipakai di buku ini untuk menyelesaikan masalah-masalah rumah tangga tadi (dengan sedikit penyesuaian dengan keadaan di Indonesia dan Teori Comparative Advantage, Teori Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency), sampai pada Teori Kegagalan Pasar (Market Failure). Penasaran? Kita lihat pesan-pesan sponsor berikut ini, wehehehe~

Keretakan Rumah Tangga #1

Gara-gara sebegitu banyaknya pekerjaan rumah yang ada, Ani dan Budi (bukan nama sebenarnya) pasangan yang baru menikah 3 bulan memutuskan untuk membagi pekerjaan rumah sama rata berdasarkan bagian rumah depan-belakang. Ani mendapatkan segala pekerjaan yang berhubungan dengan rumah bagian belakang (memasak, mencuci baju, mencuci piring), dan Budi mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan rumah bagian depan (memotong rumput, mencuci mobil, membersihkan lantai rumah dan halaman). Sekilas tampak sama jumlahnya kan? Tapi mereka tidak bahagia. Kenapa? Karena Ani merasa bebannya lebih berat karena dia memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya, sedangkan Budi dilihatnya selalu cepat selesai dan santai-santai sambil minum kopi.

Teori Comparative Advantage

Setelah Ani menemui pakar “Ekonom Cinta”, Sang EC pun memberikan saran menggunakan Teori Comparative Advantage. Jadi, Ani dan Budi tidak membagi pekerjaan berdasarkan “bagian rumah depan-belakang” tapi dengan “siapa yang bisa selesai lebih cepat”. Katakanlah untuk pekerjaan memasak ternyata Budi bisa menyelesaikannya dalam 20 menit sedangkan Ani baru bisa selesai dalam 40 menit (tentu dengan hasil sama enak loh ya!). Dan ternyata Ani bisa menyelesaikan pekerjaan membersihkan lantai rumah dan halaman dalam waktu 25 menit saja dibanding Budi yang memerlukan waktu 55 menit untuk menyelesaikan semuanya. Hal ini berarti, bahwa mereka bisa membagi pekerjaan berdasarkan kelebihan masing-masing (comparative advantage) untuk mendapatkan hasil yang paling efisien. Bahkan, jika ternyata Ani bisa menyelesaikan banyak pekerjaan dengan waktu lebih sedikit dari Budi, tetap saja ada sesuatu yang bisa mereka “perdagangkan”. Caranya? Budi bisa menawarkan untuk memilih pekerjaaanp-pekerjaan yang rasio waktu penyelesaiannya lebih kecil. Bingung?

Memotong Rumput

Mencuci Mobil

Ani

15’

20’

Budi

20’

35’

Rasio

0,75

0,57

Dari rasio di atas, Budi bisa memilih untuk mencuci mobil dan Ani yang memotong rumput. Tidak efisienkah? Bukankah semuanya lebih cepat jika Ani yang mengerjakan sendiri? Ouch! As if she would like to do that! Tapi karena Budi memang lambat di semuanya, benefit yang bisa diperoleh Ani dari skenario di atas adalah dia bisa saving waktu lima menitnya daripada dia yang mencuci mobil dan Budi yang memotong rumput. Yak! Mudah kan? Tapi ya itu… siap-siap stop watch untuk menghitung seberapa cepat siapa melakukan apa! :)

Keretakan Rumah Tangga #2

Ino dan Bidi (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) baru saja menikah. Dan seperti pasangan lainnya, mereka berdua sama-sama bekerja –Ino bekerja sebagai dosen dan Bidi bekerja sebagai salah satu karyawati sebuah perusahaan IT. Tahun-tahun awal pernikahan mereka sangat membahagiakan, setiap hari mereka mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama, bersepeda saat weekends, menonton film baru, dan berbagai hal lainnya. Dan setelah sekian lama berlalu, sebuah hal membahagiakan datang: Bidi pun hamil. Setahun setelah dia melahirkan anak pertamanya, dia melahirkan sepasang anak kembar lagi (produktif sekali mereka, hehehe~). Dan akhirnya Bidi memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurus rumah tangga. Akan tetapi, dia mulai uring-uringan ke Ino karena menurutnya Ino hanya bekerja mencari uang dan tidak pernah membantunya mengurus rumah. Sedangkan menurut Ino, saat dia menawarkan diri untuk membantu, Bidi selalu menolak dan melakukan semuanya sendiri untuk hasil yang terbaik baginya.

Teori Pareto Efficiency

Ada beberapa pilihan untuk pasangan ini, (1) Ino dan Bidi seharusnya bisa mempekerjakan pembantu sehingga Bidi bisa bekerja lagi –yang membuatnya bahagia, (2) Bidi bisa memaksa Ino untuk melakukan setengah pekerjaan rumah tangga yang dibebankan padanya –yang akan membuat Ino merasa keberatan tentu saja. Dan mereka tidak akan menyetjui semua itu. Jadi, mereka bertanya pada Ekoom Cinta dan lagi-lagi sang EC menjelaskan pilihan terbaik mengikuti Teori Pareto Efficiency.

Saat ada delapan potong pizza, aku dan adikku membaginya sama rata –masing-masing mendapat 4 potong. Tapi aku sudah kenyang hanya dengan memakan 2 potong (pencitraan biar aku kelihatan kurus) dan adikku masih lapar walau sudah memakan 4 potong. Jadi aku memberikan dua potongku kepadanya, tanpa aku merasa kurang puas karena bagianku berkurang dan dia merasa puas dengan tambahan bagian itu. Itulah Pareto Efficiency.

Jadi, dengan teori itu, Bidi mulai mengubah pemikirannya. “Jika aku mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga selama semingguan ini, maka aku berhak mendapatkan satu malam free untuk diriku sendiri,” tuturnya. Jadi, setiap sabtu malam, Ino harus pulang cepat dan mengambil alih semua pekerjaan rumah sehingga Bidi bisa mendapatkan waktu luang untuk pergi bersama teman-temannya atau apapun yang dia suka. Ino sangat menyetujuinya, dan Bidi lebih dari puas untuk mendapatkan waktu pribadi untuknya sendiri.

Keretakan Rumah Tangga #3

Setiap pasangan perlu mulai berhati-hati jika menemukan beberapa hal di bawah yang masuk dalam kategori ini:

Karakteristik Market Failure

  1. Jika Sang Istri selalu masak makanan yang terlalu asin, terlalu asam, terlalu pedas, atau terlalu manis.
  2. Jika Sang Istri/Sang Suami mengadakan aksi tutup mulut selama tiga hari berturut-turut.
  3. Jika piring terbang selalu menghiasi setiap pertengkaran kecil/besar yang terjadi di rumah.
  4. Jika Sang Istri/Sang Suami serasa hidup sendiri di bulan dan mengacuhkan yang lainnya.
  5. Jika Sang Istri/Sang Suami memilih tidur di sofa.
  6. Dan silakan ditambah sendiri…

Yak! Memang masih banyak sekali masalah yang muncul di mahligai rumah tangga (padahal aku sendiri belum ngerasain juga, hahaha~) dan banyak teori-teori lain yang bisa dipakai untuk menyelesaikannya (misalnya, Sunk Cost! Ini diahas di lain kesempatan yaaa~).

Nah! Ada yang mau coba mengaplikasikan teori-teori Spousonomics (alias teori couple) ini bersama Sang Penulis artikel? Silakan kirim CV atau Short Profile ke andihime@gmail.com under the subject of “Spouse Application” no longer than August 31st, 2012. Only shortlisted candidates notified for further interview. Any inquiries, feel free to send to the same email :)

Cari, Temukan dan Selamatkan. Mungkin Para Tuna Asmara Masih banyak Di Sekitar Anda.

Gambar diubek dari Google

Oleh: Santy Novaria

Pernahkah Anda punya teman-Kau-Tahu-Siapa-yang tetap fokus ‘melototin’ layar monitor pas malam Minggu dengan  alibi bahwa dia tidak bermalam Minggu karena tidak punya pacar sibuk mencari bahan makalah? Lantas apa reaksi Anda? Percaya lalu pergi bermalam minggu begitu gembiranya?

Atau anda pernah ketemu dengan Mas-mas pengkolan yang rambutnya di cat Ungu, berotot dengan bulu kaki lebat tapi berbando dan blush on-an?

Apakah temans pernah merasakan  jadi orang yang berada di contoh kasus pertama? Atau pernah gak mikirin betapa nyeseknya nasib orang di contoh kasus kedua? Pernahkah? PERNAHKAH? PERNAHKAAAHH???!! (Sengaja saya ulang biar efek dramatisnya kerasa).

John Maynard Keynes feat Santy Novaria

Bersyukurlah Keynes punya otak cemerlang yang akhirnya menjadi Ekonom termashyur lalu melahirkan gagasan ekonomi makro, ekonomi moneter dan teori permintaan dan penawaran yang berhubungan dengan output.

Hampir sepakat dengan Om Keynes, saya juga setuju bahwa masalah ekonomi tidak hany melulu soal penawaran, perilaku konsumen, penerimaan, biaya dan laba rugi suatu perusahaan. Tapi lebih ke lingkup yang lebih luas. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, pengangguran dan kebijakan ekonomi. Kenapa kok bisa? Entah, saya lebih setuju aja. Mungkin dampak langsungnya akan terlihat di artikel ini. Mungkin. #MulaiGakYakin

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu dampak dari pemikiriran Om Keynes yang hebat ini adalah munculnya Pengangguran, yang di zaman Om Adam Smith, sama sekali tidak terpikirkan dan masih belum ditemukannya solusi yang benar-benar solusi sampai sekarang.

Jika dalam teori ekonomi makro disebutkan,  orang yang usianya telah pantas menjadi angkatan kerja dan sedang mencari pekerjaan minimal dalam jangka waktu empat minggu tetapi masih tetap menganggur disebut Tuna Karya yang lebih akrab kita dengan sebutan Pengangguran (unemployment) maka saya mencoba memandang dari sisi yang bedanya cuma dikit.

Ada Apa Dengan Mas Pengkolan? Kenapa harus Mas Pengkolan?

Kemungkinan besar, mas-mas tadi dandanannya belum begitu sampai satu hari dia terjebak Andy Lau (ANtara DYlema dan gaLAU) karena diputusin mbak-mbak pujaan hati dan hampir nyuntikin Baygon cair ke nadinya sebelum Mas Bunga menyelamatkan hidupnya.

Sudah berapa lama dia berteman dengan Mas Bunga? Apa saja yang telah mereka lakukan selama berteman? Berapa tarif yang mereka pasang jika short time? Lupakan!

Kita ibaratkan Mas Pengkolan tadi adalah ‘angkatan kerja’, lalu mbak pujaan hati adalah ‘lapangan pekerjaan’, maka jika dalam waktu lebih dari empat minggu mas pengkolan tadi belum juga mendapatkan pengganti mbak pujaan hati lalu dia menyerah dan putus asa begitu saja, dalam teori ekonomi makro kasus Mas Pengkolan tadi dikenal sebagai discouraged-worker.discouraged-worker.

Tapi dalam istilah Santy Novaria, Mas Pengkolan tadi adalah Tuna Asmara atau yang lebih populer lagi disebut JOMBLO.

Cari, Temukan dan Selamatkan

Dari jaman pelajaran PKn masih PPKn dan PPKn masih PMP, dari jaman PSPB belum jadi pelajaran Sejarah,  kita sudah diajarkan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Merugilah orang yang tidak peka terhadap orang lain di lingkungannya.

Lalu apa hubungan unemployment dengan Jomblo?

Jika dalam ekonomi makro, pengangguran punya latar belakang penyebab yang berbeda-beda, begitu juga dengan kisah Mas Pengkolan dan teman yang-Kau-Tahu-Siapa-juga pasti punya alasan tersendiri kenapa mereka lebih memilih mejadi Tuna Asmara.

Selama ini kita terlalu terfokus pada prinsip Permintaan dan Penawaran di ekonomi Mikro yang kita hubung-hubungkan dengan-penyebab-kenapa-mereka-Jomblo.
Oh, mereka Jomblo karena permintaan si calon gebetan terlalu tinggi dan supplier gak kuasa ngimbangin. Jomblo deh..
Gak! Gak Cuma itu temans, mari kita bahas dari versi Ekonomi Makro

Cari
1.      Jomblo Friksional (Frictional Unemployment)

Terjadi karena apa yang kita punya (fisik, kematangan emosional dan materi) tidak sesuai dengan apa yang diinginkan Calon Cem-ceman.
Ditahap Jomblo ini masih berlaku sih penawaran (kualitas yang kita punya) dengan permintaan (keinginan si calon pacar). Tapi cuman dikit. Dikit banget malah.

2.      Jomblo Cyclical (Cyclical Unemployment)

Jomblo musiman. Kita sebut saja begitu, jomblo yang terjadi karena situasi yang berubah-ubah sesuai dengan siklusnya.
Misalnya, dalam satu ruangan ada belasan cowok mendadak jomblo karena diputusin sama pacarnya yang lagi PMS massal. Bawaan ceweknya pengen minta putus aja gak tau kenapa. Bosan liat mukanya, emosi nyium bau keteknya, inilah-itulah.
Tapi jangan khawatir, namanya juga musiman. Ntar juga kalo malem minggu paling si cewek minta balikan lagi.

3.      Jomblo Struktural (Structural Unemployment)

Jomblo yang terjadi karena adanya perubahan yang sangat berarti di struktur kehidupan asmara mereka.
Mereka inilah orang-orang yang dengan kerelaan hati memilih untuk Jomblo dalam periode tertentu.

Temukan

1.      Pelaku Jomblo Friksional.
Mereka adalah orang-orang yang tergabung dalam JOKER.
Bukaaan.. Bukan JOmblo KERen, tapi JomblO Karena kERe.
Mereka adalah Jomblo dengan kualitas dompet ngap-ngapan yang ngotot naksir gadis Mall yang hobbi berburu tas bermerk meski cuma KW13 (saking palsunya), mereka adalah orang dengan kapasitas uang saku ala kadarnya yang pedekate sama cewek doyan nonton di bioskop padahal film bajakannya dijual dipinggiran trotoar. Muahahaha
#MentalMahasiswa  #CurhatColongan

2.      Pelaku Jomblo Cyclical.
Merekalah para JONGOS. JOmblo NGos-ngOSan. Jomblo yang mati-matian minta jangan diputusin dan siap terkena serangan asma ngejar-ngejar pacarnya buat balikan lagi. Malang? Mungkin, semoga kita tidak termasuk.
Hey, kamu! Iya, kamu. Kamu! Pake lirik orang lain.
3.      Pelaku Jomblo Struktural
     Adalah mereka yang mengaku JOJOBA. Yap, mereka yang menghibur diri sebagai JOmblo-JOmblo BahAgia.
Orang yang mengikuti aliran ini, sering sesumbar tidak pernah merasa terganggu dengan predikat jomblo tersebut. Karena bagi mereka lebih baik menjadi Jomblo yang Bahagia dari pada jadi korban perselingkuhan, korban pacaran posesif maupun korban pacaran jarak jauh.

Mereka merasa bebas mau jalan kemana aja tanpa ada yang nelponin tiap menit, nanyain “kamu dimana? Sama siapa? Lagi ngapain?”, mereka bahagia karena gak ada pacar rese yang bawel, yang ngurigain, yang marah-marahin, yang ngambekan karena sms gak dibales, yang… cukup. Fokus. #TerbawaPerasaan

Selamatkan.

Setelah kita tahu penyebab Jomblo berdasarkan kategori diatas, tak jauh beda penangannya dengan pemberantasan Pengangguran yang sampai sekarang masih dicari solusi jalan terbaiknya.

1.      Jomblo Friksional (Frictional Unemployment)
Kaum jomblo dalam golongan ini biasanya masih terbuka menerima masukan dari orang lain.

Jangan pernah berhenti mengingatkan bahwa kita hidup di dunia nyata. Tidak ada Pangeran yang benar-benar ingin menikahi Upik Babu. Sadar. Ngaca, kalo kata orang tua. Jarang ada pesta hingga larut malam kecuali di diskotik atau warung remang-remang dan Babu dilarang masuk, kecuali ada muntahan yang harus dibersihkan.

Kalaupun beneran ada, itu mukjizat, mamen!

2.      Jomblo Cyclical (Cyclical Unemployment)

Satu-satunya cara adalah tunggu sampai siklusnya berakhir. Namanya juga musiman.
Kalau gak berhasil juga? Tunggu sampai musim orang nikahan menjamur. Sering-seringlah berbaju Batik dan rapi, pantengin acaranya dari awal sampe kelar, selain dapat makan gratis mungkin ada satu diantara tamu yang senasib dengan anda.

3.      Jomblo Struktural (Structural Unemployment)

Apakah Anda korban pernah menjumpai jomblo tipe macam ini? Agak susah nyelamatin jomblo yang dalam tahap ini karena bisa dibilang inilah jalan yang mereka anggap terbaik buat mereka.

Tapi, hey!
Kenapa anda merendahkan diri anda sendiri? Move on, guys!
Kita terlalu berharga buat terjebak dalam lingkaran sesat kayak gini.

So, What?? Bukan Kiamat ini.

“ Trus, gimana dengan gue yang keseringan Jomblo dari pada punya pacarnya?”
“  Itu derita lo dong.”
HAHAHAHAHA

Gak lah. Becanda. Nikmatin aja dulu jalan anda yang sekarang.
Karena Tuhan selalu tahu apa yang terbaik buat kita. Dia mempersiapkan semua yang akan diberikan untuk kita kalau waktunya sudah tepat. Amiiinn.

Menunggu Pasangan hidup sama dengan menunggu waktunya Wisuda dan make toga. Tak perlu tepat waktu. Tapi menunggu waktu yang tepat.
 #NgelesLevelDewa     #MenghiburDiriSendiri   #MenghindariTopikWisuda

Kalau biasanya di akhir ceramah ada doa sebagai penutup, saya inget satu kata bijak yang entah punya siapa:

“ Love is like a sand in the hand. The more you keep it, the more you lose it.. “

Yang JOMBLO MANA SUARANYAAAA?????

___________________

Catatan Sikil: Terinspirasi dari coretan iseng Raditya Dika

Apa yang Harus Saya Lakukan Jika Berwajah Jelek, Miskin, dan Tidak Memiliki Masa Depan???

Oleh: Yoga PS untuk Syarif dan Kiki

Apakah Anda termasuk warga JOMBANG (JOMblo ga berkemBANG) dan sekitarnya? Sudah bosan jadi orang KEDIRI? Kemana-mana Sendiri? Atau lagi MAGELANG? MAsa depan Galau dan tak TeLang? Apakah Anda sedang kebingungan mencari pasangan hidup? Apakah Anda masih belum laku-laku juga?

Jika Anda masih belum “sold out”, berarti ada yang salah dengan marketing pribadi Anda. Selain factor nasib, jodoh, dan tampang tentunya (klo ini saia ga ikut-ikut). Untungnya Tuhan menciptakan Philip Kotler, Kenichi Ohmae, Peter Drucker, Jack Trout, Hermawan Kertajaya, Yoga PS, dan ahli2 manajamen pemasaran strategis lainnya. Karena kali ini kita akan menggunakan strategic marketing untuk menjual diri kita sendiri.

Supply demand

Sebelumnya, mari kembali ke konsep dasar dari ilmu ekonomi: permintaan dan penawaran. Ya, mencari jodoh ibarat memasuki “pasar perkawinan” dimana ada supply dan demand. Supply pasangan hidup dan permintaan akan pasangan hidup.

Memang pernikahan bukan hanya transactional benefit, atau semacam legalisasi perzinahan. Ada yang bilang jika menikah adalah membangun peradaban. Kita tidak bisa melakukan simplifikasi proses cinta menjadi jual beli transactional semata. Karena cinta itu buta. Pernah nonton film “Si Cinta Dari Goa Hantu” kan? Dan ada banyak kasus dimana cinta menjadi sangat irrational dan tidak bisa dijelaskan secara logika, kata-kata, dan ekonometrika ekonomika statistika.

Tapi untuk mempermudah pembahasan kita mengasumsikan orang yang ingin menemukan pasangan hidup bersifat rasional dan menempatkan dirinya dipasar. Hampir seperti pasar tenaga kerja. Kita memberikan supply. Dan seperti logika ekonomika, barang yang bagus biasanya memiliki permintaan yang bagus. Sebaliknya, barang yang jelek demand-nya tidak terlalu tinggi.

Tapi tunggu dulu, semua tergantung pada strategi yang kita lakukan. Buktinya ada pria yang ga terlalu ganteng, ternyata bisa jadi playboy. Ada juga wanita yang cantiknya kaya bidadari eh masih single sampai umur 30 an.

Semua hanya masalah pemilihan strategi dan eksekusi. Contohnya Mercedes Benz, jika Anda tidak bisa menjualnya, tetep aja ga laku. Dan meskipun Anda Cuma berjualan Suzuki Carry, jika Anda bisa memasarkannya, tetap bisa laris manis.

Lantas bagaimana caranya?

What should we do?

Secara bego-bego-an, pemasaran berarti melakukan komunikasi yang tepat tentang produk/jasa yang tepat untuk pasar yang tepat. Secara garis besar sederhana, ada tiga:

1. Lakukan Analisa Internal

2. Tentukan Target Pasar

3. Action! Action! Action!

Sebelum pergi ke “bursa perjodohan”, Anda harus bisa menemukan diri Anda sendiri dulu. Apakah Anda sudah siap berpasangan? Apa yang bisa Anda berikan? Feature apa yang bisa Anda tambahkan? Apa competitive advantage yang Anda miliki? Anda harus bisa menjawab pertanyaan sederhana: Hal apa yang Anda punya sehingga pasangan Anda harus menerima Anda?

Analisis SWOT mutlak diperlukan. Apa kelebihan yang kita miliki, kekurangan yang masih harus diperbaiki dan terkadang ditutup-tutupi. Peluang pengembangan diri, dan ancaman dimasa depan. Atau bisa menggunakan 5 Porter analysis yang meliputi kekuatan konsumen (klo target Anda tante2 perawan tua umur 45 tahun, kekuatannya menolak lamaran Anda lebih kecil daripada gadis 17 tahun), kekuatan supplier (Anda sendiri), mudah tidaknya memasuki suatu pasar (naksir bini orang? Pikirin 13x), potensi subsitusi (bisa nyari target lain?), dan persaingan (Punya saingan yang lagi ngejer si doi?).

Anda tidak harus menjadi Superman. Atau memiliki body kaya bintang bokep. Nobody’s perfect. Yang jelas kita harus memiliki competitive advantage. Entah kecerdasan, harta, interpersonal skill, spiritual power, atau besarnya rasa cinta dan rela menerima si dia apa adanya. Kata pepatah China, sungai biar dangkal yang penting ada naganya, gunung biar pendek yang penting ada dewanya!.

Untuk memenangkan persaingan Anda dapat menggunakan rumus 3B. Bukan berdoa, berusaha, dan berkaca (guyonan zaman kapan lagi itu). Tapi Be the first, siapa cepat dia dapat. Jika telat, be the best. Jika tidak bisa? Just be different! Ciptakan keunikan Anda sendiri. Just grow with your own character!!!

Sniper

Yang tak kalah penting tentu saja pemilihan target “pasar” Anda. Karena pasarnya beda, approach-nya berbeda, action-nya juga berbeda. Mendekati akhwat sholeh yang pakai cadar tentu beda caranya dengan ABG sok gaul yang masih belajar nulis sms dengan benar.

Lakukan segmenting, targeting, dan positioning. Tulis kriteria target pasar Anda. Apa pendidikannya, profesi, Socio Economic Class, umur, kepribadian, hobby, hingga kriteria fisik dan lainnya. Suka-suka. Tulis saja dulu. Urusan kesampaian atau tidak itu masalah nanti.

Sudah punya target? Sekarang pelajari pasar Anda. Bagaimana behaviornya, apa seleranya, apa hobbinya, apa yang dibencinya, topic apa yang membuatnya tertarik, bagaimana pola pikirnya, apakah ada “produk pesaing”? bagaimana “market entry”-nya? Komunikasi pemasaran apa yang cocok? Media apa yang bisa digunakan?

Karena target Anda menentukan strategi Anda. Jika “segmen” Anda doyan clubbing ya minimal situ harus tahu siapa DJ yang keren. Klo “pasar” anda penyayang binatang, akan lebih baik jika muka Anda mirip binatang. Hehehe. (Asal prilakunya jangan kaya binatang lho..). Klo “konsumen” Anda anak Kiai ya berarti mulai sekarang Anda harus belajar beneran mengaji dan berhenti “ngaji” (ngajakin jinah :p).

Marketing is just like flirting girl

Gampangannya gini deh:

1. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Anda mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Direct Marketing.

2. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Salah satu temanmu menghampirinya. Sambil menunjuk ke arah Anda, temanmu itu berkata, “Dia orang kaya, nikah sama dia, ya!” Itu namanya Advertising.

3. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Anda menghampirinya, lalu minta nomor HP. Esok harinya Anda telepon dia dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Telemarketing.

4. Anda melihat gadis cantik di sebuah pesta. Anda merapikan diri, lalu menuangkan minuman buat dia, dan membukakan pintu buat dia. Sambil mengantarnya pulang, Anda bilang, “By the way, saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Public Relations.

5. Anda melihat gadis cantik di sebuah pesta. Dia menghampiri Anda dan berkata, “Anda orang kaya, kan? Nikah sama saya, yuk!’ Itu namanya Brand Recognition.

6. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Anda mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, tapi dia malah menampar Anda. Itu namanya Customer Feedback.

7. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Anda mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, terus dia memperkenalkan Anda ke suaminya. Itu namanya Demand and Supply Gap.

8. Anda melihat gadis cantik di sebuah pesta. Anda menghampirinya, tapi belum juga Anda sempat bilang apa-apa, ada pria lain datang dan langsung berkata, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’ Lalu sang gadis pergi dengan pria tersebut. Itu namanya Losing Market Share.

9. Anda melihat gadis cantik di sebuah pesta. Anda menghampirinya, tapi belum juga Anda sempat bilang, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’…. tiba-tiba istri Anda nongol! Itu namanya Barrier to New Market Entry!!!.

For the Minor

Seperti judul, bagaimana jika saya jelek, item, kumel, kucel, dekil, miskin, pengangguran, ga sekolah, sering masuk penjara, ngentutan, idup lagi! Untungnya para ekonom punya teori dari Jean Baptise Say:

“Every supply creates its own demand”.

Semua penawaran akan menciptakan permintaan. Pasti ADA yang berjodoh dengan kita. Lha wong Babi yang jorok aja bisa punya istri (pasti laku kan :p). Apalagi manusia yang baik, murah senyum, menyebut nama Tuhannya di pagi dan petang, bersyukur, bekerja dalam kebaikan, dan hidup dalam keikhlasan. Mengabdi untuk Tuhan.

Laki-laki yang baik, untuk wanita yang baik. Demikian sebaliknya. Itu aturan Tuhan yang tertulis di kitab suci. Jangan resah. Jangan gundah. Cukup pasrah. Ubah persepsi. Perbaiki diri. Menata hati. Tuhan pasti memberi yang terbaik suatu saat nanti.

Kalo masih belum dapat juga dan capek ditolak, mungkin Anda bisa menggunakan Blue Ocean Strategy. Cari calon yang persaingannya tidak berdarah-darah. Yang ga ada saingannya, biar pun kriterianya dibawah standar awal. Mungkin ini jodoh Anda. Belum cinta? Ingat kata orang Jawa:

“Witing Tresno Jalaran soko ora ono”.

******

*)Padahal saia sendiri lagi nyari calon. Syaratnya: punya vagina (perempuan maksud saya..), harus kuat setiap hari ketawa, dan harus bersedia jadi wanita paling bahagia di dunia dan luar angkasa :D. Jika berminat sms 081 578 6138 75 atau kirim CV singkat ke: emailnya_yoga@yahoo.com sebelum 31 Desember 2012.

Only shortlisted candidate will be notified.

Saham-Saham [Cinta]

Terkadang kau memulainya sebagai seorang investor dengan puluhan milyar cinta di tanganmu hingga serasa tak akan pernah habis ketika kau menginvestasikannya.

Terkadang bahkan kau tak menginvestasikannya segera, menunggu dan terus menunggu untuk menempatkannya di sebuah perusahaan impian yang tak kunjung tiba, padahal begitu banyak perusahaan yang baik bagimu namun kau tak menyadarinya.

Terkadang kau tak kunjung-kunjung menginvestasikan cintamu karena takut akan resiko yang akan kau tanggung. Padahal kau sendiri sadar bahwa tak ada cinta tanpa resiko.

Terkadang kau dengan mudah menanamkan sahammu pada sebuah perusahaan, namun setelah kau telah merasa mendapat capital gain yang cukup kau dengan mudah mencari perusahaan potensial yang lain.

Namun terkadang kau memulainya dengan menjadi seorang investor yang benar-benar pengaplikasikan teorimu, portofolio. Kau menginvestasikan saham-sahammu pada beberapa perusahaan berbeda.

Beberapa saat setelah kau menanamkan sahammu. Saham-saham itu mulai berkembang, memberikan deviden bagimu. Seberapa bijakkah kau tergantung pilihanmu, menanamkannya kembali sebagai retain earning untuk menumbuhkan perusahaan[cinta]mu lebih besar, atau berpangku tangan menikmati deviden atas saham yang kau tanamkan. Padahal terkadang perusahaanmu sangat berharap akan retain earning[cinta] namun tetap setia memberikanmu deviden meskipun kau tak menambah saham-sahammu di perusahaanmu itu. Perusahaanmu tetap setia mendengarkan pendapatmu, padahal tak jarang membawa mereka kepada kehancuran.

Terkadang kau memulainya sebagai sebuah perusahaan, yang selalu merasa miskin, yang selalu merasa bahwa perusahaanyalah yang paling menyedihkan di dunia ini, yang selalu berharap akan datangnya seorang investor.

Namun terkadang kau memulainya sebagai sebuah perusahaan yang tangguh, yang walaupun tak memiliki tangible asset, namun kau memiliki intangible asset yang hebat. Harga dirimu. Kau tak pernah berharap akan adanya investor yang membantumu. Kau cukup tangguh untuk berjuang sendirian.

Pemilihan permodalan menjadi sebuah dilema. Memilih untuk utang atau menjual saham. Yang menjadi persoalan adalah terkadang mereka yang memberikan modal [cinta] padamu salah mengartikannya sebagai utang, mereka menuntutmu untuk mengembalikannya beserta bunga.

Namun jangan patah arang. Untungnya selalu ada investor berbasis syariah. Yang menanamkan modal kepadamu tanpa mengharap riba, yang terkadang ikut menanggung kerugianmu, setia disaat suka maupun duka.

oleh : Thontowi A. Suhada
*kalau ada analogi yang kurang tepat atau pemakaian kata yang salah mohon dikoreksi yah =)