Apa yang Harus Saya Lakukan Jika Berwajah Jelek, Miskin, dan Tidak Memiliki Masa Depan???

Oleh: Yoga PS untuk Syarif dan Kiki

Apakah Anda termasuk warga JOMBANG (JOMblo ga berkemBANG) dan sekitarnya? Sudah bosan jadi orang KEDIRI? Kemana-mana Sendiri? Atau lagi MAGELANG? MAsa depan Galau dan tak TeLang? Apakah Anda sedang kebingungan mencari pasangan hidup? Apakah Anda masih belum laku-laku juga?

Jika Anda masih belum “sold out”, berarti ada yang salah dengan marketing pribadi Anda. Selain factor nasib, jodoh, dan tampang tentunya (klo ini saia ga ikut-ikut). Untungnya Tuhan menciptakan Philip Kotler, Kenichi Ohmae, Peter Drucker, Jack Trout, Hermawan Kertajaya, Yoga PS, dan ahli2 manajamen pemasaran strategis lainnya. Karena kali ini kita akan menggunakan strategic marketing untuk menjual diri kita sendiri.

Supply demand

Sebelumnya, mari kembali ke konsep dasar dari ilmu ekonomi: permintaan dan penawaran. Ya, mencari jodoh ibarat memasuki “pasar perkawinan” dimana ada supply dan demand. Supply pasangan hidup dan permintaan akan pasangan hidup.

Memang pernikahan bukan hanya transactional benefit, atau semacam legalisasi perzinahan. Ada yang bilang jika menikah adalah membangun peradaban. Kita tidak bisa melakukan simplifikasi proses cinta menjadi jual beli transactional semata. Karena cinta itu buta. Pernah nonton film “Si Cinta Dari Goa Hantu” kan? Dan ada banyak kasus dimana cinta menjadi sangat irrational dan tidak bisa dijelaskan secara logika, kata-kata, dan ekonometrika ekonomika statistika.

Tapi untuk mempermudah pembahasan kita mengasumsikan orang yang ingin menemukan pasangan hidup bersifat rasional dan menempatkan dirinya dipasar. Hampir seperti pasar tenaga kerja. Kita memberikan supply. Dan seperti logika ekonomika, barang yang bagus biasanya memiliki permintaan yang bagus. Sebaliknya, barang yang jelek demand-nya tidak terlalu tinggi.

Tapi tunggu dulu, semua tergantung pada strategi yang kita lakukan. Buktinya ada pria yang ga terlalu ganteng, ternyata bisa jadi playboy. Ada juga wanita yang cantiknya kaya bidadari eh masih single sampai umur 30 an.

Semua hanya masalah pemilihan strategi dan eksekusi. Contohnya Mercedes Benz, jika Anda tidak bisa menjualnya, tetep aja ga laku. Dan meskipun Anda Cuma berjualan Suzuki Carry, jika Anda bisa memasarkannya, tetap bisa laris manis.

Lantas bagaimana caranya?

What should we do?

Secara bego-bego-an, pemasaran berarti melakukan komunikasi yang tepat tentang produk/jasa yang tepat untuk pasar yang tepat. Secara garis besar sederhana, ada tiga:

1. Lakukan Analisa Internal

2. Tentukan Target Pasar

3. Action! Action! Action!

Sebelum pergi ke “bursa perjodohan”, Anda harus bisa menemukan diri Anda sendiri dulu. Apakah Anda sudah siap berpasangan? Apa yang bisa Anda berikan? Feature apa yang bisa Anda tambahkan? Apa competitive advantage yang Anda miliki? Anda harus bisa menjawab pertanyaan sederhana: Hal apa yang Anda punya sehingga pasangan Anda harus menerima Anda?

Analisis SWOT mutlak diperlukan. Apa kelebihan yang kita miliki, kekurangan yang masih harus diperbaiki dan terkadang ditutup-tutupi. Peluang pengembangan diri, dan ancaman dimasa depan. Atau bisa menggunakan 5 Porter analysis yang meliputi kekuatan konsumen (klo target Anda tante2 perawan tua umur 45 tahun, kekuatannya menolak lamaran Anda lebih kecil daripada gadis 17 tahun), kekuatan supplier (Anda sendiri), mudah tidaknya memasuki suatu pasar (naksir bini orang? Pikirin 13x), potensi subsitusi (bisa nyari target lain?), dan persaingan (Punya saingan yang lagi ngejer si doi?).

Anda tidak harus menjadi Superman. Atau memiliki body kaya bintang bokep. Nobody’s perfect. Yang jelas kita harus memiliki competitive advantage. Entah kecerdasan, harta, interpersonal skill, spiritual power, atau besarnya rasa cinta dan rela menerima si dia apa adanya. Kata pepatah China, sungai biar dangkal yang penting ada naganya, gunung biar pendek yang penting ada dewanya!.

Untuk memenangkan persaingan Anda dapat menggunakan rumus 3B. Bukan berdoa, berusaha, dan berkaca (guyonan zaman kapan lagi itu). Tapi Be the first, siapa cepat dia dapat. Jika telat, be the best. Jika tidak bisa? Just be different! Ciptakan keunikan Anda sendiri. Just grow with your own character!!!

Sniper

Yang tak kalah penting tentu saja pemilihan target “pasar” Anda. Karena pasarnya beda, approach-nya berbeda, action-nya juga berbeda. Mendekati akhwat sholeh yang pakai cadar tentu beda caranya dengan ABG sok gaul yang masih belajar nulis sms dengan benar.

Lakukan segmenting, targeting, dan positioning. Tulis kriteria target pasar Anda. Apa pendidikannya, profesi, Socio Economic Class, umur, kepribadian, hobby, hingga kriteria fisik dan lainnya. Suka-suka. Tulis saja dulu. Urusan kesampaian atau tidak itu masalah nanti.

Sudah punya target? Sekarang pelajari pasar Anda. Bagaimana behaviornya, apa seleranya, apa hobbinya, apa yang dibencinya, topic apa yang membuatnya tertarik, bagaimana pola pikirnya, apakah ada “produk pesaing”? bagaimana “market entry”-nya? Komunikasi pemasaran apa yang cocok? Media apa yang bisa digunakan?

Karena target Anda menentukan strategi Anda. Jika “segmen” Anda doyan clubbing ya minimal situ harus tahu siapa DJ yang keren. Klo “pasar” anda penyayang binatang, akan lebih baik jika muka Anda mirip binatang. Hehehe. (Asal prilakunya jangan kaya binatang lho..). Klo “konsumen” Anda anak Kiai ya berarti mulai sekarang Anda harus belajar beneran mengaji dan berhenti “ngaji” (ngajakin jinah :p).

Marketing is just like flirting girl

Gampangannya gini deh:

1. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Anda mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Direct Marketing.

2. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Salah satu temanmu menghampirinya. Sambil menunjuk ke arah Anda, temanmu itu berkata, “Dia orang kaya, nikah sama dia, ya!” Itu namanya Advertising.

3. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Anda menghampirinya, lalu minta nomor HP. Esok harinya Anda telepon dia dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Telemarketing.

4. Anda melihat gadis cantik di sebuah pesta. Anda merapikan diri, lalu menuangkan minuman buat dia, dan membukakan pintu buat dia. Sambil mengantarnya pulang, Anda bilang, “By the way, saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Public Relations.

5. Anda melihat gadis cantik di sebuah pesta. Dia menghampiri Anda dan berkata, “Anda orang kaya, kan? Nikah sama saya, yuk!’ Itu namanya Brand Recognition.

6. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Anda mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, tapi dia malah menampar Anda. Itu namanya Customer Feedback.

7. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Anda mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, terus dia memperkenalkan Anda ke suaminya. Itu namanya Demand and Supply Gap.

8. Anda melihat gadis cantik di sebuah pesta. Anda menghampirinya, tapi belum juga Anda sempat bilang apa-apa, ada pria lain datang dan langsung berkata, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’ Lalu sang gadis pergi dengan pria tersebut. Itu namanya Losing Market Share.

9. Anda melihat gadis cantik di sebuah pesta. Anda menghampirinya, tapi belum juga Anda sempat bilang, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’…. tiba-tiba istri Anda nongol! Itu namanya Barrier to New Market Entry!!!.

For the Minor

Seperti judul, bagaimana jika saya jelek, item, kumel, kucel, dekil, miskin, pengangguran, ga sekolah, sering masuk penjara, ngentutan, idup lagi! Untungnya para ekonom punya teori dari Jean Baptise Say:

“Every supply creates its own demand”.

Semua penawaran akan menciptakan permintaan. Pasti ADA yang berjodoh dengan kita. Lha wong Babi yang jorok aja bisa punya istri (pasti laku kan :p). Apalagi manusia yang baik, murah senyum, menyebut nama Tuhannya di pagi dan petang, bersyukur, bekerja dalam kebaikan, dan hidup dalam keikhlasan. Mengabdi untuk Tuhan.

Laki-laki yang baik, untuk wanita yang baik. Demikian sebaliknya. Itu aturan Tuhan yang tertulis di kitab suci. Jangan resah. Jangan gundah. Cukup pasrah. Ubah persepsi. Perbaiki diri. Menata hati. Tuhan pasti memberi yang terbaik suatu saat nanti.

Kalo masih belum dapat juga dan capek ditolak, mungkin Anda bisa menggunakan Blue Ocean Strategy. Cari calon yang persaingannya tidak berdarah-darah. Yang ga ada saingannya, biar pun kriterianya dibawah standar awal. Mungkin ini jodoh Anda. Belum cinta? Ingat kata orang Jawa:

“Witing Tresno Jalaran soko ora ono”.

******

*)Padahal saia sendiri lagi nyari calon. Syaratnya: punya vagina (perempuan maksud saya..), harus kuat setiap hari ketawa, dan harus bersedia jadi wanita paling bahagia di dunia dan luar angkasa :D. Jika berminat sms 081 578 6138 75 atau kirim CV singkat ke: emailnya_yoga@yahoo.com sebelum 31 Desember 2012.

Only shortlisted candidate will be notified.

Advertisements

Loyalitas = Kesetiaan :)

Oleh: Dipta Dharmesti

Di kuliah Advanced Consumer Behavior beberapa pertemuan yang lalu, ada artikel menarik dari Reto Felix tahun 2009 yang berjudul Explaining Loyalty: The Personal Relationship Analogy. Sekedar bagi-bagi ilmu saja nih, biar lebih mudah memahami “loyalitas” di bidang pemasaran.
Reto Felix membuat perumpamaan untuk menjelaskan loyalitas dengan hubungan sepasang manusia. Menurut dia, loyalitas atau kesetiaan itu ada 6 tipe, yaitu:
1. Behavioral loyalty
Tipe ini diumpamakan sebagai seseorang yang sangat setia dengan pasangannya, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Intinya, kesetiaan itu sudah menjadi habit atau kebiasaan yang wajib dilakukan terhadap pasangannya yang hanya seorang itu, sehingga bila diwujudkan dalam perilaku pembelian suatu merek, yang dibeli ya merek itu terus karena sudah menjadi kebiasaan. Akan aneh bila kebiasaan itu tidak dilakukan.
2. True loyalty
True loyalty diumpamakan sebagai seseorang yang cinta mati pada pasangannya, sehingga ia dapat memahami dan memaafkan keburukan pasangannya itu. Bila sang pacar lupa menjemput, pasangannya masih mau jadi pacarnya. Dalam perilaku konsumen, misalkan saat membeli makanan di rumah makan langganan, bila masakan terasa kurang asin ataupun misalkan kurang kerupuk, pelanggan tersebut masih memaafkan dan mau untuk kembali ke rumah makan itu.
3. Inertia
Ini digambarkan sebagai orang yang pasrah, “aku terpaksa memilih pasanganku itu karena adanya ya hanya dia, yang mau sama aku ya cuma dia.” Kalau diterapkan pada perilaku konsumen, ya, konsumen loyal pada perusahaan karena hanya perusahaan/produk/merek tersebut yang mampu memenuhi kebutuhannya (bisa juga perusahaan monopoli). Contoh: rumah tangga dengan PLN.
4. Latent loyalty
Kalau tipe yang ini sih sering ditemui, yaitu secret admirer. Seorang cowok suka dan setia pada seorang cewek, namun belum berani mengungkapkan perasaannya. Ya, otomatis belum “memiliki” si cewek itu dong. Ini biasa terjadi bila terdapat “halangan” untuk membeli suatu merek yang kita kagumi. Biasanya sih karena budget terbatas. Contohnya: kebanyakan orang setia pada merek mobil BMW, mengaguminya, dan ingin memilikinya, namun apa daya, uang belum cukup untuk membelinya.
5. Multi-brand loyalty
Tipe ini dianalogikan sebagai orang yang berpoligami atau poliandri, punya pasangan lebih dari 1 orang dan setia pada semua pasangannya itu. Ya, dalam perilaku konsumen, ada orang yang setia pada lebih dari 1 merek. Pembeli tipe ini tidak terlalu peduli pada merek, yang penting fungsi produk. Jenis produk yang biasa “diselingkuhi” adalah produk convenience, seperti tissue.
6. Confirmative loyalty
Tipe ini adalah tipe pasangan yang suka ngetes, masih coba-coba. Gimana tuh? Sudah punya pasangan, masih coba-coba sama yang lain untuk menguji. Kalau lebih bagus pasangannya ya dia akan kembali, tapi sebaliknya, bila bagus “yang lain”, ya putus deh… Dalam perilaku konsumen, orang yang sudah setia pada 1 merek kadang-kadang masih mencoba-coba merek yang lain, terutama bila merek itu baru. Kalau merek lama ternyata lebih bagus, ya konsumen itu akan kembali menggunakannya, tapi kalau sebaliknya, si konsumen akan beralih ke merek yang baru.

Termasuk tipe apakah Anda? :)