Para Atlet Ekonomi Ibukota

Oleh: Riza Rizky Pratama
Fiuhhh!!.. Itulah ungkapan perasaan paling melegakan ketika berhasil masuk gerbong KRL JaBoDeTaBek. Meskipun pengalaman itu tidak saya alami setiap hari, tetap saja menegangkan karena saya harus bersaing dengan “atlet-atlet ekonomi” Jakarta. Hmmm atlet ekonomi? Siapa mereka? Ya, mereka adalah masyarakat kelas pekerja atau bahasa kerennya disebut working class people. Tulisan ini saya angkat dari perspektif pribadi saya tentang siapa dan bagaimana analogi aktivitas mereka dengan atlet sesungguhnya serta kaitannya dengan roda perekonomian bangsa. Selamat menikmati J. (nb: istilah atlet ekonomi adalah karangan saya sendiri hehehe)

Pertama, saya ingin mendefinisikan terlebih dahulu tentang siapa “atlet-atlet ekonomi” atau masyarakat kelas pekerja ini. Agar terasa lebih ilmiah, saya ambil definisi mereka menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) bulan Agustus tahun 2010 menunjukkan bahwa penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas menurut status pekerjaan utama berjumlah 108.207.767 juta orang. Adapun komposisi yang membentuk jumlah tersebut berasal dari 7 kelompok utama yaitu:

1. Berusaha Sendiri

2. Berusaha Dibantu Buruh Tidak Tetap/Buruh Tidak Dibayar

3. Berusaha Dibantu Buruh Tetap/Buruh Dibayar

4. Buruh/Karyawan/Pegawai

5. Pekerjaan Bebas di Pertanian

6. Pekerjaan Bebas di Non Pertanian

7. Pekerja Keluarga/Tak Dibayar

Untuk cerita ini, definisi yang tepat adalah status no. 4. Menurut saya dibandingkan dengan status pekerjaan yang lain, profesi buruh/karyawan/pegawai lebih sering terlihat bersliweran di ibukota. Ini asumsi pribadi saya loch, kalau anda kurang sependapat mari kita diskusi kapan-kapan (kapan ya?? :p). Oke kembali ke topik. Selanjutnya menurut hasil SAKERNAS terakhir bulan Agustus tahun 2010, penduduk yang berprofesi no. 4 tadi berjumlah 32.521.517 juta orang. Nah, orang-orang inilah yang kemudian saya sebut sebagai atlet-atlet ekonomi. Mengapa demikian? Alasannya meskipun berbeda bidang, kalangan pekerja dan atlet memiliki beberapa kesamaan dalam pola rutinitas sehari-hari. Dan untuk hal ini, saya masih menggunakan asumsi pribadi. Subjektif ya? Hehe tenang saja, insya Allah masih ada sisi objektifnya kok hehehe (maksa :p).

Kalangan pekerja yang diwakili buruh/karyawan/pegawai ini biasanya memulai aktivitas dari pagi buta atau sekitar jam 5 pagi. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi sekali agar terhindar dari macet bagi yang naik motor, mobil dan bus atau supaya tepat waktu tiba di stasiun bagi yang naik kereta. Baik bus maupun kereta, keduanya sama-sama padat (pengalaman pribadi :p). Namun dari kedua moda transportasi tersebut, kereta/KRL masih lebih baik karena lebih tepat waktu (meski kadang suka telat juga). Kalau sampai mereka telat tiba di tempat kerja, mereka bisa kena semprot atasan. Bisa repot urusannya kalau begini. Lantas apa hubungannya dengan atlet? Berdasarkan pengalaman teman SMA saya yang seorang atlet renang, dia bahkan harus berangkat jam 4 pagi agar tiba di tempat latihan tepat waktu. Weww pagi buta sudah harus nyebur?? Brrrr. Saya sempat menanyakan alasannya dan dia menjawab bahwa itu adalah ketentuan pelatih dan juga agar setelah latihan dia bisa segera pergi ke sekolah. Kalau sampai dilanggar tentu akan mendapat sanksi dari om pelatih. Anyway, saya salut dengan teman saya ini karena meskipun harus latihan renang di pagi buta tapi prestasi belajarnya tidak terpengaruh sama sekali bahkan dia selalu peringkat pertama di kelas (ngiri :p). Nah, dari sini mulai tampak kan letak persamaan kedua profesi tersebut? Tapi cerita baru dimulai, masih banyak lagi yang akan diungkap disini hehe.

Setelah berjuang keras untuk sampai ke kantor, mereka pun harus menghadapi setumpuk pekerjaan dengan deadline yang semakin dekat. Terkadang saking banyaknya deadline, mereka harus rela lembur hingga larut malam. Sebagai contoh, kakak saya yang bekerja di salah satu bank di Jakarta harus bersiap pulang agak malam jika sudah menjelang akhir bulan. Hal itu merupakan aktivitas rutin yang umum dilakoni oleh karyawan lembaga keuangan. Dari situ jelas bahwa deadline menjadi kosakata yang lazim bagi working class people. Semua itu mereka tempuh dengan tujuan ingin memperbaiki kualitas hidup. Hal ini pun terjadi pada aktivitas para atlet Indonesia. Belum lama ini, kita lihat di tv bagaimana kerasnya latihan ala militer tim sepakbola U-23 Indonesia di Batujajar guna menghadapi SEA Games Palembang. Bahkan yang anehnya mereka sampai harus makan daging ular untuk melatih mental bertanding (come on, they are athletes not army!!). Well, meski berat dan kadang tak masuk akal mereka harus menjalaninya demi mewujudkan prestasi terbaik di SEA Games nanti (we proud of you, guys! J).

Kemudian dari sisi pendapatan, terkadang apa yang mereka kerjakan tak sepadan dengan gaji yang mereka dapat. Beberapa di antaranya dialami oleh karyawan/pegawai yang disalurkan melalui perusahaan outsourcing (termasuk kakak saya). Biasanya perusahaan outsourcing yang melakukan ketidakadilan ini memang punya track record yang buruk. Senior saya yang bekerja di salah satu bank syariah di Jakarta mengungkapkan bahwa perusahaannya pernah mem-blacklist beberapa mitra outsourcing-nya. Alasannya karena mereka sering telat membayar gaji karyawan dan bahkan tidak pernah memberikan uang tambahan apabila si karyawan tersebut lembur (what the hell!!). Ternyata kemirisan ini pun terjadi di kalangan para atlet khususnya pada atlet senior yang pernah berjaya di masa lalu. Kejayaan mereka di masa lalu baik di kancah regional maupun internasional berbanding terbalik dengan kehidupan mereka di masa tua. Bahkan terkadang mereka terpaksa menjual medali kebanggaan mereka demi menyambung hidup (Mr. President, pay attention please!). 

Namun ada juga beberapa atlet yang sukses secara ekonomi meskipun tidak menjadi atlet lagi. Salah satunya adalah pasangan pebulutangkis Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma. Pasangan ini berhasil memanfaatkan “masa pensiun” mereka dari dunia bulutangkis menjadi masa panen keuntungan finansial. Mereka membuat industri perlengkapan bulutangkis dengan label ASTEC (Alan Susi Technology). FYI, pabriknya dekat dengan tempat tinggal saya loch (bangga hahaha).

Terakhir, dari sederet rutinitas mereka yang telah saya bahas di awal tak dapat dipungkiri bahwa keberadaan mereka membuat aktivitas ekonomi menjadi lebih dinamis. Menurut financial planner Ligwina Hananto, masyarakat kelas pekerja merupakan komponen masyarakat kalangan menengah yang keberadaannya dapat menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitarnya. Contohnya, jika mereka lapar atau sekedar ingin mengganjal perut setelah seharian bekerja, mereka akan membeli makanan semisal gorengan, siomay dan sebagainya. Rasa lapar mereka membentuk demand (permintaan) terhadap gorengan dan siomay. Permintaan tersebut kemudian membentuk supply (penawaran) yang berimplikasi pada penciptaan profesi tukang gorengan dan tukang siomay (sok-sok ekonom :D). Di sini terlihat betapa peran sosial ekonomi working class people begitu terasa manfaatnya bagi golongan ekonomi lemah. Sebagai catatan, analogi atlet yang dipaparkan pada tulisan ini hanya sebagai gambaran betapa kerasnya upaya mereka mengadu nasib di ibukota seperti halnya atlet yang terus berlatih keras agar bisa berprestasi. Harapan terakhir adalah semoga ada sekitar 2 % dari mereka (termasuk saya :p) yang bisa “naik kelas” menjadi pengusaha sehingga mereka tidak hanya menaikkan derajat kualitas hidup diri dan keluarga mereka tetapi juga orang lain. Amin J.

*Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil desak-desakkan di KRL JaBoDeTaBek, curhatan pribadi dan pengalaman teman. Maaf jika terlalu ngawur karena yang nulis lagi dikejar deadline :P

Advertisements