Antara Zubairism dan Soniism

Oleh: Titoeyt Cherry

Tulisan ini saya dedikasikan untuk kedua dosen saya yang luar biasa yaitu Prof. Zubair Hasan salah satu pengajar senior di INCEIF (Malaysia) dan Pak Revrisond Baswir salah satu pengajar senior di FEB UGM. Mahasiswa FEB UGM khususnya para aktivis kenal sekali dengan Pak Revrisond Baswir. Beliau merupakan asisten dosen di jaman Pak Mubyarto yang berusaha menghidupi konsep ekonomi pancasila dengan mengubah menjadi konsep ekonomi kerakyatan (saya kebalik nggak ya?). Saya termasuk mahasiswa yang ngefans dengan Pak Soni, panggilan akrab beliau, karena pemikiran beliau yang amat kritis mengenai pemerintahan di Indonesia, utang dan korupsi. Meski terkadang konsepnya menjadi tidak populer, tetapi saya tetap ngefans beliau.

Bahkan, ketika saya mau mendaftar jadi staf junior di FEB UGM, saya meminta beliau untuk memberikan rekomendasi untuk memenuhi persyaratan administrasi tetapi dengan rendah hati beliau malah menelpon saya dan mengatakan beliau mendukung seratus persen tetapi tidak bisa memberikan rekomendasi mengingat beliau khawatir jika rekomendasi datang dari Pak Soni saya akan ditolak mentah-mentah sama FEB UGM.

Akhir cerita saya diterima di FEB dan terkadang saya mengirim email untuk berkonsultasi mengenai pilihan bidang kuliah master. Anti kapitalis! Itulah sikap Pak Soni tetapi Pak Soni setidaknya termasuk segelintir tokoh di Indonesia yang mau speak up dan tidak nunat nunut alias apa saja manut sama pemilik modal dari negara Paman Sam.

Begitu saya kuliah mengambil master program di International Centre of Education in Islamic Finance, saya lebih terkejut lagi. Rupanya di dunia ini ada orang yang jauh-jauh lebih anti kapitalis dari Pak Soni dan orang itu adalah dosen saya yaitu Prof. Zubair Hasan. Laki-laki India yang sudah berumur 79 tahun dengan perawakan fisik seperti albino itulah Prof. Zubair Hasan. Beliau tidak hanya pengajar senior tetapi beliau juga great scholar.

Konsep yang beliau bawa untuk menentang kapitalisme jelas yaitu ekonomi Islam. Begitu bencinya beliau dengan kapitalisme, ketika hari Valentine tiba dan beliau menerima kartu ucapan dari beberapa perusahaan kepada beliau, yang beliau lakukan bukannya senang atau sekedar menyimpan kartu ucapan itu malahan beliau menelpon balik perusahaan yang mengirimnya dan memaki si pengirim untuk semua nonsense ini. Valentine hanyalah ritual demi menghidupi bisnis coklat, bunga dan kartu ucapan, setidaknya semua orang tahu itu meski pura-pura atau tidak mau tahu.

Menentang kapitalisme bukan berarti menolak sistem yang sudah ada, tetapi kita harus memodifikasi sistem yang ada sesuai dengan faith dan worldview kita, itu sikap yang ditunjukkan Prof. Zubair Hasan. Kita tidak bisa menafikan sistem kapitalisme yang sudah mengglobal semenjak kejatuhan sosialis komunisme. Dan, sekarang sebenarnya ekonomi Islam diharapkan untuk menjadi primadona menjawab permasalahan yang tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh kapitalisme yaitu kemiskinan, inequality dan upaya pemerataan ekonomi.

Mengapa? Karena kapitalisme sebenarnya juga sebuah agama sama seperti Islam, Nasrani dan Yahudi. Kapitalisme adalah sebuah agama? Mungkin teman-teman ekonomi akan terkejut membaca tulisan saya ini, karena bertahun-tahun anak ekonomi khususnya akuntansi selalu dijejali pemikiran bahwa kapitalisme dengan sistem ekonominya bersifat netral. Yah, kapitalisme adalah sebuah keyakinan dan agama yang dibawa yaitu mengenai role of market atau peran dari pasar. Begitu kuatnya keyakinan ini, apapun yang terjadi di bumi ini tidak boleh menentang dari kerja atau mekanisme pasar, inilah doktrin yang dibawa pekerja berkerah putih dari IMF, World Bank dan Mafia mereka di seluruh dunia.

Lihat bagaimana sekutu bersama Amerika menyerang Libya, apakah mereka mengirim tentara demi rakyat Libya untuk merdeka dari Khadafi? Tentu tidak, CNN secara gamblang menganalisis motivasi negara-negara sekutu ini melakukan perang yang harga peralatan perang mereka mulai dari rudal dan pesawat tempurnya bisa jutaan dollar rupiah dan jawabannya bukan sekedar minyak di Libya. Minyak di Libya mengalami penurunan produksi dari jutaan barel per hari menjadi 400.000 barel per hari.

Lalu apa yang membuat sekutu lupa diri? Rupanya, mayoritas perusahaan asing yang bekerja sama entah minyak atau pertambangan di Libya bukan perusahaan Amerika atau perusahaan negara-negara barat melainkan perusahaan Cina. Mereka menggempur habis-habisan Khadafi demi mendapatkan proyek pertambangan di Libya.

Kisah ini mungkin tidak begitu jauh berbeda dengan Saddam Husein di Irak. Tidak ada alasan lain yang membuat Amerika menggempur habis-habisan dan menghabisi nyawa ratusan ribu penduduk sipil (top secret tapi sudah terkuak) karena perang mata uang dan minyak. Tidak ada teman abadi atau musuh abadi bagi kapitalisme. Saddam Husein membantu negara-negara Eropa bersatu dan menjadi kuat dengan menjual minyaknya dalam mata uang Euro yang pada saat itu Euro tidak berarti hanya beberapa sen saja. Saddam melakukan ini bukan karena baik hati kepada negara eropa tetapi muak dengan hegemoni Paman Sam yang utangnya terbesar di dunia dan seenak bodongnya mencetak dollar dan membawa ke berbagai negara dengan mengatakan ini uang. Singkat cerita, Saddam Husein ingin melemahkan dollar dengan caranya dan tentu Amerika tidak bisa terima ini.

Kembali ke kapitalisme tidak bisa menjawab permasalahan dunia. Kisah tentang Libya dan Irak hanya ingin sedikit menggambarkan sifat kapitalisme yang amat eksploitatif dan menghalalkan segala cara. Kapitalisme tidak akan bisa menjawab permasalahan kemiskinan dan tidak meratanya ekonomi di dunia dan rusaknya alam karena sifat dasarnya memang mengeksploitasi atau greedy. Kesenjangan atara miskin dan kaya yang semakin lebar, dan inequality di seluruh dunia (Human Development Report, 2010) sengaja dibiarkan.

Tetapi, tenang saja. Selama kita nunat nunut saja kepada pemilik modal Paman Sam, tentu kita tidak akan pernah digempur Paman Sam karena kita membiarkan ekonomi kita dirampas oleh mereka tiap detiknya. Baik Soniism dan Zubairism merupakan motivasi bahwa masih ada manusia-manusia yang pemikirannya tidak terkorup oleh kapitalisme dan saya bangga dengan mereka. Wallahu alam.

Advertisements

Woman Loves Money

Oleh: Titoeyt Cherry*

Ketika berjalan kaki sepulang kuliah malam dan menuju halte bus, aku berbincang dengan temanku yang berasal dari Brunei. Aku iseng sekadar tanya tentang Sultan Brunei dan kedua istrinya. Temanku malah balik nanya, istri yang ke-berapa. Dan, ternyata temanku menceritakan kalau istri Sultan Brunei hanya satu semenjak beliau menceraikan kedua istrinya yang kebetulan orang Malaysia. Kutanya alasan kenapa Sultan Brunei menceraikan keduanya, karena kedua istri mudanya suka uang, jawab temanku. Dengan singkat, aku malah menimpali, “Woman loves money…
Singkat cerita, Sultan Brunei itu menceraikan istrinya setelah kedua istri muda itu rupanya mengambil harta suaminya secara diam-diam padahal Sultan bisa memberikannya dengan cuma-cuma jika mereka meminta secara langsung. Ini ilustrasi pertama.
Ilustrasi kedua, di acara keluarga, aku berkumpul dengan saudara-saudaraku dan ketika itu tiba-tiba tanteku berceletuk kepada ayahku untuk minta dicarikan jodoh tetapi inginnya suami yang kaya. Latar belakang tanteku ia adalah wanita yang independen, sudah kerja lebih dari tujuh tahun di kantor akuntan publik tetapi rupanya meski sudah mandiri secara keuangan, calon suami yang kaya menjadi prioritas utamanya.
Ilustrasi ketiga, aku pernah membaca sebuah artikel kalo tidak salah dari Reader Digest Indonesia. Meski kini hidup di jaman modern, simbol kejantanan dan kebetinaan dari kaum adam dan kaum hawa masih berlaku. Dulu, di jaman purba, laki-laki yang kasar, kuat dan keras identik dengan kejantanan di mata perempuan. Mengapa hal ini penting? Karena kehidupan alam di bumi dulu begitu keras dan dengan hidup bersama laki-laki yang kuat dan keras wataknya, perempuan merasa terlindungi. Jaman modern kini berubah, kejantanan tidak identik dengan laki-laki yang berotot, macho atau perkasa bahkan penampilan bisa dikatakan nomor sekian jika di kantongnya banyak pundi-pundi bergemirincing. Sehingga, laki-laki yang banyak uang terlihat jantan di mata perempuan karena dunia modern kini cenderung terkorup oleh materialisme atau apa-apa dilihat dari uang.
Laki-laki yang membaca tulisan saya, mungkin langsung melotot, wah gawat kalo semua perempuan kayak begitu atau ada perempuan yang protes, saya nggak gitu tuh. Analogi perempuan suka uang itu seperti laki-laki suka perempuan cantik. Secara naluriah, laki-laki kalo liat perempuan cantik lupa kalo dia sudah punya pacar atau istri untuk beberapa detik dan menit begitu juga dengan perempuan secara naluriah suka dengan laki-laki yang punya banyak duit.
Hal ini mungkin terlihat sepele, tapi bisa jadi realitas dan fenomena sosial yang ada. Bagi perempuan yang lahir di keluarga menengah ke atas tentu tidak masalah ketika sang ayah mampu memenuhi kebutuhan belanja anak perempuan mereka. Bagi perempuan berpendidikan dan memiliki karir, mereka juga tidak mempermasalahkan ketika pasangan mereka, tidak kaya-kaya amat soalnya mereka sendiri mampu kok. Hanya saja, bagi mereka perempuan yang miskin, atau hidup berkekurangan dan tidak memiliki skill, maka satu-satunya cara adalah menjual diri.
Terkadang kemiskinan membuat orang kufur nikmat, kata pepatah. Jika melihat kasus tahun 2009-2010 tentang pelacuran remaja usia dini dengan iming-iming uang beberapa juta di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, itu sungguh hal yang miris. Tetapi, jangan salah juga terkadang perempuan yang merupakan pekerja kantoran demi mendapat kehidupan yang lebih baik mereka menghalalkan segala cara seperti selingkuh dengan atasan atau merebut suami orang. Ini realitas di kehidupan kota besar seperti di Jakarta. Hingga pernah saya mendengar teman mengatakan hidup di Jakarta terkadang hanya membuat hidup demi uang, berkeluarga dan berusaha mempertahankan agar pasangan tidak selingkuh.
Hal yang menginspirasi saya menulis tentang perempuan dan uang karena beberapa hari yang lalu saya menonton You Tube tentang pelacuran di balik jilbab di Iran. Menyedihkan ketika seorang ibu yang ditinggal suaminya harus melacurkan diri di tengah malam sambil membawa bayinya hanya demi menghidupi dirinya dan bayinya. Ketika kaum hawa seperti saya sedang asyik belajar entah master atau PhD, atau sedang asyik berkerja, ada sekolompok perempuan yang harus terseok-seok di ujung jalan menanti pelanggan hanya demi segenggam uang. Ini realita!
*) Penulis Ekonom Gila (profilnya belum dibuat :P)