Hallyu: Demam Korea, Wabah Cute

Girls Generation

Annyeonghaseyo!!!!

Hallyu atau Korean Waves (gelombang Korea, atau lebih ekstrimnya demam Korea) sedang menghipnotis jagat raya. Term “Korea” yang dimaksud adalah negara Korea Selatan, dengan pesona ke-cute-an artis-artisnya. Saya bukan seorang penggemar berat apalagi pengamat hallyu, hanya lagi iseng aja pengen tau dan kebetulan sudah ada 2 kali perdebatan terkait topik ini di grup Ekonom Gila, jadi hanya mencoba memadukan.

Hallyu dimulai dengan kesuksesan drama korea, seperti: Winter Sonata, Dae Jang Geum, Stairway to Heaven, Beautiful Days dan Hotelier. Di Indonesia, diawali dengan pemutara Endless Love. Dan selama 2008-2008 serial BBF (Boys Before Flowers) banyak menyita perhatian. (wikipedia)

Hallyu dan kontribusinya 

Ekspor berupa budaya Korea (makanan, pakaian, games, bahasa) pada tahun 2011 diperkirakan mencapai USD 3,8 M atau meningkat 14% dari tahun lalu. (wikipedia)

Seleb cowok Korea dibayar paling mahal di dunia, setelah artis Hollywood. Contoh: Bae Yong Joon rate-nya USD 5 M untuk 1 film. Rate ini tertinggi di Asia. (wikipedia)

Kedua fakta ini cukup membuat tercengang. Kebudayaan bisa dianggap sebagai sesuatu yang abstrak, meskipun dijewantahkan (diwujudkan) dalam suatu bentuk fisik seperti: makanan khas, tren pakaian, buku bahasa, games, dll. Mungkin secara common sense kita dapat mengklasifikasikan barang tersebut adalah kebutuhan tersier, namun ekspornya meroket berkat demam Korea. Yang dapat diidentikkan dengan fenomena ini adalah penjualan manga Jepang, kira-kira begitu.

Boyband/girlband = labor, product, marketing?

Maraknya girlband/boyband asal korea, sebut saja: Girls Generation, Bigbang, 2ne1, Kara, dll dan diikuti dengan menjamurnya di negeri kita dengan berbagai style, seperti: SM*SH, Cherry Belle, 7icons, dll nggak membuat para pendatang baru merasa pasar musik K-Pop sudah penuh sesak. Ada supply, ada demand. Banyak yang suka, gitu simple-nya. Saya sendiri suka Cherry Belle (ya nggak sampe nge-fans) walopun kalo didenger-denger liriknya, apaan seh ini x_x

Enak didengar, ceria, sarat modernitas. Apalagi kalau dilihat di layar kaca, meskipun lip-sync, tapi bikin gemes. Yah lama-lama eneg juga sih… xixixi… nah, yang pernah jadi topik pembahasan kita di grup (buset ternyata tuh bahasan taon lalu). Begini:¬†

Dalam konsep ekonomi, boyband atau sejenisnya itu dipandang sebagai labor intensive atau padat karya. Kalau band itu capital intensive atau padat modal. Jadi boyband dan sebangsanya itu lebih baik bagi bangsa kita karena akan menyerap banyak tenaga kerja ~ by Sandy

Bagaimana menurut kamu??? Boyband itu produk atau input? Atau keberhasilan marketing?

Boyband di korea mereka diperlakukan sebagai produk dengan persiapan peluncuran mereka ke pasar (sampai membutuhkan 3-4 tahun) bahkan ada sekolah khusus untuk mereka. Dan para anggotanya adalah input terbesar, karena mereka yang bernyanyi dan menari.

Apakah seide dengan saya dan Desty?


“Menjual” Hallyu

Kepopuleran Hallyu menjadi daya pikat tersendiri untuk memasarkan barang, tapi adakalanya harus diperhatikan dengan seksama. Seperti yang pernah EG bahas, memasang tampang Korea saja nggak cukup menjamin kesusksesan peningkatan penjualan melalui promosi lewat iklan. Simak celoteh tentang Won Bin dalam iklan LG di sini.

Lantas, apakah Indonesia dapat mengikuti jejak Korea dengan menggunakan boyband/girlband dan drama sebagai ujung tombak? Atau kita harus menjual: batik, tempe, reog yang sudah dipromosikan di negeri lain? Atau mau konsen jualan film horor???

Ada yang pernah nulis: senjata ampuh Indonesia itu adalah UMKM (di sini), apa kita mau jadikan UMKM sebagai tren dan mengekspor hasil UMKM keluar negeri (ini berarti mengangkat muka bersaing dengan China bukan sih?) Ataukah dengan kekayaan alam kita mau mengembangkan tourism (bersaing dengan Malaysia, simak keberhasilannya dalam Country Marketing)

Yang jelas, Korea telah sukses menjual Hallyu, kitapun ikut “menjual” Hallyu versi Indonesia tanpa memikirkan menjual yang lain #miris