Apa Maksudnya "Jika ada wanita yang melamar saya terlebih dahulu, maka saya akan menjanjikan dia peluang 80%"

Oleh: Aulia Rachman Alfahmy
Sebagai seorang “ekonom gila”, saya selalu terbiasa menggunakan angka dalam menjelaskan dan mengungkapkan sesuatu agar dapat dipahami dengan mudah. Kisah dari tulisan ini dimulai dari sebuah pernyataan yang cukup unik, “Jika ada wanita yang melamar saya terlebih dahulu, maka saya akan menjanjikan dia peluang 80% keberhasilan”. Terlepas saya suka dia atau tidak, dia cantik atau biasa-biasa saja, kaya atau miskin, intinya kita anggap tidak ada faktor lain yang memengaruhi (kecuali faktor agama kali ya? :P). Saya sudah berjanji memberikan “80%” saya kepada dia. Adapun saya melakukan ini karena 1) Saya menghormati keberanian perempuan menyatakan lebih dahulu; 2) Untuk saat ini, melihat dari kondisi saya yang belum mapan dan menjadi apa-apa, pastinya sang perempuan benar-benar melihat lebih dari sekedar materi, 80% adalah reward saya.
Tapi ada satu hal yang menganggu saya akhir-akhir ini. Apa sebenarnya makna dari ungkapan “80%” ini? Bagaimana praktik di lapangannya? Apa konsekuensi pernyataan ini bagi masa depan rumah tangga saya? Apakah ungkapan ini dapat menjelaskan siapa saya?  Apa manfaat mengetahui makna angka-angka ini bagi para pembaca Ekonom Gila?
Pengertian 80% pada Umumnya
Mari kita berasumsi 1) cateris paribus, pilihan atas pelamar objektif, tidak ada tendensi atau kecenderungan 2) bahwa yang namanya melamar hanya ada dua jawaban, “Ya” dan “Tidak”, jadi di sini kita beranggapan bahwa seseorang tidak akan memberikan jawaban menggantung, tidak ada jawaban, “sebenarnya saya menerima, tapi tunggu saya lulus/tunggu kamu lulus/tunggu kamu sudah kerja/tunggu kakak sudah nikah/dan jawaban-jawaban sejenis lainnya. Jika kita melamar seseorang, maka probabilitas normalnya adalah 50%, karena ada dua jawaban “Ya” dan “Tidak” (dalam rujukan hukum Islam, seorang wanita yang belum menikah, jika “diam” maka bisa dianggap menjawab “iya”, karena diasumsikan ia malu mengatakan “iya”). Nah, pencerahannya adalah dalam situasi normal, maka setiap lamaran yang kita ajukan ke seseorang sebenarnya memiliki probabilitas diterima 50%! (tentunya juga probabilitas ditolak 50% hehehehe), cateris paribus  :P.
Lalu apa makna 80%? Jika kita bersandarkan pada pengertian dan kasus 50%-50% di atas, maka bisa diartikan maksud dari 80% adalah sebuah ungkapan untuk memberikan penekanan atas probabilitas diterima yang lebih besar. Artinya hukum ya-tidak 50%-50% berubah menjadi 20% untuk tidak, dan 80% untuk iya. Dengan kata lain ini adalah sebuah ungkapan yang mengisyaratkan: “Ayo lamar aku duluan, InsyaAllah kamu akan saya berikan prioritas untuk diterima. Kemungkinan ditolakmu amat sangat kecil…”
Konsep Probabilitas ala Saya…
Penjelasan di atas tidak akan selesai begitu saja. Akan ada masalah jika ada yang bertanya, “Kalau memang hanya sekedar memberikan kecenderungan untuk diterima, kenapa gak 75%? Kenapa gak sekalian 99%? Apa bedanya 80% dengan 90%? Bukannya semua ungkapan ini sama saja? Kenapa harus 80%? Apa itu hanya retorika belaka, biar kelihatan cool dan keren?”.

Baiklah, mungkin memang saya dulu tidak sengaja beretorika. Terpaksa saya membuka buku-buku lama saya lagi, dan mungkin jawabannya ada di buku Basic Econometrics buatan Pak Gujarati dan logika yang dipakai cukup berbeda dengan logika 50-50 di atas. Dan mungkin nanti jika ada anak matematika yang membaca artikel ini, ia akan banyak mengkritisi tulisan ini karena mereka lebih mengetahui hakikat probabilitas ketimbang diri saya. Aka tetapi… lagi pula itulah kenapa ini blog ini disebut Ekonom Gila bukan? Hehehehehe. So nekat saja…

Pada Bab  5 yang ngomongin masalah interval estimation and hypothesis, pak Gujarati menyinggung apa yang dimaksud dengan confidence interval atau biasa disingkat dengan CF (biasanya dengan angka 90%, 95%, dan 99%). Misalnya dalam bagian ini Pak Gujarati menerangkan apa yang dimaksud dengan CF 95% dalam sebuah interval nilai 0.4268 sampai 0.5914. Beliau menjelaskan maksud CF itu seperti ini:

Given condition 95%, in the long run, 95 out of 100 cases interval like (0.4268, 0.5914) will contain true β2.   

Tapi beliau juga meningatkan!

We cannot say that the probability is 95% percent, that the specific interval (0.4268, 0.5914) contains the true β2 because this interval is now fixed and no longer random, therefore, either lies in it or does not: The Probability that specified fixed interval include the true β2 is therefore 1 or 0.

Anda bingung? Hahahahaha, Sama saya juga! Mungkin pengertian Gujarati di atas sebenarnya tidak bisa dipakai dalam kasus “dilamar = 80%” saya. Karena di atas adalah sebuah kasus yang harus digunakannya sebuah data empiris, ada observasi, ada standar deviasi, dan CF yang bergabung dan berujung pada sebuah kesimpulan pada diterima atau ditolaknya hipotesis. Tapi mungkin ada baiknya kita menggunakan sedikit pengertian di atas untuk kasus “dilamar = 80%” ala saya. Oke ini ala saya, silakan bagi teman-teman yang ahli matematika mengoreksi secara akademis tulisan ini, eheheheheh.
Terinspirasi dari pengertian CF di atas, saya menggunakan pengertian 80% seperti ini: Dalam jangka panjang dari kasus 100 wanita yang duluan melamar saya, maka 80 lamaran yang ada adalah lamaran yang saya terima. Wah artinya, apa saya punya bakal 80 istri?

Interpretasi Liar…
Baiklah, mari kita kecilkan angka 80% ini menjadi 8 dari 10 atau 4 dari 5. Jadi misalnya dalam jangka panjang ada 10 wanita melamar saya duluan maka 8 lamaran itu saya terima, atau lebih kecil lagi, jika dalam hidup saya (jangka panjang) ada 5 wanita yang melamar saya, maka 4 lamaran itu akan saya terima. Nah, sekarang sudah ada 4 istri, kalau di Islam kan boleh punya 4 istri? Apa ini maunya penulis? Hehehe: Bukan. Itu bukan concern saya, bukan jumlah orang yang diterima, tapi justru jumlah orang yang ditolak.
“Hikmah” dari probabilitas ala saya di atas adalah dapat dijelaskan seperti ini: anggaplah saya memiliki fans 100 orang wanita, dan anggaplah ada pengamatan peneliti peradaban, saat ini 10% dari fans wanita biasanya mau dan rela melamar duluan. Jadi dengan fans yang saya estimasi sekitar 100 orang maka ada 10 orang dalam hidup saya yang akan melamar saya duluan. Maka jika demikian ada 8 yang diterima dan 2 orang yang tidak diterima. Dengan demikian, jika saya konsisten dengan prinsip 80% dan jika kondisi-kondisi soal estimasi fans dan wanita pelamar benar, maka jatah menolak “wanita pelamar duluan” sepanjang hidup saya hanya ada 2 orang. Jika fans saya hanya ada 50 orang sepanjang hidup, maka 5 orangnya akan berani melamar duluan. Dengan prinsip 80% diterima, maka jatah menolak saya hanya 1 orang. Bagaimana jika hanya ada 3 pelamar dalam hidup saya, tidak ada yang bisa saya tolak sedikit pun, karena ketika saya menolak satu orang saja maka rumusnya bukan lagi 80% tapi 66,6%.
Oke apa hikmah dari “logika-logika” di atas? Menjawab pertanyaan dasar di atas bahwa angka 80% ada bedanya dengan 90% dan 70%. Ternyata ungkapan-ungkapan 70%, 80%, 90% menunjukkan perbedaan 1) tingkat kepercayaan diri seseorang atas seberapa banyak jumlah fansnya dan 2) bisa mengetahui seberapa banyak jatah orang yang bisa dia tolak. Semakin tinggi nilai probabilitasnya maka menunjukkan bahwa orang tersebut kurang percaya diri = merasa fansnya sedikit, artinya dia memiliki prinsip “Siapa saja! yang penting mau sama saya…”, Semakin rendah maka bisa dikatakan adalah orang yang sangat pemilih dengan memperbanyak “jatah menolak” = yakin bahwa dalam hidupnya akan banyak yang melamar dia.

Note: ingat bahwa ini adalah kasus di mana kita dilamar oleh seseorang tanpa tendensi/kecenderungan apa-apa, murni tanpa ada chemistry, objektif tanpa ada rasa di hati :p, jadi tidak bisa kita bantah oleh orang yag sudah menikah, “Saya ini pemilih loh, tapi..lamaran pertama atas diri saya saya terima tuh, karena memang saya dari awal sudah suka sama dia! Kosep ini batal!”. Itu kasus dengan asumsi yang berbeda.

Perbedaan Kondisi-Kondisi yang Dibutuhkan
Ingat bahwa 80% itu adalah standard saya pribadi bagi wanita yang “melamar duluan”. Kredit lebih saya berikan bagi mereka yang berani mengambil inisiatif dengan landasan berpikir bahwa di era peradaban saat ini wanita yang berani melamar duluan adalah wanita yang punya perbedaan dan nyali (not ordinary). Mungkin bisa jadi kasus ini bagi wanita berbeda, bagi mereka “Pria Melamar duluan” adalah hal yang biasa, dan tidak perlu diberikan kredit lebih. Tetap kembali ke konsep probabilitas awal 50-50, “iya” atau tidak” (note: konsep 50-50 sebenarnya tidak bisa diartikan jika ada 10 orang melamar, 5 orang adalah jatah ditolak, karena concern-nya di opsi pilihan.”ya” dan tidak”, karenanya probabilitas 50%).
Sebenarnya konsep 80% saya bisa diterapkan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Misal mbak A, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia seorang lulusan S1”, Mbak B, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia adalah seorang yang alim dan faqih dalam agama”, Mbak C, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melama saya jika dia adalah seorang yang kaya raya, atau Mbak D, “Saya akan memberikan 99,99% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia adalah seorang yang lulusan S1, alim dan faqih dalam agama, seorang yang kaya raya dan ganteng…”, ingat: cateris paribus.
  1. Bagi mbak A: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria lulusan S1 melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok S1 itu
  2. Bagi mbak B: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria yang alim dan faqih dalam agama melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok alim dan faqih itu
  3. Bagi mbak C: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria yang kaya raya melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok kaya raya itu
  4. Bagi mbak D: Semisal dalam hidupnya ada 1 saja atau bahkan 100 orang pria lulusan S1, alim-faqih, kaya raya, dan ganteng melamar dia, maka tidak ada satu pun yang “sempat” dia tolak (satu aja belum tentu ada dalam hidup…)

Sama seperti saya, “Saya akan memberikan 95% bagi wanita yang melamar dulu, sholehah dan pinter”, dari 80% menjadi 95%, ada peningkatan probabilitas dan pengertian secara teknis di lapangan akan berbeda.
Hikmah dan Kesimpulan
Bagi orang yang ingin melamar saya: lihat kira-kira seberapa terkenal saya, seberapa keren saya, berapa kira-kira jumlah fans saya, berapa kira-kira orang yang akan melamar saya dalam jangka panjang, lalu cari tahu sudah berapa orang yang saya tolak, lamarlah saya ketika jatah menolak sudah habis dan anda akan saya terima sebagai bentuk konsistensi saya terhadap apa yang saya janjikan pada diri sendiri. Hehehehehehehe
Bagi kita semua (penulis dan pembaca Ekonom Gila): Menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik akan meningkatkan probabilitas diterimanya lamaran kita kepada seseorang, karena orang yang kita lamar akan kehabisan “jatah” untuk menolak.
Sekali lagi, mungkin banyak yang akan mengkritik pedas tulisan saya mulai dari konsep probabilitasnya yang ngawur hingga ke masalah “perasaan” hati dan kejelimetan saya soal hal-hal yang remeh temeh ini: Pernikahan, “Sudahlah Aulia, ngapain pusing-pusing hitung-hitung probabilitas, kalau suka ya terima aja, kalau gak suka tolak saja, tidak usah banyak dipikirkan, dirasakan saja….”.
Selama menjalani kehidupan ini, saya akhirnya sadar bahwa masa depan, serapi apapun manusia merencanakan, Allah yang berkendak. Manusia sebatas merencanakan, rencana Allah niscaya lebih indah. Termasuk dalam hal jodoh, kita tidak bisa tahu apakah memang benar-benar pasangan hidup yang ada di depan kita adalah yang terbaik dari kacamata pribadi dan perasaan kita saja, Allah-lah yang akan menunjukkan kepada kita siapa yang terbaik bagi kita, sekali lagi, manusia hanya bisa merencanakan”. Probabilitas yang rumit di atas adalah rencana saya, Allah-lah yang berkehendak di hasilnya. Saya akan kesampingkan emosi dan perasaan saya dalam menentukan sebuah pilihan yang besar dalam hidup saya: Istri, lalu akan menggantinya dengan bersikap objektif dan profesional melalui sebuah rencana dan doa agar selalu diberikan ilham yang benar dan baik bagi hidup dan agama saya. Semua kembali ke Allah…

“..either lies in it or does not: The Probability that specified fixed interval include the true β2 is therefore 1 or 0.”

Selasa, 4 Juni 2013
Waktunya untuk merenung dan merenungkan..
Advertisements

Wedding Party: Faktor U, Stakeholder Satisfaction, Gengsi Center, BEP tak terukur

Katanya orang sih hari istimewa, sekali seumur hidup, menjadi raja dan ratu sehari. Saking hari spesial, banyak banget upacara yang harus dilalui untuk peneguhan pernikahan. Untungnya ya, saya punya badan yang sehat dan kuat (alias banyak sediaan lemak :D hahahaha…) sehingga nggak tumbang ngurusin ini dan itu. Kalau dipikir-pikir, padahal ya, yang paling penting itu kan kedua pihak menjalin kesepakatan untuk mengarungi kehidupan ini bersama (benerrrrrr kannnnn????), tapi yang ada harus ribet gini dan gitu, seperti yang pernah saya ulas sebelumnya di postingan berjudul Wednomics.

Faktor U

Faktor U? Umur, masa iya ga cukup umur mau menikah ya… hehehe… Faktor U biasanya sih jadi patokan yang pantas untuk siap nikah, dan selain cukup umur, berdasarkan mitos gitu selisih umur tertentu berdampak baik atau buruk terhadap pernikahan (skippp laaaaaa, ga usah bahas mitos… hehehe).

Yang pasti, faktor U yang berperan sangat penting adalah UANG. Gilak, mau pesta sekecil dan sesederhana apapun ya UUD, ujung-ujungnya duit, ya nggak??? ya kan??? (maksa ihhhh!) Faktor uang ini kadang kurang dipikirkan kalau belum punya pasangan, mendingan juga hepi-hepi dengan rekan-rekan kerja, ya nggak?!?

Tapi dipungkiri atau tidak, sangatlah penting loh untuk menabung sejak dini atau paling tidak pastikan ada yang mau menjadi penyandang dana untuk pesta pernikahan Anda nantinya! #solusi dari Ekonom Gila

Stakeholder Satisfaction

EG kan udah pernah bahas nih tentang stakeholder, boleh baca yang case motor di Jogja “Stakeholder Oh Stakeholder”, nah kalau case-nya wedding party, bisa dikatakan ya stakeholder itu sangat luas cakupannya dan how to maximaze stakeholder value belum ada ukuran pastinya.

Yang bisa digolongkan sebagai stakeholder: yang pasti keluarga/kerabat; supplier makanan, kue, kostum, hiburan, dokumentasi, dsb ; undangan yang terundang, lupa diundang, sengaja nggak diundang, nggak sengaja diundang, diundang tapi ga bisa datang karena jauh, sebut saja lagi yang ada kaitannya dengan pesta perkawinan, pada intinya adalah: ga satupun stakeholder termasuk yang punya pesta sendiri merasa pesta pernikahan yang digelar memberikan kepuasan melebihi standar masing-masing, ada saja yang menjadi kekurangan (cieeee curcollll… ahahahay :p). Masih ada lagi faktor yang sangat menentukan tetapi tidak dapat kita kendalikan, yaitu: cuaca! Maka, banyak-banyaklah berdoa agar selama pesta dilangsungkan cuacanya cerah ceria.

Jadi, solusi dari Ekonom Gila adalah: pastikan Anda puas dengan pesta pernikahan Anda meskipun stakeholder Anda tidak puas! #solusi dari Ekonom Gila

Gengsi Center 

Menurut saya pribadi (atud nih kalo bilang menurut EG ntar EG bisa di-sue :D), pesta pernikahan adalah ajang yang bergengsi, bukan hanya untuk penyelenggara tetapi juga untuk undangan yang datang, meskipun nggak ada juri seperti acara idol-idolan. Kalau dalam ilmu Akuntansi Manajemen ada yang disebut Profit Center, Cost Center, dsb. maka wedding party saya sebut “Gengsi Center”.

Kemewahan, kata yang bisa mewakili Gengsi Center ini. Berapa megah dan mewah pesta yang digelar menjadi faktor utama penentu kemeriahannya, juga prestise buat penyelenggaranya, setuju? Tamu undanganpun tak kalah mewah penampilannya (juga gede angpao-nya) supaya nggak kalah pamor. Eits, tapi jangan salah loh, kita nggak harus terpuruk dalam ukuran mono “Gengsi Center” ini untuk punya pesta yang meriah.

Aktif dalam kehidupan sosial adalah salah satu faktor pesta pernikahan jauh dari sepi, pastinya ada yang mau bela-belain datang. Selain itu, bisa dengan kiat menyelenggarakan pesta yang unik (kalau akad yang unik sih ada seorang teman saya yang akad di dalam Museum Kereta Api Semarang) #solusi dari Ekonom Gila

BEP tak terukur

Banyak hitung-hitungan dan kalau-kalauan kalau yang menikah itu ekonom ya? Bukan hanya masalah pesta pernikahan yang mencapai BEP tentunya, tapi dipikirin sampai “jika mereka akhirnya jadi pejabat ekonomi“. (banyak amat promo link dari tadi yak? hehehehe…)

Layaknya sebuah event, sebagai EO tentunya kita nggak mau rugi, tapi apa mau dikata wedding party bukanlah bisnis, ini adalah pesta untuk merayakan hari yang bahagia, dengan berbagai prosesi yang bikin pusingggggggggg tapi sekali seumur hidup untuk dikenang selama-lamanya, amin.

Maka, selenggarakanlah pesta pernikahan yang sesuai budget dan kepuasan kita pribadi, pikirkan faktor U, tapi abaikan stakeholder satisfaction (yang nikah kan kita ini bukan tamu undangan), jangan terpuruk dalam “Gengsi Center”, dengan demikian cucok dengan BEP pribadi kita yang tak terukur oleh siapapun! :)

Happy planning a personally perfect wedding party!

Jika Sesama Ekonom Menikah

Oleh: Aulia Rachman Alfahmy

Oke, karena berkali-kali saya melihat teman saya yang satu kuliah di jurusan Ilmu Ekonomi menikah dengan sesama jenisnya (maksudnya sesama jurusan Ilmu Ekonomi, hehehe), saya jadi tertarik membuat sebuah tulisan non-ilmiah (emangnya selama ini Ilmiah ya?) yang bertajuk “Jika Sesama Ekonom Menikah”.

Awal Mula Bertemu
Saya pesimis jika sesama ekonom kali pertama bertemu pasangan yang telah dinikahinya adalah cinta pertamanya. Maksudnya, seperti halnya teori prilaku konsumen, seorang ekonom biasanya memulai dengan kegiatan memilah dan memilih “kombinasi-kombinasi” terbaik. Kombinasi-kombinasi terbaik mana yang terbaik atau bahasa teknisnya “memberikan utilitas yang optimal”. Tentu saja dengan melihat kondisi internal yang dimiliki dalam diri ekonom tersebut.
Mana yang dipilih, si A cantik dengan nilai 90, tapi pintarnya Cuma 65. Di sisi lain si B, cantiknya 70 tapi pintarnya 90. Nah, ekonom tentunya milih-milih nih, mana yang paling ‘click’ di hatinya. Jadi jangan percaya sama ekonom gombal yang bilang “You’re the first and the only one”. Gombal! (kecuali saya, bolehlah kalian percaya :P). Otak rasional ekonom selalu lebih menonjol.
Masalahnya adalah bagaimana kasusnya jika sesama ekonom saling menikah? Mungkin anekdot yang paling dekat dengan kasus ini adalah anekdot yang ada dalam kuliah Game Theory, di mana di teori tersebut disebutkan bahwa “si A berasumsi bahwa si B berasumsi si A berasumsi si B itu bersikap rasional”. Jadi, mereka sesama ekonom ketika akhirnya memilih pasangan ekonomnya, sudah benar-benar sadar bahwa mereka telah melalui proses “teori-teori ekonomi yang kompleks”.

Resepsi Menikah
Idealnya, ketika memutuskan menikah dan melakukan resepsi, sesama ekonom akan mengkonstrusikan bahwa acara resepsi perenikahan adalah bagian dari investasi jangka panjang keluarganya. Biasanya akan dihitung-hitung berapa nih biaya yang keluar dan pendapatan yang masuk dari acara resepsi pernikahan baik berupa uang tunai atau barang. Mereka akan menghitung, jika biaya resepsi Rp50 juta, maka at least pemasukan dari acara baik berupa amplop (uang) atau hadiah barang nilai sama dengan lebih dari Rp50juta. Hehehehehe…
Tapi jika sesama ekonom yang menikah sudah memiliki budget yang besar, maka mereka akan kembali memfokuskan pada “optimalisasi utilitas” terutama dari sisi yang tidak terlihat (intangible). Seperti kepuasan batin, membahagiakan orang tua, dan membahagiakan segenap keluarga dan teman-temannya dalam semua momentum yang tidak terlupakan: pernikahan (terus gue kapan dong nikah! :P).


Memulai Rumah Tangga
Biasanya hal paling krusial yang mereka akan bahas adalah apakah mereka berdua sama-sama masuk ke dalam pasar tenaga kerja, ataukah mereka melakukan pembagian tugas, sang Ayah bekerja dan sang Ibu di rumah sebagai Ibu rumah tangga, atau mungkin sebaliknya.
Sebagai seorang ekonom, idealnya mereka tidak akan merasa “hina” jika dikatakan bekerja di rumah. Ini yang mungkin dikenal dengan underground economic. Menyapu, mengepel, membersihkan rumah, memasak dan menyediakan makanan di rumah juga memiliki nilai ekonomi. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang tidak tercatat di dalam GDP, begitu kata dosen-dosen di ruang kuliah. Jadi pasti ada kos yang keluar dalam setiap kegiatan di rumah. Mungkin proxy-nya adalah dengan melihat besarnya upah pembantu rumah tangga (PRT). Jika biaya kegiatan di rumah Rp1juta sedangkan bekerja di pasar tenaga kerja bisa mendapatkan Rp5jt, jadi surplusnya adalah Rp4jt.
Masalahnya sekarang apakah nilai Rp4jt ini adalah lebih memuaskan ketimbang nilai kepuasan jika salah satu istri atau suaminya ada di rumah. Menjaga rumah, menyambut ketika pulang, melayani kepuasan lahir dan batin di waktu malam (jangan mikir jorok ya! :P) bisa jadi lebih bernilai dari Rp4jt. Nah, di sinilah seninya, jika sesama ekonom yang menikah, mereka akan benar-benar menghitung mana tingkat kepuasan yang paling optimal buat mereka berdua. Keputusan akan berkembang sampai mereka memiliki anak. Apakah anak mereka dirawat oleh Ibu atau Ayah? Atau mereka mempercayakan pada baby sister? Atau di rawat oleh kakek-nenek mereka? Sesama ekonom akan tetap menghitung-hitung mana yang paling optimal bagi kehidupan mereka.

Pembicaraan dalam Rumah Tangga
Mungkin saja terjadi dalam satu rumah tangga sesama ekonom mereka memiliki “kepercayaan” atas mahzab yang berbeda-beda. Misalnya yang satu klasik, yang satunya lagi Keynesian atau bahkan marxis. Hehehehe. Ini akan berpengaruh pada filosofi-filosofi pengambilan kebijakan rumah tangga. Misalkan, apakah pilihan anak harus diarahkan? Ataukah membebaskan anak memilih jalan hidupnya? Seorang Keynesian yang percaya pentingnya intervensi pemerintah, mungkin lebih suka jika anaknya di arahkan. Yang gawat jika pasangannya adalah seorang neo-klasik sejati, yang percaya bahwa peran pemerintah itu terbatas bagi sebuah negara, apalagi perekonomiannya. Maka, alih-alih membicarakan masa depan anaknya, mungkin mereka akan berdebat teoretis, empiris dan filosofis mana mahzab yang paling mendekati kebenaran dan kasus keluarganya. Terus si anak akan bengong jadi obat nyamuk dong?
Ini juga berpengaruh pada gaya mereka dalam mengatur keuangan rumah tangga. Seberapa besar defisit rumah tangga? Seorang Keynesian atau fiskalis mungkin lebih mencintai defisit anggaran yang tinggi agar perekonomian rumah tangga bisa berjalan dengan kencang. Seorang mahzab klasik atau monetaris lebih suka defisit anggaran yang rendah atau kalau bisa tidak ada sama sekali. Mereka lebih suka saving yang dipercaya sebagai faktor kunci pertumbuhan perekonomian rumah tangga dalam jangka panjang. Bisa dibayangkan di malam hari sebelum tidur, mereka akan berdiskusi masalah rumah tangga layaknya membicarakan perekonomian sebuah negara. “Mah kita harus banyak nabung..karena menurut teori pertumbuhan jangka panjang dari Sollow.. bla bla bla”. Kata si Pria. “Nggak Pah, menurut Keynes dalam kondisi perekonomian seperti ini kita harus memperbanyak konsumsi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi…”. Capek deh.. terus kapan dong senang-senanganya :P

Jika Mereka Akhirnya Menjadi Pejabat Ekonomi
Ini yang paling gawat. Bayangkan jika si Ayah adalah Gubernur BI dan si Ibu adalah Menteri Keuangan. Si Ayah di kantor berpikir keras bagaimana caranya agar harga stabil, kurs stabil dan inflasi stabil dengan kebijakan-kebijakan yang kontraksi, seperti menjaga jumlah uang beredar dan lain sebagainya. Si Ibu di kantor sedang merancang bagaimana anggaran dialirkan sempurna sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat dan secara keseluruhan meningkatkan pertumbuhan sebuah negara. Pokoknya segala kebijakan yang ekspansif.
Nah, sang ayah ingin kebijakan kontraktif, sedangkan si Ibu menginginkan kebijakan ekspansif. Maka pertengkaran di rumah adalah pertengkaran negara. Pertengkaran antara bank sentral dan pemerintah juga harus terjadi di atas ranjang. Mungkinkah itu akan terjadi?

Nothing Personal, It’s Just a Good Business  
Setiap rumah tangga, pasti akan mengalami prahara. Baik bersumber dari masalah ekonomi rumah tangga maupun pertengkaran kecil yang tidak penting. Dari sekian banyak penjelasan di atas yang seolah-olah “menyudutkan” pasangan sesama ekonom, mungkin bright side-nya adalah kebanyakan pertengkaran mereka mungkin saja pertengkaran “profesional”. Nothing Personal, It’s Just a Good Business. Hehehehe.
Setelah mereka bertengkar, mereka akan lebih cepat saling sayang-menyayangi kembali. Jadi kemungkinan pertengkaran sesama ekonom akan lebih cepat mereda karena mereka terbiasa berbeda pendapat sejak mereka sama-sama masih kuliah. Jadi, kemungkinan lagi, hubungan sesama ekonom akan lebih langgeng dan memiliki nilai kepuasan pernikahan yang lebih bertahan lama. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, “mereka sesama ekonom ketika akhirnya memilih pasangan ekonomnya, sudah benar-benar sadar bahwa mereka telah melalui proses ‘teori-teori ekonomi yang kompleks’, maka mereka akan sangat yakin dengan pilihan hidup mereka adalah pilihan hidup yang baik dan paling optimal dalam hidup mereka.
Nah, sudah tahu kan kalau menikah dengan ekonom itu banyak untungnya? Wkwkwkkwkw
8 September 2011
Tulisan spesial untuk Syarif dan Kiki. Bagaimanapun tulisan ini sedikit dilebay-lebaykan :P.