Jungkat – jungkit Ekonomi 2

Ekonomi adalah permainan.
Bahagia ada dalam proses dan tujuannya.

Dalam permainan, ada menang, ada kalah. 
Kalau di olah raga, hal ini sulit ditebak. 
Tapi, kalau di ekonomi…

Hidup makmur berarti menang, 
hidup miskin berarti belum pernah menang.

Dasar permainan dan daftar pemain besar, 
sudah dibabar di Jungkat-jungkit 1.

Seorang Maha Suhu Trading pernah berkata:

kalau kita berbicara tentang uang pada 1000 orang
1000 orang akan paham

kalau kita berbicara tentang harga pada 1000 orang tersebut
hanya 100 orang yang paham

kalau kita berbicara tentang ekonomi moneter pada 100 orang yang sama
hanya 10 orang yang bisa memahami

saat kita berbicara tentang bank pada 10 orang tersebut
hanya 1 orang yang akan memahami 

Kutipan di atas bicara soal tugas dari Bank Sentral: Mengatur jumlah uang beredar; Mengontrol pergerakan hargaMenjaga kestabilan moneter negaranya; serta Mengawasi aktivitas perbankan di negaranya.
Hal seperti ini ada hampir di seluruh dunia.


USD adalah “bos” dari semua mata uang di dunia sejak 1944 -mid 1970. Dalam sistem Bretton Woods ini, nilai mata uang di seluruh dunia dipatok pada USD, lalu nilai USD dipatok pada emas.

Pada tahun 1971, sistem pematokan nilai tukar sebesar $35 untuk setiap ons emas ini dicabut. Nilai mata uang selain USD pun mengambang. Aksi Presiden Nixon ini dikenal dengan sebutan:

Kebijakan ini ditentang keras oleh berbagai aliran ekonomi non-mainstream, contohnya Austrian School.
Bahkan akhir-akhir ini banyak pelaku ekonomi menyalahkan kebijakan ini sebagai pemicu munculnya fenomena seperti: nyangkutergagalnya usaha 2 negara Asia menyaingi USA; makin pendeknya jeda antar krisis finansial; serta pertumbuhan ekonomi semu memanfaatkan siklus boom and bust.

Walau demikian, bumi berputar, waktu berlari, bisnis terus bergerak, show must go on

Meski tidak lagi dipatok pada emas, posisi USD sebagai world reserve currency tidak goyah.
Bahkan krisis terhebat setelah Great Depression, yaitu Krisis perumahan USA 2008 kemarin pun tak mampu menggantikan posisi USD sebagai cadangan devisa utama.

Lagipula, coba bayangin, kalau USD melemah atau collapse, negara-negara berkembang juga yang apes, cadangan emas dan peraknya tiris, tiwas selama ini ngotot nimbun USD buat gemukin cadangan devisa
(ini juga salah satu syarat meraih gelar “investment grade”  looh).

Tapi tetep si alasan utama negara-negara tetap nimbun USD ya biar hemat biaya konversi, pas beli commo, yang label harganya ditulis dalam USD.

 Pada suatu ketika, ada negara yang berniat untuk menjual hasil produksi vitalnya, HANYA dalam EUR ataupun emas.        Tak lama berselang, ada patung yang diturunkan di negara itu.

Cukup soal sejarah, saatnya main !!!

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ketika Rupiah menguat, maka jika:
Indonesia beli  (import) : Harga produk made in China makin murah, lebih banyak commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri yang dijual ke luar negeri, makin mahal.

Giliran Rupiah melemah, maka ketika:
Indonesia beli (import)  : Harga produk made in China makin mahal, lebih sedikit commo didapat.
Indonesia jual (eksport): Harga hasil produksi dalam negeri, yang dijual ke luar negeri, makin murah.

*Saya memakai istilah “made in China” sebagai penghormatan atas kemampuan negara itu memenuhi rak-rak pusat perbelanjaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Walaupun memang masih ada made in…, made in… lainnya.

Mari kita gali efek pembelian barang dari luar negeri (import):

Dari sisi konsumsi, kemiskinan membuat rakyat Indonesia lupa kualitas dan menggemari barang murah. Produk made in China pun jadi solusi, selain itu produk jenis ini juga membuka peluang usaha bagi banyak pengusaha pemula, karena akses dan persyaratan modal yang dirasa lebih ringan.

Dari sisi produksi, produk made in China memicu kreativitas dan efisiensi badan usaha lokal (efisien bukan berarti potong gaji, kadang geser posisi mesin dan colokan listrik bisa jadi solusi).

Ada keuntungan, ada pula risiko, yaitu: pembunuhan industri lokal. Begini kira2 reka ulangnya:

.Oversupply produk made in China (udah tu barang aslinya murah banget, eh, jumlahnya juga banyak bener)

2. Memicu perang harga (lomba nurunin harga, yang penting barangnya abis).

3. UMKM yang gk bisa bertahan akhirnya bangkrut
(namanya juga usaha kecil, duit seret coy ! daripada potong gaji pegawai ngamuk, ya mending tutup sekalian)

4. Para pekerja UMKM yg tutup pun nganggur, dan ketika tangis anak mulai ngalahin raungan knalpot bajaj, putus asa pun menyerang (neosep kagak bisa jadi obat ! lah duit buat beli juga kagak ada !).

5. Maka sang pengangguran pun berpotensi jadi penjahat dan lingkungan a’la Gotham pun jadi nyata
(tinggal nunggu pahlawanan bertopeng deh, yg pas doi baru muncul aja, langsung pada ngibrit tu penjahat).

Sekarang kita liat efek pas jual barang ke luar negeri (eksport):

Para eksportir berjasa menyumbang USD ke cadangan devisa negara.
Selain membuka lapangan kerja (yg relatif besar, terlepas urusan modal), mereka juga menjadi “duta” bagi nama dan kualitas Indonesia di dunia internasional.

Gak cuma eksportir maupun importir yg terlibat, pengusaha yg ngandelin pasar lokal juga bisa kena, kalau ada bahan baku-nya yang dibeli dari luar negeri.
Harga bahan baku import ini nanti ngaruh ke ongkos produksi, yg ujungnya ngaruh ke laba, dimana kalo ngambil untungnya aja udah dikit (profit margin), mau gk mau para produsen akan naikin harga jual.

Kalo banyak pengusaha yg naikin harga jual,  maka inflasi akan naik, peristiwa DOMPET JEBOL pun akan marak terjadi.

Apalagi, kalau demi nyelamatin pasokan bahan baku, si pengusaha terpaksa “merumahkan” pegawainya, ya gak asik tu judulnya (pahlawan bertopeng juga ni ujung2nya)

Maka, secara garis besar, 
Fundamental ekonomi suatu negara, tergambar dari nilai tukar mata uangnya, Vice Versa.
Q: Dari tadi yg disebut tu pengusaha sama penggangguran. Nah, kalo kita bukan pengusaha, masih karyawan (baik di swasta maupun negara), dan gaji masih jalan, apa pengaruhnya ???

A: Pengaruhnya banyak, cuman biar gk ribet. Intinya mau gimana pun Kamu bisa ambil untung dari aksi Bank Sentral.

Q: Kok bisa ? Gimana caranya ?

A: Cekidot:

* Aksi pada Suku Bunga
Kerjaan Bank Sentral tu fokus ngatur Bunga, makanya Kamu wajib catat ni jadwal rapat Bank Indonesia.
Bunga itu, ibarat pengatur kecepatan ekonomi (cek lagi Bagian 1 klo bingung).
– Saat ekonomi gerak terlalu lambat, BI akan nurunin suku bunga –
Kalau suku bunga turun, ini saatnya ambil utang !
  • Buat buka usaha
  • Buat beli rumah
  • Buat beli mobil
  • Buat beli mesin cuci, dan jangan utk beli hp (ya kali beli hp sendiri ngutang, malu lah !)

Itu aja ? Masih banyak… bunga turun tu berarti BI ingin ekonomi bergairah, berarti…
  • Beli saham produk branded, saham produsen alat berat industri, alat berat di rumah tangga, mobil, motor, dan benda2 mahal dan gede lainnya.
  • Beli saham penghasil energi untuk ngasih tenaga pembangunan ekonomi (gas, batu bara, minyak)
  • Beli saham produsen teknologi dan elektronik 

– Saat ekonomi gerak terlalu cepat, BI akan naikin suku bunga –
      Ini saatnya pilih2 berbagai aset investasi:
  • Kalo kamu pemula dalam investasi, ini waktu yg enak banget untuk ambil deposito. Mau milih 1, 3, 6 bulan atau setahun ? liat prospek ekonomi… (kalo kira2 bunga bakal naik terus, ya ambil aja yg per 1 bulan sekalian, biar compound interest-nya)
  • Bunga naik berarti laba bank (minimal, secara nominal) akan naik. Jadi kamu bisa beli saham Bank.
  • Selain saham Bank, semisal keadaan mulai menyerempet krisis, segera beli saham kebutuhan sehari-hari (mau krisis tetep mandi plus ngerokok dong) atau kebutuhan dasar (telpon, listrik, air).
  • Bunga naik berarti ekonomi melambat, kalo ternyata bunga udah beberapa kali naik, dan ekonomi keliatan akan terus melambat, Kamu bisa beli emas atau USD.

Pada masa ini, semua orang akan hati-hati sekali menggunakan uang, karena BI sendiri pengen memperlambat ekonomi. Karena kalo ekonomi jalan kenceng terus2an, itu yg namanya inflasi bisa naik tinggi dan otomatis bikin kantong Kamu dan orang2, jebol sejebol jebolnya…

Q: Udah, itu aja ?
A: Masih ada 1 lagi, inget2 kalimat di bawah ini:

Dalam jungkat-jungkit ekonomiThe Federal Reserve adalah pemain terpenting. 


Setiap hasil pertemuan The Fed wajib diperhatikan!

 Segala kebijakan The Fed akan memengaruhi keputusan pada  dan bank sentral lainnya, termasuk BI.

Q: Ok, terus ada lagi ?

A: Iya, klo ada waktu, tolong baca buku bikinan Si Bapak Ekonomi di bawah ini:


Judulnya “An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations”,  
Minimal, baca Chapter IV yg udah ada di link di atas, dari situ niscaya dapet pencerahan lebih lanjut soal uang.

Q: Ada lagi ?

A: Ada sih, coba mulai sekarang rutin baca berita sama liat
chart IHSG,
Chart USD/IDR, sama
chart harga emas.

setiap hari,-

Udah, itu aja,

sekian.

Jungkat-jungkit Ekonomi 1

Yang Kaya Makin Bergaya Yang Miskin Makin Aking

Main jungkat-jungkit harusnya menyenangkan
Gak kaya’ duo gajah di atas…
Ekonomi juga begitu, menyenangkan walau melelahkan, makin cerdas menuju tujuan.

Interaksi antar pelaku ekonomi, mirip gambar hand car di bawah ini:

Sewaktu bocah, John Lennon ditanya, “Kalo udah gede mau jadi apa?” Lennon jawab: BAHAGIA.
Nah, kalo menurut saya, namanya bahagia, paling terasa pas main.
Terutama main jungkat-jungkit !









Ekonomi + Jungkat-jungkit =


Main jungkat-jungkit dalam ekonomi kudu tau hal dibawah ini:
Aturannya >>  Ada yang naik, ada yang turun. Vice Versa.
Trik              >> Tahu & ngerti isi pikiran, tujuan, dan keinginan temen main kamu.
Tips              >>  Ciptakan & jaga selalu, keseimbangan diri sendiri ! 
Sekarang mari kita liat, para pemain besar jungkat-jungkit ekonomi:

Bank Sental

Pemain yg satu ini banyak mau. Gak suka kalau hand car yg terlalu lambat, gak juga boleh terlalu cepat, maklum, beliau mudah mabuk (bayangin kamu naik jungkat-jungkit yang gerak sekenceng sayap lebah, gimana?).

Jadi, saat hand car dirasa terlalu lambat, maka beliau akan melakukan gerak ekspansi. Giliran isi perut mulai naik ke tenggorokan, beliau segera menyerukan kontraksi.

Btw, ECB itu Bank Sentral Eropa, The Fed punya Amerika Serikat, kalo BoJ itu Jepang. Indonesia punya juga, namanya Bank Indonesia.

Pemerintah

Kalo yg ini denger2 si pengayom banget sifatnya. Tapi yg pasti beliau sangat memperhatikan keseimbangan antara “pesona” dan sifat “disiplin”.
Pesona untuk menarik perhatian investor asing dan mengangkat martabat bangsa (katanya…), sembari disiplin menjaga kewibawaan dan kekuasaan di depan rakyat (gk pake jelata ya…).

Perusahaan

Perusahaan disayang pemerintah, karena nyerap banyak tenaga kerja. Perusahaan sangat menjaga keseimbangan neraca serta proporsi pengeluaran dan pemasukan. Perusahaan mengutamakan keberlanjutan usaha dalam setiap aktivitas, termasuk aktivitas main jungkat-jungkit ekonomi.

Bank

Bank asal Jerman ini, pemilik bursa saham di Amerika Serikat. Juga sempat jadi pemilik 67% rumah di suatu negara bagian, pas Krisis Perumahan di Amerika Serikat kemarin.

Kalo yg di atas ini, eksis pas jemuran derivatifnya sukses diterbangin oleh angin Boaz. 
Bank penemu intrumen derivatif saham ini, sekarang berstatus sebagai Bank terbesar di  AS.
Bank mungkin sering salah, tapi gak berarti jahat. Kerjaan mereka tu ngumpulin duit trus nyalurin tu duit ke tempat yang berpotensi ngasih cuan. Apalagi bank2 di negara maju sulit untung dari spread, karena suku bunga di negara maju tu udah rendah banget.
Jadi mereka masuk ke segala sub-pasar (yup, yg namanya pasar, cuma ada 1), 
demi meraih laba juga melayani krediturnya. 
Lebih dalam soal Bank, silahkan baca artikel pengupas pola pikir Bank ini.
Pasar cuma ada 1 (globalisasi menghapus segala batas). 
Ekonomi agak beda, karena tiap negara punya pemerintah dan bank sentral sendiri2.
Namun dalam hidup individual, kita gk cuma mainin satu jungkat-jungkit
*Kita main dengan pemerintah2 (kalau melancong ke luar Indonesia, otomatis berurusan dengan pemerintah setempat). 
*Kita main dengan Bank (ada orang yg rekening Bank-nya cuma 1 ?)
*Kita juga berurusan dengan berbagai Perusahaan (sebagai karyawan, sebagai investor di pasar modal, juga sebagai konsumen).
Yang penting, jangan sampe kita merasa selalu kalah, namanya jungkat-jungkit wajar kalo naik-turun.
Kadang di atas kadang di bawah. 
Tinggal cara kita mengatur diri (jaga keseimbangan, ngatur napas, suara, adrenalin) dalam menjalani pengalaman hidup.
Karakter pemain2 besar belum dijabarin,
Sabar… pahami yg ini dulu…
Baru nanti lanjut ke bagian 2…
Jungkat-Jungkit, Cita-citaku Selangit
Jungkat-Jungkit, Hilang Segala Pikiran Sakit
Jungkat-Jungkit, Dompet Makin Sempit
Jungkat-Jungkit, Hore ! Ekonomiku Bangkit !

Kalau Banyak yang Kaya’ Aku
Apalah Guna Berseteru
Ketika Solusi Dunia Tergenapi
Awan & Api, Itu Urusan Nanti

By Petaniuang

                 sumber gambar
Sumber gambar lainnya: Google