Blackberry Suicide (?)

By: Dipta Darmesti

Two days ago I saw the business news and I was surprised: Research In Motion (RIM) made Blackberry Messenger (BBM) available for Apple and Android products. Whoa, what the h*ll are they thinking?


As a business graduate, I used to learn that a business has to keep their competitive advantage. Yes, then what is a “competitive advantage”? A simple explanation from me, competitive advantage is one thing that make people turn to you, not anyone else. 

Once a company has its competitive advantage, the consumers will go to that company to find what they need. In a business, there is also a core competence. It is like “what your business is mainly about?” What I have learned during my studies is never outsource your core competence, so you can control your own business.


Back to RIM case, I found that the decision is weird. It is like I saw Mr. Krab gives a krabby patty to his rival, Plankton. I remember that I bought a Blackberry phone because it has the BBM and most of my friends use it. So, it would be easier to communicate between us. The BBM thing made Blackberry phone exclusive since no other phones have BBM. The BBM has been RIM’s competitive advantage. 

People buy the Blackberry phone because it has the BBM. Now, RIM will share their secret weapon to their rivals. What will happen to the phone sales? I guess Blackberry phone is committing suicide or cannibalized by the applications (apps), since Blackberry phone is “nothing” without BBM. As a customer, I would prefer Android phones if it provides BBM as well as Blackberry phones.

RIM has to be focus on its core competence, whether they want to offer the phone or the apps. By the decision, it seems like RIM switched into the apps business and they slowly kill the phone. In the BCG matrix system, the BBM apps would be the question mark and the phone is the dog, and had been the cash-cow before. 

Anyway it is just my opinion. RIM can choose its own business strategy. I hope they will not spill the milk. Let’s see what will happen next, will the question mark be a star or be the dog instead.

Ya atau Tidak?

Oleh: Dipta Dharmesti

Tanggal 8 Juni 2012 yang lalu, saya mempresentasikan hasil riset saya yang lagi-lagi tentang perilaku konsumen online di Roma, Italia. Secara spesifik temuan saya ini menyorot perilaku pembelian impulsif. Apa itu? Pembelian impulsif adalah pembelian yang tidak direncanakan, mendadak pengen beli barang itu, gara-gara lihat iklan dan didukung dengan mood yang bagus.

Kalau dianalogikan, penelitian saya ini cocok untuk orang yang sedangkepepet cari jodoh (tapi sebaiknya jangan ditiru, hehehe). Orang yang sedang cari pasangan biasanya melihat-lihat lingkungan sekitarnya. Lingkungan dalam penelitian saya adalah online, jadi browsing lah. Waktu browsing itu, orang akan melihat berbagai stimuli eksternal, entah itu gambar, foto, tulisan atau informasi, animasi, dan sebagainya. Stimuli tersebut berasal dari luar diri orang tersebut.


Di dalam dirinya, orang juga merasakan sesuatu. Salah satunya adalahmood yang sedang dirasakan sewaktu browsing. Entah itu “browsing” cewek atau cowok ya, hehehe :p


Dua faktor itu mempengaruhi keputusan orang untuk “beli atau tidak.” Kalau cari jodoh, berarti “nembak atau nggak ya?” Sebelum mencapai keputusan itu, ada hal yang disebut consumption impulse. Apa pula itu? Consumption impulse adalah perasaan mendesak ingin memiliki, mendapatkan, atau mengkonsumsi sesuatu. Orang kalau berhasil mengatasi si consumption impulse, dia bisa batal beli, atau jawabannya “tidak.” Cinta tak harus memiliki #eaaaaa… Tetapi kalau tidak bisa mengatasinya, setelah browsing dan melihat warna-warni stimuli dunia, maka orang itu kebelet untuk mendapatkannya daaann… “dorr!” beli deh, tanpa direncanakan sebelumnya.


Stimuli eksternal harus melewati consumption impulse dahulu, sebelum orang bisa berkata “ya” atau “tidak.” Sementara mood, tergantungmood-nya. Kalau mood orang sedang baik, kemungkinan dia terlalu bersemangat dan langsung bisa bilang “yes, I will” atau “no, I won’t.” Tapi bisa juga dia mood-nya nggak begitu bagus, tapi dia merasakebelet pengen punya pasangan, yea… berarti langsung bisa bilang “ya.”


Frekuensi bertemu juga bisa mempengaruhi keputusan “ya atau tidak.” Semakin sering orang bertemu stimuli yang seperti itu, semakin pintar dia mengatasi consumption impulse. Biasa ketemu cowok ganteng atau cewek cantik, kalau dipuji mereka berarti sudah kebal kan? Hehehe… Sebaliknya, kalau jarang ketemu, sekali ketemu langsung tertarik, merasa mendesak ingin memiliki, and then say “yes.” :)


So, itulah hasil penelitian saya. Orang bisa mendadak beli sesuatu setelah browsing, tanpa direncanakan sebelumnya. Hal ini baik bagi pemasar online, karena jika pemasar memasang stimuli yang menarik, orang yang tadinya cuma iseng browsing bisa terpikat dan mendadak beli, hehehe…

Stereotip Indonesia = Maid Country??

Oleh: Dipta Dharmesti
Saya sudah mengunjungi beberapa negara di Asia, antaralain Singapura, Malaysia, dan Hong Kong (HK). Saat ini pun saya berstatus internship di sebuah konsultan bisnis di Kuala Lumpur, Malaysia.
Ketika berinteraksi dengan orang-orang di negara-negara tersebut, saya lebih suka menggunakan bahasa inggris. Awalnya, orang-orang pasti bertanya, “where are you from?” Saya jawab, “INDONESIA.” Orang Malaysia dan Singapura kebanyakan mengira saya studi di sana karena berbahasa inggris, hehehe… Masih tampang S1 ^^ Yes, I am a master student, in Indonesia. Beda dengan HK. Orang sana sering mengira saya TKW di sana, wedew… Mending TKW profesional, lah dikiranya TKW buruh pabrik atau maid (pembantu rumah tangga) :S Waktu ke HK memang saya baru saja “lulus” dari pabrik sih, mungkin masih ada tampang buruh :p
Negara-negara yang saya sebutkan tadi merupakan negara-negara “sasaran” TKI. Saya bangga jadi orang Indonesia yang bisa mengunjungi negara-negara tersebut, tapi juga sedih, mengapa stereotip Indonesia adalah sebagai negara maid? TKI diasosiasikan sebagai pekerja “kerah biru”, buruh atau pembantu. Sebagai contoh lagi, di Malaysia, walaupun saya bukan sebagai maid, tapi jika saya mengaku dari Indonesia, pasti orang bercerita, “Ah, my maid is from Indonesia, she is from Java.” Nggak cuma orang Malaysia, orang Filipina pun bilang begitu. Walaupun yang diceritakan hal-hal baik, tapi ya tetap saja maid. Seolah orang Indonesia (terutama perempuan) yang kerja di negara itu adalah sebagai maid. Office woman di kantor tempat internship saya pun berasal dari Purwakarta, dan beliau baik sekali.
Stereotip “Indon = berpendidikan rendah atau Indon = stupid” sudah melekat di masyarakat negara tetangga. Pernah suatu hari, pulang kantor, saya yang berkostum blazer ini mencoba naik bis pulang. Karena baru pertama kali, saya menaiki arah yang berlawanan, padahal jalur bisnya sudah betul. Eh, sopir bis memarahi saya, padahal saya sudah menjelaskan kalau itu baru pertama kali naik bis. Si sopir itu memang menyebalkan, seolah-olah saya orang Indonesia yang tidak berpendidikan, ckckck… (catatan untuk menghibur diri sendiri: kalau tuh sopir pendidikannya tinggi, dia nggak bakal jadi sopir bis :p).
Di Hong Kong beda lagi. TKW di sana dandanannya nyentrik-nyentrik. Begitu pula di Singapura. Baju seksi warna-warni, rambut kadang-kadang dicat coklat, tapi bicaranya medok, hahaha. Saya ke negara-negara itu sebagai turis backpacker, bukan turis koper, sehingga bentuknya ya seperti orang kere jalan-jalan. Petugas imigrasi pun membutuhkan beberapa saat mempelajari employee pass di paspor saya. So, setelah orang menanyakan asal saya, di Hong Kong saya ditanya juga dari agen mana >.< Bedanya, kalau di Singapura, kebanyakan TKW maid tidak berbicara dalam bahasa inggris, sehingga untuk "menghindari" stereotip maid, saya terus menggunakan bahasa inggris, hehehe… That's why I prefer english to bahasa.
Dear Indonesia, mengapa yang dikirim maids, bukannya tenaga kerja profesional? Belum lama ini, pengiriman maid dari Indonesia ke Malaysia dihentikan karena banyaknya kasus, dan baru akan dimulai kembali bulan depan. Saya pribadi berpendapat, sebaiknya Indonesia mengurangi pengiriman maid dan menambah pengiriman TKI-TKI profesional. Why not? Banyak sarjana menganggur di negeri sendiri. Orang Indonesia sebetulnya tidak bodoh, masa membuat citra “bodoh” di negeri tetangga. Terus terang, saya merasa miris kalau orang-orang negeri tetangga ngerumpi tentang maid Indonesia mereka.
TKI sektor informal memang menyumbang devisa bagi Indonesia, namun jangan lalu yang dikirim TKI informal melulu. TKI formal berpendidikan tinggi pun menyumbang devisa, bahkan lebih besar. Adalah suatu kebanggaan bisa memenuhi kriteria internasional dan menyumbangkan devisa bagi negeri sendiri, namun akan lebih baik lagi jika citra INDONESIA di dunia internasional ditingkatkan dengan mengirim tenaga kerja “kerah putih” :)

Country Marketing

By: Dipta Darmesti

What is marketed? Philip Kotler said that the answers are almost everything can be marketed: goods, persons, experiences, information, idea, and even a country. I am Indonesian, but I live in Malaysia for a couple of months. This is my second time. I’ve been in Malaysia last year, for holiday.
Well, related to the title, a country can be marketed. When I go to Jakarta, the capital of Indonesia, I can see a huge banner of Malaysia promotional ads, said that “Malaysia is truly Asia”. Even a country put such an ads in another country’s capital. Malaysia is very aggressive in promoting their country. Few months ago, my friends attended a blog competition, held by Selangor State Tourism Board. They were selected to enjoy tourism things in Selangor. In the Malaysian Embassy, Jakarta, I can take free booklets and Malaysia maps.
I live in Kuala Lumpur, the capital of Malaysia. I go around the city and I can’t find any country’s advertisement like I found in Jakarta before. I had an experience as a tourist in Malaysia. They have Hop-On-Hop-Off (HOHO) buses that go around the tourism objects in KL. The important thing is the low budget airline AirAsia is headquartered Malaysia, and they make Kuala Lumpur as a “gate” to go around Asia. Malaysia introduced their country well, and set good perceptions in foreigners’ mind. That’s what marketing for.
Marketing is not only about promotions. In the earlier marketing mix, there is “4P” which consists of Product, Price, Place, and Promotions. Those Ps should be met to obtain a successful marketing. Indonesia has many incredible tourism objects, but it’s hard to access those objects, poor transportation, and it is a big problem. The “Place” element does not match. Poor transportation will cause higher price to go to the location, and only few people can afford it. Then, the “Price” element also does not match. And now, the “Promotion” element. One of my job is news-media monitoring. Almost everyday, I see bad news in Indonesian media: corruption case, violence, sexual harassment in the public transportation, etc. Indonesia is not that bad, many beautiful things inside. Those will cause some bad image about Indonesia. That’s why Indonesia need to do “country marketing”. Not only about tourism, but also in investment.
Recently, World Bank conducted a survey about the most interesting and friendly city for investment in Indonesia. The results are:
1. Yogyakarta
2. Palangkaraya
3. Surakarta
4. Semarang
5. Banda Aceh
6. Gorontalo
7. Balikpapan
8. Jakarta
9. Denpasar
10. Mataram
Yogyakarta is #1 :) This survey has good impact in Indonesia’s country marketing. Hopefully it will reduce the bad image and attract more investors to go to Indonesia. Maybe we have to show up and promote the country aggressively, just like Malaysia do.

Banci-banci di Keuangan


Oleh: Dipta Dharmesti


Sesuai judulnya, tulisan ini mengingatkan kalau di konsentrasi manajemen yang paling eksak, keuangan, juga ada yang GeJe. Lho, kenapa GeJe alias hybrid alias “banci”? Jawabannya, karena tidak terklasifikasi. Nggak jelas mau dimasukkan kelompok mana.


Di financial management, pembahasan ini masuk ke dalam hybrid financing. Untuk dapat beroperasi, perusahaan membutuhkan biaya dan sumber pembiayaan. Hybrid, karena sumber pembiayaan perusahaan ini tidak dapat diklasifikasikan, mau dibiayai menggunakan utang atau modal sendiri (equity).

Setahu saya, ada 3 banci yang sering dibahas di keuangan (mohon ditambahi kalau ada yang tahu lebih banyak, hehe…). Here they are:

1. Leasing alias sewa bunga
Alasan utama leasing terjaring dalam kategori banci adalah karena secara akuntansi leasing tidak masuk dalam neraca, juga tidak termasuk capital (kecuali capital leases, itu saja dimasukkan ke dalam utang, padahal leasing kan “menyewa” :).

Oiya, kalau yang belum tahu, leasing itu secara garis besar ada dua: capital leases, yaitu kalau kita nggak punya mesin, terus lease ke perusahaan pengadaan mesin, biar mereka yang beli & mengeluarkan cost of owning, kita tinggal “sewa” mesin itu, terus lama-lama mesin itu jadi milik kita, kalau “angsuran”nya sudah hampir lunas atau di akhir periode leasing.

Jenis yang lain ada operating leases, mirip, cuma lessee (penyewa) tidak akan mempunyai hak untuk memiliki mesin tersebut. Leasing ini berguna untuk “mengejar” kemajuan teknologi. Perusahaan tidak perlu membeli langsung untuk menikmati suatu teknologi produksi tertentu….

2. Preferred stock
Stock itu kan saham, tapi preferred stock itu saham yang aneh. Pemegang saham ini menerima dividen yang jumlahnya tetap. Padahal kalau saham biasa, dividen yang diterima kan sesuai dengan kinerja perusahaan. Nah, karena dividen preferred stock tetap, maka mirip dengan sifat bunga utang. Seolah-olah perusahaan utang ke investornya & bayar bunga (kayak obligasi aja).

Tapi ini saham lho, bukan utang. Saham adalah bukti kepemilikan seseorang atas suatu perusahaan. Orang invest ke sana, jadi masuk sebagai modal. Jika perusahaan tidak membayar dividen preferred stock, maka dividen untuk saham biasa tidak boleh dibayarkan. Nah lo, gimana mau disebut “utang” kalau seperti itu? Intinya, konsep preferred stock ini juga GeJe, mau dimasukkan modal atau utang.

3. Warrant & Convertible Warrant
Bagi yang belum tahu, warrant itu hak untuk membeli saham perusahaan, dengan harga tertentu di masa mendatang. Mirip dengan option, tapi jangka waktunya lebih panjang. Warrant biasanya diperlakukan sebagai bonus kalau orang beli obligasi. Bagi yang belum tau lagi, obligasi itu surat utang perusahaan. Dengan membeli obligasi, perusahaan berhutang ke kita dan wajib membayar bunga.

Nah, dengan membeli sekian lembar obligasi, maka bonusnya warrant. Termasuk aneh, soalnya obligasi itu utang, tapi bonusnya warrant, masuk ke modal. Lebih aneh lagi convertible warrant, sesuai namanya, dalam jangka waktu tertentu, si warrant bisa berubah jadi saham. Aneh ya? Hehehe… Makanya disebut “banci” soalnya seperti transgender, bisa berubah dalam jangka waktu tertentu.

Saya baru bisa menjelaskan 3 banci, mungkin teman-teman pakar keuangan bisa menambahkan penjelasan saya karena konsentrasi saya sebetulnya di pemasaran, tapi malah dengan ngawur-nya merambah ke keuangan, hehehe…