Perlakuan Akuntansi Perusahaan Manajemen Artis (Agensi) Terhadap Artis-Artisnya

Oleh: D.A. Rohmatika

Jika Anda adalah akuntan di sebuah perusahaan manajemen artis (agensi) di SM Entertainment (perusahaan agensi terkemuka di Korea), bagaimanakah Anda akan mencatat transaksi berkaitan dengan Girls’ Generation (salah satu girlband), artis dari SM Entertainment?

#pemahaman aset tetap yang tak selamanya hanya bangunan, tanah, dan mesin pabrik.

Perusahaan yang ada saat ini bermacam-macam, mulai dari perusahaan manufaktur (produksi sabun, susu, mi instan) sampai ke perusahaan jasa (produksi jasa audit, jasa konsultansi, jasa pembuatan skripsi). Semakin maraknya hallyu wave (alias demam artis-artis Korea) membuat saya ikut menikmati musik mereka, lanjut ke menikmati gosip tentang mereka, lanjut ke memahami proses dan ritme pembentukan artis (aktris/aktor, boyband/girlband, solo singer) di sana. Bahkan, Ekonom Gila pernah membahasnya pula di sini. Berbeda dengan Indonesia di mana setiap orang bebas dan bisa menjadi artis, artis di Korea harus diterbitkan oleh sebuah perusahaan manajemen artis. Dan akhirnya satu pertanyaan muncul: bagaimanakah perlakuan akuntansi perusahaan untuk para atis tersebut? Apakah mereka masuk aset, ekuitas, kewajiban, atau produk?


Perusahaan Manajemen Korea dan Artisnya
Ada banyak sekali perusahaan manajemen artis di Korea, antara lain: SM Entertainment (artis: TVXQ, Girls’ Generation, Super Junior, F(x), Shinee), YG Entertainment (artis: 2NE1, Big Bang), JYP Entertainment (artis: Wonder Girls, Miss A, 2AM, 2PM), dan Starship Entertainment (artis: Sistar, Boyfriend). Untuk mendapatkan artis, perusahaan manajemen ini melakukan berbagai macam cara, yang paling banyak dilakukan adalah mengadakan audisi.
Biasanya, audisi dilakukan untuk mencari talenta. Kasus girlband/boyband misalnya mencari orang-orang yang berbakat menyanyi dan menari, dan ada beberapa yang direkrut untuk visual (alias jual tampang). Di sinilah nantinya para artis harus menandatangani kontrak setelah lulus audisi untuk menjadi trainee dan akhirnya menjadi artis dari manajemen tersebut. Kontrak itu bisa bermacam-macam lamanya, salah satunya adalah “kontrak 13 tahun” dari SM Entertainment.
Setelah melalui proses menyakitkan di medan perang per-audisi-an dan teken tanda tangan kontrak, derita para artis ini tidak serta-merta berakhir karena masih ada yang namanya training. Masa training ini pun tidak main-main, berkisar dari satu sampai tujuh tahun untuk mengasah bakat para artis: menyanyi, menari, modelling, stage performance, camera facing, body shaping, dll. At the end, para trainee ini tidak semuanya diorbitkan. Ada yang dipindahkan ke agensi lain, ada yang akhirnya menjadi orang biasa karena satu dan lain hal. Bagi yang beruntung diorbitkan, tentu saja lagu, album, photo session, manggung, dan segudang aktivitas lainnya sudah dipersiapkan.


Para Artis Itu Masuk Akun Apa?
Terinspirasi oleh sebuah judul skripsi yang bertema “Perlakuan Akuntansi Pemain Sepak Bola Sebagai Aset di Klub XXX” (lupa pengarangnya, sepertinya anak BPPM Equilibrium dulunya) maka akhirnya perlakuan yang sama yang akan saya sarankan kepada para akuntan di SM Entertainment, YG Entertainment, JYP Entertainment, dan Starship Entertainment (narsis dan sedikit pe-de). Bagaimana bisa para artis itu masuk ke dalam aset? Aset tetap atau lancar? Bukannya seharusnya mereka diperlakukan sebagai produk dalam penjualan (sales)?
Opini saya untuk memasukkan mereka sebagai aset didasari oleh definisi aset yang saya peroleh. Menurut SFAC No.6 Paragraf 25, aset didefinisikan sebagai:
“Probable future economic benefits obtained or controlled by a particular entity as a result of past transactions or events.”
Sedangkan menurut PSAK No.16 Paragraf 6, aset tetap didefinisikan sebagai:
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
  1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif
  2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Artis-artis yang sudah dideskripsikan di atas, memenuhi berbagai karakteristik aset yang disebutkan oleh SFAC No. 6 tersebut maupun PSAK No. 16, yaitu:
Keuntungan ekonomi di masa mendatang, yang akan bisa didapatkan dari hasil manggung, penjualan album, maupun stage performance,
Dikontrol oleh sebuah entitas, di mana di sini adalah perusahaan agensi tersebut,
Dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan barang dan jasa, para artis itu dipergunakan untuk menyanyi dan menari yang akhirnya mengeluarkan produk berupa lagu dan album,
Diharapkan untuk diperunakan selama lebih dari satu periode, kontrak yang ditandatangani selama bertahun-tahun (bahkan 13 tahun) tentu saja melebihi satu periode/siklus akuntansi.
Jadi, pertanyaan-pertanyaan membingungkan akan bisa terjawab, seperti di bawah:


Mengapa para artis itu tidak masuk sebagai produk? Karena jika mereka masuk sebagai produk, tentunya penjualan (sales) yang bisa dilakukan terbatas hanya satu kali saja. Jadi mereka bukanlah produk.


Lalu mengapa mereka bukan diperlakukan sebagai aset lancar? Karena aset lancar dan aset tetap dibedakan menurut periode akuntansinya (yang sangat pendek bagi aset lancar, kurang dari satu periode akuntansi) atau keinginan awal perusahaan dalam mendapatkan aset lancar untuk segera dijual kembali.
Pencatatan Artis Sebagai Aset Tetap
Para artis yang diperlakukan sebagai aset itu tentu memiliki nilai perolehan. Menurut Meigs dan Williams, biaya perolehan aset tetap meliputi (Allfajriansyah, 2008): “All expenditures that are reasonable and necessary for getting the asset to the desired location and ready for use.” Hal ini berarti, nilai perolehan yang akan dicatat oleh perusahaan tidak hanya nilai yang tercantum di dalam kontrak, tetapi juga biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tersebut, seperti biaya mengadakan audisi. Bagaimana dengan biaya training dan biaya hidup si artis? Tentunya itu akan masuk ke dalam biaya (expense) karena telah masuk sebagai biaya pemeliharaan aset.
Sebagaimana aset tetap lainnya, aset tetap berupa artis ini tentu akan bisa terdepresiasi. Lama waktu ekonomis yang diakui perusahaan dihitung berdasarkan lama waktu yang tercantum dalam kontrak. Jumlah biaya depresiasi per tahunnya bisa dihitung dari biaya perolehan aset dibagi waktu ekonomis (bisa dihitung dengan berbagai metode, baik metode garis lurus, dll).
Beginilah jika seorang Ekonom Gila diminta menjadi akuntan perusahaan agensi. Tentunya opini ini jauh dari sempurna, jadi mari berdiskusi! Any opinions are accepted! Akhirnya, Girls bring The Boys Out!

*screaming* *akibat nulis sambil dengerin semua lagu-lagu Korea*

#pesan sponsor: lagunya Ailee yang “Heaven” bagus banget loh! Atau Sistar yang “Ma Boy”. Cocok buat orang yang baru coba dengar genre musik Korea, haha~
*dari berbagai sumber