Migrasi Hati

Source Pict: Here
Oleh: Dyah Restyani

Di pembahasan mengenai ekonomi sumber daya manusia, ada tiga point yang menjadi fokus, yaitu persoalan fertilitas, mortalitas, dan migrasi. Ketiga hal ini sama pentingnya dalam mempengaruhi perekonomian suatu wilayah atau negara.
Di tulisan kali ini, akan membahas tentang bagaimana migrasi dihubungkan dengan migrasi hati yang semu. Migrasi hati yang semu yaitu migrasi yang dilakukan karena dominan tertarik atau bahkan hanya tertarik pada hal-hal yang nampak bagus saja. Migrasi hati yang kerapkali menghiasi hubungan-hubungan antarmanusia.
Terkait migrasi, ada 2 penyebab utama seseorang melakukan migrasi, yakni:
1.      Daya tarik
Daya tarik sebuah kota atau negara lain seringkali menjadi alasan utama seseorang melakukan migrasi. Kota yang nampak lebih potensial, tampak lebih makmur dan penuh lapangan kerja tentu menjadi daya tarik sendiri bagi para pencari kerja. Kota yang cepat tumbuh, birokrasinya baik, masyarakatnya terbuka, juga menjadi magnet kuat bagi para pengusaha untuk berbisnis di wilayah tersebut.
Seperti halnya daya tarik sebuah kota, setiap orang juga punya daya tarik tersendiri bagi orang lain. Seseorang (sebut saja si X) akan melakukan migrasi hati (baca: memutuskan hubungan lama dengan si Y dan membina hubungan baru dengan si Z) ketika hatinya tertarik pada individu Z. Daya tarik individu Z mungkin saja nampak begitu cocok dengan apa yang diinginkan si X, sehingga si X berani untuk melepaskan / meninggalkan Y begitu saja hanya untuk mengejar Z. Misalnya saja karena si Z lebih kaya, sering memberi aneka macam hadiah kepada X, juga selalu mengajak X jalan-jalan ke tempat-tempat mewah nan bergengsi.
2.      Daya dorong
Daya dorong mejadi faktor kedua yang menjadi alasan mengapa seseorang bermigrasi. Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendorong, yakni: a). Faktor ekonomi (berupa upah, kesempatan kerja, dan biaya hidup). Kurang mencukupinya upah, kurang tersedianya kesempatan kerja, serta biaya hidup yang tinggi di wilayah tempat tinggal seseorang seringkali menjadi faktor pendorong seseorang melakukan migrasi ke wilayah lain, ke wilayah yang kesempatan kerjanya lebih luas, upahnya lebih tinggi, dan biaya hidup yang terjangkau. Dikaitkan dengan migrasi hati, seseorang (X) berpindah hati ke dari Y ke Z karena Y miskin, tak pernah memberinya hadiah apa-apa, tak pernah mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat bergengsi.
Selain faktor ekonomi, faktor kedua yang menjadi daya dorong seseorang bermigrasi adalah faktor sosial. Ketika seseorang merasa tak berguna, tak punya status sosial yang baik di tempat tinggalnya, maka besar kemungkinan ia akan bermigrasi ke tempat lain yang lebih terbuka dan lebih menerimanya. Jika dihubungkan dengan migrasi hati X, maka X berpindah hati ke Z karena di hubungannya yang sebelumnya (hubungan X dengan Y) tidak direstui keluarga Y. Begitu pula keluarga X yang amat sulit menerima Y karena alasan bibit bebet bobot yang tak jelas.
Faktor ketiga yang menjadi daya dorong migrasi yaitu faktor politik atau keamanan. Para penduduk yang berada di wilayah-wilayah perang, yang tak terjamin situasi keamanannya, tentu saja mau tidak mau, suka tidak suka, mereka akan bermigrasi ke wilayah lain yang lebih aman. Sama halnya ketika X menjalani hubungan dengan Y, ketika ia kerapkali mendapatkan terror dari keluarga Y agar X menjauhi Y, maka mau tidak mau, X terpaksa harus memutuskan hubungan /  meninggalkan Y.

Brand Brain Migration = Selalu Ada Harga yang Harus Dibayar
Selalu ada harga yang harus dibayar, baik oleh migran yang bermigrasi, maupun oleh wilayah yang menerima migran tersebut, serta wilayah yang ditinggalkan.
Bila SDM yang bermigrasi itu bermutu (berpendidikan tinggi dan punya high skill), maka wilayah baru yang dimasukinya akan mendapatkan manfaat sebab SDM yang baru masuk tersebut berpotensi menambah pundi-pundi Pendapatan Asli Daerah. Seperti halnya hubungan X, Y, dan Z. Ketika X ternyata adalah pasangan yang dapat melengkapi Z, maka hubungan keduanya akan menjadi simbiosis mutualisme.
Namun bila SDM yang bermigrasi itu kurang bermutu, maka SDM tersebut hanya akan menjadi beban bagi wilayah baru yang dimasukinya. Untuk contoh konkretnya, lihat saja Jakarta yang penuh seabrek manusia yang ‘rebutan’ oksigen. Hehehe. Okay, begitu pula untuk hubungan X dan Z. Jika ternyata X cuman bisa menguras kantong Z sedalam-dalamnya, maka X hanya menjadi beban dan berpotensi ‘ditendang’ dari kehidupan Z.
Migran yang bermigrasi hanya karena daya tarik suatu kota tanpa menghitung cost dan benefit kesesuaian kebutuhan kota itu dengan dirinya, biasanya setiba di kota tujuan hanya bingung tak tahu hendak melakukan apa, hingga akhirnya hanya menjadi beban tanggungan sebuah kota.
Namun jika migran bermigrasi karena daya dorong, biasanya dia akan lebih struggle karena kondisi di wilayah asalnya lebih buruk daripada kondisi wilayah yang baru didatanginya. Tapi hal ini juga tidak bisa dipastikan sebab kondisi setiap migran tentu saja berbeda-beda.
Jadi, untuk yang galau tingkat dewa dan ingin bermigrasi hati, silakan dihitung-hitung dulu cost dan benefitnya sebelum mewujudkan migrasi hati. Kalau di migrasi nyata, seseorang bisa saja datang dan pergi sesuka hati bolak balik ke kota A lalu ke kota B tanpa ada yang dikecewakan mendalam. Sedangkan untuk migrasi hati, selalu ada potensi akan ada yang’terluka’. :D
Semoga bermanfaat!…

Advertisements

Buku Bodo

Oleh: Dyah Restyani


Bertemu dengan orang baru, seringkali menjadi pengalaman menyenangkan tersendiri. Karena selain bertatap muka dengan wajah baru, kita juga bisa mendapatkan pengetahuan-pengetahuan baru. Di acara Belajar Metodologi Penelitian Bareng DR_Consulting dan MIB yang diadakan Ahad 3 Maret 2013 lalu, saya berkesempatan mendapatkan pengetahuan baru dari salah seorang peserta kegiatan. Pengetahuan baru tersebut tidak ada tertulis di buku-buku, sebab hanya diperoleh melalui pendekatan kultural.
Namanya B, seorang alumni jurusan Akuntansi dari salah satu universitas di Makassar. Dia orang Maluku asli. Asalnya dari Maluku Tenggara, tidak jauh dari Kota Tual katanya. Dia cukup banyak bercerita tentang Maluku, sebuah wilayah yang saya sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana, tahunya cuman dari peta di atlas saja. Hehhee.
Dia bercerita tentang bagaimana keadaan transportasi di sana. Di Maluku, orang-orang dominan menggunakan sarana transportasi laut, dibandingkan dengan transportasi umum darat semacam angkot. Hal itu wajar karena memang wilayahnya terdiri dari pulau-pulau kecil.
Satu hal menarik yaitu ketika dia sedang asik bercerita, berkali-kali hp nya berbunyi karena rentetan sms-sms yang masuk.
“Heran saya ini, selalu saja ada sms-sms togel yang masuk di inbox.” Katanya sambil tersenyum lebar nyaris tertawa.
Saya hanya tertawa kecil dan berkata
“Kamu pakai nomor tel***sel ya? Kalau nomor-nomor provider itu memang sering penggunanya dapat sms togel-togel itu. Adik saya juga sering, sampai kesal dia dan mau ganti nomor. Hehhehee”
“Iya, aneh sekali ini. Togel ini di daerah saya lagi marak-maraknya.”
“Oh ya? Togel itu seperti apa si? Saya malah nggak tahu togel itu kayak gimana.”
“Togel itu semacam taruhan. Jadi tiap orang yang ikut, pasang minimal 1 nomor. Satu nomor itu harganya seribu, biasanya mereka pasang minimal 1000 nomor, jadi ya minimal 1 juta.”
“Terus? Nomor-nomor itu dikemanain?”
“Nomor-nomor itu dikumpulin ke Bandar, lalu diteruskan ke pusat, katanya pusatnya di Singapura. Tapi saya nda tau juga apa itu benar atau tidak, dan kalau benar, jauh juga di Singapura. Nah nanti tiap ada nomor yang menang, dapat kabar lewat sms dari Bandar.”
“O..terus itu sistemnya gimana? Maksudnya ngundinya gimana? Pakai mesin random kali’ ya? Hehee”
“Iya, dengar-dengar begitu. Jadi pusat input nomor-nomor mereka, lalu pencet tombol randomnya, yang keluar nomornya itu yang menang. Sepertinya kayak gitu, saya juga belum pernah lihat langsung”
“Wah, menggantungkan nasib dari hasil pencet tombol doang donk ya?  Hihihiii..lagipula, apa iya bener nomor-nomor mereka diinput? Mungkin aja di servernya itu sudah ada database nomor urut dari angka 1 sampai 1juta, jadi mo mereka pasang nomor 999.991 juga dah ada di database. Kalau mereka input nomor kan pastinya ribet. Beda kalau databasenya dah ada, lalu si ‘pusat’ tinggal tekan klik tombol random.”
“Iya, itu dia saya heran juga di kampung saya lagi marak-maraknya menggantungkan nasib pada undian begitu. Bahkan sampai ada yang bisa bangun rumah baru, dan bayar sekolah anak-anaknya hanya dari togel. Makanya yang lain jadi pada tergiur dan ikut-ikutan.”
“Wuiihh….gila juga ya.. Lalu mereka biasanya pilih nomornya gimana?”
“Nah, di kampung saya itu ada yang namanya Buku Bodo. Itu semacam buku petunjuk nomor togel. Hahaa.. tapi para pemain togel itu biasanya lebih percaya mimpi daripada Buku Bodo.”
“Buku Bodo? B-o-d-o?”
“Iya.. bodoh.. Tapi kalau di Maluku bilangnya ya cuma ‘bodo’.”
“Itu kenapa disebut buku bodo? Isi bukunya apa? Ukurannya kayak gimana?”
“Ukurannya kayak buku besar akuntansi. Isinya itu nomor-nomor yang pernah menang, terus ada hitung-hitungannya yang saya juga tidak paham, soalnya hanya pernah lihat langsung 1 kali. Buku itu disebut buku bodo karena kalau yang main togel ngambil nomor dari situ lalu dia gagal, maka nasib buruknya itu disebabkan karena buku bodo, maksudnya itu karena kebodohan si buku. Makanya disebut buku bodo.”
“O..begitu. Menarik juga ya. Itu maksudnya hitung-hitung apa mereka di buku itu?”
“Semacam hitung probabilitas-probabilitas gitu.. Nomor yang menang dikali apa gitu, bingung juga saya, yang jelas isinya angka-angka.”
“Yang pertama kali bikin buku itu siapa? Terus itu buku kuno atau sejak kapan adanya?”
“Tidak tau siapa yang pertama kali bikin buku itu. Hahaa..itu bukan buku kuno, dulu tidak ada buku semacam itu. Buku itu sepertinya baru mulai ada sekitar tahun 2009 atau 2010. Karena sewaktu 2008 saya di kampung, belum ada fenomena buku bodo itu.”
“O..begitu. Lalu yang soal mimpi tadi itu gimana ceritanya?”
“Jadi kalau ada orang mimpi melihat angka, nah, keesokan harinya angka itu dipakainya untuk pasang nomor togel.”
“Hanya dari mimpi?”
“Iya. Mereka lebih percaya mimpi daripada buku bodo. Mungkin karena buku bodo itu pakai dihitung-hitung dulu, jadi agak ribet, sedangkan kalau dari mimpi kan berbeda.”
Belajar Probabilitas tanpa Melalui Bangku Kuliah
Dalam cerita buku bodo di atas, kita dapat mengetahui bahwa masyarakat di wilayah tersebut sudah menggunakan konsep probabilitas. Mereka menggunakan konsep ‘learning by doing’ yang mereka tidak sadari.
Sekedar untuk mengingat kembali, di statistika, ada 2 macam probabilitas berdasarkan pengamatannya yakni:
– Probabilitas objektif
Yaitu kemungkinan-kemungkinan yang dihasilkan dari sesuatu yang dapat dihitung. Misalnya: menghitung probabilitas munculnya angka 3 dari 1 kali pelemparan dadu. Probabilitas munculnya angka 3 dari 1x pelemparan dadu yakni 1/6. Contoh lainnya yaitu penggunaan buku bodo dalam menentukan pilihan nomor kemungkinan juga termasuk dalam probabilitas objektif ini (penulis masih menyebut “mungkin”, sebab penulis sendiri belum tahu bagaimana konsep hitung-hitungan yang dipergunakan dalam buku bodo tersebut).
– Probabilitas subjektif
Yaitu kemungkinan-kemungkinan yang disimpulkan dari hal-hal yang bersifat intuitif. Probabilitas ini didasarkan atas penilaian seseorang dalam menentukan tingkat kepercayaan, tanpa melibatkan pengalaman sebagai dasar perhitungan probabilitas. Contohnya ya menentukan nomor togel berdasarkan mimpi.
Nah, pada akhirnya kita jadi tahu bahwa ternyata beberapa orang dari masyarakat Maluku Tenggara bisa belajar probabilitas tanpa harus masuk kelas statistika. Pelajaran probabilitas yang mereka peroleh dari wilayah-wilayah kultural, pada kenyataannya membuat mereka lebih tertarik untuk mendalaminya, hal ini lebih cenderung karena mereka melihat adanya sisi manfaat dari pelajaran probabilitas sederhana tersebut.
Seperti itu pula lah sebenarnya ilmu. Makin kita mengetahui manfaatnya apa, makin kita menyadari ilmu tersebut nantinya untuk apa, maka makin bersemangat pula kita ingin terus mempelajarinya dan menggalinya lebih dalam.
Yuk, terus belajar dan berbagi!… ;)
Happy Monday!… ^_^

*tulisan ini juga diposting di blogpribadi Dyah.
** illustration pict modified from freedigitalphotos.net

Pendugaan Parameter dan Konspirasi


Oleh: Dyah Restyani



Daripada suntuk, baca ekonomgila aja!.. Kali ini nyoba-nyoba nulis tentang pendugaan parameter dalam ekonometrika, dikaitkan dengan konspirasi. Gimana jelasnya? Langsung aja ya..


Pendugaan

Di dunia statistika & ekonometrika, kita mengenal yang namanya pendugaan. Nah, apa sih pendugaan itu?

Pendugaan adalah proses menggunakan sampel statistik untuk menduga atau menaksir hubungan parameter populasi yang tidak diketahui.

Jika kita hubungkan dengan penyelidikan konspirasi, maka pendugaan dalam teori konspirasi merupakan proses menggunakan data-data yang ada, untuk menduga atau menaksir hubungan antara subjek yang satu dengan subjek lainnya.
Atau secara sederhana, pendugaan adalah proses yang dilakukan oleh seseorang dengan mengumpulkan dan menganalisa informasi-informasi yang ada untuk kemudian menyimpulkan adanya keterlibatan kasus antara pejabat A dengan pejabat B. Bingung nggak? Yang jelas, gitu deh, kalau bingung, saya nggak tanggung.. Hihihii.
Penduga
Nah, untuk mengetahui pendugaan parameter, maka perlu juga kita ketahui definisi dari penduga. Apa sih penduga itu?

Penduga adalah suatu statistik (harga sampel) yang digunakan untuk menduga suatu parameter.

Kalau dihubungkan (lagi) dengan teori konspirasi, maka penduga merupakan informasi-informasi yang digunakan oleh seseorang dalam menginvestigasi adanya konspirasi untuk suatu kasus tertentu.
Ciri-ciri Penduga yang Baik
Ada beberapa ciri penduga yang baik, antara lain:

– Tidak bias
Suatu penduga dikatakan tidak bias apabila nilai penduga sama dengan nilai parameternya.
Kalau dalam teori konspirasi: terbukti adanya konspirasi apabila informasi-informasi yang dikumpulkan valid sesuai dengan fakta yang terjadi.

– Efisien
Suatu penduga dikatakan efisien bagi parameternya apabila penduga tersebut memiliki varians terkecil.
Penyelidikan konspirasi: bukti-bukti dinyatakan valid apabila informasi-informasi yang ada tertuju pada pihak yang jelas keberadaannya.

– Konsisten
Jika ukuran sampel semakin bertambah, maka penduga akan mendekati parameternya.
Jika informasi-informasi valid yang tertuju pada pihak yang jelas semakin banyak, maka semakin jelas bukti adanya konspirasi.
Wah, ternyata statistika bisa digunakan untuk menyelidiki konspirasi!.. Hehehee…
Ssst..yang jelas, tidak ada konspirasi apa-apa di balik tulisan ini. :D
Selamat weekend readers!… :D
NB: juga diposting di blog pribadi Dyah.
Source pict: antarafoto.com





Credit Rating

Oleh: Dyah Restyani


Apa sih credit rating itu? Credit rating adalah peringkat yang mencerminkan opini dari Lembaga Pemeringkat tentang kemampuan suatu negara dan atau perusahaan dalam memenuhi financial commitment-nya. Hal ini diperlukan oleh calon investor yang berminat untuk memberikan pinjaman atau menanamkan modal dalam suatu negara. Salah satu Lembaga Pemeringkat misalnya yaitu Fitch Rating.

Seperti yang kita ketahui bersama, sejak akhir 2011, Fitch Rating menaikkan credit rating Indonesia yang tadinya BB+ menjadi BBB-. Artinya apa?

BBB- menunjukkan bahwa Indonesia telah masuk dalam kategori investment grade, yaitu berada pada peringkat yang menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia kondusif untuk berinvestasi. Lalu bagaimana dengan credit rating yang lain?

Tabel credit rating selengkapnya dapat disimak pada tabel berikut:



Sebagai perbandingan, di bawah ini data credit rating beberapa negara di ASEAN.


Dari tabel di atas, kita ketahui bersama bahwa Singapura adalah negara di ASEAN yang memiliki credit rating tertinggi diantara negara-negara ASEAN yang lain. Maka tak heran jika Singapura ibarat magnet bagi para investor. Para investor yang menanamkan modalnya di Singapura, selain mendapatkan keuntungan karena iklim investasi yang menguntungkan, juga memberikan kontribusi positif bagi Negara Singapura. Investasi yang masuk di negara tersebut tentu akan mendorong perekonomian Singapura sehingga melaju pesat setiap tahunnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana agar negara kita juga mampu mencapai credit rating AAA itu? Tentu hal tersebut merupakan PR jangka panjang yang sedang kita usahakan sedari dulu. :)




Semoga tulisan sangat sederhana ini bermanfaat untuk yang penasaran dengan credit rating.. :) btw jika ada yang salah, silakan dikoreksi :D

Episode Bob Sadino: Roda Bob Sadino beserta Contoh ala Dyah

Siapa yang nggak kenal dengan sosok Bob Sadino? Seorang opa-opa yang sukanya mengenakan celana pendek kemana-mana, nggak peduli acaranya apa dan ketemu siapa, gayanya tetap saja santai dengan celana pendek setengah lutut. Bukan cuma penampilannya yang mengejutkan, namun juga karakternya.
Bob Sadino, seorang wiraswasta yang memulai usahanya dari jualan telur hingga akhirnya sekarang bisnisnya merambah ke sektor properti. Banyak yang bilang kalau Bob Sadino itu gila, nggak waras. Untungnya di sekeliling saya ada beberapa orang yang berkarakter out of the box seperti Bob Sadino, jadinya nggak terlalu kaget ketika membaca buku yang berjudul “Bob Sadino: Mereka Bilang Saya Gila!” ini.
Buku ini sebenarnya buku lama, terbitan tahun 2009. Tapi yang namanya ilmu, nggak ada habisnya untuk dishare.
Oke, dalam buku ini ada beberapa poin menarik tentang wirausaha ala Bob Sadino. Saya menyukai apa yang dipaparkannya. Memang gila, karena memang seperti itulah ia, sangat out of the box dan di luar kurva normal pada umumnya.
Roda Bob Sadino

Roda Bob Sadino, yang selanjutnya disingkat RBS adalah sebuah konsep yang dibuat Bob Sadino untuk menjelaskan tentang tahapan-tahapan/proses-proses pembelajaran para enterpreneur pada khususnya dan orang-orang pada umumnya. Roda Bob Sadino ini tidak hanya berguna dalam bidang enterpreneurship saja, namun juga berguna untuk segala bidang.

Menurut Bob Sadino, sejatinya seseorang itu mulai dari kuadran TAHU (teori), lalu bergerak ke kuadran BISA (praktik) sambil sesekali bolak balik ke kuadran TAHU, lama kelamaan kemudian bergerak ke kuadran TERAMPIL (kompetensi), kemudian yang terakhir adalah kuadran AHLI (pengakuan). Dan dari kuadran AHLI, bergerak lagi ke kuadran TAHU, demikian seterusnya.
Tidak semua orang melalui keempat kuadran tersebut. Ada yang dari kuadran TAHU langsung ke kuadran AHLI. Ada yang dari kuadran BISA, langsung ke kuadran AHLI. Namun, semuanya butuh proses.
Menurut Bob Sadino, lama berproses di kuadran BISA untuk dapat maju ke kuadran TERAMPIL, dibutuhkan waktu minimal 20 tahun!.. Itu artinya kalau mulai usahanya sejak punya anak, seseorang baru bisa dikatakan terampil di bidangnya ketika anaknya sudah masuk di perguruan tinggi (dengan asumsi bisnisnya tetap berjalan lancar dan asumsi ceteris paribus lainnya).
Kuadran BISA-lah kuadran yang paling menguji mental para pengusaha. Sebab kuadran BISA adalah kuadran dimana seseorang harus terus menerus bergerak menjalankan bisnis yang digelutinya.
Lalu bagaimana dengan kuadran TERAMPIL? Menurut Bob Sadino, orang-orang yang berada di kuadran TERAMPIL adalah orang-orang yang accountable, yaitu memiliki kemampuan mengatasi persoalan secara bertanggungjawab (sebab sudah memiliki kompetensi sebagai hasil belajar di kuadran BISA). Sedangkan kuadran AHLI, beda tipis dengan kuadran TERAMPIL. Di kuadran AHLI, segala kompetensi dan akuntabilitas yang dimiliki orang tersebut diakui oleh masyarakat/khalayak umum.
Contoh konkret:
Saya sekarang berproses di kuadran BISA sebagai layouter buku. Saya masih bolak-balik berdialektika dari kuadran TAHU (teori/pedoman tata cara layout) ke kuadran BISA (praktik melayout). Jika proses ini terus menerus saya jalani, maka lama kelamaan akan muncul kompetensi. 20 tahun kemudian saya akan menjadi seorang layouter profesional karena kompetensi yang saya miliki (meskipun kenyataannya, tidak butuh waktu sampai 20 tahun untuk menjadi seorang layouter profesional), maka saya pun memasuki kuadran TERAMPIL. Ketika nama saya sudah sangat dikenal dan diakui oleh dunia penerbitan sebagai layouter terbaik, maka saat itulah saya berada di kuadran AHLI.
Saya sekarang masih berstatus mahasiswa ilmu ekonomi concern bidang moneter (selama belum yudisium berarti masih mahasiswa kan ya? :D). Ini berarti saya sedang berproses di kuadran TAHU. Ketika saya sudah lulus dan bekerja di sektor keuangan, berarti saya terjun ke kuadran BISA. Berprosesnya saya di kuadran BISA selama 20 tahun sebagai analis ekonomi akan memunculkan kompetensi tersendiri bagi saya dalam menganalisa perekonomian, maka saya pun memasuki kuadran TERAMPIL. Dan ketika nama saya diakui oleh masyarakat sebagai ahli, maka saat itulah saya beralih ke kuadran AHLI. Hmm..tapi kalau yang ini utopis banget deh kayaknya, soalnya makroekonomi advance aja ngulang sampe 3 tahun. =))
Saya sekarang masih berusia 20+ (yang jelas masih kepala 2 lah ya). Saya belajar memasak (kadang-kadang), saya suka membaca, hobi menulis, suka bikin perencanaan keuangan, dan sedang berproses belajar agama dengan baik. Saya sedang berproses di kuadran TAHU. Ketika nantinya saya menikah, maka saya mulai memasuki kuadran BISA (praktik). Kegiatan praktik saya jadinya: mengurus suami dan anak-anak; membuat perencanaan keuangan keluarga setiap periode; mengajar anak-anak mengaji, beribadah dan belajar membaca; etc. 20 tahun kemudian, saya memasuki kuadran TERAMPIL, kuadran dimana saya sudah ada pada tahap mempersiapkan anak saya menjadi dewasa seutuhnya. Sayangnya kalau untuk case yang ini, nggak perlu pengakuan khalayak umum untuk bisa disebut AHLI (baca: ibu rumah tangga yang baik), sebab semua IBU tentu saja AHLI.. heheheh. Heduuww.. kalau contoh yang ini sangat amat utopis. Hahahhaa….
Nah..kira-kira seperti itu contohnya. Kamu bisa bikin contoh sendiri untuk dirimu. Pada intinya RBS bisa diterapkan untuk bidang apa saja. Jadi, di kuadran manakah kamu sekarang? :D
***