Apakah Atasan yang Baik Harus Galak?

Oleh: Dipta Dharmesti

Sekian tahun yang lalu saya “dicekoki” ilmu manajemen oleh dosen-dosen saya. Salah satunya ilmu untuk men-treatment karyawan, siapa tau di kemudian hari saya jadi bos :D Teori yang satu ini saya pegang sampai sekarang dan selama saya bekerja, teori ini sering nggak diaplikasikan oleh para atasan di tempat kerja saya. Malahan dulu sewaktu saya cerita kalau saya diajari teori ini, saya ditertawakan. Teman-teman saya enggan mengaplikasikannya.

Teori motivasi X dan Y pertama kali dikemukakan oleh Douglas McGregor tahun 1960-an. McGregor mengelompokkan karyawan menjadi 2 tipe, yaitu:

Tipe X
Tipe ini diasumsikan sebagai karyawan yang malas, tidak suka bekerja, dan (cenderung) berpendidikan rendah. Kalau di Indonesia ya SMA ke-bawah. Posisi atau jabatan karyawan ini biasanya level pelaksana atau blue collar. Untuk membuat karyawan tipe ini bekerja adalah dengan supervisi (pengawasan) dan aturan yang ketat. Petunjuk cara bekerja harus diberikan sejelas mungkin dan rinci (ini yang banyak dilanggar juga, si bos sering nggak sabar ngajari bawahannya). Atasan yang galak, rese, dan aturan yang ketat cocok untuk bawahan tipe X ini, supaya tidak menyimpang dari pekerjaannya.

Tipe Y
Tipe Y ini diasumsikan sebagai karyawan yang suka bekerja dan (cenderung) berpendidikan tinggi. Sarjana ke-atas, lah. Posisi dengan tingkat pendidikan seperti ini biasanya level staf ke atas, atau pengambil keputusan (yang banyak “pakai otak” :p). Oleh karenanya, supaya lebih termotivasi dalam bekerja, karyawan tipe ini lebih suka diberi kebebasan menggunakan otaknya. Kalau salah ya cukup ditegur dengan halus atau disindir. Bila karyawan tipe Y ini diperlakukan seperti karyawan tipe X, maka yang terjadi bukannya kerja produktif, malah jadi sebel dan berantem sama atasannya (lho malah curhat :p).

Contoh yang mudah dipahami untuk mengaplikasikan teori ini adalah dengan melihat bagaimana seorang supervisor lini produksi mendidik para operator mesin, dengan bagaimana seorang manajer mendidik supervisornya. Seharusnya sih berbeda :p

Hal yang mungkin membuat sulit untuk menerapkan teori ini adalah sesuatu yang disebut “seni membaca orang”. Seharusnya seorang atasan memiliki rasa “seni” ini setelah bekerja beberapa saat dengan bawahannya, sehingga dapat mengidentifikasi “tipe” bawahan tersebut, apakah tipe X atau tipe Y.

Hal lainnya yang biasa bermasalah adalah “berkaca sebelum berbuat”. Banyak orang tidak melakukan ini. Padahal hal ini penting lho. Sekedar berbagi informasi, dalam dunia profesi Apoteker, terdapat beberapa kode etik, salah satunya memperlakukan sejawat sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan. Jadi, harus “berkaca” dulu sebelum melakukan sesuatu. Kalau memiliki bawahan yang sudah “terbaca” perilakunya, maka sang atasan hendaknya berpikir dahulu seandainya dia menerapkan suatu kebijakan kepada bawahannya.

Hal sulit yang ketiga adalah tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan emosi. Bukan mengesampingkan persaan, karena manusia bukan robot, tetapi bila hal yang membuat bad mood itu ada di luar lingkungan kerja, sebaiknya jangan ditunjukkan saat bekerja, otherwise rekan-rekan kerja Anda yang jadi korban. Contohlah seorang teller atau resepsionis hotel yang tetap tersenyum kepada konsumen, walaupun mungkin sedang jengkel dengan rekan kerja atau keluarganya. So bagi teman-teman yang sudah jadi bos, jadilah bos yang baik bagi bawahan Anda. Bos yang baik nggak harus galak kok :)

Advertisements

Megamind : X Y Behavior Theory Analysis





Film yang baik dan berkualitas selalu bisa memberikan inspirasi, dan seringkali justru sering saya temukan di film kartun. Inspirasi kali ini berasal dari Megamind. Alkisah dari sebuah planet yang yang akan hancur di luar tata surya kita dikirimlah dua orang bayi super, yang satu adalah bayi dengan kekuatan super,kecepatan super, kemampuan terbang (ya gampangnya mirip bgt sama Superman™) bayi ini kemudian dikenal dengan nama Metroman. Bayi yang kedua dianugerahi kejeniusan dalam merakit senjata, robot dsb, bayi ini kemudian menamai dirinya Megamind.

Singkat cerita si Metroman yang beruntung jatuh ke keluarga kaya yang baik, ditanamkan nilai-nilai kebaikan, hidup berkecukupan akhirnya tumbuh sebagai seorang pahlawan. Sedangkan si Megamind sialnya jatuh ke sebuah penjara dan dibesarkan oleh narapidara disana, ia kemudian mendapat perlakuan tidak adil dari lingkungannya, disakiti, dijauhi. Tumbuh dengan kebencian akhirnya dia memilih jalan untuk menjadi penjahat.

Metroman dan Megamind terlibat dalam sebuah endless fight, perang tanpa akhir, namun pada suatu titik si Metroman bosan menjadi pahlawan dan memilih untuk pensiun. Si Megamind yang putus asa karena kehilangan rival akhirnya memutuskan untuk “menciptakan” seorang pahlawan. Tanpa sengaja ia memilih seorang yang terlihat baik, polos, dan tanpa catatan kejahatan. Dengan alatnya si Megamind membuat orang ini menjadi berkekuatan super seperti Metroman. Namun ternyata setelah mendapat kekuatan justru ia memanfaatkan kekuatannya untuk kepentingannya sendiri, memiliki kecenderungan merusak dan menguasai. Singkat cerita akhirnya Megamind berhasil mengalahkan “pahlawan jahat” itu dan justru akhirnya Megamind menjadi pahlawan sejati kota tersebut.

Film tadi menggelitik ingatan saya untuk kembali ke kelas Organizational Behavior saya dulu. Pada pembaca juga pasti tau teori yang cukup terkenal ini, ya X-Y Behavior Theory ciptaan Douglas McGregor. Om McGregor mengungkapkan bahwa persepsi manusia terbagi menjadi dua, persepsi X dan persepsi Y.

Persepsi X memandang semua orang adalah pemalas, cenderung menghindari pekerjaan, dan hanya akan bekerja dengan baik apabila diawasi , singkatnya harus menggunakan pendekatan “carrot and stick”. Sedangkan kebalikannya persepsi Y memandang setiap orang adalah orang yang rajin dan pekerja keras, yang memiliki semangat untuk memajukan perusahaan sebagai sebuah achievement. Mereka cukup ditunjukkan visi dan mereka akan berjuang menuju kesana dengan kreativitas dan usaha mereka sendiri.

Sekali lagi saya tekankan bahwa ini teori mengenai persepi, cara pandang seseorang terhadap orang lain dan bukan teori yang membagi manusia kedalam dua golongan, Corect me if I wrong.

Kali ini saya mengajak pembaca untuk berpikir bersama memodifikasi teori tersebut dari teori persepsi mengenai “pemalas” dan “pekerja keras” menjadi teori persepsi mengenai “orang baik” dan “orang jahat”. Terlihat mirip? semoga yang saya pikirkan juga seperti yang anda pikirkan sekarang.

Tanpa kita sadari kita sering mempersepsikan orang lain sebagai orang baik dan orang jahat. Entah itu berdasar berita, cerita teman kita, ketok tular(word of mouth), maupun memang streotip yang ditanamkan kepada kita sejak kecil. Benarkah persepsi tersebut? Adilkah bagi mereka? Saya akan mengajak anda untuk bermain dengan persepsi anda tersebut.

Seperti saya ceritakan di epilog, sebagian besar orang jahat atau bahkan semua, mungkin tidak terlahir jahat. Karakter-karakter seperti Megamind terlahir dari pendidikan lingkungan yang salah, perlakuan yang tidak adil, kemiskinan dan hal-hal negatif lainnya. Apabila mereka diberikan kesempatan untuk berubah kemungkinan mereka akan menjadi baik bukanlah sebuah kemustahilan. Pada dasarnya saya berpersepsi bahwa pada dasarnya semua orang terlahir baik. Orang yang paling jahat sekalipun pasti memiliki “sebab” mengapa menjadi jahat, karena kita bersepsi bahwa semua orang terlahir baik.

Nah sekarang anggap saya telah dicuci otak dan sekarang saya bersepsi bahwa orang jahat pada dasarnya memang jahat. Wow? Menarik bukan? Setiap orang dilahirkan dengan bakat jahat, bakat untuk berbohong, licik, mencuri. Mereka berbuat jahat karena menyenangkan dan mudah dibanding harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sebagian besar orang tidak berbuat jahat karena mereka tidak memiliki kesempatan, contohnya sering kita lihat(atau bahkan kita sendiri?!) saat pengawas ujian lengah sebagian dari kita cenderung akan memanfaatkannya untuk mencontek. Sebagian lagi karena takut akan hukuman, contoh yang sama, sebagian dari kita takut untuk mencontek karena bila ketahuan akan tidak lulus. Dan sebagian lagi karena tidak memiliki kemampuan untuk itu, kita tidak mencontek karena tidak ahli untuk mencontek (sering saya takjub dengan kemampuan beberapa teman saya yang sangat ahli dalam mencontek).

Nah dari dua buah cara pandang diatas, manakah yang merupakan cara pandang Anda? Manakah yang menurut anda benar? Implikasi dari persepsi diatas sangatlah besar. Dalam tingkat ekstrem, bila anda berpersepsi pertama, anda akan memandang bahwa semua kejahatan yang dilakukan seseorang bukanlah salah orang tersebut. Kehajatan itu hanya akibat dari faktor-faktor eksternal yang disebabkan orang lain. Sehingga akan sangat tidak adil bila orang tersebut dihukum. Sedangkan bila anda berpersepsi kedua, anda akan selalu curiga pada semua orang. Memandang setiap orang akan bisa berbuat jahat kepada anda dan tentu saja anda akan menjadi paranoid.

Saya yakin pembaca dapat mengambil keputusan yang tepat atas persepsi yang anda miliki. Apakah kita memang Angel and Demon yang ditakdirkan untuk baik atau jahat? Ataukah kita manusia yang memiliki pilihan, sehingga pada suatu saat nanti kita memang pantas diberi ganjaran atas pilihan kita yang telah kita buat.

Tak lupa pada kesempatan ini saya mengucapkan Selamat Idul Fitri. Atas kesalahan dan kejahatan pada anda yang pernah saya perbuat saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga amal kita diterima di sisi-Nya, dan kita ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya kelak.



Oleh : Thontowi Ahmad Suhada

Spiderman’s Career Cycle Part 1

Oleh: Riza Rizky Pratama
Seperti yang dikatakan oleh mbak Oliv, jangan ragu untuk mengeluarkan setiap genggam tacit yang kita miliki. Setelah menyelami beberapa ide yang ada di kepala, sekonyong-konyong muncullah ide untuk kembali mengangkat artikel seputar karir (sebelumnya sudah pernah loch, bisa cekidot di sini). Inspirasi itu datang dari film laba-laba superheroHollywood, Spiderman. Film yang dibintangi oleh Tobey McGuire ini (mirip saya loch haha :P) berkisah tentang seorang pemuda bernama Peter Parker yang mendapat “amanah” superhero setelah digigit laba-laba hasil rekayasa genetika. Film Spiderman telah dibuat dalam 3 seri (ketiganya sudah saya tonton hehe) dan seri keempatnya akan segera dirilis. Eittsss, kok malah jadi bahas film sich?? Ini kan blog ekonomi bukan blog film??. Hehehe tenang saja, saya hanya ingin mengangkat tentang siklus “karir” yang dialami oleh Peter Parker, mulai sebagai mahasiswa culun hingga menjadi pahlawan super yang bermanfaat bagi semua orang serta kaitannya dengan siklus karir kalangan pekerja. Hmmm lantas apa hubungannya siklus karir si spidey dengan siklus karir kalangan pekerja pada umumnya? Untuk mengetahui korelasi di antara keduanya, simak hasil “pertapaan” gila saya berikut ini :-D.

Spiderman’s #1 Career Cycle: Welcome Great Power!!

Alkisah, ada seorang pemuda pintar nan sederhana bernama Peter Parker. Meski pintar namun tampilannya tidak menunjang kecemerlangan otaknya. Jadilah ia mahasiswa culun yang sering dilecehkan teman-temannya. Namun nasibnya berubah ketika ia dan teman-temannya sedang studi tur di sebuah museum di Amerika. Di museum itu dia digigit laba-laba super yang lepas dari sarangnya. Singkat cerita, Peter “resmi” menjadi superhero professional sejak kejadian tersebut.

Ok, terus apa hubungannya dengan siklus karir di dunia kerja? Saya akan sedikit kembali ke bagian awal film garapan Sam Raimi ini agar alur pikir “gila” saya menjadi jelas. Selanjutnya, ketika Peter mulai menyadari bahwa ia dianugerahi kekuatan super, muncullah beragam keinginan dibenaknya. Salah satunya adalah dia ingin membeli mobil agar bisa bergaya di depan Mary Jane a.k.a MJ (tebar pesona :P). Agar keinginannya terwujud, dia kemudian mengikuti kompetisi gulat dengan ganjaran uang tunai yang mampu memenuhi keinginannya tersebut.

Ketika Peter berniat pergi ke kompetisi itu dengan dalih pergi ke perpustakaan kota, Ben Parker (paman Peter) bersikukuh ingin mengantarnya. Meskipun tidak mengetahui niat Peter, insting paman Ben yakin bahwa keponakannya telah mendapatkan kekuatan besar. Singkat cerita, si paman memberikan “petuah sakti” kepada Peter sebelum ia keluar dari mobil: with great power, comes great responsibility. Setelah itu, paman Ben akhirnya mati karena tertembak oleh perampok mobilnya (end of first story, to be continued :P).

Hmmm nampak seperti resensi film ya? Well, saya sengaja menampilkan fragmen itu karena tanpa disadari dibalik cerita itu terkandung pesan siklus pertama ketika memasuki dunia kerja. Siklus itu saya namakan welcome to the jungle (saya namakan sendiri haha). Bagi kalangan fresh graduate (seperti saya :P) atau yang dulu pernah mengalaminya, pasti tidak asing dengan kalimat “sakral” tersebut.

Ya, siapapun kita pastilah bangga ketika berubah status dari hanya seorang mahasiswa menjadi pekerja profesional di bidang masing-masing. Pada masa itu, timbul bermacam-macam keinginan sebagai wujud “kompensasi” atas pekerjaan yang telah kita dapat. Keinginan untuk mentraktir teman, beli barang-barang yang dahulu hanya bisa dilihat di etalase toko (curcol haha), beliin hadiah buat pacar (bagi yang punya :P) dan segudang keinginan lainnya begitu membuncah dalam dada. Eitsss, tapi kita semua perlu ingat nasehat paman Ben tadi.

Mungkin jika dianalogikan dalam konteks karir, paman Ben ingin bilang kepada kita dengan kalimat berikut: with great job, comes great responsibility (halah opo iki :P). Saya dan mungkin juga anda yang berprofesi di bidang apapun terkadang sering lupa bahwa dibalik profesi yang kita lakukan terdapat tanggung jawab besar tidak hanya terhadap diri sendiri tetapi juga keluarga, kerabat dan masyarakat luas. Makna power yang disampaikan paman Ben kepada Peter dapat kita artikan sebagai kekuatan untuk menghasilkan kinerja yang prestatif dan bermanfaat bagi orang lain. Untuk hal yang satu ini, saya pun masih terus belajar :-).

Ok, artikel ini merupakan bagian perdana dari hasil pemikiran saya setelah beberapa kali nonton film Spiderman di televisi (thank you Trans TV :-D). Silahkan diendapkan terlebih dahulu di alam bawah sadar anda sambil menunggu artikel siklus karir Spiderman 2 dan 3 yang tak kalah gokilnya (Pede Abiss :P). Salam Ekonom Gila.