Testimoni

Oleh: Yoga PS

Sebelumnya saya menderita kencing manis, setelah berobat ke klinik Tong Fang, kini saya bisa kencing es teh manis. Terima kasih klinik Tong Fang..
Dulu saya seorang waria, setelah saya berobat di Klinik Tong Fang, Alhamdullilah sekarang saya sudah punya suami. Terima kasih Klinik Tong Fang
Sudah 3 tahun saya menderita sakit kepala sebelah. Setelah saya berobat ke Klinik Tong Fang, kepala saya tinggal sebelah. Terima kasih Tong Fang
Ada banyak lagi versi plesetan iklan Tong Fang dan beberapa klinik pengobatan tradisional China lainnya. Silahkan ketik keyword “Tong Fang” di Google atau Kaskus, ratusan versi telah lahir dan terus lahir. Plesetan ini dibuat karena kejengahan masyarakat menyaksikan iklan ini di televisi. Namanya juga tukang obat, semua penjual mengaku-ngaku jika produknya nomor satu.
Tapi ngakunya emang kebangetan sih. Mereka seperti menjual panacea, obat segala penyakit yang ada di mythology  Yunani. Penyakit-penyakit berat macam kanker, jantung, ginjal, sampai syaraf katanya dapat disembuhkan setelah dua tiga kali pengobatan dengan harga yang terjangkau. Katanya juga, metode pengobatan ini alami, herbal, dan tanpa efek samping.
Tapi, kata sapa?
Testimoni Palsu?
Iklan klinik ini menggunakan metode testimony. Digambarkan mantan pasien yang telah sembuh menceritakan pengalamannya berobat ke klinik itu. Setelah berobat kesana kemari tidak sembuh-sembuh, penyakit bisa hilang gara-gara Tong Fang. Sakti bener emang.
Masalahnya, konsumen sekarang sudah semakin cerdas. Konsumen bukan lagi kerumunan massa yang bisa diagitasi, diprovokasi, dan dimanipulasi. Mereka bisa tahu mana testimony asli, dan mana yang hasil suruhan membaca script copy.
Mereka sudah melek informasi. Mampu melakukan komparasi, rasionalisasi, dan yang paling sakti: menggalang aksi advokasi. Social Media menjadi senjata andalan mereka. Surat pembaca tetap dipakai juga. Tak ketinggalan aduan ke YLKI dan semacamnya. Sampai jalur hukum di pengadilan kalau bisa!.
Masih ingat kan kasus klaim “paling irit” yang digugat konsumen Nissan dan berhasil dimenangkan penggugat?
Lantas, bagaimana mengatasi konsumen ribet macam ini? Konsumen yang banyak maunya. Selalu nuntut. Jika dipenuhi ga komentar apa-apa. Biasa saja. Tapi jika ga dituruti ngomelnya ga ketulungan. Cerita kemana-mana dan menjadi bad testimony for the company.
WOW Effect
Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus mampu memberikan “WOW effect” service. Pelayanan yang mampu membuat konsumen berdecak-kagum, terpukau, terpesona, dan berteriak Wooowwwwww… sambil guling-guling di tanah. Okay, paragraph ini memang lebay. Silahkan jika ingin muntah.
Setidaknya ada tiga hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk menciptakan WOW effect service, dan membuat konsumen memberikan positive testimony dalam bentuk word of mouth ke lingkungan sekitarnya.
Saya mensarikan ini berdasarkan pengalaman dan bahan bacaan yang saya baca.
  1. Be honest
Orang jujur disayang Tuhan. Pedagang jujur disayang konsumen. Sudah bukan zamannya lagi memanipulasi, membohongi, dan menutup-nutupi fakta yang ada. Dunia sudah mengingatkan penipu seperti Enron, yang menciptakan laporan keuangan palsu.
Untuk iklan juga begitu. Ada kasus klaim paling irit dari Nissan yang justru menjadi boomerang. Terakhir, kasus kebohongan video shooting Nokia “Lumpia” 920. Bagaimana jika barang kita jelek? Jawabannya sama: jujur saja! Itu adalah kesempatan memperbaiki produk.
Seperti yang dilakukan Toyota, dengan mengakui cacat produksi dan me-recall ribuan mobil produksinya. Hasilnya? Konsumen menjadi semakin percaya kepada Toyota, dan market share mereka tidak turun terjun bebas.
2. Under Promise, over Deliver
Ini adalah jurus sakti semua service business. Mengurangi janji, melebihkan bukti. Saya mengalaminya saat menservis laptop Compact. Ada kerusakan di hard disk. Saat diperiksa, pihak service berkata jika waktunya satu bulan. Saya sudah pasrah, sambil tersenyum karena ada alasan menunda mengerjakan skripsi (waktu itu 2010).
Begitu kagetnya saya ketika seminggu berikutnya, ada sms yang memberi tahu jika laptop saya sudah ready. Saat mengambil laptop, saya bertanya tentang standar operasi service. Ternyata, apapun kerusakannya, konsumen selalu diberi ekspektasi waktu pengerjaan sebulan. Meskipun kerusakan itu bisa diselesaikan dalam waktu satu hari!.
3. Make it Personal
Manusia tetaplah manusia yang ingin selalu dimanusiakan. Berikan sentuhan personal yang membuat ia merasa menjadi manusia. Cara paling sederhana: panggil nama konsumen kita, dan ingat hal-hal kecil yang bersifat pribadi tentang dia. yang paling ultimate tentu saja menciptakan produk/jasa customized sesuai kebutuhan konsumen.
Saya pernah tidak jadi membuka rekening di salah satu bank syariah karena customer servicenya tidak memanggil nama saya, tidak melakukan perkenalan, dan terkesan kaku. Maklum, saya terbiasa dengan pengalaman bank sebelah yang meskipun “bank kafir”, tetapi memperlakukan nasabahnya sebagai manusia. Memanggil dengan nama, selalu memperkenalkan diri, dan mengucapkannya dengan ramah.
Iklan Gratis
Karena saya berada di dunia periklanan, saya tahu jika perusahaan harus mengeluarkan investasi yang sangat mahal untuk beriklan (sebagai gambaran, untuk satu iklan 30 detik, biaya produksinya minimal ratusan juta –tergantung tingkat kesulitan, dan biaya sekali tayang selama 30 detik di tivi bisa sekitar 15-30 juta-tergantung rate dan buying method).
Tapi sesungguhnya, iklan paling ampuh adalah iklan yang diiklankan oleh orang-orang yang kita kenal disekitar lingkungan. Iklan berdasar kenyataan, pengalaman, dan fakta di lapangan. Inilah zamannya the power of word of mouth, viral marketing, dan personal endorsement.
Seperti ketika saya ditolong driver Blue Bird dengan nomor NM 590. Pagi itu juga, saya langsung “mengiklankan” blue bird di dunia maya:
“Terima kasih kepada Pak Suharto, driver Blue Bird yang menemukan hape saya yang sempat “hilang”.
Beliau berinisiatif membeli pulsa, terus menelpon, mengobrak-abrik jok belakang, dan yang bikin saya salut:
Naik ke lantai dua dan mengantarkannya langsung kehadapan saya yang sedang duduk manis mengantri di kantor imigrasi!
Thanks Pak Harto, dari Anda saya belajar arti service sesungguhnya :)”
Saya tidak dibayar. Saya hanya membayar kebaikan Pak Harto, yang berinisiatif dan bela-belain mencari saya di ruang tunggu.
Karena kebohongan hanya akan menghasilkan kebohongan. Dan kebaikan hanya akan menghasilkan kebaikan.
Advertisements

30++

Bagaimana cara menguasai pemikiran seseorang?
Pertanyaan ini terus menghantui pakar pemasaran, pengamat politik, ahli psikologi, dan pecinta propaganda. Milyaran rupiah dihabiskan untuk melakukan riset pasar, eksperimen lapangan, sampai neuro science research. Semua dilakukan agar mampu melakukan modifikasi prilaku seseorang. Membuat seseorang melakukan, apa yang kita ingin mereka lakukan.
Dalam dunia advertising, ada teori tentang effective frequency. Pemikirannya sederhana: seberapa sering sih seseorang harus melihat sebuah iklan hingga mampu mempengaruhi pemikirannya dan mengubah prilakunya?
Ada banyak teori yang menjelaskan. Salah satunya adalah Krugman 3 hit theory. Jadi, seseorang harus melihat pesan (entah itu iklan produk, politik, anjuran, imbauan) setidaknya tiga kali baru ia mengerti. Pertama kali melihat ia bertanya: “Apa ini?”, kedua kali melihat ia bertanya: “Apa hubungannya dengan saya?”, dan ketiga serta selanjutnya: “Ini mengingatkan saya”.
Sebelumnya ada teori dari Thomas Smith lewat karya klasiknya Successful Advertising yang ia tulis tahun 1885. Smith bahkan lebih ekstrim: setidaknya 20 kali pesan terulang untuk dapat menancap di alam bawah sadar seseorang. Prosesnya seperti ini:

The first time people look at any given ad, they don’t even see it.

The second time, they don’t notice it.

The third time, they are aware that it is there.

The fourth time, they have a fleeting sense that they’ve seen it somewhere before.

The fifth time, they actually read the ad.The sixth time they thumb their nose at it.

The seventh time, they start to get a little irritated with it.

The eighth time, they start to think, “Here’s that confounded ad again.”

The ninth time, they start to wonder if they’re missing out on something.

The tenth time, they ask their friends and neighbors if they’ve tried it.

The eleventh time, they wonder how the company is paying for all these ads.

The twelfth time, they start to think that it must be a good product.

The thirteenth time, they start to feel the product has value.

The fourteenth time, they start to remember wanting a product exactly like this for a long time.

The fifteenth time, they start to yearn for it because they can’t afford to buy it.

The sixteenth time, they accept the fact that they will buy it sometime in the future.

The seventeenth time, they make a note to buy the product.

The eighteenth time, they curse their poverty for not allowing them to buy this terrific product.

The nineteenth time, they count their money very carefully.

The twentieth time prospects see the ad, they buy what is offering.


(Jadi jangan heran kenapa kita melihat iklan yang berulang-ulang di layar kaca hehehe).
30++

Untuk mempengaruhi proses pembelian seorang konsumen saja dibutuhkan pengulangan hingga 20 kali atau lebih (20+++). Lantas, perlu berapa kali repetisi untuk mengubah kehidupan spiritual seorang manusia?
Mungkin karena itu, Tuhan menurunkan bulan ramadhan. Bulan penuh latihan. Ingat, ajaran ramadhan sudah lama lahir sebelum Thomas Smith menulis Successful Advertising. Ada 30 hari frekuensi. Tiga puluh hari yang mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, mendekatkan diri kepada Tuhan, mencintai sesama, sambil belajar hikmah dari rasa kelaparan dan kehausan.
Tiga puluh hari penyucian diri. Sebuah tingkat repetisi yang secara teori periklanan, sudah cukup untuk mengubah prilaku seseorang. Tapi pertanyannya, meskipun kita berpuasa sebulan penuh, mengapa tetap saja ada korupsi? Mengapa kita masih gampang marah? Mengapa masih terus memburu nafsu? Mengapa kita masih belum mencintai sesama?
Mungkin bukan hanya kuantitas, tapi juga dibutuhkan kualitas. Tantangan utamanya adalah membawa kualitas ramadhan ke bulan-bulan kedepan. Dan setidaknya, kita harus berusaha. Sedikit demi sedikit. Toh, kita semua masih dalam tahap belajar. Selama kita berusaha untuk konsisten, insya Allah perbaikan adalah harga paten.
Seperti kisah Sahl bin ‘Abdullah dari Tustar yang mendapat nasihat dari pamannya saat ia berumur tiga tahun,

“Jika dalam tidur tubuhmu gelisah, ingatlah dirimu. Dan jika lidahmu bergerak, ucapkanlah, ‘Allah besertaku, Allah memelihara diriku, Allah menyaksikan diriku.’ Ucapkanlah kalimat itu tujuh kali pada waktu malam.”

Ia mengikuti saran tersebut dan beberapa waktu kemudian pamannya menyarankan untuk meningkatkan amalan,

“Ucapkan kalimat itu lima belas kali pada waktu malam.” Sahl mematuhi pamannya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Setahun kemudian, pamannya berpesan, “Ucapkan kalimat itu sampai kau menuju liang kuburmu.”

Paman Sahl mengajarkan dzikir lewat amalan ringan yang terus meningkat. Harapannya, Sahl terbiasa dengan amalan sederhana dan mampu melaksanakan amalan yang lebih utama: selalu ingat kepada Sang pencipta.
Perubahan membutuhkan waktu. Butuh 20 kali frekuensi iklan yang efektif. Dibutuhkan waktu 21 hari untuk menetaskan telur menjadi anak ayam. Butuh waktu 28 hari seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu. Memang hanya diperlukan 30 hari untuk menyelesaikan satu bulan ramadhan.
Tapi dibutuhkan waktu seumur hidup untuk mengamalkan ajarannya, dan kembali menjadi manusia seutuhnya.

Sorry, Won Bin… LG Put Your CF in a Wrong Place…

When marketing to a woman, do not forget her husband. When marketing to a girl, do not forget her mother. When marketing to parents, do not forget their children. (Assoc. Prof. Hooi Den Huan, 2009 – NTU)

Oleh: Dwi Andi Rohmatika

It is actually an unfinished research driven from a silly question after watching LG advertisements in Indonesia. Well, what’s wrong with that? Yes, I realized that unique difference also after having a short discussion with Prof. Maykel. So, let me explain a little bit about this silly-yet-interesting matter.

So, what is wrong with Won Bin then? Does he make something weird in the commercial film (CF) or what? Well, no he doesn’t. But he himself in the LG advertisement is weird! Yet, I am saying this upon the Indonesian consumers’ point of view. I absolutely recognize that Won Bin is extremely well-known in Indonesia since he is a senior actor and his dramas are very famous (lets say, there were Endless Love, Hotelier, etc when I was a teens). However, the purchasing behavior in Indonesia is indeed “different” from what LG try to portray.
In marketing world, it has been known that opposite gender will attract another gender very well. That is why we often found out a beautiful-sexy-seducing model on the automotive showroom. Well, it does not necessarily relate to every kind of products. Of course you need a girl to advertise a lipstick or cosmetic products to other girls. But for some certain products, the “sex appeal” matters here.
Lets take the example of other electronics ads on TV screen in Indonesia, mostly using beautiful women appear; Kathy Sharon and Julie Estelle for Sharp fridge ads, Mulan for TV ads, Sherina for TV ads also, and Agnes Monica for LG TV ads few years ago. Well, all of them use women in their ads, don’t they? And I do think this is driven by one motive: most consumers in Indonesia are men! Well, it is men (or husbands) who act as decision makers for such electronic tools, though.

Abother TV Ads -Mostly Using Women Models in Indonesia

Personally, I think what makes LG uses this international ads in Indonesia is because of the Korean rising (or hallyu wave) in Indonesia. But, this trend mostly get “teens fever” and could not be generalized to all people in Indonesia. Although my mother might watch the Korean dramas, I don’t think she remembers the actor’s name. Or even I don’t think she realizes their appearances in any CF. So, I consider this matter as a second problem.
Well, no offense though. I don’t say that it is wrong to put such Korean faces on Indonesian ads. All they have to do is observe the consumers thoroughly and carefully examine the impact of the ads. The result of my skimming examination still see that put women on such ads is the best choices. So, giving the ads of Lee Young Ah (another model of LG) in Indonesia will be better.

Lee Young Ah -LG Ads

And to overcome the second problem I elaborate above, using the Indonesian artists as a brand ambassador is still much better to be recognized among people on their 20s-40s. Using Korean stars on ads could give best impact to teens (or people who are concerned as hallyu wave lovers). Therefore, as I said earlier, this article is just a raw hypothesis only. If any of readers could get any data about the numbers of LG TV sold before and after Won Bin’s CF in Indonesia, then it could strengthen (or destroy) this hypothesis. As what I know, Samsung also using Hyun Bin’s CF to advertise its TV. Is this action pulled out by the success of Won Bin’s LG CF or this ads is used because LG does? We don’t know the answer as long as the data doesn’t exist then.

Saya Bisa Dapat 38 juta dalam 5 menit!

Mugkin bagi para penulis dan penikmat blog Ekonom Gila ada yang risih dengan tampilan blog ini yang “kaya” akan warna-warni iklan. Nah, jujur saja tidak ada maksud komersil di balik semua hiasan-hiasan advetorial itu. Untuk lebih mengetahui apa sikap kami soal semua itu, saya sajikan sebuah notes  lama saya yang saya berikan lagi di blog ini. (dengan sedikit pengubahan di sana-sini).
Pertama, jangan menyangka saya adalah orang yang mampu mendapatkan 38 juta dalam 5 menit  itu. Saya juga bukan orang yang mampu memberi Anda uang 38 juta dalam 5 menit. Judul tulisan ini adalah sebuah kegelian saya pada praktik periklanan dunia maya di Indonesia. Biar keren, judulnya saya buat dramatis.
Kegelisahan ini tidak terlepas dari “hobi” yang dalam beberapa bulan terakhir, saya coba memainkannya. Apa itu? Yaitu memasang iklan-iklan dunia maya ke website yang saya “kuasai” pengelolaannya. Iklan yang saya maksud di sini bukan pengiklan “manual” seperti yang kita lihat di website-webiste berita terkenal seperti detik.com, kompas.com, dl. Tapi adalah iklan “otomatis” yang muncul di sebuah website melalui sebuah “broker iklan dunia maya”. Oke kalau bingung saya kasih contoh saja. Salah satu broker iklan dunia maya itu adalah Google! ya Google.
Google memiliki sebuah produk yang dinamakan Google Adsense. Jadi prinsip awalnya seperti ini, para pembaca yang sering menggunakan search enginge google kalau jeli sering melihat ada penampakan iklan pada sisi kanan halaman google, bahkan ada yang nyelonong di urutan pertama halaman hasil pencarian dari kata kunci yang kita masukkan. Misal, ketika mencari kata kunci “buku murah”, maka pencarian yang saya lakukan akan mengahsilkan Vixxio.com dan gilabuku.com sebagai hasil  pada urutan pertama. Nah! di sinilah Google memenuhi kebutuhan hidupnya, dari iklan.
Dari mana iklan itu datang? yang tentu saja dari pengiklan sesungguhnya. Mereka berkata “Hai Google saya mau mengiklan di tempat mu, apa sih keunggulan mengiklan di tempat mu?. Google berkata, “Hai pengiklan tahukah anda bahwa web kami adalah web yang paling banyak dikunjungi oleh manusia yang ada di planet bumi, lalu iklan Anda dengan kecangihan prorgam yang kami buat, akan muncul di halaman yang relevan sehingga pembaca iklan Anda adalah pembaca yang relevan, dan ini adalah sarana mengiklan yang efektif!”. Yap, seperti ketika saya men-search “buku murah” maka ini secara langsung menunjukan profile saya sebagai konsumen yang sedang mencari buku murah. Maka pengiklan dari para Toko Buku akan menyewa “lapak” ini, sehingga kampanye iklan mereka benar-benar tepat sasaran. Ini adalah dunia periklanan abad 21 di dunia maya!
Kembali ke Google Adsense, google tentu saja kebanjiran order dari para pengiklan dan mungkin cukup kewalahan untuk melayani permintaan mereka. Padahal lapak mereka terbatas, paling-paling hanya di beberpa portal seperti web utama dan Gmail (walau masih banyak yang lain juga sih). Mereka lalu memikirkan ide bagaimana kalau kita bekerja sama dengan para pembuat website dan blog di seluruh dunia untuk share lapak, sehingga google punya “ruang” yang lebih luas untuk menaruh iklan mereka di seluruh jagad maya dunia internet. Tentu saja pera blogger dan pembuat website itu punya hak bagi hasil dari kesediaan mereka berbagi ruang untuk menaruh iklan.
So logika sederhanya:
Pertama
Pengiklan: Google gue mau ngiklan nih berapa gue harus bayar?
Google: Tenang bro! loe ambil yang bayar per klik aja. Loe akan bayar kalau iklan loe benar-benar di klik sama orang, jadi kalau ada iklan loe di klik orang loe baru akan bayar ke gue, ya satu klik Rp 600 saja kok. Terserah loe mau deposit ke gue berapa. Tenang aja, kita udah buat sistem canggih agar orang gak melakukan kecurangan meng-klik, kita udah ada keamanannya bro!
Pengiklan: Oke deh, gue deposit Rp 600.000 so, itu jatah untuk 1000 kali nge-klik kan ya? jadi setidaknya saya mengiklankan pada 1000 orang yang relevan dengan iklan saya..
Google : Oke bro, gue pasang iklan loe
Kedua
Blogger: Google, gue mau menyediakan lapak blog gue nih, gua mau pasang iklan loe, berapa gue dapat bayaran? lumayan loh, pengunjung web gue 1000 orang per hari!
Gooogle: Oke dah! setiap ada orang yang nge-klik iklan dari tempat loe, gue kasih loe Rp 200, eh tapi jangan nge-klik sendiri yak! kita bisa deteksi loh.
Blogger: Ok deh bro tenang aja! gue lagi butuh duit sampingan nih, please ya bro
Google: Oke silahkan pasang, ini kode script nya, pasang di blog mu!
Nah! ini adalah Google Adsense. Secara nalar, model pengiklanan ini sangat amat logis dan rasional (kenapa namanya Adsense = advertorial yang make sense). Jadi sebenarnya google mencoba membagi hasil dari pendapatan iklan yang dia punya. Karena kalau hanya mengandalkan dirinya sendiri, Google akan kewalahan untuk menampilkan iklannya dengan sistem iklan baru terbayar kalau sudah diklik, maka Google mau tidak mau harus segera melebarkan lapaknya. So, bisa dibayangkan kalau kamu punya blog yang dikunjungi 1 juta orang per hari. Tentu saja kamu memiliki lapak yang besar dan menjual bagi para pengiklan, dan google pun juga akan senang dengan blog yang ramai seperti itu.
Andaikan blog kamu satu hari, iklan Google Adsense yang di blog mu diklik 100 kali, so pendapatan sehari kamu adalah Rp20000 bukan? So, semakin berkualitas blog mu, semakin banyak pengunjung, semakin dia memilki nilai jual yang tinggi. Ini dikenal dengan istilah monetisasi blog. Bayangkan kalau blog/web kamu ramai dikunjungi orang maka probabilitas iklan mu diklik juga semakin naik. So, setiap dari kualitas pasti ada harga yang diberikan. Ini adalah bisnis rasional dunia maya. Bahkan mendapatkan pendapatan seperti ini diumpakan sebagai pekerjaan abad 21. Cukup duduk anteng di depan laptop dan pendapatan akan mengalir dengan sendirinya! (Padahal tidak juga! karena pemilik blog misalnya harus rajin membuat artikel, tulisannya bagus dan berkualitas, mengerti teknis dan tips agar blognya terkenal dan lain-lain. Tetap harus ada kerja keras!)
Anyway, program Google Adsense ini dinilai sukses! karena mampu mepercepat perputaran pendapatan iklan Google. Ohya! model pendapatan iklan ini juga digunakan Facebook loh, kalau pembaca jeli, di sisi kanan layar Anda pasti juga sering melihat iklan bukan? Bedanya belum ada yang namanya Facebook Adsense, artinye Facebook belum mau “bagi-bagi” pendapatan iklan mereka kepada masyrakat dunia maya.
Nah kembali ke “Lima Menit dapat 38 Juta!” ini adalah cerita di mana pada akhirnya banyak anak negeri yang mencoba membuat program Google Adsense versi anak bangsa, misalnya AdsenseCamp, yang konon buatan anak Jogja. Adsense-adsense lokal ini muncul sebagai keluhan susahnya mendapat persetujuan Google untuk bisa memasukan blognya dalam program Google Adnsense. Google terkenal selektif memilih blog yang bisa diajak kerjasama. Salah satunya adalah masalah bahasa. Google lebih suka dengan blog/website yang berbahasa internasional alih-alih bahasa Indonesia.
Maka munculah adsense-adsense lokal dengan keunggulan: bisa pakai bahasa Indonesia! Tentu saja pengiklannya adalah orang-orang Indonesia. Nah! di ini dia letak lucunya, dunia adsense yang glamor dengan mitos “kerja santai, duit mengalir sendiri” membuat para pengiklan lokal Indonesia melalui adsense lokal adalah orang-orang yang menawarkan mimpi-mimpi itu. Lihat saja iklan-iklan yang muncul, sebagai contoh:
——————-
Mau Gaji Rp.1,5 Jt /hari?
Kerja 30menit/hari, Telah Terbukti 100%LegaL, Dijamin Berhasil.
Hanya 5 Menit dpt 38 Juta
Kerja 5 Menit Hasilkan 38 Juta/Bln Dgn Software Pencari Uang Otomatis
Dapat Rp.2.888.000 / hari
Dapat Rp.2 jt / hari Cuma dengan modal Rp.100rb di…
Dapat Rp.2.888.000 / hari
Cuma dgn modal 100rb bisa dpt Rp.2,8 jt /hari hanya di…
—————————–
Hahahahhahahahahhaha…. Inilah karakter bangsa kita. Suka yang instan-instan (termasuk saya yang suka makan mie Instan). Padahal logika adsense sendiri sebenarnya sangat rasional dan tetap butuh kerja yang benar-benar “kerja”. Tapi memang tidak bisa disalahkan sih, karena mungkin blog-blog orang Indonesia melalui adsense lokal memiliki pengunjung yang masih sedikit, lapaknya kecil, dan akrhinya pengiklan-pengiklan yang masuk pun pengiklan yang kurang berkualitas. Kalau pengiklan besar, tentu saja dia akan mencari lapak ngiklan yang luas dan terpercaya seperti Google. Pun, Google akan mencari mitra kerja sama yang juga bagus dan terpercaya.
Memang ada cerita bahwa ada blog yang dari model pendapatan adsense bisa dapat pemasukan ratusan juta rupiah per bulan. Tapi setelah saya buka-buka web dan blog itu, ternyata mereka adalah orang-orang profesional. Jurnalis handal, penulis brilian dan lain sebagainya. Tidak heran jika blog mereka dikunjungi oleh banyak orang. Bahkan ada di antara blog-blog legendaris itu yang bekerja secara tim dan solid. So, tetap sebuah pekerjaan yang memang harus dibayar mahal oleh dunia!
So kalau mau Lima Menit dapat 38 Juta! bisa-bisa saja. Caranya kerja keras, jadi orang pinter, punya banyak usaha, dan punya keterampilan luar biasa! Niscaya angka 38 juta itu sangat mudah. Tapi bukan dengan cara meng klik iklan-iklan di atas ya! niscaya kamu akan sengsara.
Lalu kalau begitu kenapa blog Ekonom Gila banyak iklan di kanan halamannya. Jujur saja, niat saya awalnya hanya agar blog ini kelihatan keren. “Gila cuy! udah ada iklannya”. Padahal, tidak sepeser pun uang yang bisa kita raih dari sana. Istilahnya, blog ini belum feasible untuk dikomersilkan melalalui cara nga-adsense. Iklan-iklan itu hanya hiasan saja biar kelihatan keren. Kalau pun ada pembaca yang budiman mau mengiklan di sini, kami akan berikan space dengan free (tapi kalau mau ngebayar juga nggak apa-apa sih :P). Tapi syaratnya satu, bentuk banner iklannya keren dan pas sama kolom blog kami, sekali lagi biar blog ini kelihatan artistik dan menarik.