Ekonomi Mimpi ala Bang Toyip (Mid-Low Creativity to Answer Meikha’s Gundam Article “Ekonomi Mimpi”)

Oleh: Priyok
Membaca artikel Meikha mengingatkan masa kecil saya. Dimana dunia saya kala itu dipenuhi imajinasi ala Jepang. Doraemon, Jiban (saya punya bajunya dulu.hehe), Winspector (Polisi robot beroda di dadanya,aneh!!), Baja Hitam (Kotaro Minami,yeah!!), Dash One (aku berlari-lari mengejar mobilku), Dragon Ball (kamehameikha, eh, meha maksudnya), dll. Sampe saya kalo berantem sama tetangga-tetangga saya pasti pake jurus-jurus mereka. Kebetulan saya tak hidup di jaman unyil, saya sempat sedikit menonton Si Komo. Tapi kurang berkesan, mungkin karena kurang aplikatif dalam kehidupan saya saat itu (masa berantem gaya Komo atau Ulil?).

Bicara ekonomi kreatif, memang kebanyakan berkutat di wilayah hiburan (animasi, komik, iklan, dan wujud seni lainnya), kerajinan, ataupun barang kreatif lain. Bu Marie Pangestu pernah bilang di tahun 2010 lalu kalo industri kreatif kita konon menyumbang 6 % dari pendapatan kita. Jumlah yang sungguh luar biasa untuk kerjaan seperti itu. Bahkan, seperti Bu Meikha bilang, Jepang memiliki kekuatan ekonomi saat ini dimulai dari imajinasi dan kreatifitas yang digali dan dielaborasi oleh pemerintah mereka sehingga menjadi kekuatan ekonomi.

Bagaimana Indonesia?duh, capek deh. Bicara Indonesia terpaksa membuat saya menyebar aura-aura negatif bagi para pembaca artikel ini (abis gimana masa mau boong). Tak ada seni kreatif yang mendunia, kalaupun ada masuk koran lantas hilang. Pemerintah tak mendukung pengembangan ekonomi kreatif. Sarana prasarana yang kurang. Dan sederet masalah lain yang capek ditulisin (dan dipikirkan!!!). Namun di sudut yang lain, geliat ekonomi kreatif mulai muncul. Ya, tanpa disadari yang memulai bukanlah orang-orang dengan tampilan harajuku yang geul itu, bukan pula seniman dengan gaya berantakan, apalagi berpakaian kasual dan duduk depan komputer mengotak atik software animasi (saya ga tau namanya.hehe).

Yang memulai adalah orang-orang yang keluar dari perkampungan kumuh, yang terkadang harus tidur bersepuluh dalam satu kontrakan, akrab dengan peluh dan bau menyengat, dan tentu saja merelakan diri “ditindas” konsumen. Masih bingung?orang-orang tersebut bisa anda temui di pasar malam, di pangkalan truk, bahkan tanpa diduga, di depan rumah anda!!!Merekalah pahlawan ekonomi kreatif kita saat ini, paling tidak untuk kelas middle-low,menengah ke bawah. Lahir dari pahit dan getir perjuangan orang miskin. Inilah dia, geliat ekonomi kreatif kelas menengah ke bawah.

Siapa mereka?

Odong-odong

Bagi saya, ini adalah temuan kreatif terbesar dekade ini. Ditengah nyanyian alay yang meracuni otak anak-anak kita. Odong-odong lahir sebagai “dewa penyelamat” bagi generasi Indonesia. Dengan musik yang membuat saya terharu setengah mati terdengarnya, benar-benar lagu anak-anak!!!(romantisme masa lalu saya terusik). Odong-odong lahir sebagai alternatif hiburan bagi anak-anak kampung, mengalahkan film-film Jepang di TV, mengalahkan lagu-lagu orang dewasa. Odong-odong murni temuan kreatif putra bangsa ini.

Permainan Pasar Malam

Anda bosan tong setan? Rumah hantu? Atau permainan tua lainnya? Pasar malam kini telah bertransformasi menjadi hiburan kelas dunia (sekebayangnya orang kamung aja.hehehe). Lagi-lagi buah kreatifitas anak bangsa ini. Yang mampu menggerakan perekonomian di kelas bawah. Kini bagi yang mau fotobox di pasar malam, ada!hanya dengan 4000 sekali pose anda sudah bisa berfotobox ria. Tempatnya hanya berupa rangka besi berwujud balok yang ditutupi bekas spanduk print. Kameranya dipasang di belakang jok motor. Ya motor saudara-saudara. Mereka menggunakan motor sebagai tempat fotonya. Duduk yang manis di jok dan bergaya sepuasnya!!!

Tak hanya itu, anak-anak yang suka main air pun kini dimanjakan dengan permainan pancing ikan berhadiah. Dengan modal kolam buatan, pompa untuk membuat arus, ikan-ikanan yang ditempel magnet, dan pancingan magnet. Anak-anak tampak puas mengumpulkan ikan-ikan, dan kalau beruntung dibalik ikan-ikan tersebut terdapat grand price, sebungkus coklat Gerry Chocolatos. Kemaren saya menemani saudara saya main di Fun City. Dan ternyata permainan ini sudah diadopsi di sana. Luar biasa. Padahal saya pertama kali melihat permainan ini medio 2006 di Alun-alun Klaten.

Anda lapar saat ke pasar malam, anda perlu mencicipi panganan hasil kreatifitas mereka. Yang lagi-lagi memutar ekonomi mereka. Es goreng, kolang-kaling yg diwarnai merah, tempura, dll. Mau yang agak berkelas. Mid-low society pun punya. Pernah coba burger harga 1000? atau waffle harga 1500? atau mungkin pizza harga 1500? Lagi-lagi ekonomi kreatif di tengah kemiskinan mereka.

Lukisan Pantat Truk

“Cinta Supir Sebatas Parkir”

“Dua anak cukup, Dua istri bangkrut”

“Cintamu tak seberat muatanku”

Pernah lihat ini?ya dibelakang truk. Terlepas dari negatif tulisannya, tak pernah terbayangkan betapa pantat truk bisa menjadi media kreatifitas. Isinya pun sungguh diluar batas imajinasi kita.coba cek truk mana yang tidak punya hiasan di belakang truknya.

***

Ekonomi kreatif atau ekonomi mimpi tak hanya milik orang menengah ke atas. Masyarakat menengah ke bawah pun berusaha menggerakan ekonominya dengan daya imajinasi dan kreatifitas yang mereka miliki. Ekonomi masyarakat bawah ternyaya juga berputar melalui ekonomi kreatif yang manifestasinya odong-odong, tong setan, gulali, es goreng , dsb. Mereka jauh lebih kreatif dari kita. Disaat pengusaha besar ingin mencicipi kue mereka, mereke berusaha berkelit melewati jaring-jaring modal besar. Mempertahankan hidup. Coba lah melihat ke bawah dan saksikan kreatifitas apalagi yang bisa mereka lakukan.

Advertisements