Nggak Mampu Researchpreneur, Writerpreneur Saja!

Apa yang harus saya lakukan kalau hanya boleh di rumah, stress belum dapat kerjaan,  nggak punya hobi yang bisa menghasilkan, tetapi butuh uang??? *ngikut style judul bombastis om Yoga :p

Tenang pren, dunia belum berakhir, Laptop atau sejenisnya punya dong??? Jadilah writerpreneur!

Kalo researchpreneur adalah istilah yang dilahirkan oleh salah seorang penulis EG (sumpah udah googling dan hasilnya hanya EG!), maka saya terinspirasi untuk membahas hal yang sudah sering dikumandangkan orang-orang: writerpreneur. Memang ada apa ya writer (penulis) kok bisa dikawinkan dengan entrepreneur? Hal-hal macam apa saja yang bisa disebut writerpreneur? Apakah menulis itu sama dengan berbisnis? Seluk beluk gila apa kali ini???

Seperti biasa, ramuan ajaib saya: niat baik, sediakan waktu, gali tacit, browsing, sedikit taburan gila — siap diramu dan disuguhkan ;)

Menjual Pikiran dan Pemikiran

Ini menurut tacit saya yang secara common sense bisa diterimalah ya, menulis itu adalah proses yang panjang walaupun hasilnya pendek (syukur kalo panjang). Nggak serta merta orang dapat menulis, apalagi membuat tulisan yang menarik dan berdaya jual, ya nggak? Proses pertama: menggali ide (cari ide nggak tepat sebab yang namanya ide itu nggak hilang, telah kita miliki sebagai tacit). Kalau kita mau menyediakan waktu untuk berpikir mau menulis apa, atau menghubungkan sesuatu dengan tacit yang memang sudah ada, itu sudah termasuk menggali. Singkat saja, kedua mengembangkan sebuah ide menjadi tulisan, dengan cara yang bervariasi: ada yang menyusun kerangka dulu, ada yang mengalir begitu saja, ada yang mengendap berhari-hari bahkan berbulan-bulan dulu, ada yang butuh stimulus dari sumber-sumber lain, yah terserah mau yang mana.

Kebanyakan orang tidak selesai melalu tahapan kedua tersebut, entah kurang motivasi ataupun inspirasi. My golden rule (maklom lagi demam sama frasa “golden rule”): menulis adalah menguraikan apa yang jadi pikiran atau pemikiran saya, sehingga dengan membacanya orang lain menangkap sepersis mungkin apa yang saya maksudkan. Tujuan akhirnya: tujuan yang saya susupkan tercapai. Tujuan itu bisa berupa: transfer ilmu, menghibur, mendapat nama baik, meningkatkan popularitas, hingga menerima hadiah/royalti. Yup, secara singkat: menulis adalah menjual pikiran (sesuatu yang orisinil) atau pemikiran (sesuatu yang sudah kita olah).

Bagaimana cara menjualnya? I guess that’s the meaning of writerpreneur. Lebih luas lagi writerpreneur dapat diartikan sebagai: penulis yang mandiri. Penulis tersebut secara mandiri menggali ide, mengembangkan, mempublikasikan, dan menerima hasilnya — tanpa melalui siklus yang ribet. 

Bisnis Tulis Menulis

Banyak orang yang hobi membaca, bahkan ada yang menjadikannya kebutuhan utama. Entah mengapa ya orang yang suka menulis itu pada dasarnya suka membaca juga, jadi penulis juga potential customer bagi penulis yang lain. Saya belum lupa dengan hal yang sering ditekankan salah seorang penulis EG yang sudah saya kenal sejak jaman kuliah dulu (yang pernah gagal bersama saya membuat duo kolaborasi fiksi), bahwa tulisan adalah produk yang sangat terdeferensiasi, sehingga setiap tulisan mempunyai pasar tersendiri.

Bukan cuma penulis dan pembaca, banyak pihak yang terlibat dalam bisnis tulis menulis, diantaranya: editor, penerjemah, penerbit, penerbit indie, toko buku, bahkan blog dengan konten yang menarik di dunia maya juga berpeluang memperoleh penghasilan dari adsense (kok bisa? baca di sini). Penulis juga membuat seseorang bisa mendapat rejeki lain, contohnya: Arief dengan akun twit Pocongg-nya, yang berkat kegokilannya menjadi seleb sekarang.

Ghostwriter: re-packing analogy

Dalam proses googling saya demi perluasan konten, ada sebuah profesi berkaitan dengan tulis menulis yang masih diperdebatkan: ghostwriter. Bukan penulis cerita hantu seperti R.L Stine, tetapi dalam bahasa Indonesia digambarkan dengan frasa “Penulis Bayangan.” Penulis tersebut menulis suatu karya, kemudian menjual karya tersebut berikut hak intelektualnya kepada pihak lain yang memiliki nama besar tetapi tidak memiliki cukup waktu (atau mungkin kemampuan) untuk menulis yang seperti itu. Mari kita abaikan adanya proses review dari yang membeli atau tidak, pertukaran uang dengan karya tersebut sah-sah saja kan. Secara ekonomi, peristiwa tersebut sama saja seperti membeli 1 kg gula pasir putih.

Ngomong-ngomong gula pasir putih (yang kita skip saja proses pembuatannya), kita jadiin contoh saja untuk menjelaskan bisnis yang bermula dari ghostwriter ini: keluar dari pabrik tanpa merek, ke distributor provinsi tanpa merek, dari distributor ke hypermart yang nge-hip (anggap saja namanya Aulia Star Market dengan harga jual yang lebih mahal daripada menjual ke pedagang lain) dan hypermart tersebut boleh mengakui gula tersebut ditanam di kebun tebunya sendiri yang eksklusif, lalu dibeli oleh kalangan atas yang belanja di Aulia Star Market itu dengan harga 2 kali lipat dari harga pasaran gula pasir putih. Apa yang membuatnya mahal? Karena dikemas dalam plastik berlabel Aulia Star Market dan seolah-olah adalah hasil dari tebu yang ditanam sendiri oleh Aulia Star Market dengan eksklusif, padahal sama saja dengan gula pasir putih yang dibeli di warung sebelah rumah Dyah :p

Apa ada yang salah kalau konsumen mau membeli 2 kali lipat harga pasar karena “suatu nama” dan “percaya” bahwa gula pasir tersebut ditanam di kebun Aulia Star Market sendiri? Ada konsumen yang merasa gula tersebut lebih manis, lebih higienis, lebih putih, walaupun sebenarnya sih biasa saja. Kalo kata Syahrini sih: sesuatu banget, hahaha… saking susahnya dijelaskan dengan kata-kata yah gula yang ajaib itu!

Yap, kira-kira seperti itulah karya ghostwriter yang dibeli seseorang yang tenar, lalu dibeli pembaca karena ketenaran nama penulis — sementara bila karya tersebut diterbitkan dengan nama asli ghostwriter nggak bakal dibeli. Ehem, mungkin nggak sih kalau ghostwriter itu punya ghostwriter lagi, sehingga dia ngambil untung saja dari menjual ke orang yang tenar???

-selesai, soalnya itu pertanyaan retoris saja :p-

Advertisements