Kontrol Mukamu! Eh, Pekerjaanmu, Wahai Para Akuntan!

Oleh: D.A. Rohmatika

“Ngerjain Akuntansi itu segalanya tentang kontrol,” begitu kata bos ane yang mantan auditor 3 tahun lamanya di Big Four dan masih jadi akuntan begitu keluar dari sana –sangat berdedikasi sekali pada Akuntansi. Anyway, back to the topic. Menurut dia, kita harus bisa yakin kalau kita sudah melakukan sistem kontrol sama pekerjaan kita sendiri. Kontrol sama pekerjaan sendiri? Gimana cara?

Oke. Contohnya, pernah bekerja sama bagian pengecekan pajak? Tugas mereka memang hanya mengecek nominal pajak yang ada, apakah transaksi dikenakan nominal pajak yang sesuai, apakah pajak tersebut memang benar dialokasikan pada bulan tersebut. Jika ada kesalahan pada bagian ini, siapa yang akan menerima akibatnya? Kita misalkan saja bagian pemegang kas. Tentu dia bisa membuat kesalahan dalam mengalokasikan kas saat bagian pengecekan pajak melakukan kesalahan bukan? Bisa jadi ketika bagian pencatatan mencatat pajak untuk Bulan Desember, tetapi karena kesalahan dari pengecekan pajak tentang cutoff(pencatatan transaksi sesuai periode keterjadiannya) membuat pajak itu masuk ke kumpulan pajak Bulan Januari tahun depannya. Kelihatan simpel? Cuma salah gitu aja? Ya, tapi salah gitu aja bikin nggak balance antara bagian pencatatan dan bagian kas. Nah, loh? Kalau selisihnya sampai 30 juta rupiah gimana coba?
Jadi, bagaimana caranya agar sistem yang kita bangun/kerjakan memungkinkan kita untuk bisa melakukan kontrol terhadap pekerjaan sendiri? Kita misalkan saja akuntan dari sebuah usaha yang baru berdiri, sebut saja Cossette Apparel (kalau di-klik muncul beneran loh, hahaha) (numpang promosi, kakagh *kedip-kedip*). Misalnya dia membuat sistem sederhana yang mencatat semua jurnal transaksi perusahaan bersangkutan. Karena masih sederhana, kita memakai sheet excel saja kali ya. Lalu, bagaimana kontrolnya?
Misalnya, di file yang sama dia membuat link dari sheet jurnal ke buku besar berdasarkan akunnya. Ada Buku Besar Kas, Buku Besar Pajak, Buku Besar Pendapatan, dan lain-lain. Nah, nanti ketika semua dimasukkan ke neraca lajur dan sudah diketahui hasil akhirnya, yang paling bisa dicek pertama kali adalah kas. Dari mana? Tentu daja dari Rekening Koran. Misalnya saja, di Rekening Koran terdapat kas Rp34.567.976,00 tapi di saldo kas kita hanya ada Rp32.567.000,00. Dari manakah sisanya berasal? Baru kita cek akun yang ada di rekening koran: (1) bunga bank, (2) biaya administrasi, (3) biaya pembuatan cek (misalnya memakai cek), (4) biaya transfer yang diambilkan dari saldo kas di rekening. Tambahkan semua bunga bank dikurangi semua biaya-biaya yang mungkin ada, maka saldonya harus menunjukkan Rp32.567.000,00.
Bagaimana kalau saldo terakhir bank setelah ditambah bunga dan dikurangi biaya ternyata lebih dari ATAU kurang dari Rp32.567.000,00 (saldo yang tercatat di pembukuan)? Langkah pertama, hela napas (kenapa lagi-lagi geser saldo akhirnyaaaa??? D*$#0J*^@$N&%C&^&%$U$%K*&#). Langkah kedua, ambil kursi dan tali. Langkah ketiga, gantung diri. RIP, dear friend.
Langkah satu-satunya adalah cek satu-satu saldo ke belakang. Caranya? (1) Cek saldo kas per bulannya. Apakah sisa saldo kas per bulan di pencatatan sudah sama dengan di rekening koran (tentu setelah yang di rekening koran ditambah bunga dan dikurangi biaya-biaya). (2) Pasti nanti ada bulan-bulan yang sama dan bulan-bulan yang geser. Hitung ulang pendapatan dan biaya yang dikeluarkan di bulan itu (untuk sistem basis kas) atau analisa cash flow yang terjadi di bulan itu (untuk akuntansi sistem akrual). Baru setelah itu temukan angka yang janggal atau geser lainnya dan cek satu-satu. Gampang kan? (Pale lu gampang! Proses ini udah kayak ngubah bubur jadi nasi lagi alias nggak bakal rampung! *evilsmirk *ditimpuk bata se-RT).
Jadi begitulah. Kalaupun sebenarnya di job description atau protap atau apapun tidak ada kerjaan “menghitung total pajak per bulan” atau “membuat summary transaksi bulanan” tapi tidak ada salahnya kita melakukannya. Daripada kita disantet pegawai bagian lain gara-gara dia merasa di tempat kita ada yang nggak beres tapi kita diam-diam saja ngerasa nggak salah gara-gara nggak mau ngecek? Think it all over, dear.
Mau contoh akuntansi lainnya? Makanya, beli produk ane dong, gan. Jangan lupa di Cossette Apparel yaaa. Bisa di-klik kok *kalem* Jadi kan bisa dipakai buat contoh-contoh lain kalau transaksinya udah banyak dan kompleks. Ya nggak, friend? :3
Advertisements

Supplies VS Inventory

Oleh: Olivia Kamal


Apa bedanya supplies dan inventory? Singkatnya, supplies tidak untuk dijual, inventory untuk dijual. Lebih lanjutnya mari kita bahas dengan dua contoh.
Contoh 1: kertas dan tinta sebagai supplies.

Badan usaha apapun pasti butuh kertas dan tinta printer untuk kebutuhan dokumentasi atau mencetak. Kertas dan tinta printer tidak untuk dijual, tapi belinya juga nggak dalam jumlah sedikit. Selain bisa beli dengan harga yang lebih murah, pemakaian tinta dan kertas kan rutin. Kertas dan tinta diklasifikasikan sebagai supplies (bahan habis pakai).

Contoh 2: kertas dan tinta sebagai inventory

Tapi ya, kalau kita punya toko stationary dan perlengkapan kantor, pastinya jual kertas dan tinta printer. Barang dagangan yang belum dibeli orang itu nggak disebut supplies, tetapi inventory (sediaan). Kalaupun ada sebagian kertas dan tinta untuk dipakai sendiri, harus dipisahkan dan digolongkan sebagai supplies.

Macam-macam Sediaan

Dalam konteks perusahaan manufaktur, ada 4 jenis sediaan:

  • Bahan baku produksi (raw material, disingkat RM)
  • Bahan penolong
  • Barang setengah jadi (Work in Progress, disingkat WIP)
  • Barang Jadi (finished goods, disingkat FG)
Saat produksi, bahan baku dan bahan penolong akan mengalami proses menjadi barang jadi. Dalam proses tersebut, ada barang yang setengah jadi, yang belum menjadi barang yang sempurna. Misalnya: bijih plastik (RM) yang sedang dicampur dengan pewarna (bahan penolong) menghasilkan adonan campuran (WIP), dalam proses membuat wadah plastik (FG).

Ngitung WIP
WIP sangat sulit dihitung saat stocktake/stock opname/ stockcount/ inventory count, jiahahaha mau bilang ngitung stok aja ribet dah!


Mengapa sulit? Pertama, bentuknya yang incountable (gimana cara mau ngitung adonan???), jadinya kita ngitung juga sih (ajib kannnn!). Cara ngitungnya, hitunglah sebisa kita dengan cara yang paling mungkin. Maksa ya???

Kesulitan terbesar dalam menghitung WIP terjadi bila proses produksi tetap berlangsung selama penghitungan. Indikasi yang ada adalah adonan yang tadinya sudah dihitung, dihitung lagi pas bentuknya menjadi wadah yang belum bermotif (double counting). Untuk mengatasinya, produksi dihentikan sementara atau produksi dapat berlangsung dengan syarat tidak ada perpindahan (movement) dari satu tahap ke tahap berikut,

sampai semua WIP terhitung.

Dapat logikanya dan pusing? Menjalani penghitungannya lebih pusing kok! Hahahaha… Yang ga pusing, enak, dan cepat kelar??? Ya ngitung supplies aja… ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ…

Pengakuan Pendapatan: Studi Kasus Bioskop/Layar Tancep

Oleh: D.A. Rohmatika
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”
Pertanyaan yang dilontarkan Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan ini sangat membuat kami-kami sang mahasiswa tingkat akhir yang mengambil mata kuliah Teori Akuntansi bingung dan merasa belum ada apa-apanya dibanding beliau (ya iyalah!). Pada dasarnya, kas sudah dikumpulkan saat tiket dijual yang tentu saja masuk ke tahun berakhir itu. Tetapi, jasa selesai diberikan di tahun berikutnya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja kita harus mengingat hakikat dari pendapatan itu sendiri.
Pendapatan VS Penghasilan
Pendapatan (revenue) adalah hasil dari penjualan barang atau pemberian jasa yang merupakan kegiatan utama dari perusahaan tersebut. Sedangkan penghasilan (gain) adalah segala hasil nilai tambah yang diperoleh bukan dari kegiatan utama perusahaan. Contohnya, Procter and Gamble (P&G) akan memasukkan hasil penjualan sampo Pantene dalam pendapatan, dan memasukkan selisih hasil penjualan saham dari nilai pasar saham dan nilai par saham dalam perolehan.
Pengakuan Pendapatan
Pendapatan dapat diakui dalam empat poin waktu yang didiskusikan di teori dan praktik akuntansi. Jika empat poin waktu ini terjadi, maka akan tercipta pengakuan pendapatan:
  1. Selama produksi
  2. Pada saat produksi selesai
  3. Pada saat penjualan
  4. Pada saat kas diperoleh
Apakah semua jenis transaksi di semua perusahaan masuk dalam keempat poin itu? Tentu saja tidak! Contoh berikut ini akan lebih memudahkan klasifikasi transaksi mana saja yang masuk ke poin waktu yang mana:
  1. Selama produksi, misalnya kontraktor gedung yang proses pembangunannya lebih dari satu periode akuntansi (biasanya satu periode akuntansi adalah satu tahun),
  2. Pada saat produksi selesai, misalnya industri tambang untuk penambangan logam mulia, minyak dan gas, dan lainnya,
  3. Pada saat penjualan, misalnya sebagian besar perusahaan seperti perusahaan sepatu, perusahaan mobil, perusahaan tekstil, dan semua perusahaan yang tidak masuk poin waktu 1, 2, dan 4,
  4. Pada saat kas diperoleh, misalnya penjualan angsuran (installment).
Tentu saja tidak serta merta perusahaan yang masuk dalam poin-poin itu langsung bisa diakui sebagai pendapatan. Ada syarat yang harus dipenuhi, yang disebut critical event, yaitu:
  1. Untuk kontraktor gedung, harus sudah jelas ada pembeli dan jaminan ketertagihan,
  2. Untuk industri tambang, harus sudah didapatkan hasil penambangannya, harga pasar stagnan, tidak ada biaya iklan/pemasaran yang tinggi, dan ada pasarnya,
  3. Untuk sebagian besar perusahaan seperti sepatu dan tekstil, ketika terjadi transfer of title, yang bergantung terms of sale (apakah FOB Destination atau FOB Shipping Point),
  4. Ketika kas diperoleh.
Ada pengecualian untuk beberapa kejadian seperti accretion (tumbuh karena alam). Misalnya, pohon jati yang tumbuh di kebun kita, tidak boleh diakui sebagai pendapatan ketika dia bertambah besar/tinggi selama pohon tersebut tidak ditebang dan dijual.
Jawaban Pertanyaan
Jadi, untuk pertanyaan tentang bioskop di paling awal artikel ini,
“Jika sebuah bioskop ingin merayakan New Year’s Eve dengan memutar film tengah malam yang dimulai pukul 00.00 tepat, maka pendapatan bioskop dari film itu akan dimasukkan pada tahun tersebut yang telah berakhir atau di tahun berikutnya?”
Jawabannya adalah:
Ketika jasa pemutaran film oleh bioskop itu sudah selesai diberikan, baru pendapatan bisa diakui (berdasarkan prinsip akrual). Jadi, pendapatan film itu akan dimasukkan pada tahun berikutnya.
Tapi pertanyaannya tidak berhenti di situ saja,
“Jika film itu durasinya dua jam, dan diputar pada saat pukul 23.00 yang tentu saja akan selesai pukul 01.00, bagaimanakah pengakuan pendapatannya? Apakah harus datu jam masuk ke tahun sebelumnya, dan satu jam lagi masuk tahun berikutnya?”
Jawabannya adalah:
Untuk pemutaran film oleh perusahaan bioskop yang termasuk jasa jangka pendek, pendapatan dari pemutaran satu kali film itu jika satu jam dimasukkan tahun ini dan satu jam dimasukkan tahun depan, termasuk immaterial. Jadi, bisa dimasukkan ke tahun sebelumnya saja atau tahun berikutnya, dengan penjelasan/catatan/notes.
Jadi, beginilah sekilas pelajaran tentang revenue recognition yang pernah diajarkan oleh Guru Besar Akuntansi UGM, Prof. Dr. Zaki Baridwan. Diskusi tentang revenue recognition, dengan resmi DIBUKA!!!

Perlakuan Akuntansi Perusahaan Manajemen Artis (Agensi) Terhadap Artis-Artisnya

Oleh: D.A. Rohmatika

Jika Anda adalah akuntan di sebuah perusahaan manajemen artis (agensi) di SM Entertainment (perusahaan agensi terkemuka di Korea), bagaimanakah Anda akan mencatat transaksi berkaitan dengan Girls’ Generation (salah satu girlband), artis dari SM Entertainment?

#pemahaman aset tetap yang tak selamanya hanya bangunan, tanah, dan mesin pabrik.

Perusahaan yang ada saat ini bermacam-macam, mulai dari perusahaan manufaktur (produksi sabun, susu, mi instan) sampai ke perusahaan jasa (produksi jasa audit, jasa konsultansi, jasa pembuatan skripsi). Semakin maraknya hallyu wave (alias demam artis-artis Korea) membuat saya ikut menikmati musik mereka, lanjut ke menikmati gosip tentang mereka, lanjut ke memahami proses dan ritme pembentukan artis (aktris/aktor, boyband/girlband, solo singer) di sana. Bahkan, Ekonom Gila pernah membahasnya pula di sini. Berbeda dengan Indonesia di mana setiap orang bebas dan bisa menjadi artis, artis di Korea harus diterbitkan oleh sebuah perusahaan manajemen artis. Dan akhirnya satu pertanyaan muncul: bagaimanakah perlakuan akuntansi perusahaan untuk para atis tersebut? Apakah mereka masuk aset, ekuitas, kewajiban, atau produk?


Perusahaan Manajemen Korea dan Artisnya
Ada banyak sekali perusahaan manajemen artis di Korea, antara lain: SM Entertainment (artis: TVXQ, Girls’ Generation, Super Junior, F(x), Shinee), YG Entertainment (artis: 2NE1, Big Bang), JYP Entertainment (artis: Wonder Girls, Miss A, 2AM, 2PM), dan Starship Entertainment (artis: Sistar, Boyfriend). Untuk mendapatkan artis, perusahaan manajemen ini melakukan berbagai macam cara, yang paling banyak dilakukan adalah mengadakan audisi.
Biasanya, audisi dilakukan untuk mencari talenta. Kasus girlband/boyband misalnya mencari orang-orang yang berbakat menyanyi dan menari, dan ada beberapa yang direkrut untuk visual (alias jual tampang). Di sinilah nantinya para artis harus menandatangani kontrak setelah lulus audisi untuk menjadi trainee dan akhirnya menjadi artis dari manajemen tersebut. Kontrak itu bisa bermacam-macam lamanya, salah satunya adalah “kontrak 13 tahun” dari SM Entertainment.
Setelah melalui proses menyakitkan di medan perang per-audisi-an dan teken tanda tangan kontrak, derita para artis ini tidak serta-merta berakhir karena masih ada yang namanya training. Masa training ini pun tidak main-main, berkisar dari satu sampai tujuh tahun untuk mengasah bakat para artis: menyanyi, menari, modelling, stage performance, camera facing, body shaping, dll. At the end, para trainee ini tidak semuanya diorbitkan. Ada yang dipindahkan ke agensi lain, ada yang akhirnya menjadi orang biasa karena satu dan lain hal. Bagi yang beruntung diorbitkan, tentu saja lagu, album, photo session, manggung, dan segudang aktivitas lainnya sudah dipersiapkan.


Para Artis Itu Masuk Akun Apa?
Terinspirasi oleh sebuah judul skripsi yang bertema “Perlakuan Akuntansi Pemain Sepak Bola Sebagai Aset di Klub XXX” (lupa pengarangnya, sepertinya anak BPPM Equilibrium dulunya) maka akhirnya perlakuan yang sama yang akan saya sarankan kepada para akuntan di SM Entertainment, YG Entertainment, JYP Entertainment, dan Starship Entertainment (narsis dan sedikit pe-de). Bagaimana bisa para artis itu masuk ke dalam aset? Aset tetap atau lancar? Bukannya seharusnya mereka diperlakukan sebagai produk dalam penjualan (sales)?
Opini saya untuk memasukkan mereka sebagai aset didasari oleh definisi aset yang saya peroleh. Menurut SFAC No.6 Paragraf 25, aset didefinisikan sebagai:
“Probable future economic benefits obtained or controlled by a particular entity as a result of past transactions or events.”
Sedangkan menurut PSAK No.16 Paragraf 6, aset tetap didefinisikan sebagai:
Aset tetap adalah aset berwujud yang:
  1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif
  2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.
Artis-artis yang sudah dideskripsikan di atas, memenuhi berbagai karakteristik aset yang disebutkan oleh SFAC No. 6 tersebut maupun PSAK No. 16, yaitu:
Keuntungan ekonomi di masa mendatang, yang akan bisa didapatkan dari hasil manggung, penjualan album, maupun stage performance,
Dikontrol oleh sebuah entitas, di mana di sini adalah perusahaan agensi tersebut,
Dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan barang dan jasa, para artis itu dipergunakan untuk menyanyi dan menari yang akhirnya mengeluarkan produk berupa lagu dan album,
Diharapkan untuk diperunakan selama lebih dari satu periode, kontrak yang ditandatangani selama bertahun-tahun (bahkan 13 tahun) tentu saja melebihi satu periode/siklus akuntansi.
Jadi, pertanyaan-pertanyaan membingungkan akan bisa terjawab, seperti di bawah:


Mengapa para artis itu tidak masuk sebagai produk? Karena jika mereka masuk sebagai produk, tentunya penjualan (sales) yang bisa dilakukan terbatas hanya satu kali saja. Jadi mereka bukanlah produk.


Lalu mengapa mereka bukan diperlakukan sebagai aset lancar? Karena aset lancar dan aset tetap dibedakan menurut periode akuntansinya (yang sangat pendek bagi aset lancar, kurang dari satu periode akuntansi) atau keinginan awal perusahaan dalam mendapatkan aset lancar untuk segera dijual kembali.
Pencatatan Artis Sebagai Aset Tetap
Para artis yang diperlakukan sebagai aset itu tentu memiliki nilai perolehan. Menurut Meigs dan Williams, biaya perolehan aset tetap meliputi (Allfajriansyah, 2008): “All expenditures that are reasonable and necessary for getting the asset to the desired location and ready for use.” Hal ini berarti, nilai perolehan yang akan dicatat oleh perusahaan tidak hanya nilai yang tercantum di dalam kontrak, tetapi juga biaya-biaya lain yang dikeluarkan untuk mendapatkan aset tersebut, seperti biaya mengadakan audisi. Bagaimana dengan biaya training dan biaya hidup si artis? Tentunya itu akan masuk ke dalam biaya (expense) karena telah masuk sebagai biaya pemeliharaan aset.
Sebagaimana aset tetap lainnya, aset tetap berupa artis ini tentu akan bisa terdepresiasi. Lama waktu ekonomis yang diakui perusahaan dihitung berdasarkan lama waktu yang tercantum dalam kontrak. Jumlah biaya depresiasi per tahunnya bisa dihitung dari biaya perolehan aset dibagi waktu ekonomis (bisa dihitung dengan berbagai metode, baik metode garis lurus, dll).
Beginilah jika seorang Ekonom Gila diminta menjadi akuntan perusahaan agensi. Tentunya opini ini jauh dari sempurna, jadi mari berdiskusi! Any opinions are accepted! Akhirnya, Girls bring The Boys Out!

*screaming* *akibat nulis sambil dengerin semua lagu-lagu Korea*

#pesan sponsor: lagunya Ailee yang “Heaven” bagus banget loh! Atau Sistar yang “Ma Boy”. Cocok buat orang yang baru coba dengar genre musik Korea, haha~
*dari berbagai sumber

It’s About: Money Money Money!

Kalo Jessi J menyuarakan tentang melupakan uang dalam lirik lagu “Price Tag”: It’s not about money, ain’t about the cha-ching, why is everybody obsessed, money can’t buy happiness, dan forget about the price tag; di postingan kali ini justru uang, uang, dan uang menjadi pembahasan kita. Mengapa uang menjadi sangat penting? Mengapa pula uang menjadi sangat tidak penting (dengan berbagai kalimat penjelas yang bijaksana)?

Uang dan Kuasanya 

Sebuah curcol nih, beberapa hari yang lalu sebelum tidur saya menulis di status fb saya:

uang dapat membeli kasur, tapi bukan tidur yang nyenyak ~ mari tersenyum, menikmati tidur, dan tertidur.

Tentunya, ide “uang dapat membeli ~ tapi bukan ~” itu bukan ide asli saya dong, pasti udah pada sering baca yang begituan, dan lagi pengen alay aja nulis-nulis begitu. Seorang teman mengomentari: belilah obat tidur. Ehem, saya sependapat kalau maksud kata bijak “uang dapat membeli ~ tapi bukan ~” adalah sebuah kebijaksanaan bahwa: tidak semua hal dapat dibeli dengan uang, jadi jangan mendewakan uang, dsb; tetapi dengan kenyataan banyaknya opsi-opsi yang dapat kita pilih dengan uang, memungkinkan kita memperoleh tingkat kepuasan yang mendekati tingkat kepuasan yang kita inginkan. Meskipun nggak di level yang benar-benar kita inginkan, paling nggak hanya sedikitttttttt di bawahnya, sampai kata mendekati lebih pantas diganti dengan “nyaris”.

Kenyamanan hidup di Jakarta dapat dengan mudah didapatkan dengan adanya uang, di manapun juga begitu sih. Cukup bawa diri dan sekoper baju bagus, pekerjaan dengan payout yang besar, dan semua hal diatasi dengan uang. Mau makan apa tinggal beli, baju masukin ke laundry, ke mana-mana naik taksi, kost dengan fasilitas yang gimana tinggal pilih, wiken bisa hepi-hepi dengan aktifitas yang disukai, kalau stress ya liburan ke luar negeri; simply work hard play hard! Tentang cinta, banyak yang sudah cukup bahagia dengan dapat mandiri secara finansial dan teman-teman sesama jomblo masih banyak.

Uang dan Wanita

Wanita menyukai uang, pria juga. Semua orang juga suka kaleeee… Mengapa pria lebih memilih wanita yang biasa-biasa saja daripada yang menyukai uang? Cewek juga nggak suka sama cowok matre, lebih malu-maluin daripada cewek matre ga sih??? Hahaha… jangan berakhir ke perang gender, memang masing-masing orang punya persepsi yang berbeda-beda, nggak harus gendernya apa kalo matre tetap aja matre.

Penjelasan wanita dan uang yang pernah dibahas di EG dapat diikuti di link ini dan ini. Secara pribadi, menurut saya kecintaan wanita pada uang tergantung pada pola pikir dan tingkat kekhawatiran wanita itu masing-masing. Uang memberi rasa aman karena dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan: uang penting untuk maintenance diri untuk kepuasan diri sendiri dan suami (penekanannya pada penampilan), uang penting dalam masuk dan bertahan dalam pergaulan (penekanannya pada gengsi), untuk pendidikan dan kebutuhan anak (penekanannya pada anak). Wanita yang lebih khawatir turun pamor karena penampilan cenderung menginginkan uang, mencintai uang, agar tetap terlihat oke. Krim antikerut tidak dapat memudakan usia, tetapi dipercaya dapat memudakan kulit wajah: nggak bisa kembali menjadi gadis muda, tetapi “nyaris” seperti gadis muda.

Satuan Moneter 

Supaya nyambung ya sama yang di awal: ngomongin Price Tag, keberaadan nilai nominal uang menjadi sesuatu yang memudahkan juga, selain bikin pusing. Bikin pusing sih kalo kita ngidam Birkin Bag Hermes yang asli, atau pengen iPad 3 yang keren tapi nggak punya cukup uang.

Bikin mudahnya, nilai satuan uang (satuan moneter) adalah satuan pengukur yang memudahkan kita dalam menilai suatu barang: relatif mahal atau murah untuk kita membelinya, terlebih barang yang sudah ada price tag-nya. Lebih ke fungsi uang sebagai alat tukar dan apakah kita ikhlas menukarkan uang sejumlah tersebut dengan suatu barang, atau lebih prefer untuk ditukar dengan barang lain. Lebih mudah untuk membandingkan antara dua barang/jasa juga. Lagi berandai-andai nih… coba kalau masih jaman purba, satu maskara Loreal harus dibayar dengan berapa ekor ayam? Hahaha… ogah juga kalo bawa tuh ayam hidup ke mana-mana.

Dalam akuntansi, penyimbolan dalam angka (satuan moneter uang) dipandang sebagai simbol yang paling tepat. Contohnya untuk elemen aset, item kas mudah saja tinggal dihitung uang kas yang ada, demikian juga dengan deposito dan piutang dagang telah ada nominalnya. Untuk persediaan? Di laporan keuangan angka yang dipakai bukan berapa buah persediaan, tetapi harganya (dalam satuan moneter). Ini maksud saya keberadaan uang yang memudahkan, karena ada fungsi sebagai satuan pengukur.