Roundabout Roundabout

Ada yang kenal manusia di samping ? Ini gambar dari film Into The Wild,

isinya tentang kehidupan pasca wisuda seorang Chris McCandless.

Banyak orang komentar, film ini bener2 menggugah, tapi menurut saya si biasa aja. Saya tenang-tenang kuliah sehabis SMA dan seiring berjalannya waktu, film ini pun melapuk dan hilang dari ingatan. 
Sampai kira-kira 3 minggu yg lalu, film ini kembali muncul dan mengusik pikiran.
Pemicunya ada 2:
dp bbm temen & quotes dari dialog film tsb di tumblr (tuh quotes-nya ada di gambar di atas).
FYI, sebentar lagi saya lulus kuliah (setahun lagi sih :p)

Keberanian si McCandless untuk lepas dari hidup a’la peradaban modern memang menggugah.
Tapi itu tetap terdengar mustahil untuk saya. Pikiran saya jauh lebih tertarik menyoroti pandangan pendapat McCandless soal karier (liat gambar Emile Hirsch di atas), dan apa pemicu lahirnya pendapat tersebut.

Bicara karier, ingatan saya langsung lompat ke buku dibawah ini:
                                           Judulnya,“Your Job is Not Your Career”. Buah karya Pak Rene Suhardono inilah yg pertama kali memperkenalkan saya perbedaan antara karier dan pekerjaan. 
Kalo saya gak salah, karier itu lebih mirip “alur jalan” atau “path”, sedangkan pekerjaan adalah titik langkah yang dilalui selama meniti “path” tersebut.
Buku itu juga sukses menjabarkan soal passion. Sesuatu yang sepengertian Saya berarti:

Sesuatu yang sangat kita minati, hingga sering tanpa sadar kita latih dan pelajari secara mendalam. Jadi pendorongnya murni karena kita menyukai aktivitas / pekerjaan tersebut. 

Klimaks buku itu kalo saya gak salah, ketika kita sampai pada suatu titik, dimana passion itulah profesi kita (full time job)

Saya gk tau bener gk itu yg dimaksud sebagai pesan dari penulis buku itu. Abis bacanya udah lama bgt si, hehehehe…

Setelah buku itu, pikiran saya lompat ke sebuah analogi atas kehidupan rata-rata manusia, era sekarang:
Yup, 2 kata: rat race

Penjelasan soal istilah ini bisa didapat melalui komik dibawah ini:
tak ketinggalan curcol bernutrisi tinggi dari Bang Tyler Durden :
Kalo masih gak paham, berarti katro… atau mungkin, tanpa sadar 
anda telah sukses terjebak dalam rat race“.
(kok kalo selip dikit bisa mirip ama death race ya hehehehhe…)
Ok ok, cukup soal resensi dan testi soal buku dan film. 
Let’s be original a little bit…
Setelah semua hal di atas, otak saya keinget sama kebijakan naiknya UMR Jakarta Desember lalu,
Waktu itu, saham Astra International terjun bebas saat isu mulai beterbangan dan penurunan terus terjadi sampai 2 hari pasca penetapan resmi aturan tsb.
Intinya pesan yg ingin disampaikan pelaku bursa saham adalah,
“Kami gk terlalu suka dengan hal ini.”
Ok, lalu pikiran saya mencoba mengaitkan hal ini dengan inflasi,
langkahnya kira-kira begini:
> UMR: Batas bawah gaji bagi pemangku jabatan terbawah

>> UMR naik, pekerja (employee) yg misalkan tadinya udah ngurangin belanja karena gajinya gak cukup, akan kembali “menormalkan” / menaikkan pengeluarannya.
Atau semisal sang pekerja tidak merasa perlu “menormalkan” pengeluarannya, maka dia bisa nabung atau investasi.

>>> UMR naik, pengeluaran gaji naik, maka HPP (COGS) naik.

>>>> kalau gak ada reorganisasi operasi atau kenaikan harga jual / kuantitas penjualan, profit perusahaan (employer)  tergerus.
gini ilustrasinya:
Jadi, kalau:
-b2 naik
-c3 naik
Maka ada ada 2 skenario:
 -Skenario A: Perusahaan menaikkan harga jual, karena beban produksi meningkat (perusahaan enggan memangkas profit margin. (cost push inflation).
-Skenario B: Para pekerja memilih untuk menaikkan standar hidup, dus membeli lebih banyak barang & jasa (demand pull inflation).
Jadi, kalo bener b2 & c3 sama2 naik, ya sama aja bohong.
Kenaikan upah pekerja langsung terhapus sama kenaikan harga barang & jasa di pasar,
dan jikalau si pekerja sempat menaikkan konsumsinya,
dan hal seperti ini terjadi secara agregat
(rata2 pekerja melakukan hal serupa),
maka kemungkinan tingkat konsumsi para pekerja akan turun lagi,
karena permintaan yg meningkat akan berpeluang menaikkan harga.
(mempertimbangkan sedikitnya lahirnya produk baru atau lapangan pekerjaan baru).
Berhari-hari saya mikirin, berharap dan ngebayangin, saya bisa ketemu semacam bukti ilmiah soal kemungkinan terjadinya hal di atas…
Sampai akhirnya post Suhu Kongming88 ini muncul di kaskus:

Penjelasan dari Suhu Kongming88:
kolom pertama (FCRPI) nunjukin IHK (indeks harga konsumen) / tingkat harga barang & jasa di pasar
kolom kedua (FCWI) nunjukin labor price index. (upah pekerja)
walaupun gak sangat kuat, tapi korelasi keduanya positif
(Jika IHK naik, LPI ikut naik dan bila IHK turun, LPI juga turun.)

kenapa?

karena kenaikan biaya tenaga kerja memaksa produsen menaikkan harga jual produknya 
(cost push inflation).

Doooorrrr !!!!!
 Akhirnya datang juga hal yg saya tunggu-tunggu…
Lo tuh tinggal bener2 spesifik ngebayangin apa yg lu mau dapetin !
layaknya orang lagi ngebidik sasaran tembak !
Maka yg lo bayangin itu datang / terjadi di saat paling tak terduga…
Ok, back to the topic,
Kalo UMR aja naik, otomatis gaji pekerja2 di tingkat lebih atas juga ikut naik.
Minimal liat kalo pegawai negara naik gaji, pasti rame-rame (serentak bareng-bareng).
Jadi kalo udah kaya gini, masih relevankah mimpi dalam bentuk kalimat,
Kapan ya naik gaji ?
Malah, kalau Saya boleh usul, kalimat di atas bisa diganti dengan kalimat,
Kapan ya saya bisa berkontribusi lebih ?
Kapan ya saya bisa handle lebih banyak tanggung jawab ?
Kapan ya saya bisa lebih pintar ?
Saya kira semuanya kembali ke awal,
kalo mau karier yang asik,
ya harus punya kerjaan yang asik juga.
Bayangin gini, kalo di rat race, bentuk rodanya tu tegak ke atas kan
(cek gambar tikus yg ber-hustlin‘ ria di atas)
Roda tegak itu kan perlambang harapan si tikus akan naik dia ke anak tangga berikutnya, yg berati nominal gaji yg lebih tinggi, yang kemudian diartikan sebagai  level kehidupan / kesejahteraan / kebahagiaan yg juga lebih tinggi
Namun sayang seribu sayang, semua itu hanyalah sebuah ilusi…
dan bahkan bisa dibilang cuma imajinasi yg tercipta akibat kekurang pahaman atas proses terjadinya inflasi !

Selanjutnya, mau gimana ?
Ada pepatah bilang, merubah kerjaan gk semudah membalik telapak tangan,
Ya memang iya, Saya juga setuju,
makanya sebelum merubah kerjaan, coba rubah dulu itu isi pikiran…
Sekarang bayangin aja, kalo roda di rat race itu jatuh, runtuh, dan tengkurep kaya roundabout di bawah ini:

Maka praktis yang anda kejar ya cuma mempercepat putaran roundabout atau beratraksi melewati pegangan / rintangan yg ada (tergantung cara pandang anda ini sih ;) )
Inget aja rasa seru / excitement waktu main kaya ginian semasa kecil dulu.
Selanjutnya soal menggapai sesuatu yg lebih tinggi, atau memberi efek positig bagi lingkup yang lebih luas.
Ya… anggap aja  roundabout-nya berbentuk kaya’ di bawah ini:

Jadi, selalu ada, yang harus dipanjat…

Soal apa dan gimana bentuk implementasi roundabout ini di alam kehidupan sadar anda,
Maka ada 1 hal yg harus anda temukan: passion.

Temet Nosce,-

Advertisements

Diskon

Salah satu promo diskon
Oleh: Yoga PS
Dua minggu setelah musim lebaran, saya mencoba berjalan-jalan kesalah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Lagi butuh sepatu jogging, sekalian mau ngecek, apakah perayaan ritual konsumsi pasca lebaran masih berlanjut. Karena Anda tahu, konsumsi masyarakat Indonesia mencapai puncaknya saat ramadhan.
Tibalah saya disalah satu tenant sepatu. Harganya masih sama, berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi yang menarik adalah masih adanya promo diskon yang bagi saya, cenderung “menyesatkan”.

Permainan Psikologis

Coba bayangkan, ada dua jenis sepatu. Yang di diskon, dan yang tidak. Sepatu tanpa diskon berharga, anggap saja, rata-rata 500ribu rupiah. Sepatu dengan diskon, tertulis gede-gede 50% OFF, memiliki harga gross rata-rata 900ribu. Harga netnya? Silahkan dibagi dua = 450 ribu rupiah. Koq hampir sama aja dengan yang ga diskon sih?
Mungkin hal inilah yang sempat dikeluhkan YLKI saat perhelatan Jakarta Great Sale beberapa waktu lalu. penjual memberikan diskon setelah menaikkan harga base barang tersebut. Sehingga diskon sebenarnya tidak sebesar yang digembar-gemborkan. Diskon hanya berperan sebagai sweeter, pemanis, yang sayangnya terbuat dari gula buatan. Sehingga tidak baik bagi kesehatan keuangan.
Hal yang sama juga berlaku bagi industry travel. Baik pesawat, kereta api, dan kapal laut. Anda tahu kan maskapai penerbangan yang sering memberikan diskon promo, bahkan ada yang sampai seharga NOL rupiah. Apakah mereka rugi? Oh, jangan salah. Mereka justru mendapatkan keuntungan berlipat.
Karena pricing tiket pesawat menerapkan system floating real time yang terus berubah. Tidak ada harga pasti. Ada asymmetric information. Semakin jauh hari booking, harga semakin murah. Semakin mepet, semakin mahal. Tapi terkadang, selang beberapa jam jika seat masih kosong, harga bisa murah.
Yang jelas, tiket promo mampu meningkatkan awareness. Orang berlomba-lomba membuka website untuk mencari informasi. Mereka tergiur dari promosi tiket murah, yang meskipun dari 100 seat, mungkin yang di-promo hanya dua seat (itu rahasia perusahaan sih hehehe).
Secara psikologis, setidaknya ada beberapa peran diskon:
1. Feel good factor
Mendapat harga lebih murah itu sungguh menyenangkan. Perasaan “nyaman” inilah yang membuat konsumen selalu tergiur dengan kata diskon. Ada semacam rasa “kemenangan” saat mendapatkan diskon. Terkadang saya lebih merasa puas membeli barang seharga 1 juta dengan diskon 20%, daripada barang tanpa diskon senilai 800 ribu. Padahal endingnya sama.

2. Opportunity loss effect
Jika kita membeli sekarang dengan harga 1000, sedangkan besok harga menjadi 1200, maka ada opportunity loss yang hilang sebesar 200. Perhitungan “beli sekarang mumpung murah” ini membuat kita merasa aji mumpung dan menjadi alasan untuk membeli. Tapi kita harus ingat, konsumsi bukanlah investasi.

3. Sense of urgency
“Hari Senin, harga naik”. Salah satu bunyi warning iklan property di televisi. Kondisi ini memicu rasa takut kehilangan di dalam otak (entah amigdala atau hipotalamus?). yang jelas harus ada time limit. Jika diskon diberikan tanpa batasan, maka konsumen akan menanggapinya secara biasa saja. Seperti toko buku diskon Toga Mas, yang memberikan diskon minimal 20% for all item and all time (demi bisa membaca buku baru gratis, saya pernah bekerja sebagai pelayan di toko buku ini saat masih mahasiswa)
Kombinasi feel good factor, opportunity loss effect, dan sense of urgency inilah yang mendorong orang untuk terus berbelanja, terkadang dengan utang, dan mengoleksi barang yang tidak mereka butuhkan, untuk dipamerkan ke orang yang tidak mereka kenal. Saya punya teman perempuan yang selalu merasa “berdosa” jika window shopping di mall. Karena pasti ada aja tas belanjaan yang ia tenteng jika melihat papan diskon yang dipajang. Jika ditanya kenapa membeli, jawabannya enteng: mumpung lagi diskon!.
Eits, tapi bukan berarti diskon itu buruk ya. Justru bagus donk jika kita bisa mendapat harga murah. Tujuan saya menulis tentang ini agar kita jangan mudah diperdaya oleh kata diskon yang melekat. Karena bisa saja itu hanya permainan psikologis para pemasar.

Srigala Eskimo
Masyarakat Eskimo memiliki cara tradisional untuk berburu srigala menggunakan pisau. Di malam hari, mereka mengolesi pisau itu dengan darah dan menancapkannya di tanah dengan ujung tajam berada diatas. Srigala yang memiliki killer instinct dan haus darah akan mendatangi umpan pisau berselimut darah itu.
Srigala yang lapar akan mulai menjilat pisau , dan secara tidak sadar (ditengah hawa beku), melukai lidahnya sendiri. Lidah yang tersayat pisau akan mengeluarkan darah dan terus melumuri pisau yang sebelumnya telah berlumuran darah. Srigala yang bernafsu tidak akan bisa membedakan darah yang mereka jilat. Dan semakin lama mereka menjilat darah, semakin haus mereka akan darah. Dan semakin lemas tubuh mereka. Srigala yang haus darah, pada akhirnya akan mati kehabisan darah.
Demikian juga dengan konsumen konsumtif yang terbujuk rayuan diskon. Mereka terkena efek impulse buying. Sebuah pseudo profit. Keuntungan semu dalam jangka pendek. Para konsumen konsumtif yang melihat diskon dan harga miring, tergiur tanpa berpikir panjang. Meski harus berhutang. Meski lebih besar pasak, daripada tiang.
Seperti srigala yang terus jilat.. jilat.. jilat.. karena lapar.. lapar.. lapar..
Mereka pun terus beli.. beli.. beli.. karena diskon.. diskon.. diskon..

Santa-nomics

Oleh: Yoga PS

Agama menghasilkan parade perayaan, dan perayaan membutuhkan kegembiraan. Untuk itulah Sinterklas dibutuhkan.

Ada yang bilang jika Sinterklas adalah Santo Nicholas. Seorang uskup yang baik hati dan gemar memberi dari Lycia, provinsi Anatolia, bagian dari kerajaan Roma. Ensiklopedia sejuta umat, Wikipedia, juga mencatat sinkretisme Sinterklas dengan budaya local. Ada Santa dalam budaya Jerman, Belanda, Inggris, dan terutama: Amerika.
Karena jasa Amerika, Santa bisa mendunia. Pada tahun 1863 seorang kartunis Amerika bernama Thomas Nast menciptakan karikatur Sinterklas seperti yang kita kenal. Santa mengalami dekonstruksi imagi. Transformasi diri. Santa Claus digambarkan sebagai laki-laki tua tambun berjenggot putih dan berbaju merah. Dengan rusa dari kutub utara ia selalu datang membawa hadiah disaat natal. Menyebarkan kebahagiaan. Menyelundupkan hadiah dikaos kaki bagi anak-anak yang telah berbuat baik.
Saya tidak akan berbagi cerita tentang sejarah Sinterklas (sebenernya saya pingin membagikan duit :p). Karena saya lagi mengidap kanker (kantong kering), saya hanya akan sedikit bercerita tentang bagaimana seorang kakek tua dari kutub utara mampu menjadi pendorong stimulus perekonomian dunia.
Well, let’s call it: Santa-nomics.
Sinterklas dan Ekonomi
Ekonomi dunia pada bulan November dan Desember berhutang banyak kepada Sinterklas. Berkat Santa, terjadi transaksi miliaran dollar, dan ekonomi dapat tumbuh serta terus berjalan. Lebih dari 20% penjualan retail di Amerika terjadi pada bulan November dan Desember. Nilai pasar untuk penjualan online saja mencapai: $ 29.1 milliar untuk tahun 2009. Bahkan, penjualan ritel pada saat krisis 2008 saja mencapai $ 94,06 milliar.
Berapa rupiah? Yah sekitar Rp.874,758,000,000,000 (asumsi nilai tukar Rp. 9.300/$). Jumlah yang cukup untuk membeli dan memperbudak seluruh pejabat korup di Indonesia sampai 8 turunan. Padahal Produk domestik bruto (PDB) Indonesia hanya 2.667 trilyun rupiah (data BPS semester 1 2009). Jadi, belanja orang Amerika selama dua bulan disaat krisis hampir sama dengan 32% nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh 230 juta orang Indonesia! Luar binasa.
Semua kegairahan konsumsi pasar menjelang akhir tahun takkan terjadi tanpa bantuan Sinterklas. Ia mampu menjadi tipping point (meminjam istilah Malcolm Gladwell). Penyebar wabah “sedekah”. Role model tentang budaya memberi. Karena tidak bisa dipungkiri, kebiasaan berbagi hadiah ketika natal semakin diperkuat oleh dekonstruksi sosial dari Sinterklas. Ia mampu membudayakan kewajiban berbagi hadiah yang terstruktur dan berdampak sistemik.
(woi Mas, jangan sok pinter, pake bahasa sederhana)
-Oke…oke bos… jadi gampangnya:
Sinterklas, bersama kapitalisme dan dibantu kekuatan media, telah menghasilkan sebuah budaya ritual konsumsi  yang “religius”. Proses konsumsi yang “hampir wajib” dilakukan dan dianggap sebagai sebuah pelengkap perayaan agama. Hampir sama dengan kebiasaan mudik, membeli baju baru, dan membuat ketupat bagi kaum muslim ketika hari raya lebaran.
Zaman dulu, kegiatan berbagi hadiah (lebih tepatnya: membeli hadiah) menjelang natal bukanlah budaya global. Tapi berkat Sinterklas, hampir semua anak yang merayakan natal berharap agar Santa rela mampir dan mewujudkan keinginan mereka. Bahkan setiap tahun diselenggarakan kompetisi: “letter for Santa”. Surat kepada Santa.
Carole S. Slotterback dari Universitas Scranton pernah mengadakan penelitian tentang “surat kepada Santa” ini. Ia menganalisa isi surat yang ditulis anak-anak dari tahun 1998 hingga 2002. Hasilnya? anak-anak rata2 hanya meminta mainan. Hanya 21% dari mereka yang berdoa bagi orang lain. Jumlah mainan yang mereka minta meningkat dari rata2 4,83 mainan tahun 1998 menjadi 6,28 mainan pada 2002. Harga “permintaan” mereka juga terus meningkat setiap tahun. Tahun 1998 biaya untuk mewujudkannya $32,09 dan pada 2002 harga permintaan mereka naik menjadi sekitar  $ 157,87.
Jadi bisa dibilang, Sinterklas adalah duta edukasi konsumsi bagi anak-anak usia dini.
Santa-nomics vs Satan-nomics
Meskipun di Indonesia penganut Kristen dan Katolik bukanlah mayoritas, tetap saja Sinterklas telah menjadi ikon global tentang belanja akhir tahun yang wajib dilakukan. Ia hadir dengan tangan terbuka menyambut pengunjung pusat perbelanjaan yang menawarkan diskon akhir tahun. Shop till you drop. Bahkan Michael Hall berkata:
“Santa Claus has been described as the world’s strongest brand.”
Hal inilah yang kemudian sering dikritik. Kapitalisme berkedok perayaan hari-hari besar agama. Hampir semua agama. Sesuatu yang divine berubah menjadi perayaan yang profan. Sayangnya, capital tidak mengenal agama dan moral. Dimana harta bisa tumbuh dan diakumulasi, ia akan hadir. Lagipula, apa yang salah dengan konsumsi merayakan hari raya suci?
Perekonomian membutuhkan stimulus konsumsi. Produsen membutuhkan konsumen. Penjual membutuhkan pembeli. Jika tingkat konsumsi lesu, pertanda turunnya kegairahan pasar, maka ada yang salah dengan perekonomian. Amerika sampai menjalankan quantitative easing untuk mendorong konsumsi dalam negeri. Obama menghabiskan 50 miliar dollar untuk stimulus ekonomi dalam infrastruktur. Menghasilkan 14,600 proyek dan menciptakan 2,7 juta lapangan kerja.
Idem ditto (podo wae/sama saja) untuk kasus Indonesia. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan target pertumbuhan ekonomi 2011 sebesar 6,3 persen akan didorong oleh peningkatan sektor konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 5,1 persen.
Agama memang membutuhkan perayaan. Tapi jika dilakukan dengan berlebihan, bisa-bisa kita justru menjadi pemuja setan. Larut dalam nafas hedonisme dan kesenangan, melupakan esensi dari sebuah peringatan.
Sinterklas datang membawa kebahagiaan dan semangat berbagi. Tulus memberi. Meskipun kapitalisme dan media massa membuatnya menjadi ikon konsumsi yang abadi. Tapi kita harus ingat pesan Kahlil Gibran dalam magnum opus-nya, Sang Nabi:
“Bila kau memberikan hartamu, tidaklah banyak arti pemberian itu. Bila kau memberikan dirimu, itulah pemberian sejati yang penuh arti”.
Mohon maaf, saya bukanlah pemeluk Kristen atau Katolik. Tapi bukankah tujuan lahirnya Yesus sebagai juru selamat adalah untuk memberi dan berbagi kasih sayang? Terutama bagi kaum papa dan teraniaya. Bukan untuk berpesta dan berbelanja hingga lupa dunia.
dari b2.blogspot.com
Daftar bacaan biar dikira orang pinter
Hall, C. Michael. 2008. Santa Claus, Place Branding and Competition. Fennia 186: 1, pp. 59–67.
Slotterback, Carol. 2006. Terrorism, Altruism, and Patriotism: An Examination of Children’s Letters to Santa Claus, 1998–2002. Social Summer  Vol. 25, No. 2, pp. 144-153.
Tynan, Caroline and Sally McKechnie. 2006. Sacralising the Profane: Creating Meaning with Christmas Consumption in the UK. European Advances in Consumer Research Volume 7
The 2009 Retail Business Market Research Handbook
The 2010 Retail Business Market Research Handbook