Should I Accept the London School of Economics PhD Economics Offer?

Saya keterima di LSE? Aamiin. Hehehe. Bukannnnnnnn, judul ini memang berasal dari diskusi di sebuah forum bernama www.urch.com. Nggak tahu sih forum tadi terkenal apa nggak, cuman dapet dari google aja. Judul di atas ini saya dapat di laman ini setelah mencari-cari di google dengan kata kunci: [Ph.D in Economics LSE].

Image 

Beda Kelas Beda Pertanyaan

Nha, dalam diskusi itu ane kayak membaca Kompasiana, kadang yang lucu bukan artikel utama, tapi komentar-komentarnya. Dari sana ane melihat beberapa hal-hal sebagai bahan perenungan ane sebelum sekolah besok.

Pertama-tama, misal kamu ditanyain gitu jawaban Anda gimana? yang anak Ekonomi? Awalnya, kalo saya sih pengen nyakar-nyakar si penanya!!! (hehehe, selow selow).  Gimana nggak, dapat sekolah itu susah dan dapat satu beasiswa saja sudah alhamdulillah. Buat ane yang kecerdasannya di bawah rata-rata untuk masuk perguruan tinggi ternama, masuk LSE merupakan mimpi di siang bolong. Bagai pungguk merindukan bulan. Meskipun begitu, wajar bagi beberapa orang pertanyaan kayak gitu karena memang mereka sudah berada pada taraf bisa memilih.

Aye jadi inget, dosen aye pernah bilang, waktu awal sekolah S2 memang bukan pada kondisi belum bisa memilih, tapi suatu saat nanti jika sudah berada pada “kelas”-nya kita bisa kok kayak mereka. Uniknya, katanya ada fenomena menarik mahasiswa master pas sudah sekolah di luar negeri. Awal-awal punya ambisi bisa masuk di sekolah-sekolah top pas S3 entar. Eeee, akhirnya layu sebelum berkembang. Setelah ngalamin susahnya sekolah di master, lulus S3 di sekolah biasa-biasa aja udah syukurrrr  :D

Takut atau Over Expectation?

Perenungan lain setelah mbaca-mbaca diskusi kayak gitu, lama-lama ane mikirnya jadi beda gan. Iya sih si penanya pinter (Coba lihat profile-nya dan jika memang itu bener lho dia ngomongin profilenya. hohoho) dan pantes jika diterima di lembaga pendidikan bagus seperti di LSE. Tapi dia pun ternyata juga ditolak oleh 10 institusi yang lain yang menurut dia ok (Dia kebanyak ditolak sekolah Ivy League). Nah, pinter aja nyoba apply sekolah aja banyak apalagi kayak ane gan, dan mungkin agan-agan yang IPK-nya nggak cumlaude kayak ane kudu apply lebih banyak lagi (kite senasib). hehehe.

Selain itu, orang-orang dalam obrolan itu kok kayaknya mereka nggak takut ngomongin hal-hal yang gede. Misal dia si penanya udah daftar tuh ke rombongan top schools in economics. Lah, kenapa ane nggak nyoba kayak die? Bener apa nggak, katanya lulusan UGM itu nampa uga nrimo atawa gampang bersyukur. Belum tahu ada penelitian yang membuktikan sih, cuman dari beberapa pengamatan kayaknya seperti itu. hehe. Dan saya lulusan UGM :D Atau bisa jadi bukan karena nrimo  tapi karena takut nggak diterima? Haaaaa kalo ini sepertinya harus ane evaluasi, toh ane anak Ilmu Ekonomi UGM juga telah melewati persaingan ketat dengan ribuan calon mahasiswa buat lulus UM kemudian lulus skripsi hingga wisuda. Perenungan tahun kemaren sih yang ane dapat itu jangan terlalu jahat ama diri sendiri, PEDE dikit lah napa jadi orang. Hohoho.

Disamping minder, penyakit yang lain adalah tersering over expectation ama kampus atau institusi yang hendak kita masuki. Ane dulu mikirnya nggak bakalan lulus dari UGM, karena takut akan ekonometri, matematika dan statistika. Sampai aye pernah dapat E buat mata kuliah Ekonometrika II gan, sungguh ter-laa-luu. Eh eh lulus juga ternyata, meski pada akhirnya kemelut IPK-nya gan. Catatan lain, ane pernah nemuin dan kenal beberapa orang yang pernah kuliah di LSE, Cambridge, Harvard, Wharton, Boston, Cornell dll, dan kesemuanya masih makan nasi gan! So, kita yang masih sama-sama makan nasi, masih bisa kok  jadi mahasiswa di YuKe atau YuEs sono. [Jangan-jangan sama-sama nasi tapi beda lauk gan :P ]

Catatan redaksi: Jangan kalah sama Maudy Ayunda gan! Si eneng ini barusan diterima di dua universitas ternama untuk jurusan EKONOMI yaitu di Oxford University dan Columbia University dan konon akhirnya milih Oxford. Semangat Gan, jangan kalah! Stay Hungry Stay Foolish!

Note refleksi nggak jelas di tengah malam saat melawan masuk angin yang mendera …
Kwitang, 18 Februari 2013

Advertisements

Progonomics [Bagian 2]


Oleh: Pugo Sembodo*)

Progo is Hot, Flat, Crowded
Ada buku menarik bikinan Thomas Friedman (2008) yang mencoba menjelaskan fenomena dunia akhir-akhir ini. Khususnya Amerika pasca dampak dari peristiwa 9/11. Friedman menjelaskan bahwa dunia ini sedang panas (hot), datar (flat) dengan adanya perkembangan teknologi internet dan transportasi berkecepatan tinggi) dan padat (crowded) karena saking banyaknya penduduk dan perubahan iklim yang membuat dunia makin panas. Buku tersebut berjudul The World is Hot, Flat, Crowded. Sepertinya, judul tersebut analog dengan Kereta Progo dalam beberapa konteks.
Progo is hot, ini tidak bisa dipungkiri, fakta yang sangat nyata. Progo itu panasss benerrr. Jika anda melakukan perjalanan pada siang hari, saya bisa mengandaikan bahwa progo adalah spa terpanjang di dunia! 8 gerbong! 11 jam lagi. Apalagi, ada banyak aroma terapi. Aroma dari berbagai jenis ketiak penumpang percampurannya akan menciptakan aroma tak karuan. Bila kita dapat jatah berdiri, selamat berjuang-lah pokoknya. Sering saya mendengar teman-teman harus rela berdiri dari awal sampai akhir perjalanan.Bayangkeun coba.
Progo is flat. Memang, untuk tarif progo bersifat flat, semua orang harus bayar 35 ribu. Mau penumpangnya presiden sampai mahasiswa tingkat akhir, ya segitu-itu. Tapi ada fenomena flat lain: kursi yang flat. Saya nggak habis pikir semua fasilitas untuk semua kelas ekonomi di berbagai moda transportasi selalu kursi yang flat, keras dan bisa dibayangkan menjalani perjalanan 12 jam dengan kursi seperti itu. Kondisi kursi ini hampir mirip dengan kursi saya pas nonton Indonesia-Filiphina di Senayan pada Semifinal. Saya duduk yang di kursi yang flat, keras, pas El-Loco ngegolin nggak kelihatan karena semua orang berdiri. Itulah nonton ala kelas ekonomi.
Kembali ke Progo, saya agak sedikit susah menjelaskan gimana rasanya. Yang jelas pantat panas adalah output yang jelas dari kursi yang flat nir-busa dan keras di punggung, disamping lutut yang mungkin pegel-pegel akibat nggak bisa selonjoran seperti di kereta eksekutif. Kata-kata lebay teman saya, Bagaikan digebukin 5 Ade Rai!
Progo is crowded, coba imajinasikan bagaimana jika kereta yang peruntukannya untuk hanya 150 penumpang diisi hingga setiap sudut bahkan jika waktu lebaran jendela beralih peran menjadi pintu. Di saat mudik, weh, yang kayak gini jamak terjadi, coba kalo anda cukup gemuk, malah nyangkut dah di jendela,hehe. Atau mungkin sebelum berangkat mudik, apakah kita harus latihan game spider web? :
Progo’s Multiplier Effects
Ngeri kan? hehe. Atau sebenarnya nggak sesangar yang sudah saya ceritakan tadi. Saya mungkin terlalu L-B-Y. Nha, dari kondisi tersebut pasti ada yang diuntungkan dengan situasi yang ada (meskipun mereka juga adalah penyumbang kesumpekan dan kepanasan kereta) mereka mendulang rejeki dari sana. coba saya sebutkan satu persatu penjual nasi bungkus, mijon, grinti, popmie dan minuman hangat lainnya, penjual kipas angin, penjual koran bekas buat alas, penjual batere hape nokia, tukang pijet, boneka dan mainan anak, penjual lanting dan sale pisang, penjual pecel dan kumpulan penjual lainnya termasuk penjual senter yang cara nambah energinya dengan dipompa. Progo ternyata creates so many job opprtunities dalam golongan pekerjaan informal . Komentar teman saya ketika sudah naik progo pasca kami lomba di IPB adalah progo itu enak, karena dimana lagi di kereta ada penjual datang ke kita tanpa susah payah. ini Pasar Berjalan terpanjang dan itu semua dilayani.
Yang perlu disayangkan adalah benar-benar kreativitas para pedagang mandeg pada beberapa diantaranya saling bersaing dan membunuh bisnis antar sesama. Contoh, suatu kali saya naik progo ngobrol dengan lulusan FEB UGM juga. ternyata dia angkatan 2000 yang sekarang bekerja sebagai akuntan di sebuah Perusahaan Otomotif Ternama. Taklama muncul beberapa pedagang nasi bungkus. Dia bilang kepada saya, mau Nasi Paket? wah mau dalam hati, namun saya kudu jaim juga, maka saya menggeleng menggantung. “Tunggu dulu” kata dia, “nunggu penjual yang sebenarnya, kalau yang lain nggak enak”. lalu muncullah bapak berkulit hitam dengan kumis. Dia membawakan di baki sekitar 6 bungkus makanan dalam styrofoam. Setelah dibuka ternyata penyajiannya menarik dan rasanya enak. Nasi Paket itu dan dijual sekitar 11 ribu dan rasanyapun enak. Endingnya saya dibayari, jadi enak nih. Sekalian curhat, itu adalah masa-masa awal saya kerja di Jakarta, tentu tahu kondisi perekonomian saya [lha wong dari naik Progo saja sudah ketahuan :D].
Pada perjalanan saya dengan Progo selanjutnya, Eeee saya beli nasi bungkus tapi ayam-nya keras banget, asin dan nasinya kering. Saya mencobanya dua kali dan mendapatkan hal yang sama. Fenomena kayak gini yang bikin usaha nasi bungkus bapak yang tadi menjaga kualitas akan menurun bahkan bisa pailit karena image-nya turun, padahal sudah kita bahas sebelumnya bahwa penumpang Progo itu adalah penumpang yang secara rutin dan periodik. So, pada perjalanan selanjutnya akan kapok beli.
Aneka Fasilitas Tanpa Batas
Beranjak ke fasilitas, ada lho fasilitas di Progo yang yang tidak bisa didapat di angkutan lain. Akan saya bandingkan deh dengan naik pesawat. Di pesawat kita nggak boleh ngidupin hape, nggak bisa silaturahmi deengan orang luar, nggak bisa kangen-kangenan pas perjalanan. Eh, jangan salah lho, di Progo kamu bisa ngidupin hape till the end. Bahkan ada yang jualan batere! Beneran, kamu bisa online terus chatting, fesbuk, twitteran. Elo bisa update lah dan tentu saja gahol. Semua sarana buat gaul selalu ada di Progo, apakah itu bisa di pesawat? Kalo di Amerika sih denger-denger Elo ngidupin hape (kok jadi Elo Guwe :D], langsung diturunin balik ke bandara sebelum take-off karena membahayakan.
Yang lain, di pesawat semua orang terkesan jaim, diem semua. Kamu ngakak ketawa pasti diliatin. Kamu kentut (dan kedengeran] dimarahin. Kamu ngorok pada protes. Di Progo, sosialiasi atau berkomunikasi antar penumpang pun terjadi dengan lancar. Pernah suatu saat di depan toilet kereta kita bisa tertawa terbahak-bahak saling lempar guyonan ala rakyat kecil.Saya pun merenung, memang hebat bukan mainan rakyat kecil Indonesia. Mereka masih bisa tertawa di tengah derita. To sum up, saya merasakan interaksi yang luwes dan tidak ada batas.
Selain fasilitas-fasilitas tadi, perjalanan dengan Progo memungkinkan kita menikmati perjalanan secara panjang. Anda bisa menikmatinya selama lebih dari 11 jam, jika di pesawat paling banter hanya 6 jam untuk perjalan domestik. Selain itu jika kita menggabungkan semua fasilitas dari para pedagang di Progo kira-kira anda akan mendapatkan fasilitas seperti ini:
“Naik kereta dengan aroma spa, diberi pelayanan pijat sambil tetap dapat berchatting dan tetep gaul and update terus, makan pecel atau nasi bungkus dengan beralaskan koran, anak-anak kita bisa bermain boneka dan kita akan mendapatkan angin sepoi-sepoi dari kipas angin yang kita beli.”
Selamat mempersiapkan dan menunaikan Ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan dan semoga semua amal ibadah kita diterima oleh Allah. Selamat berkendara atau mudik dan semoga sampai selamat sampai tujuan :D
-Bersambung, tulisan kedua dari tiga tulisan-
Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, 29 Juli 2011.
[Subhanallah……Indonesia is a Beautifullllll Country ^^V]
*)Penulis lagi jalan2 keliling Indonesia ngerjain proyek Bank Dunia

Progonomics

Oleh: Pugo Sambodo*

Progo: 22 Jam penuh cerita

Anda pernah naik kereta api ekonomi? kereta api yang aku garis bawahi kereta mendapatkan subsidi negara atas operasionalnya. Ekonomi KRL atau antar kota antar propinsi? Bila anda pernah, wah anda nambah satu prasyarat disebut rakjat. Jika belum, anda rugi! Sebagai orang Indonesia, fenomena sosial-ekonomi di kereta ekonomi apapun jenisnya sungguh unik dan akan memberikan pedalaman kita tentang dinamika hidup rakjat ketjil. Ada dua kereta ekonomi yang menarik perhatian saya, pertama adalah kereta ST12 dan Progo.

ST12 adalah kepanjangan dari Sri Tanjung (Bayuwangi-Jogja) yang menghabiskan 12-14 jam perjalanan maka aku namakan ST12 dan Progo kereta jurusan Stasiun Lempuyangan (Jogja)-Stasiun Pasar Senen (Jakarta). Kali ini aku akan kita bahas Progo dulu. ST12 belakangan sahaja, baru nggak seneng yang melo-melo.hehe.

Progo setahu saya diambil dari nama sungai/kali yang mengalir di sepanjang Jogja, hingga ada nama kabupaten yang namanya Kulon Progo karena berada di barat Kali Progo. CMIIW. Kereta ini melewati beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Seperti Wates, Kebumen, Kroya, Purwokerto, Cirebon, Karawang, Bekasi, Jakarta. Kereta Progo berangkat dari Jogja pada pukul 16.45 dan diperkirakan (garis bawahi kata perkiraan) akan sampai di jakarta pukul 03.00.

Kereta ini berangkat balik dari stasiun Pasar Senen pada pukul 21.00. dan akan landing di lempuyangan pada pukul 07.00. Ketika dirata-rata maka perjalanan Anda dengan progo akan menghabiskan waktu 22 jam Pulang-Pergi. Lalu ada apa di balik 22 jam itu? Apa saja yang terjadi? Kenapa bisa Arumi tidak pulang-pulang ke rumah? Siapa juga sebenarnya Briptu Norman? Jawabannya ada di Progo Investigasi…

Supply and Demand
Sebagai informasi awal harga tiket progo cuma Rp35.000,00 sekali jalan. Murah kan?! Coba bandingkan dengan kelas bisnis (sekitar Rp130.000,00-Rp140.000,00) yang berarti hingga 4 kalinya dan nggak apple to apple bila dibandingkan dengan kereta eksekutif pada jurusan yang sama sekitar Rp270.000,00-Rp280,00 (8x jendral!). Kapasitas normal Progo sekitar 112 orang pergerbong.

Setahu saya dan karena tidak memperhitungkan detail sepertinya ada 8-10 gerbong. So, kapasitas sekali berangkat normal adalah antara 896-1120 orang. Tentu dalam kenyataannya akan lebih dari itu karena yang numpang bukan hanya orang tapi terkadang barang. Lalu siapa dan apa saja isi Progo?

Di Progo kita bisa melihat orang dengan ciri-ciri yang berbeda-beda dan ragam profesi. Meski begitu tetap saja secara mayoritas ditumpangi oleh masyarakat yang berpendapatan menengah ke bawah. Aku mengklasifikasikan mereka dalam 6 kelompok penumpang antara lain: (1) Penumpang Biasa; (2) Penumpang Merangkap Pedagang; (3) Penumpang PJKA; (4) Penumpang Jalan-Jalan; (5) Penumpang Gedongan yang Irit dan yang terakhir (6) Penumpang Nggakbayar.

Penumpang Pertama adalah Penumpang Biasa adalah penumpang yang biasa-biasa saja, nggak aneh-aneh dan penurut [ eniwei sebenarnya nggak perlu dimasukkan klasifikasi juga ya]. Lawannya tentu seperti yang dinyanyikan Afgan: Bukan Penumpang Biasa. Mereka termasuk 5 kelompok penumpang lainnya.

Penumpang kedua adalah Penumpang Merangkap Pedagang yaitu mereka yang menggunakan jasa Progo untuk mengantarkan barang dagangannya. Kadang penumpang kayak gini yang bikin kesel dan latihan kesabaran. Bagaimana tidak, dia sudah menguasai spot-spot tertentu sehingga mengambil space duduk buat orang lain. Seperti sudah reserve dulu yang lain tak boleh ganggu. Dan kadang tanpa wajah berdosa. Iyalah suka-suka guweh gituh loh, Lohhhh- Guwehhhh-End. Tempat hajat untuk orang banyakpun ikut dikapling,titip barang dagangannya di toilet adalah hal yang lumrah. Barang yang dibawa pun semacam beras, Jahe, Kunyit, kadang melon atau semangka, souvenir pernikahan (what!), nano-nano pokoknya. Memang bener-bener toilet di progo adalah toilet serbaguna. Bahkan untuk tempat tidur! Ngorok lagi! di dekat saya lagi! Ya Allah paringana sabar. Salahku juga sih pilih tempat duduk dekat toilet, pas itu memang baru apes dan esok harinya tepar masuk angin. Tapi tidak semua Penumpang Merangkap Pedagang jelek, mereka minta izin dulu, menaruh barang pada tempat yang bukan tempat duduk, masih behave-lah ya, biasanya mereka orang Jogja [hahaha promosi].

Lanjut. Penumpang ketiga yaitu Penumpang PJKA, Pulang Jum’at Kembali Ahad karena harus berangkat dai Jakarta/Jogja pada hari jumat dan kembali ahad karena kudu ngantor pada hari senin. Kalo boleh saya sebut mereka ini dengan Progo Frequent Traveller,ini taktik PT. KAI mencoba menyaingi Garuda Frequent Flyer [ngarang]. Progo, dengan melihat mereka seperti taman orang jatuh cinta dan memendam rindu. Iya, rindu akan keluarga pulalah yang membuat para PJKA ini mau secara rutin menumpang progo. Coba kalo nggak, mana mau. Ada yang seminggu sekali, ada yang 2 minggu sekali atau sebulan sekali. Biasanya mereka sudah cukup organized dalam menaiki progo, sudah pesan jauh-jauh hari jika dari jakarta. Tiket progo dari Jakarta bisa dipesan seminggu sebelum keberangkatan jadi jika mau pulang dari Jakarta, sejak sabtu sudah bisa kita pesan. Jika dari Jogja maka diutuslah orang tersayang untuk memesankan. Biasanya bisa Istri, teman atau keluarga,mereka antri di hari jumat pagi (hanya dapat dipesan mulai H-2 untuk Jogja) untuk mengantrikan. Mereka juga terkadang berombongan.

Dari berbagai dialog yang aku lakukan terlihat banyak diantara mereka yang sudah menjalani itu bertahun-tahun. Bapak-bapak yang sudah belasan tahun bahkan ada mbah-mbah yang hampir 25 tahun. Hitungan matematisnya dalam seminggu mereka berada di kereta selama 22 jam, hampir dalam seminggu mereka kehilangan satu hari, bagaimana jika dijumlahkan hingga bilangan tahun? Benar-benar wasting time, tapi logika wasting time kayak gitu nggak jalan untuk mereka yang sedang rindu. “Bagi suami, apalah yang nggak untuk istri” kata seorang istri teman yang rela mengantri tiket progo untuk suaminya tercinta di tiap hari Jumat. Rindu ternyata mahal harganya.

Penumpang keempat adalah Penumpang Jalan-jalan, biasanya adalah anak muda yang mau backpacking mau jalan-jalan baik ke Jakarta atau ke Jogja. Mau nonton Monas dan Dufan atau sebaliknya mau ke Prambanan, Kraton dan Malioboro. Atau ada yang datang untuk menjenguk keluarga di Jakarta, cucu yang baru lahir dan motif jalan-jalan lainnya. penumpang kelima saya sebut Penumpang Gedongan yang Irit, karena ada juga lho yang mereka itu cukup berkemampuan untuk membeli tiket pada bisnis dan eksekutif namun tetap Mrogo, dengan alasan lebih murah/irit. Uniknya, pada hari seninnya mereka ke jakarta naik pesawat! sungguh kombinasi yang menawan.Taktanggung-tanggung pegawai bank besar di Indonesia yang ingin ketemu pacarnya di Jogja, eksekutif di sebuah perusahaan otomotif yang ingin tilik keluarga, dan paspampres istana kepresidenan yang mau dolan.

Hal ini paradox dengan kisah teman kostku yang bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Dia berasal Wates, Kulon Progo, taklebih moderen dari Bantul. Aku cukup kagum dan terheran karena dia sudah fasih Gue-Eloh, seakan hilang ke-Wates-annya. Suatu kali bercerita pada temanku yang lain bahwa pulang ke Jogja dengan menggunakan pesawat Singa Terbang. Wow! pikirku . Bukannya aku merendahkan bekerja sebagai pelayan, hanya saja jika itung-itungan normal maka pendapatan teman saya ini kurang dari teman-teman saya yang PJKA tadi (dengan asumsi dia nggak dapet warisan tanah 1000 hektar atau orang tuanya pengusaha kaya tentunya). Transportasi tak hanya terkait pendapatan, ia juga terkait selera.

Penumpang keenam adalah Penumpang Nggakbayar, ini ini yang kebangetan. Mereka ini adalah penumpang yang tidak beli tiket dan nekat. Mereka biasanya cerdik dengan jalan-jalan berlawanan arah kondektur ketika dimintai tiket. Mereka lihai dalam hal kucing-kucingan. Pas lagi apes ya ketangkep, dan diturunkan stasiun selanjutnya. Ini yang aku sangat kasihan, Rp35.000,00 saja tidak membayar. Okay, sudah tahu gambaran awal wajah Progo kan?

[Bersambung: Tulisan pertama dari tiga tulisan] sumber gambar

Bantul, 8 Mei 2011

Saat mendengar HP berbunyi dan bergetar tanda masuknya SMS pun sudah cukup membuat hati berdegup kencang :)

*)Pernah menjadi asisten dari asisten wakil Presiden RI Boediono. Lagi nyari jodoh :p (klo mau profil yang bener nyusul yahhhh…)

/** **/ var sitti_pub_id = “BC0004552”; var sitti_ad_width = “610”; var sitti_ad_height = “60”; var sitti_ad_type = “5”; var sitti_ad_number = “2”; var sitti_ad_name = “”; var sitti_dep_id = “14103”;