Sedikit Sharing Bodong Mengenai Audit

oleh: Benjamin Ridwan gunawan

Apa sih yang menjadi kunci utama dalam urusan efisiensi dan efektivitas dalam audit? Simpel sekali, Jawabannya adalah sampling. Teknik sampling yang efektif.
Seorang auditor dituntut memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengaudit, tertera dalam standar audit, bagian ‘standar umum’ nomor 1 (satu), memiliki kemampuan di bidang akuntansi minimal telah menamatkan sekolah akuntansi. Dan standar audit nomor 3 (masih dalam bagian ‘standar umum’), seorang auditor wajib menggunakan kemampuan auditnya sebaik mungkin.
Permasalahan di dunia audit di Indonesia adalah jumlah perusahaan untuk diaudit jauh lebih banyak daripada jumlah KAP nya. Otomatis, setiap KAP di Indonesia akan memiliki klien untuk diaudit tidak mungkin hanya satu dalam satu periode.
Kasus lapangannya, masa akhir tahun adalah periode di mana hampir semua perusahaan yang berdiri di Indonesia membutuhkan jasa audit untuk rilis laporan keuangan. Sedangkan jumlah perusahaan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah KAP (sudah dijelaskan di paragraf di atas). Otomatis, muncul lonjakan permintaan, sedangkan penawaran sedikit. Akibatnya, banyak KAP yang harus lembur demi menyelesaikan proyek ‘bejibun’ dalam waktu yang singkat.
MENGAPA SINGKAT?
Dalam akuntansi, penyajian laporan keuangan harus memenuhi konsep yang tertera di dalam PSAK (Pedoman Standar Akuntansi Keuangan), dan kini ada IFRS. Di dalam PSAK, laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan harus memenuhi beberapa konsep, salah duanya adalah ‘Keandalan’ dan “Relevan’.
‘Keandalan’, laporan keuangan harus dapat memberikan informasi yang andal dan tidak basi, hal ini maksudnya adalah  informasi yang tertera di dalam laporan keuangan tidak boleh terlambat pelaporannya, karena akan segera digunakan oleh para user (Pengguna) laporan keuangan dalam mengambil keputusan ekonomi. Bila terlambat maka keputusan yang diambil oleh usertidak akan berguna lagi pada waktu itu, karena informasi yang tertera adalah informasi basi.
‘Relevan’, laporan keuangan harus dapat menjelaskan keadaan sebenarnya kondisi perusahaan secara tepat. Karena lapran keuangan tersebut akan dipakai oleh user untuk mengambil keputusan ekonomi. Bila informasi yang tertera di dalam laporan keuangan tidak relevan, maka pengambilan keputusan akan tidak efektif, karena informasi yang tertera tidak merepresentasikan keadaan perusahaan yang sebenarnya.
TANTANGAN SEORANG AUDITOR
Auditor harus mampu menyelesaikan audit laporan keuangan dalam waktu yang efisien, namun tetap efektif dalam mengaudit, sehingga lapooran keuangan yang dirilis (dipublikasikan) dapat tetap dipertanggungjawabkan (relevan).
BAGAIMANA CARANYA
·         Sebenarnya jawabannya simpel, dalam mengaudit hal yang harus dicamkan ada semua dalam ‘standar audit’. Si auditor yang menangani proyek audit harus memiliki kecakapan dan pengalaman audit yang mumpuni.
·         Bila auditor tersebut masih baru, dia harus didampingi atau disupervisi.
·         Sebelum proyek audit dimulai, lakukan perencanaan audit yang jelas dipimpin oleh auditor senior.
·         Lakukan pem-programan audit dengan baik. Kunci untuk menyelesaikan proyek audit dengan efisien dan efektif adalah pada teknik samplingnya.
·         Dalam perencanaan audit, buat program yang terencana dengan baik. Lihat resiko yang dibawa perusahaan. Semakin kecil resiko bawaan perusahaan maka semakin kecil sampel yang perlu diambil.
·         Pelajari baik-baik kondisi bisnis internal perusahaan, utamakan ambil sampel dokumen yang berhubungan dengan bisnis inti (core-business) perusahaan.
INGAT
Semakin banyak kamu mengambil sampel, semakin representatif hasil auditmu, namun mau berapa lama kamu mengaudit? Setahun? Konsep ‘Keandalan’ hilang sudah bila auditmu terlalu lama.
Mengambil sedikit sampel saja supaya range waktu auditmu sedikit. Semakin sedikit sampel yang kamu ambil, resiko subtantif penerimaan hasil audit semakin besar, maka konsep ‘relevan’ hilang.
Pilihlah sampel audit yang proporsional tergantung jenis bisnis perusahaan yang diaudit, dan besar-kecilnya resiko bawaan perusahaan klien auditmu.
CATATAN
Setiap KAP memiliki teknik samplingnya masing-masing. Ada yang menggunakan sampling statistika, dan ada juga yang random (yang ini jelas parah). Biasanya, tiap KAP normalnya mengambil sampel dokumen dari setiap bulan, dari bulan di awal periode sampai bulan di akhir periode. Setiap bulannya, sampel yang diambil memiliki nilai sekitar 20 – 50% dari nilai sebenarnya. Misal dokumen penjualan, dalam bulan Januari terdapat penjualan sebesar satu milyar, ambillah dokumen untuk disampling total nilainya antara 200 – 500 juta. (Mengerti?)
KESIMPULAN
Semakin lama kamu menjalani profesi ini, semakin mahir kamu dalam menentukan sampel. Karena menentukan sampel tidak sesimpel ‘klik by computer’. Terkadang dibutuhkan ‘sense’ dalam menentukan sampel. Audit itu menyenangkan bila kamu tahu ilmunya. J Enjoy it!

Saham Masa Kini Dan Masa Lalu

By: Benjamin Ridwan Gunawan (Akhirnya… setelah 3 bulan absen hiks)

Warren Buffet, orang terkaya di dunia kedua! Actually at 2009. orang super kaya ini terlahir dengan kemampuan bermain saham yang begitu apik. Murid didikan sang legenda saham, Benjammin Graham ini membuktikan ajaran gurunya pada dunia masa kini dengan menjadi salah satu orang terkaya di jagat bumi ini!

Sudah banyak teman-teman yang sekarang bermain saham, dari orang tua, hingga yang muda. Sepupu saya saja yang masih SMA sudah jadi broker saham, WAW! (Sok dramatis).
Namun banyak juga kisah kelam dari jenis investasi yang mampu mengangkat Warren Buffet ini menjadi jajaran orang terkaya di permukaan bumi ini. Banyak yang jatuh berguguran, alias bangkrut dari bisnis ini. WHY?

Investasi saham mengklasifikasikan pemainnya menjadi dua jenis, yeah saya ulangi lagi, menjadi dua jenis (Mau diulang lagi yang ketiga kalinya? Saya kira tidak perlu).

JENIS PEMAIN SAHAM
1. Spekulan, atau bahasa Las vegasnya penjudi, atau bahasa jawanya Gambler.
2. Investor.
Apa bedanya antara spekulan dengan Investor dalam hal investasi saham ini? Benjammin Graham pernah berkata, “Investasi saham merupakan kumpulan informasi yang didapat dari berbagai analisis dan perhitungan yang matang sehingga dapat diambil sebuah keputusan yang tepat, pemain saham yang tidak melakukan hal tersebut disebut sebagai spekulan”.
Apakah anda tahu, ajaran Benjammin Graham ini sudah banyak dilupakan oleh para pemain saham masa kini. Mereka bermain saham demi keuntungan jangka pendek semata, Laba, Gain atau uang segar. Apapun itu, pemain saham sekarang ini banyak yang melupakan ajaran-ajaran utama benjammin Graham, yang kini masih terus dilestarikan oleh muridnya, Warren buffet.
Investasi saham itu bukanlah sekedar berinvestasi dan besok anda menjadi kaya, tapi bermain saham harus dibayangkan sebagai anda adalah sang pemilik bisnis dari saham yang anda beli.
Bermain saham tidak hanya sekedar menganalisis laporan keuangan perusahaan, perusahaan itu merupakan jenis bluechip atau bukan. Tidak seenteng itu, Benjammin Graham mengajarkan agar kita menganalisisnya secara matang, dan ambil keputusan secara bijaksana.

Teknik Investasi Warren Buffet (yang kini terus dilestarikan oleh Warren Buffet)

Ada tiga analisis yang harus dilakukan sebagai pemain saham, dua analisis dasar yang diajarkan di kurikulum kita dan satu analisis yang muai ditinggalkan para pemain saham masa kini.

1. Analisis Teknis, Pelajari laporan keuangan dan lapoiran tahunan perusahaan yang akan di investasikan, pelajari laporan tersebut 5 sampai 8 tahun kebelakang. Menurut Benjammin Graham, pelajari semua laporan tahunan dari semua perusahaan yang listing yang sejenis. Misal, anda mau berinvestasi di bisnis manufaktur, dan terdapat 200 perusahaan yang listing, maka pelajari 200 laporan perusahaan manufaktur tersebut masing-masing 5-8 tahun kebelakang. Makanya Warren Buffet pernah bergumam investasi saham jaman sekarang makin rumit dengan bertambahnya perusahaan yang listing.
Berat? Yeah inilah yang dilakukan Benjammin Graham dan Warren buffet, kalau anda ingin sesukses mereka cobalah hal ini.
2. Analisis Fundamental, Laju perekonomian perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh sektor ekonomi saja, kondisi sosial, kondisi militer dan politik negara juga dapat mempengaruhi laju perusahaan. Bacalah koran setiap hari, bacalah lingkungan bisnis perusahaan yang anda investasikan settiap waktunya.

INGAT: Investai saham bukan sekedar investasi, tapi bayangkan anda sebagai pemilik bisnis dari perusahaan yang anda beli sahamnya.

3. Analisis Kualitas Manajemen, sebenarnya analisis yang ketiga ini bukan original temuan Benjammin Graham. Namun dari guru kedua Warren Buffet, Philip Fisher. Analisis ini menerangkan bahwa membaca kondisi perusahaan tidak bisa hanya secara kuantitas saja. Dan juga tidak cukup dengan membaca kondisi lingkungan di mana perusahaan itu berdiri. Baca juga kualitas manajemen dari perusahaan yang anda investasikan. Pelajari kehandalan manajemen perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Apakah tim manajemen merupakan tipe monoton atau tipe inovatif.

Menurut Philip Fisher, perusahaan dengan kualitas manajemen yang handal, mampu melewati masa krisis. Dalam kondisi sosial-politik-ekonomi negara sekacau apapun, perusahan akan terus bertahan dan mampu melampauinya.

Sekali lagi Saya INGATKAN: Investai saham bukan sekedar investasi, tapi bayangkan anda sebagai pemilik bisnis dari perusahaan yang anda beli sahamnya.

Satu hal lagi, Warren Buffet bukanlah tipe pemain saham short-term. Beliau menginvestasikan sahamnya pada perusahaan-perusahaan pilihan (yang telah dianalisis habis-habisan tentunya) dengan saham kepemilikan mayoritas, beliau mengimajinasikan dirinya sebagai pemilik bisnis tersebut dan mempercayai sahamnya untuk jangka yang sangat panjang.

Bagaimana Warren Buffet bisa kaya?

Beliau kaya dari dividen yang diperolehnya, karena saham yang dimilikinya adalah saham mayoritas (ingat, kepemilikan saham di atas 20% maka anda memperoleh hak dividen dari perusahaan).

Beliau juga memiliki perusahaan jasa keuangan Berkshire Hathaway, membantu orang-orang kaya lainnya untuk berinvestasi, dan memperoleh bagian persentase laba dari perusahaan tersebut.
Melalui Berkshire Hathaway, Warren Buffet juga membeli perusahaan-perusahaan yang hampir bangkrut dan menjayakannya kembali, tapi bagaimana caranya? Sama persis dengan tiga analisis yang saya paparkan di atas.

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat! :)

Menguak Mitos Prinsip “Mengeluarkan biaya serendah-rendahnya memperoleh pendapatan setinggi-tingginya”

*Benjamin Ridwan Gunawan
Sudah pada sering mendengarkan kalimat pada judul di atas? Orang-orang kita banyak yang suka cari gampangnya saja, pakai usaha sesedikit mungkin tapi inginnya dapat sebanyak mungkin. Contohnya apa? Melakukan Korupsi, suap, dan jalan pintas lainnya untuk mendapatkan pendapatan secara instant. Well, itu adalah hal yang tidak baik. Memang prinsip ekonominya jalan, namun sama sekali tidak memberikan manfaat buat orang lain, boro-boro manfaat, yang ada malah merugikan orang lain.
Kalau di versi kampungnya contoh kegiatannya adalah dukun, atau ngepet. Ingin kerjanya sedikit tapi hasilnya banyak. Hahaha dah ga jamannya begituan, yang ada babi jaman sekarang pada disembelihin buat dijadiin tas atau jaket (hati-hati bagi temen-temen yang beli barang dari kulit, bisa jadi itu adalah kulit babi ngepet :P)
Ada dua hal dalam prinsip ini, yang pertama adalah biaya, dan yang kedua adalah pendapatan. Biaya, adalah apa yang kita keluarkan untuk memperoleh pendapatan di masa depan, dalam prinsip ini, biaya yang dikeluarkan harus seminimal mungkin.
Pendapatan, adalah manfaat yang diperoleh atas biaya yang kita keluarkan di masa lalu, dalam prinsip ini, pendapatan yang harus kita peroleh adalah semaksimal mungkin.
Bisa dibilang ini adalah prinsip hasil turunan dari konsep kapitalisme, memberdayakan apa yang kita miliki untuk memproleh sesuatu yang belum kita miliki sebelumnya.
Pokok masalah: Namun ada sesuatu yang sebenarnya kurang dimengerti oleh orang-orang mengenai prinsip ini. Ada hal yang harus dimengerti lebih dari sekedar mengeluarkan biaya serendah-rendahnya. Melakukan berbagai cara hingga menghalalkan cara apapun walaupun hal itu merugikan orang lain demi memperoleh pendapatan semaksimal mungkin, yang bahkan pendapatan tersebut pada akhirnya hanya dikuasai sendiri tanpa dibagi dengan yang lain.
Pembahasan: Dalam hal ini biaya tidak selalu dinilai dengan uang, bisa juga dengan tindakan atau usaha. Sedangkan pendapatan juga bisa dalam bentuk selain uang seperti, pangkat, kehormatan, penghargaan atau bisa juga kekasih.
Untuk mampu memperoleh pendapatan setinggi-tingginya dengan biaya yang harus dibayarkan dengan harga yang minimal, tidak semua orang dapat melakukannya. Membutuhkan kemampuan yang tinggi agar bisa bekerja dengan efisien dan efektif untuk memperoleh pendapatan tinggi.
Contohnya begini, untuk memperoleh uang satu miliyar bisa dilakukan dengan banyak cara (kecuali korupsi apalagi ngepet ya), misalnya melakukan wirausaha, bekerja pada perusahaan multinasional, bermain saham atau bahkan menjadi pemain bola tingkat dunia. Seberapa efisienkah anda dalam melakukan usaha atau mengeluarkan biaya sehemat mungkin, hemat waktu dan juga hemat uang (efisien dalam hal ini memiliki arti yang sama dengan hemat).
Sesuaikan juga dengan keahlian yang benar-benar anda kuasai, jangan terpengaruh dengan gosip yang sedang nge-trend di masyarakat. Jangan dikira, berwirausaha adalah jalan tercepat memperoleh uang satu miliar tadi. Bila anda tidak ahli dalam wirausaha maka anda melakukan kegiatan yang tidak efektif.
Atau anda mencoba menjadi pemain bola tingkat dunia, satu kontraknya, anda akan dibayar satu miliar. Bila anda tidak pernah bermain bola, bahkan parahnya lagi anda tidak tahu bola sepak itu berwarna apa ya sebaiknya jangan melakukan ini untuk jalan pilihan anda memperoleh uang satu miliar anda.
Lakukanlah pekerjaan yang merupakan keahlian anda, atau lakukan pekerjaan yang anda sukai, maka jalan untuk memperoleh pendapatan yang anda harapkan dapat menjadi lebih efisien dan efektif.
Saran, dan kesimpulan: walaupun sekarang lagi nge-trend yang namanya entrepreneurship, jangan memaksakan diri semuanya harus jadi wirausaha. Entrepreneurship bukanlah melulu tentang wirausaha, membangun perusahaan sendiri, yang dimaksud Entrepreneurship di sini adalah jiwa yang kuat, jiwa mandiri, dan jiwa kepemimpinan. Intinya, mau jadi apapun dirimu, milikilah jiwa entrepreneurship, bahkan menjadi seorang penulis ekonom gila sekalipun. Dobraklah batasan dalam pekerjaan yang kamu lakukan, lakukan inovasi, kuatkan dirimu, maksimalkan keahlianmu dan peroleh pendapatan maksimal dengan efisien dan efektif dari pekerjaan yang kamu kerjakan. Maka mengeluarkan biaya serendah-rendahnya dapat berarti melakukan pekerjaan yang kamu kerjakan dengan efisien dan efektif, karena kamu benar-benar menyukai pekerjaan itu, menguasainya dan akhirnya kamu dapat melakukan pekerjaan itu dengan sangat baik.
Memperoleh pendapatan setingi-tingginya, hal itu menjadi tak mustahil lagi, dengan bekerja sepenuh hati, pendapatan yang akan kamu perolehpun juga akan maksimal.
Selamat menikmati informasi dari tulisan yang ala kadarnya ini :D
*Sebagai lelaki yang bercita-cita menjadi CEO terbaik sedunia, saat ini si penulis sedang menyukai cerita-cerita tentang kepemimpinan dan dedikasi pada hidup, sehingga tiba-tiba muncul ide tentang tulisan ini.

Stakeholder Oh Stakeholder, (Cerita Kasus Tentang Tanggung Jawab Perusahaan Motor Terhadap Meningkatnya Jumlah Motor Di Jogja)

By: Benjamin Ridwan Gunawan*

Teori pemangku kepentingan, mungkin ada yang kurang paham dengan teori tersebut? Itu adalah teori tentang stakeholder (wah apalagi yang ini). Stakeholder adalah pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan di mana segala kebijakan yang dibuat oleh perusahaan dapat mempengaruhi keputusan dari para pihak stakeholder ini. Contohnya saja deh biar gampang, stakeholder dibagi menjadi dua macam, stakeholder pasar dan stakeholder non pasar. Stakeholder pasar adalah, karyawan, pemegang saham, pemasok, distributor, pelanggan (nah berarti anda juga termasuk pemangku kepentingan di sini karena anda juga seorang pelanggan dari suatu produk).
Stakeholder non pasar bentuknya adalah pemerintah, komunitas alam, lembaga swadaya masyarakat, dan media. Mereka adalah bagian dari stakeholder, namun hubungan mereka terhadap perusahaan tidak berpengaruh secara langsung.
Dalam tulisan ini saya ingin share tentang teori pemangku kepentingan ini terhadap perusahaan motor yang sedang tumbuh berkembang bak jamur crispy di Indonesia ini (kenapa harus perumpamaannya jamur crispy ya, saya juga kurang tahu, lanjut saja). Motor, bisa kita lihat, khusus di kota Jogja ini saja, sudah seperti semut mengeroyok makanan. Tiap tahunnya jumlah motor bertambah sekitar satu jutaan unit untuk satu kota Jogja tercinta kita. Dulu jalanan yang masih sepi (saking sepinya bisa buat orang ngesot di tengah jalan lo, baca: pengemis ngesot), sekarang sudah mulai penuh sesak terlebih lagi pada jam-jam berangkat dan pulang kerja atau kuliah (halo, kita lagi di Jakarta apa ya?).
Bahasan dalam tulisan ini akan mengarah pada tanggung jawab dari pihak perusahaan motor terhadap meledaknya jumlah kendaraan bermotor di jalanan. walaupun dalam kejadian ini tak lepas dari sifat konsumerisme yang edan-edanan, tapi hal ini kita kesampingkan karena ini merupakan tanggung jawab kita masing-masing sebagai individu konsumen.
Sebelum kita masuk pada pokok permasalahan tanggung jawab perusahaan kendaraan bermotor pada meledaknya jumlah kendaraan bermotor di tengah kota, mari kita lihat dulu tentang mengapa perusahaan dapat terus berjalan dan siapa saja yang mempengaruhi kepentingan perusahaan. Perusahaan didirikan dengan suatu tujuan, dan apakah tujuan tersebut? Bila anda menanyakan langsung pertanyaan tersebut pada tiap pimpinan perusahaan, mereka akan menjawab dengan visi dan misi mereka. Perusahaan kami berdiri demi keberlangsungan keseimbangan bla bla bla… (tergantung juga sih, ni perusahaan mana dulu).
Sesungguhnya perusahaan berdiri karena adanya banyak kepentingan di dalamnya. Di mana kepentingan tersebut bukanlah sekedar angin lalu, tetapi kepentingan yang dimiliki oleh beberapa kelompok tersebut menjadikan suatu pilihan yang harus dipikirkan secara matang, karena bila tidak dipenuhi, akan ada kekuatan dari tiap kelompok itu yang mampu merugikan perusahaan.
Dari pihak manajemen di dalam perusahaan misalnya, mereka bekerja dengan baik agar memperoleh bonus dan gaji yang tinggi. Bila hal tersebut tak dipenuhi, mereka mampu melakukan banyak hal, dimulai dari aksi mogok kerja, hingga pengajuan pengunduran diri dari mengelola perusahaan itu lagi.
Pemegang saham menginginkan kinerja keuangan perusahaan yang baik, profit yang sehat, agar dapat memberikan laba dan dividen kepada mereka. Para pemegang saham inipun juga memilki power kepada perusahaan yaitu hak voting untuk memutuskan suatu kebijakan bagi perusahaan, meminta penggantian direkturnya, mereka juga memiliki hak menarik investasi mereka bila permintaan mereka tak digubris oleh manajemen.
Konsumen menginginkan produk yang berkualitas dengan harga yang wajar. Konsumen jugalah bagian dari kelompok stakeholder, sebuah perusahaan mau sebesar apapun tak akan memiliki arti apapun bila tidak ada yang mau membeli produknya. Siapa yang membeli? Ya konsumenlah, masa karyawannya sendiri dan si pemilik modal yang beli produknya sendiri tiap hari.
Dalam hal ini, konsumen memiliki peranan yang paling kuat dalam keberlangsungan usaha, ibarat Negara nih, rakyat merupakan kedaulatan tertinggi di dalam Negara tercinta kita Negara Republik Indonesia.
Konsumen dapat memilih produk, karena tak ada paksaan dari pihak perusahaan. Konsumen bebas memilih produk mana yang dirasa pantas dari segi kualitas dan harga bagi dirinya. Bila terdapat produk dengan kualitas yang sama dengan harga yang jauh lebih murah, buat apa beli yang mahal (Kog mirip iklan ya). Kekuatan memilih inilah yang menjadi power bagi masyarakat konsumen sebagai bagian dari kelompok stakeholder perusahaan. Kepentingan konsumen menjadi sesuatu yang harus dipikirkan benar oleh perusahaan.
Berikutnya yang tak kalah penting, adalah masyarakat komunitas alam yang biasa tergabung dalam LSM. Mereka juga mengkonsumsi produk, mereka juga memiliki hak untuk memilih produk, dan power yang mereka miliki adalah gerakan mereka. Mereka memiliki gerakan bersama yang terdiri dari orang-orang yang kritis yang peduli akan alam, sosial dan lingkungan mereka. Sebagai gerakan peduli lingkungan, mereka siap menegur pihak perusahaan yang tak memenuhi standar mereka.
Perusahaan motor dan para pemangku kepentingannya
Kembali lagi pada pokok permasalahan utama dalam tulisan ini. Bagaimana dengan berjalannya perusahaan kendaraan bermotor dan tanggung jawabnya terhadap meledaknya jumlah kendaraan bermotor yang berada di atas jalanan kota Jogja tercinta kita. Sebagai perusahaan yang besar, maka tak lepas perusahaan ini dari para pemangku kepentingan. Para pemegang saham pastilah mengharapkan penjualan motor yang besar untuk memperoleh laba operasi yang tinggi. Pegawaipun juga memikirkan bagaimana menjual motor dalam jumlah besar sehingga mengupayakan mudahnya masyarakat membeli motor dengan cara menurunkan biaya uang muka. Bayangkan saja, sekarang anda sudah bisa beli motor dengan modal 500.000 rupiah saja.
Dari pihak pelangganpun juga makin dimanjakan, mau beli motor dengan desain baru dan mesin lebih hebat tapi dengan biaya uang muka yang ringan, sudah begitu diantar langsung kerumah lagi. Dilihat dari kepentingan tiga pihak saja, sudah bisa dilihat ada satu tujuan yang serupa (tapi sebenarnya tak sama). Tujuan itu adalah kemudahan penjualan motor (sebanyak-banyaknya). Alhasil, jumlah motor yang beredar di jalanan tak terbendung lagi jumlah meledak tanpa terkontrol, macet di mana-mana, dan polusi makin besar menyebabkan lapisan ozon makin menipis. Sekarang mulai bertanya-tanya, di manakah suara-suara dari pemangku kepentingan kelompok komunitas alam? Dan Pemerintah?
Oke, dari kelompok komunitas alam, beberapa permintaannya sudah dijawab dengan memunculkan motor ramah lingkungan (benarkah beneran ramah lingkungan? Tapi tetap saja konsumsi bahan bakarnya pakai bensin yang pastinya pembuangannya juga karbondioksida yang mencemari lingkungan).
Dari pemerintah sendiri, apakah tak pernah memberikan kebijakan dalam pembatasan penjualan motor (di jogja dulu deh khususnya). Jalanan semakin ramai, sesak, cuaca kota Jogja juga sudah tak adem lagi.

Saran

Di sini saya sebagai salah satu pemangku kepentingan dari kelompok pelanggan dan pemerhati lingkungan (iya pemerhati lingkungan, paling cuma rajin nyiram tanaman satu pot doang itupun kadang suka lupa) ingin memberikan saran konkrit bagi perusahaan motor yang telah berjaya dengan memperoleh penjualan besar di tahun-tahun belakangan ini:
1. Batasi penjualan motor-motor baru, misal satu rumah maksimal dua. Iya dong pak, lihat saja kalau siang hari di jalan gejayan atau di daerah tugu, udah panas, macet oleh kendaraan motor, sesak, hawanya bikin orang emosi aja (walaupun kadang saya naik mobil, emosi saya biasa aja tuh… *nggaya. Tapi seringnya naik motor ding).
2. Bila ingin menjual motor baru, tawarilah pemilik motor yang motor lamanya sudah berumur lebih dari lima tahun, lakukan tukar tambah motor baru dengan motor lamanya. Motor yang umurnya sudah lebih dari lima tahun, biasanya mesin sudah tidak bisa berjalan dengan optimal lagi, pembakarannya menyebabkan karbondioksida yang dibuang lebih tak teratur dan kadang kadarnya lebih banyak. Penjualan motor dengan cara ini dapat lebih mudah mengontrol jumlah motor yang beredar di jalanan.
3. Lakukan program CSR yang memerhatikan lingkungan kota Jogja, masih terdapat banyak jalanan yang sesak dilalui kendaraan motor tapi tak ada pohon rindang disekelilingnya, contohnya saja jalan gejayan sama seturan (panas cuy).
4. Kembangkan produk yang ramah lingkungan, jangan hanya motor irit bensin aja pak, sekali-kali bikin sepeda jalanan dengan merek motor anda juga dong. Nah ini bakal menjadi gebrakan baru, kedepannya akan banyak bermunculan sepeda-sepeda bermerek Yamaha, Honda, Suzuki dll. Mumpung sekarang eranya lagi go green, dan semuanya lagi pada gandrung sama sepeda. Kalau tidak salah ingat, saya pernah lihat ada sepeda dengan merek BMW (entah saya yang salah lihat BMX saya baca jadi BMW kali ya hehehe).
Ya sekian saja tulisan saya yang ngalur-ngidul tidak jelas kemana arah tujuannya. Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.

Dasar Cewek Matre(alitas)!! *

Oleh: Benjamin Ridwan Gunawan

Materialitas, mungkin sudah bisa anda lihat dari judulnya, yang pengucapan sebenarnya adalah materialitas. Materialitas yang dimaksud di sini bukanlah tentang cewek matre yang sering kita ketahui dalam tulisan tentang psikologi cinta atau dunia seputar wanita (saya tidak jago dalam hal itu). Saya buat judul seperti di atas sebenarnya biar menarik saja, jadi saya mohon maaf bila isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre. Maaf bagi yang sudah tertipu keburu nafsu masuk ke tulisan ini). Tapi saya berharap isi dari tulisan ini akan memberikan manfaat dan pengetahuan baru bagi anda semua. Selamat menikmati.

Hmm.. Mungkin ada yang bertanya, mengapa tulisannya membahas tentang materialitas audit ya? Seperti tidak ada tema yang lain saja. Atau ada yang berfikir, “Ah.. Pasti isinya teori yang membosankan”. Di sini saya hanya ingin sekedar share ke anda semua tentang materialitas, karena kemarin beberapa waktu yang lalu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget. Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh seminar ini tapi tidak pakai telor. Di dalam seminar itu topiknya adalah audit, dalam sub bagian topiknya yaitu materialitas audit. Penting kita ketahui (sebagai anak ekonomi tentunya) apa itu materialitas audit, karena bila anda semua nanti masuk dalam sebuah korporasi raksasa ataupun anda membuka usaha sendiri, anda akan menemukan istilah materialitas suatu ketika bisnis anda berkembang besar.
Bapak Alwi, beliau adalah Equity partner dari KAP Ernst & Young. Equity partner adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibaratnya posisi ini adalah CEO nya. Berhubung bapaknya sudah senior jadi materi yang dibawakannya juga berbobot, isi materinyapun juga tentang materialitas (cocok sudah, materinya berbobot nama materinya juga materialitas. Maaf tidak penting, lanjut).
Sebenarnya materi audit tentang materialitas ini adalah tema yang sering ditanyakan oleh teman-teman akuntansi. Berhubung kita kuliahnya di akuntansi yang notabene sudah dapat materi kuliah audit (bila anda mahasiswa semester empat ke atas tentunya), kadang kita suka gengsi kalau ditanya tentang “Apa itu materialitas?” Biasanya model percakapannya begini:
“Oi, apa sih materialitas itu?”
“Hmm.. materialitas itu adalah… bla bla bla” (ngomong ngalur ngidul)
“hah! Maksudnya??”
“Yaa pokoknya materialitas itu… bla bla bla” (makin ga solutif jawabannya)
Ya begitulah penyakitnya anak-anak akuntansi yang ilmunya masih setengah tapi gayanya sudah selangit. Kita suka menjawab sesuatu yang masih sedikit ilmunya, dengan gaya sok tahu seolah kitalah pakarnya. Nah di sini saya ingin sedikit berbagi sama teman-teman tentang apa itu materialitas. Di sini saya jujur juga masih sedikit ilmunya, dan saya juga tidak sedang berusaha jadi pakar yang sok tahu. Saya cuma mau menyampaikan ilmu yang saya dapat dari seminar kemarin.
Materialitas
Bagi teman-teman yang bukan dari akuntansi mungkin bingung ya dengan kata Materialitas ini. Materialitas, apaan tuh? Sejenis penyakit menular ya? Atau mungkin ada yang berfikir, materialitas itu orang yang suka duit, kayak istilah cewek matre. bukan, materialitas bukanlah tentang orang yang suka duit, juga bukan tentang sejenis bahan material bangunan.
Dalam bahasa audit, materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.
Nah lo, dari penjelasan seperti itu saja, teman-teman non-akuntansi dah bisa nangkap artinya apa belum? Jangankan anda, saya saja yang dari akuntansi juga bingung sendiri (Lho?).
Kalau dijelasin dengan teori-teori mau sampai besok minggu depan mungkin tidak bakalan kelar juga. Kalau dicontoh kenyataannya adalah seperti ini, sebuah perusahaan penjualan kredit motor lagi di audit. Piutang yang sebenarnya (setelah dihitung langsung) adalah 100 juta. sedangkan, di laporannya tertulis piutang sebesar 125 juta. Nah, kan ada selisih 25 juta tuh. Banyak apa sedikit 25 juta itu?
Contoh perusahaan kedua (sama-sama perusahaan penjualan kredit motor) yang lagi diaudit. Jumlah piutang yang sebenarnya adalah 100 juta, sedangkan di laporannya tertulis 102 juta. Ada selisih sebesar dua juta. Banyak tidak selisihnya?
Antara 25 juta sama dua juta banyakan yang mana? (sebenernya ini pertanyaan bodoh, anak TK juga tahu jawabannya). Maksudnya, bagi perusahaan yang punya kapasitas piutang hingga 100 juta, selisih 25 juta sama selisih dua juta lebih bisa ditolerir yang mana? Atau bahasa halusnya lebih bisa diampuni yang mana kesalahannya?
Kalo seumpama saya masih SD, saya pasti menjawab ya yang kesalahan pencatatan dua juta-lah. saya kan pinter. Sampai sini sudah nangkap maksudnya. Terus hubungannya sama materialitas itu apa? Oke, kembali lagi ke teori yang tadi tentang definisi materialitas (baca pelan-pelan ya), “besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya, dapat mengakibatkan perubahan atas atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut, karena adanya penghilangan atau salah saji itu.”
Antara 25 juta dan dua juta, yang lebih bisa ditolerir adalah yang dua juta. Ya walaupun buat kita anak mahasiswa dua juta itu besar (lumayan buat beli indomie telur plus es teh 400 kali). Tapi bagi perusahaan yang punya kapasitas piutang hingga 100 juta, angka dua juta itu adalah angka yang masih bisa diampuni, dan angka dua juta ini sudah bisa disebut sebagai bukan-materialitas. Sedangkan merunut definisinya, angka 25 juta-lah yang disebut sebagai materialitas, karena angka 25 juta ini menjadi jumlah minimal dalam perubahan pengambilan keputusan.
Ibarat kita anak kost nih, yang umumnya uang saku sebulan misal adalah satu juta. Suatu ketika kiriman kita tidak genap satu juta, misal cuma dikirim 990.000 rupiah. Kurang 10.000 nih, kalau anda adalah orang yang berbudi luhur dan punya kesabaran yang wajar, selisih angka 10.000 itu mungkin tidak jadi masalah buat anda. Anda kehilangan 10.000 tapi anda masih punya 990.000 rupiah. Angka 10.000 ini masih bisa ditolerir bagi keuangan pribadi anda. Kecuali kurangnya sebesar 100.000 rupiah, ini baru masuk kategori materialitas. Karena berkurangnya uang saku anda sebesar 100.000 mempengaruhi rencana belanja anda dalam satu bulan kedepan. Sudah paham.
Rumus yang dikasih bapak Alwi dalam menghitung materialitas adalah, 5% buat perusahaan publik, dan buat perusahaan non-publik bisa sampai 10%. Jadi kalau piutangnya ada 100 juta, jadi batas materialitasnya adalah 5% dari 100 juta, yaitu lima juta. Kesalahan pencatatan masih di bawah lima juta ini masih bisa diampuni.

Bagaimana dengan kesalahan pencatatan hingga 25 juta tadi? Sebagai perusahaan publik, hal tersebut berarti sudah memasuki materialitas, karena angka 25 juta ini dapat mempengaruhi pengambilan keputusan secara signifikan. Angka 25 juta ini dapat mengindikasikan terjadinya kecurangan di dalam perusahaan, yang dalam bahasa keren auditnya yaitu fraud (Materi fraud ini tidak bakal saya jelaskan di tulisan ini karena bakal jauh keluar dari topik). Kalau ada indikasi kecurangan, maka audit akan melakukan prosedur untuk menemukan penyebab kecurangan tersebut, dan seterusnya. Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh, soalnya kalau saya lanjutkan bisa jadi satu buku. Panjang. Terima kasih sudah menyimak, semoga ilmu ini bermanfaat :D

*Ridwan Gunawan, seorang mahasiswa Akuntansi 2007 yang bercita-cita menjadi seorang CEO terbaik di dunia