Wajib Tani Satu Tahun

Oleh: Munadi

Indonesia adalah negara khatulistiwa yang kaya raya. Memiliki luas 1,904,569 km2 dengan penduduk sekitar 230 juta jiwa berpendapatan perkapita sekitar 21 juta rupiah. Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau. Luas perairan Indonesia 93 ribu km2 dengan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 atau hampir 25% panjang pantai di dunia. Pertambangan Indonesia dinilai sebagai penghasil LNG terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia) dan produsen timah terbesar kedua selain aneka tambang lainnya yang banyak ditemukan. Di sektor pertanian, Indonesia menduduki peringkat pertama penghasil cengkeh dan pala, serta peringkat kedua dalam karet alam dan minyak sawit mentah. Bahkan, Indonesia adalah pengekspor kayu lapis terbesar, yaitu sekitar 80% di pasar dunia.
Sungguhpun demikian, berbagai kekayaan alam diatas nampaknya belum cukup untuk menjadikan negara ini maju. Sampai saat ini negara kita masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Negara kita dulunya pernah menjadi bagian dari OPEC tapi sekarang kita justru mengimpor BBM. Dahulu Indonesia pernah mandiri pangan bahkan menjadi negara pengekspor beras, tapi kini tiap tahunnya kita mengimpor beras. Kita adalah negara maritim yang dahulu terkenal pelautnya di zaman majapahit, tapi lihat sekarang pelaut kita dihina dengan impor ikan dan garam. Jika kita bandingkan dengan dahulu,  sekarang terjadi kemunduran di sisi ekonomi. Kemunduran ekonomi ini tak terlepas dari pemimpin bangsanya yang korupsi.
Hasil dari survei lembaga Transparency International Indonesia tahun 2011 mengatakan bahwa tingkat korupsi Indonesia membaik 0,2 poin menjadi 3 dari 10. Miris sekali memang kondisi negara ini jika dilihat korupsinya hanya mendapat 3 dari 10, jika diibaratkan nilai angka ujian pasti tidak naik kelas. Meskipun demikian, sebagai warga negara Indonesia kita pun turut menunjukkan rasa bangga karena terjadi kenaikan poin sebesar 0,2 poin, setidaknya ini lebih baik daripada poin kita turun.
Penelitian lain oleh KPK menyatakan bahwa Kementerian Agama, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Kementerian Koperasi dan UKM adalah kementrian terkorup  di Indonesia. Hasil ini bisa dikatakan unik, kementrian agama yang seharusnya berisi orang-orang yang diharapkan mampu menjaga moral dan menjadi panutan masyarakat justru menunjukkan fakta sebaliknya. Tentunya penelitian ini belum menyertakan lembaga kepolisian dan kejaksaan yang *youknowlah sudah menjadi rahasia umum. Intinya jika melihat dari hasil ini kita dapat berasumsi bahwa ada yang salah dari karakter orang Indonesia.

Bertani Hukumnya Wajib

Ketika suatu negara berada dalam kondisi yang mengancam, khususnya perang, biasanya negara tersebut akan menerapkan kebijakan wajib militer bagi warganya untuk meningkatkan pertahanan negara. Indonesia tidak menerapkan wajib militer karena tantangan yang kita hadapi sekarang bukanlah pertahanan negara melainkan pertahanan ekonomi. Tentulah, wajib militer bukan menjadi pilihan menghadapi ketahanan ekonomi, karena pelatihan militer hanya akan menghasilkan polisi lalu lintas ataupun pejabat politik yang mudah untuk disuap di jalan. Jadi, yang kita butuhkan adalah “sesuatu” yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi, bukan wajib militer yang mampu meningkatkan pertahanan negara tapi mengorbankan kepentingan ekonomi.
Sebagai “sesuatu” yang mampu meningkatkan ketahanan ekonomi tersebut, satu solusi nekat yang saia tawarkan adalah wajib tani 1 tahun bagi warga negara Indonesia. Kenapa wajib tani? Tentu saja pertama karena wajib militer tidak memungkinkan keberhasilan ketahanan ekonomi. Kedua, kita mengembalikan local wisdom, dimana Indonesia dulu sangat terkenal akan pelautnya. Bahkan, jika kita mau menilik sejarah, hampir seluruh budaya Indonesia berasal dari masyarakat perdesaan—yang identik dengan pertanian, bukan perkotaan.  Ketiga, bertani sekaligus juga membuka kesadaran akan kekayaan SDA bangsa ini, jadi pemimpin negara menjadi paham benar tentang potensi yang sampai sekarang belum disadari.
Secara konkrit program wajib tani 1 tahun memiliki tiga tahapan. Tahapan pertama yaitu bertani, kedua berlayar dan ketiga menambang. Ketiga tahapan ini wajib dilakukan karena nilai yang terkandung dari aktivitas tahapan tersebut sangat tinggi. Diharapkan  dengan bertani merasuklah sifat sabar dan kesederhanaan. Berlayar memberikan sifat kemauan keras dan rasa malu. Menambang mengajarkan sifat disiplin dan tahan banting.
Tahap pertama adalah 4 bulan bertani. Bertani disini dilakukan dengan hidup bersama warga tani yang terpusat di Jawa dan Sumatra. Baik itu bertani beras atau berkebun kelapa sawit yang penting berhubungan dengan tanaman. Dengan hidup bersama mereka akan mengenal kesederhanaan hidup. Selain itu akan timbul rasa sabar menanti tanaman tumbuh dan berbuah. Akan ada sifat menghindari hal instan dan ilmu bahwa mendapatkan buah segar butuh ketelatenan dan kesabaran. Ingat juga pepatah padi, padi semakin tinggi semakin merunduk.
Empat bulan setelah di sawah dihabiskan berlayar mencari ikan. Mencari ikan dengan hidup bersama warga Indonesia timur. Seorang nelayan akan pergi pada malam dan kembali pagi. Tetapi mereka memiliki prinsip tidak akan pulang sebelum mendapat ikan. Inilah hebatnya pelaut, malu jika pulang tanpa hasil ikan. Mereka rela berhari-hari menerjang ombak lautan di luasnya samudera demi mendapatkan ikan. Nilai moral yang amat tinggi dalam belajar rasa malu dan keinginan keras.
Bulan sisanya dihabiskan untuk menambang di areal penambangan. Menambang, ya tentu saja semacam dikarantina di areal penambangan sambil memegang alat berat. Areal penambangan sudah seperti alam liar, disini yang kuat yang menang. Areal ini juga mengharuskan setiap orangnya bersikap disiplin yang diawasi langsung oleh kepala lapangan yang tegas. Kehidupan keras dan disiplin sangat cocok diajarkan langsung di areal penambangan. Akhirnya menciptakan pemimpin yang disiplin dan berjiwa keras tahan banting.

Siapa yang patut dikenai wajib tani ini? Yang pasti adalah para aparatur negara. Tetapi tentu saja seluruh warga negara juga diwajibkan mengikuti program ini. Harapannya memang negara ini dibangun oleh orang-orangnya sendiri. Indonesia sudah memiliki potensi SDA yang amat memadai , tinggal orang-orangnya saja yang harus dapat memanfaatkannya.

Jim Collins dalam bukunya Good to Great menerangkan bahwa untuk mencapai perusahaan yang baik menjadi hebat langkah pertama adalah mendapatkan para pemimpin tingkat 5. Pemimpin tingkat 5 adalah orang membangun kehebatan yang bertahan lama lewat bauran paradoks dari kerendahan hati pribadi dan kemauan profesional. Cara ini juga dapat diterapkan di negara kita. Pertama  adalah mendapatkan para pemimpin tingkat 5 untuk mengisi posisi aparatur negara. Kedua dan seterusnya masih banyak dan Program wajib tani adalah salah satu pembentuknya. Hasilnya negara ini nanti akan menjadi hebat. Semoga saja.

Nenek Moyangku Seorang Pelaut

nenek moyangku seorang pelaut
gemar mengarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa

angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai

Penulis: Ahmad Munadi
TTL: Serang, 10 Februari 1990
Alamat: Jalan Kaliurang Km 5, Karangwuni E 3A, Sleman, Yogyakarta
Status: Mahasiswa Jomblo Semester Akhir
Advertisements