8 Prinsip (Jadi) Pengusaha

Oleh: Rizky Kuncoro Hadi

Sejatinya, perjalanan menjadi pengusaha adalah perjalanan menuju keshalihan.
8 Prinsip (jadi) pengusaha ini disarikan oleh Ust. Yusuf Mansur dalam buku terbarunya yang berjudul “Semua bisa jadi pengusaha” dari Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 14-17. Berikut penjelasannya.
Prinsip yang pertama adalah aamanna (iman), keyakinan bahwa hanya Allah yang berkehendak, hanya Allah yang bisa memberikan ini itu, hanya Allah yang memberikan ridho, hanya Allah yang bisa membuat kita jadi pengusaha, hanya Allah yang bisa mendatangkan pelanggan, hanya Allah yang bisa membuat kita berhasil, dan hanya Allah pula yang bisa membuat kita hancur.
Prinsip yang kedua adalah faghfirlanaa (ampunilah dosa-dosa kami). Ada orang yang berat sekali menjadi pengusaha. Kenapa? Ada pengusaha yang usahanya gitu-gitu aja. Kenapa? Ada pengusaha yang justru rugi melulu. Kenapa? Karena ada asbab sebelumnya. Jadi, pengusaha itu harus banyak istighfarnya. Dosa-dosa kita sebelumnya itu bikin kita susah. Sholat banyak telatnya, yang sunnah pun jarang-jarang. Kita punya dosa pun banyak bener. Itu bikin berat orang jadi pengusaha. Apa ada hubungannya pengusaha dengan dosa? Ada banget! Allah yang punya segala kemudahan, segala modal, dan segala jalan. Kalo Allah ga suka, gampang bagi Allah buat kita susah.
Prinsip yang ketiga adalah waqinaa ‘adzaabannaar (lindungi kami dari azab neraka). Kalau mau menjadi pengusaha yang mendapat dunia dan akhiratnya Allah, kita harus menjaga diri kita dari apa-apa yang membuat Allah menyeburkan kita ke neraka. Punya hutang banyak, masalah tidak? Jika dengan berhutang itu kita bisa terhindar dari neraka dan menjadi masuk surga, taat ama Allah, cinta sedekah, rajin ke masjid, maka hutang itu adalah berkah. Tapi jika kemudian ketika kita berlimpah kekayaan, berlimpah karunia Allah, tapi kemudian kita malah rajin buat dosa, berzina, meninggalkan sholat, durhaka sama orang tua, pagi gak pake Dhuha. Maka karunia Allah itu adalah petaka yang besar untuk kita.
Prinsip yang keempat adalah ash-shoobiriina (bersabar). Kita kemudian bersabar, betul! Sabar ini penting. Seorang pengusaha jika tidak memiliki sabar, wah… akan terjadi masalah. Baik sabar dalam menjalankan amaliyah maupun bersabar diri dalam menahan diri dari maksiat. Misalnya ada tawaran proyek yang bisa menghasilkan keuntungan satu milyar. Namun kita diminta menyiapkan uang sebesar 200 juta terlebih dahulu untuk bisa mendapatkan proyek itu. Apakah kita mampu bersabar? Mending kita bersabar, kalau tidak sabar kita malah akan kehilangan segala-galanya.
Prinsip yang kelima adalah ash-shoodiqiina (kebenaran). Prinsip ini merupakan prinsip yang sangat mengagumkan. Kita, kalau jadi pengusaha harus hati-hati. Kita jadi pengusaha harus benar, harus jujur,trusted people, harus menjadi orang yang terpercaya. Kenapa orang bisa dikasih modal? Karena pemodal itu percaya. Tapi untuk bisa dipercaya itu harus ada pembuktian. Trust itu lebih besar dan berharga daripada modal uang.
Prinsip yang keenam adalah al-qoonitiina (taat). Kalau kita ingin menjadi pengusaha, namun tidak taat, wah! Apa jadinya nanti. Contoh, klien saudara menghubungi saudara “Pak, kami ingin melihat apartemen yang bapak bangun.” Kalau kita tidak taat, kita akan mengajukan waktu pertemuan pada jam 12 siang. Jam 12 ada sholat zuhur. Allah tidak suka jika saudara bertemu dengan mahlukNya tapi justru mengabaikan sang Khalik yang menciptakan klien saudara. Taat itu penuhi yang wajib, hidupkan yang sunnah. Usahakan sholat tepat waktu dan berjama’ah. Kalau perlu, kita sebagai owner adalah orang yang adzan dan menjadi imam buat karyawannya pada saat sholat. Jangan sampai kita menjadi bos yang dilaknat Allah.
Prinsip yang ketujuh adalah al-munfiqiina (orang-orang yang bersedekah). Menafkahkan hartanya di jalan Allah. Baik lapang maupun sempit, baik senang maupun susah, baik saat gembira maupun sedang sedih, baik sedang kelebihan atau kekurangan. Kalau sejak kita menjadi pekerja kita sudah memulai tradisi bersedekah, sudah menjadi al-munfiqiin, maka selangkah lagi kita akan menjadi pengusaha. Tapi hal ini masih biasa, dibandingkan jika kita masih di zona pengangguran namun kita sudah mencintai sedekah, sudah menjadi al-munfiqiin, dahsyat!
Prinsip yang kedelapan adalah mustaghfiriina bil ashhaar (memohon ampunan di waktu sahur). Prinsip ini terkait dengan sholat malam. Terkandung makna agar kita menegakkan sholat tahajud, menegakkan sholat witir, dan tentu saja ditambah dengan istighfar.
Ya Allah ya Rahman ya Rahiim, berilah kami ilmu yang bermanfaat. Robbuna ya Rabb, berilah kami usaha yang bisa membuat kami tenteram, bisa tidur nyenyak, pikiran tenang, anak dan istri kami mendapat rezeki yang halal, rezeki yang berkah, yang bisa mengantar kami ke tanah suci-Mu dan bisa memberangkatkan orang-orang yang kami cintai ke tanah suci-Mu. Dan juga jadikan segala usaha kami, ikhtiar kami mengantarkan kami kepada ridho-Mu, maghfirah-Mu, dan jannah-Mu. aamiin ya robbal ‘aalamiin…