Genba (A Silaturahim Based Leadership)

Oleh: Priyok

Katanya silaturahmi memperpanjang umur/rezeki. Sudah banyak rentetan hujjah teologis tentang kalimat tersebut. Saya harus meyakininya karena memang itulah ucapan kanjeng nabi SAW. Beberapa dari kita mungkin lebih dari meyakininya, tapi telah melakoninya dan merasakan manfaatnya. Bertemu orang baru atau kawan lama, bertukar cerita dan pikiran, mempelajari kehidupannya, dan saling memberi inspirasi. Maka tidak heran, kalau orang yang maju tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya tapi juga jaringan (silaturahminya). Seperti halnya Nazaruddin, dia bukan lulusan luar negeri, apalagi UGM. Namun berkat jaringan silaturahmi yang dimilikinya Nazaruddin menjelma sebagai pengusaha muda yang sukses karena mendapatkan order dari ”relasi-relasi” silaturahminya.

Saya ingin bicara kepemimpinan, lebih jauh tentang kepemimpinan berbasis silaturahmi atau bahasa gaulnya Genba. Genba (現場, genba)dalam bahasa Jepang secara umum bermakna “lokasi kejadian” atau “lokasi sebenarnya”, sedangkan dalam manajemen istilah ini mengacu pada “lokasi produk atau jasa layanan dibuat”. Genba adalah upaya manajemen (terutama manajemen level atas) untuk memahami masalah-masalah akar dengan turun langsung ke lokasi produk. Bahasa simplenya silaturahmi ke cabang dan karyawan-karyawan. Berbicara dengan mereka tentang masalah-masalah aktual, menjadi pendengar keluhan-keluhan mereka dalam menjalankan bisnis, dan memberi motivasi untuk perbaikan. Diskusi, melihat, dan solusi. Genba adalah senjata ampuh bagi eksekutif untuk menembak inti permasalahan yang menggerogoti operasional perusahaan yang jauh lebih efektif daripada menyewa konsultan.

Genba tak hanya berarti kunjungan fisik bos ke pada bawahannya dengan sambutan meriah dan pola ABS (asal bapak senang). Hal tersebut malah mengaburkan tujuan genba yang ingin mendapatkan gambaran sebenernya tentang kondisi actual. Dalam perusahaan modern, konsep genba diadopsi dengan cara membuka keran-keran informasi, membuka jarak atasan-bawahan, mendengarkan karyawan sehingga dari sana tercipta suasana terbuka, tak sungkan memberi masukan, kultur respek, dan ujung-ujungnya jelas peningkatan produktifitas. Caranya banyak dan simple, townhall meeting (pertemuan dengan seluruh karyawan untuk memberi info dan mendengar unek2, bahkan pernah saat townhall meeting di kantor saya. Ada yang pgn naek gaji, dan CEO saya langsung menanggapi dengan menjanjikan kenaikan yang layak), sidak, bulletin internal, bahkan dengan tulisan.

Lantas apa yang akan terjadi tanpa Genba?Saya pernah memasuki perusahaan farmasi milik Negara yang memiliki tradisi miskin genba. Yang saya rasakan ruangan-ruangan begitu hening, kalau ada bos. Dan berubah menjadi liar (gossip dan perilaku) apabila tidak ada bosnya. Kerja-kerja mereka berorientasi ABS, menutupi keborokan, dan takut salah. Saya pernah mendengar cerita dari orang dalam, mereka pernah menyewa konsultan untuk mengatasi masalah ini. Dan usul dari konsultan itu adalah Genba, dengan cara menutup toilet eksekutif untuk bos-bos dan menjadi satu dengan toilet umum. Harapannya para petinggi tersebut masalah karyawannya.

Ada 2 contoh pemimpin yang begitu masyhur karena kegiatan genba yang dilakukannya dan sangat saya kagumi. Michael D. Ruslim (alm.) & Dahlan Iskan.

Saat diberitakan meninggal, sontak seluruh karyawan PT Astra International, Tbk. mengalami kesedihan yang teramat dalam. Saya kebetulan saat itu bekerja di perusahaan besutan William Soeryadjaya tersebut. Duka itu begitu terasa setiap anda memasuki kantor-kantor Astra. Mengapa bisa demikian? Michael adalah sosok yang sangat rutin melakukan Genba. Silaturahmi ke cabang dan anak perusahaan Astra, mengadakan temu muka dengan karyawan, rantai membuka rantai-ramtai informasi yang membelenggu. Dari situ dia membangun tak hanya business relationship, namun juga relationship yang lebih personal dengan seluruh karyawan unit usaha Astra. Dengan kepemimpinan seperti itu, Michael tidak membuat jarak dengan bawahannya, karyawan pun menjadi semakin bersemangat karena ada perasaan diawasi dan senantiasa didengar.

Lain lagi Dahlan Iskan. CEO PLN ini malah sempat-sempatnya mengunjungi ranting-ranting PLN. Ranting lho saudara-saudara, tingkat kelurahan. Kalau dipikir, buat apa sampai harus mikirin sampai ke ranting untuk kelas CEO. Tapi itu yang dilakukan Dahlan. Tak jarang Dahlan pula yang harus turun tangan menentukan lokasi dimana PLTA, PLTU, atau PLT Geothermal harus dibangun. Dahlan berprinsip, genba yang dilakukannya hanya untuk melihat masalah langsung ke akarnya, karena masalah itu biasanya dimana-mana sama. Sehingga dengan mengambil beberapa sample di beberapa tempat, masalah satu perusahaan akan selesai. Masalah trafo misalnya, sebelum di-genba oleh dahlan, tak ada satupun kepala ranting, cabang, atau wilayah yang tau berapa jumlah trafo yang masih berfungsi baik, rusak, dsb. Bahkan berapa jumlah trafo pun tak tahu!!!padahal 70% mati lampu yang diakibatkan selain kurangnya daya disebabkan oleh rusaknya trafo. Dahlan tak akan tahu masalah ini tanpa Genba. Tak hanya melalui kunjungan. Dahlan mengembangkan Genba melalui tulisan yang dapat dinikmati oleh karyawannya di website PLN.

Bagi saya Genba lebih dari sekedar pengawasan. Ia adalah business interaction. Entitas bisnis adalah kumpulan dari manusia yang tentunya membawa sifat manusia. Homo homini socio. Genba adalah salah satu pengejawantahan pemanusiaan perusahaan (ngewongke wong). Dari sisi komersial, salah satunya manfaat lain dari Genba, seorang CEO dapat langsung mengambil keputusan terbaik.

Maka apabila pemimpin mengunjungi rakyatnya dengan puluhan voorijder dibelakangnya, lambaian bendera ratusan anak SD sepanjang jalan, “karpet merah” yang dibentangkan di atas jalanan becek, angka-angka statistik yang berserakan, sambutan yang meriah dari kepala daerah setempat, payung yang melindungi kepala, dan lain sebagainya. Sesungguhnya pemimpin tersebut melihat namun ia buta.

Kerja! Kerja! Kerja!

Oleh: Yoga PS

Akhirnya selesai juga. Audisi “SBY Idol” yang menyita perhatian public, telah berakhir. Ada menteri yang lengser, ada yang masuk. Kocok ulang komposisi cabinet yang membuat jumlah wakil menteri makin membengkak. Saya tidak ingin berbicara politik reshuffle, biarlah menjadi urusan Presiden dengan Tuhan. Saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada CEO favorit saya yang akhirnya masuk ke jajaran birokrasi: Dahlan Iskan.

Ya, Dahlan Iskan adalah CEO favorit saya! Ada banyak alasan yang membuat saya kagum. Selain dari kemampuannya membesarkan Jawa Pos group. Dari sebuah Koran kecil yang hampir bangkrut di daerah Kembang Jepun menjadi holding company dengan 200 anak perusahaan yang menyaingi Kompas Gramedia.

Juga spirit “intrapreneurship” yang telah ia praktikkan dengan terus memberikan inovasi dan breakthrough dalam setiap perusahaan yang dipimpinnya. Terbukti PLN yang selama bertahun-tahun menjadi Perusahaan Lilin Negara mampu membalikkan keadaan dan menjadi power house energy negara.

Tapi yang membuat saya terkagum-kagum adalah “modal utamanya” selama ini. Kemampuan dasar yang didapat dari profesi awalnya sebagai seorang wartawan. Skill yang menurut saya sangat basic dan fundamental, tapi terbukti mampu menjadi dasar kesuksesan seorang Dahlan Iskan. Apa itu? Kemampuannya menulis! Tulisan-tulisannya! Saya selalu ngefans dengan tulisan beliau.

Lantas, apa hubungannya menulis dengan kunci sukses menjadi direktur dan kemudian menjadi menteri?

Berpikir dan Berkomunikasi Sederhana

Andai Dahlan Iskan tidak menulis. Ia tidak akan menjadi wartawan di koran Mimbar Masyarakat di Kalimantan Timur. Ia tidak akan mengikuti kursus jurnalistik di LP3ES. Ia tidak akan magang di TEMPO, bergabung dengan TEMPO sebagai kontributor lepas tanpa gaji, tak akan naik menjadi koresponden, tak akan diangkat sebagai kepala biro TEMPO Surabaya.

Jika Dahlan Iskan tidak menulis. Ia tidak akan berkenalan dengan Eric Samola, direktur utama PT Grafiti Press. Tidak akan mengantar direksi TEMPO untuk bernegosiasi dengan The Shung Chen, pemilik Jawa Pos yang lama. Dan tidak akan mendapat pertanyaan dari Bayu Santoso, pengusaha pemadam kebakaran yang menjadi broker proses akusisi Jawa Pos:

“Jika Anda memimpin sebuah Koran harian, akankah mampu menyaingi Surabaya Post?”

Dua hal yang saya kagumi dari tulisan-tulisan Dahlan Iskan adalah: kemampuannya berpikir dan berkomunikasi secara sederhana. Dua kunci esensial yang dikombinasikan dengan kerja keras, inovasi, dan semangat entrepreneurship tingkat tinggi. Anda saya jamin tidak akan pernah pusing-pusing dan bingung membaca tulisan dia. Tidak ada istilah teknis yang tidak bisa dijelaskan oleh Dahlan. Logika berpikirnya tidak pernah ribet. Semua permasalahan bisa dijabarkan dengan sederhana dan penuh contoh nyata.

Seperti ketika ia menjelaskan penyakit “salah makan” yang menimpa pembangkit tenaga listrik PLN. Tulisan yang ia tulis sebelum menjadi Dirut perusahaan setrum nasional itu. Ternyata, banyak pembangkit tenaga listrik yang seharusnya diberi “makan” gas, tapi karena kurangnya pasokan, dipaksa “ngemil” solar. Tentu terjadi inefisiensi dan pemborosan.

Dahlan Iskan mampu mendiagnosa permasalahan menjadi sederhana, menjelaskan dengan sederhana, memberikan alternative solusi secara sederhana, menjelaskan plus minus setiap solusi, dan menjabarkan logika berpikir sederhana tentang keuntungan penghematan yang bisa dilakukan jika kasus “salah makan” bisa diatasi. Semuanya sangat sederhana.

Setelah menjadi “tukang setrum”, Dahlan masih rajin menulis tajuk bagi intern PLN. Berjudul “CEO Notes”. Untungnya, “CEO notes” ini sering dipublikasikan juga di korannya sendiri, Jawa Pos. Dengan membaca “CEO notes” Dahlan, kita sebagai masyarakat umum yang benar-benar bego soal listrik diajak menyelami permasalahan-permasalahan yang ada di PLN. Termasuk proses pengambilan keputusan yang bersifat strategis. Gampangannya, kita seperti diajak untuk ikut “memikirkan” PLN.

Ada banyak direktur dan CEO hebat di negeri ini, tapi kemampuan Dahlan Iskan dalam menulis membuatnya berbeda. Dia mampu menciptakan positive campaign tentang kinerja PLN. Apa saja targetnya, apa yang telah dilakukan, kendala apa yang masih menghadang, dan pe-er apa yang masih menghalang. Bagi saya seorang pemuda yang baru berusia sepertiga umur Dahlan Iskan dan bercita-cita menjadi pengusaha, tulisan-tulisan beliau adalah “kursus berpikir” logika CEO. Sesuatu yang saya yakini, akan sangat bermanfaat di masa depan.

Manfaat Menulis

Kebiasaan menulis yang dilakukan Dahlan Iskan membuat saya semakin yakin jika menulis adalah hobby yang luar biasa berguna. Menulis melatih kita berpikir logis, terstruktur, dan memaksa kita melakukan penyederhanaan terhadap masalah yang sifatnya strategis.

Anda tahu penyakit orang pintar? Mereka ingin terlihat dan dianggap pintar. Mulailah mereka memberikan program kerja dengan jargon-jargon aneh. Bahasa asing. Model-model rumit. dan bahasa langit yang berbusa-busa. Orang pintar yang tidak terbiasa menulis seringkali akan terkagum-kagum dengan kepintarannya sendiri dan menciptakan pemikiran sangat pintar sehingga sulit dimengerti oleh orang lain.

Dengan menulis, kita akan dipaksa “memintarkan orang lain” dengan berkomunikasi secara sederhana, efektif, dan efisien. Apa inti permasalahan yang perlu disampaikan, bagaimana menyampaikannya, dan bagaimana melakukan persuasi agar solusi yang kita tawarkan dapat diterima orang lain, hanyalah sebagain kecil manfaat dari kebiasaan menulis.

Dahlan Iskan juga bukannya manusia tanpa salah. Dia sendiri mengakui membutuhkan “ongkos sekolah bisnis” hingga 50 Milyar. Angka kerugian yang pernah dideritanya selama memimpin Jawa Pos group. Tapi tentu saja, ongkos sekolah itu “dibayar” dengan keuntungan berlipat-lipat dari manuver bisnisnya yang lain.

Mengenai kisah suksesnya, ia berpesan:

..Tapi saya berkeyakinan bahwa cerita sukses masa lalu hanya akan membuat orang terlalu mengagungkan masa lalu…. Terlena untuk memikirkan masa depan… menurut saya, yang demikian itu sangat berbahaya. Berbahaya bagi generasi penerus juga berbahaya bagi kejiwaan orang itu sendiri.

Saya percaya setiap generasi memiliki zamannya sendiri. Dan setiap zaman mempunyai generasinya sendiri. Apa yang di masa lalu sukses saya lakukan, belum tentu bisa sukses untuk dilaksanakan sekarang. Bahkan saya bisa memastikannya: mustahil. Zamannya sudah berbeda, pasarnya sudah berbeda dan pelakunya sudah berbeda. Berarti tantangan dan peluangnya juga sudah berbeda. Yang diperlukan generasi baru bukanlah warisan kisah-kisah sukses masa lalu. Melainkan kepercayaan untuk menerima tanggung jawab…”

Yang kita butuhkan sekarang adalah moto pribadi seorang Dahlan Iskan:

Jauhi Politik! Kerja! Kerja! Kerja!

Selamat bekerja Pak Menteri!