Jamu Buyung Upik Tak Ada di Toko Sebelah Rumah? Cari Pakai Marketing Audit Yuuuk~

https://i0.wp.com/warungjamu.com/img/p/139-280-thickbox.jpg

Suatu siang di Bulan Agustus, saya ingin membeli JAMU BUYUNG UPIK di toko kelontong sebelah rumah. Sewaktu tiba di sana, kata penjualnya jamu ini sudah tidak dijual di sana lagi. Bagaimana bisa? Padahal sepuluh tahun lalu, toko ini bahkan menyediakan lebih dari 3 rasa? Mengapa tiba-tiba tidak menjual lagi?
Kalau ada yang lagi males makan karena habis patah hati atau sedang galau, ada satu obat mujarab yang tokcer abis. Apakah itu? JAMU BUYUNG UPIK!!! (yang bukan angkatan 80-90an pasti roaming) Jamu Buyung Upik (…. Ongkerio!!! –ini catchphrase nya. Agak aneh, hahaha) adalah jamu penambah nafsu makan yang diklaim aman untuk anak-anak karena diracik dengan bahan-bahan herbal dan tradisional. Jamu ini sangat terkenal di zaman saya masih SMP dahulu kala (kira-kira sepuluh tahun lalu). Lalu mengapa sekarang penjualannya tidak semasif dulu? Bahkan mungkin tidak banyak yang mengenal brand-nya saat ini. Apa yang salah dengan brand-nya? Apa yang salah dnegan marketing-nya?
Debottlenecking dengan Audit Marketing
Pengauditan adalah serangkaian proses sistematis untuk mendapatkan dan menilai bukti-bukti secara objektif terhadap pernyataan-pertanyaan dan kejadian-kejadian ekonomi atau asersi manajemen dalam melihat kesesuaiannya dengan kriteria yang ditetapkan dan menyampaikan hasilnya pada pihak yang berkepentingan. (Audit Keuangan)
Tapi proses audit tuh ya hampir-hampir sama sebenarnya. Makanya, muncullah audit marketing. Makanan apa pula it audit marketing? Marketing audit itu bertujuan: identifikasi akar permasalahan yang kurang optimal. Dengan proporsi 5A (Awareness, Attitude, Ask, Act, Advocate), maka permasalahan itu bisa diidentifikasi. Balik ke Jamu Buyung Upik yang nggak ada di toko sebelah rumah tadi, misalnya, ternyata diketahui dari 100 orang yang dipilih acak, hanya 50 orang yang kenal Jamu Buyung Upik (Awareness). Dari 50 orang itu, hanya 45 orang yang suka Jamu Buyung Upik (Attitude). Dari 45 orang itu, hanya 40 orang yang mau mencari informasi tentang Jamu Buyung Upik (Ask). Dari 40 orang, hanya 35 orang yang membeli Jamu Buyung Upik (Act). Dan dari 35 orang itu, hanya 25 orang yang bersedia merekomendasikan Jamu Buyung Upik pada orang lain (Advocate). Dari hasil audit ini, diketahui bahwa permasalahan muncul di Awareness: kurang banyak yang mengenal merek ini.
Permasalahan bisa diketahui saat jumlah responden pada tiap prosedur menurun sangat signifikan dalam hasil survei audit. Misalnya, majalah Playboy memiliki 99 orang yang mengetahui (Awareness), tetapi hanya 50 orang dari 99 orang itu yang suka (Attitude). Ini berarti majalah Playboy punya masalah di tingkat Attitude: tidak semua orang yang kenal merek ini suka dnegan positioning merek ini.
Penurunan jumlah responden yang signifikan di tingkat Ask dari Attitude berarti orang yang suka merek ini kesulitan mencari informasi tentang merek ini. Sedangkan kasus penurunan jumlah dari tingkat Ask ke Act yang signifikan berarti ada masalah di channel (barang tidak tersedia dalam area distribusi) atau price (harga yang terlalu mahal untuk konsumen). Kasus terakhir tentang penurunan jumlah orang dari tingkat Act ke Advocate berarti banyak pembeli yang kecewa dengan produk ini sehingga tidak mau merekomendasikannya pada orang lain. Nah, dengan mengetahui permasalahan tersebut, langkah marketing selanjutnya pun akhirnya bisa disusun dengan matang dan tepat sasaran. Jadi, permasalahan yang manakah yang terjadi pada Jamu Buyung Upik tadi? Hmmh… hipotesis yang ada di batok kepala saia sih bilangnya di tingkat Awareness, jamu ini sudah kalah dengan yang lain. Iklannya saja jarang di teve, mana mau ingat namanya?
Manfaat lainnya dari marketing audit ini juga: benchmark ke nilai pesaing atau komponen penting dalam industrinya. Misalnya, segmentasi pemasaran perusahaan pada dasarnya bisa dibagi berdasarkan empat level, geographic, demographic, psychographic, dan behavioral. Banyak industri yang melakukan segmentasi sampai ke level keempat, yakni behavioral misalnya yang dilakukan oleh Cossette Apparel Batik Eksklusif (ngiklan dulu gag papa ya cyiiiinnn). Tapi, misalnya industri property, sudah bagus bisa tersegmentasi sampai ke level tiga saja. Well, behavioral orang yang mau beli rumah atau tanah atau apartemen agak susah teridentifikasi kan? (kecuali pengantin baru, hahaha)
Akhirnya, marketing audit akan lebih seperti audit kinerja atau audit kepatuhan dalam dunia audit akuntansi. Proses audit ini, misalnya yang dilakukan di Jamu Buyung Upik, untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh saat ini (dari level engagement masyarakat dengan brandlewat 5A tadi) memang sudah sesuai dengan marketing plan yang ditetapkan oleh perusahaan. Salah satu metode analisis yang bisa dilakukan adalah dengan analisa customer experience journey. Bagaimana cara melakukannya? Sampai ketemu di tulisan berikutnya yaaaa! :)
* studi kasus yang diaplikasikan dengan teori dari Majalah Markeeters Juli 2013.

Bekerja = Belajar + Dibayar

Oleh: Olivia Kamal
Rumusan itu saya dapatkan saat training awal sebelum bekerja menjadi seorang akuntan publik. Kenapa saya suka sekali membahas tentang akuntan publik? Jawabannya kira-kira mirip seperti: mengapa tukang bakso suka sekali bikin bakso dan bukan gado-gado (pertanyaan dan jawaban ini boleh dipikirkan, boleh juga diabaikan). Balik soal bekerja berarti belajar dan mendapat bayaran, tentu rumusan itu untuk membuat kita merasa “FUN” dalam bekerja.

Dalam prakteknya memang bukan berlaku yang sebaliknya. Kita belajar, kita “able” untuk bekerja sesuai standar. Waktu, tenaga, dan pikiran kita persembahkan (korbankan) untuk menyelesaikan pekerjaan yang diterima KAP kita dari kliennya. KAP mendapat bayaran, KAP membayar kita. Itu sih siklusnya, yang secara singkat dan menyenangkan kita singkat: bekerja = belajar + dibayar (pula).

Jujur, walaupun sudah kuliah 4 tahun lamanya, semua ilmu itu bagaikan menguap di udara. “What should I do?” ternyata nggak match dengan “what did I know.” Padahal udah training pula selama 2 minggu, dimulai dari hari pertama kerja. Di bagian pertama saya akan membahas tentang garis besar yang dipelajari selama training. Di bagian kedua, apa yang harus dikuasai saat pertama kali menjadi auditor publik.

Isi Training
Isinya kira-kira sama dengan isi textbook Auditing, dengan tampilan slide, modul, rumusan yang dapat diingat. Urutannya udah nggak ingat, tapi nggak ada salahnya mengingat-ingat yang teringat, dan kalau kurang boleh ada yang nambahin ya.

Pertama, pastinya nggak bikin stress. Sebagai bagian baru dari perusahaan, kenalan dengan perusahaan adalah wajib. Profil perusahaan dan standarnya, bagaimana cara berpenampilan, bagaimana cara menerima telpon (telephone courtesy), etika makan, bagaimana cara menghadapi masalah dengan asertif.

Kedua, mengerti dengan benar tentang bidang yang digeluti. KAP biasanya menyediakan service yang dinamakan jasa atestasi. Atestasi dapat disamakan dengan pendapat/opini, tetapi bukan sembarang pendapat loh. Opini yang dapat disebut sebagai jasa atestasi adalah opini yang berdasarkan tinjauan oleh seorang profesional, ada standarnya. Macam-macam audit pernah dibahas EG di link berikut.

Selanjutnya selama seminggu, yang mungkin selanjutnya akan dijelaskan satu per satu di postingan lain adalah: bagaimana alur audit, asersi yang diperlukan, tujuan audit yang ingin dicapai, strategi audit, resiko audit dan menentukan materialitas, memahami akun-akun BS (Balance Sheet) dan IS (Income Statement), pentingnya supervisi, dsb.

Yang Harus Dikuasai: Worksheet dan Working Paper
Bisa saya bilang sih nggak ada yang spesifik selain: dapat mengerjakan seperti yang dikerjakan tahun lalu. Itu rumusan gampangnya (padahal bikin meringis pas ngerjainnya, nggak semudah seperti yang kelihatan).

Lebih detail, pertama: harus bisa bikin worksheet. Caranya? Buka file tahun lalu, pelajari caranya dari rumusan Excel. Worksheet itu adalah perbandingan antara akun-akun BS (Balance Sheet) dan IS (Income Statement) tahun ini dengan tahun lalu. Tujuannya agar kelihatan fluktuasi (naik atau turunnya).

Kedua, bisa mulai dicicil dengan mempersiapkan Working Paper yang jadi tugas kita. Working Paper adalah kertas kerja yang berisi:  tujuan, fluktuasi, berbagai analisis, dan kesimpulan dari sebuah akun. Cara buatnya: lihat tahun lalu seperti gimana.

Saya rasa sih ketrampilan paling utama yang diperlukan adalah: bagaimana memahami petunjuk tertulis dan grafik, tinggal bikin seperti yang sudah ada. Simple. Tapi tetap aja tau caranya bukan berarti segala sesuatunya akan berjalan dengan mulus.

Yang Terpenting
Menurut saya, yang terpenting sih, rasa ingin tahu. Instingnya auditor jalan. Kalau memang punya rasa ingin tahu, didukung oleh menguasai teori audit, dan pandai memahami petunjuk tertulis, nggak akan ada banyak hambatan deh.

Kalau ada yang nggak jelas, bisa tanya sama senior yang mensupervisi. Kalau ada yang membingungkan dari data klien, bisa tanya ke klien. Liat-liat sikon juga sih kapan nanyanya. Yah, siapa juga yang nggak pengen nampar kalau kerjanya nanya terus. Dan bagaimana cara mendapatkan jawaban yang diinginkan saat bertanya, adalah sebuah softskill individual.

Mungkin perjuangan saya nggak lama menggeluti dunia perauditoran, tetapi pelajaran hidup terbanyak yang saya peroleh adalah saat meraba-raba di daerah ini. Dapat softskill. Again, curcol :p

Sedikit Sharing Bodong Mengenai Audit

oleh: Benjamin Ridwan gunawan

Apa sih yang menjadi kunci utama dalam urusan efisiensi dan efektivitas dalam audit? Simpel sekali, Jawabannya adalah sampling. Teknik sampling yang efektif.
Seorang auditor dituntut memiliki kemampuan yang mumpuni dalam mengaudit, tertera dalam standar audit, bagian ‘standar umum’ nomor 1 (satu), memiliki kemampuan di bidang akuntansi minimal telah menamatkan sekolah akuntansi. Dan standar audit nomor 3 (masih dalam bagian ‘standar umum’), seorang auditor wajib menggunakan kemampuan auditnya sebaik mungkin.
Permasalahan di dunia audit di Indonesia adalah jumlah perusahaan untuk diaudit jauh lebih banyak daripada jumlah KAP nya. Otomatis, setiap KAP di Indonesia akan memiliki klien untuk diaudit tidak mungkin hanya satu dalam satu periode.
Kasus lapangannya, masa akhir tahun adalah periode di mana hampir semua perusahaan yang berdiri di Indonesia membutuhkan jasa audit untuk rilis laporan keuangan. Sedangkan jumlah perusahaan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah KAP (sudah dijelaskan di paragraf di atas). Otomatis, muncul lonjakan permintaan, sedangkan penawaran sedikit. Akibatnya, banyak KAP yang harus lembur demi menyelesaikan proyek ‘bejibun’ dalam waktu yang singkat.
MENGAPA SINGKAT?
Dalam akuntansi, penyajian laporan keuangan harus memenuhi konsep yang tertera di dalam PSAK (Pedoman Standar Akuntansi Keuangan), dan kini ada IFRS. Di dalam PSAK, laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan harus memenuhi beberapa konsep, salah duanya adalah ‘Keandalan’ dan “Relevan’.
‘Keandalan’, laporan keuangan harus dapat memberikan informasi yang andal dan tidak basi, hal ini maksudnya adalah  informasi yang tertera di dalam laporan keuangan tidak boleh terlambat pelaporannya, karena akan segera digunakan oleh para user (Pengguna) laporan keuangan dalam mengambil keputusan ekonomi. Bila terlambat maka keputusan yang diambil oleh usertidak akan berguna lagi pada waktu itu, karena informasi yang tertera adalah informasi basi.
‘Relevan’, laporan keuangan harus dapat menjelaskan keadaan sebenarnya kondisi perusahaan secara tepat. Karena lapran keuangan tersebut akan dipakai oleh user untuk mengambil keputusan ekonomi. Bila informasi yang tertera di dalam laporan keuangan tidak relevan, maka pengambilan keputusan akan tidak efektif, karena informasi yang tertera tidak merepresentasikan keadaan perusahaan yang sebenarnya.
TANTANGAN SEORANG AUDITOR
Auditor harus mampu menyelesaikan audit laporan keuangan dalam waktu yang efisien, namun tetap efektif dalam mengaudit, sehingga lapooran keuangan yang dirilis (dipublikasikan) dapat tetap dipertanggungjawabkan (relevan).
BAGAIMANA CARANYA
·         Sebenarnya jawabannya simpel, dalam mengaudit hal yang harus dicamkan ada semua dalam ‘standar audit’. Si auditor yang menangani proyek audit harus memiliki kecakapan dan pengalaman audit yang mumpuni.
·         Bila auditor tersebut masih baru, dia harus didampingi atau disupervisi.
·         Sebelum proyek audit dimulai, lakukan perencanaan audit yang jelas dipimpin oleh auditor senior.
·         Lakukan pem-programan audit dengan baik. Kunci untuk menyelesaikan proyek audit dengan efisien dan efektif adalah pada teknik samplingnya.
·         Dalam perencanaan audit, buat program yang terencana dengan baik. Lihat resiko yang dibawa perusahaan. Semakin kecil resiko bawaan perusahaan maka semakin kecil sampel yang perlu diambil.
·         Pelajari baik-baik kondisi bisnis internal perusahaan, utamakan ambil sampel dokumen yang berhubungan dengan bisnis inti (core-business) perusahaan.
INGAT
Semakin banyak kamu mengambil sampel, semakin representatif hasil auditmu, namun mau berapa lama kamu mengaudit? Setahun? Konsep ‘Keandalan’ hilang sudah bila auditmu terlalu lama.
Mengambil sedikit sampel saja supaya range waktu auditmu sedikit. Semakin sedikit sampel yang kamu ambil, resiko subtantif penerimaan hasil audit semakin besar, maka konsep ‘relevan’ hilang.
Pilihlah sampel audit yang proporsional tergantung jenis bisnis perusahaan yang diaudit, dan besar-kecilnya resiko bawaan perusahaan klien auditmu.
CATATAN
Setiap KAP memiliki teknik samplingnya masing-masing. Ada yang menggunakan sampling statistika, dan ada juga yang random (yang ini jelas parah). Biasanya, tiap KAP normalnya mengambil sampel dokumen dari setiap bulan, dari bulan di awal periode sampai bulan di akhir periode. Setiap bulannya, sampel yang diambil memiliki nilai sekitar 20 – 50% dari nilai sebenarnya. Misal dokumen penjualan, dalam bulan Januari terdapat penjualan sebesar satu milyar, ambillah dokumen untuk disampling total nilainya antara 200 – 500 juta. (Mengerti?)
KESIMPULAN
Semakin lama kamu menjalani profesi ini, semakin mahir kamu dalam menentukan sampel. Karena menentukan sampel tidak sesimpel ‘klik by computer’. Terkadang dibutuhkan ‘sense’ dalam menentukan sampel. Audit itu menyenangkan bila kamu tahu ilmunya. J Enjoy it!

Audit Finansial: Definisi dan Hasil

EG pernah membahas tentang macam-macam audit yang dapat dianalogikan dengan hape (Audit Nggak Beda Jauh dari Hape!). Fitur yang ditawarkan oleh jenis hape tertentu umpama tujuan audit: beda fitur, beda layanan yang diperoleh. Kali ini kita akan fokus pada salah satu jenis audit: audit finansial (umumnya frasa “audit” mewakili “audit finansial”), yang merupakan audit yang digeluti oleh auditor eksternal/bekerja di Kantor Akuntan Publik (Menjadi Seorang Akuntan Publik).

Audit Finansial

Untuk tau makanan (xixixi :p) apa audit finansial itu, kita dapat intip dari definisi audit yang kompleks, tetapi lengkap dan menggambar penuh apa itu audit finansial. Kalo kata dosen auditing saya yang cakep pada masa itu, bangun tidur ditanyain definisi audit, refleks harus bisa jawab! So, audit didefinisikan sbb:

Proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti-bukti secara objektif mengenai asersi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang ditetapkan untuk mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan  (berdasarkan definisi ASOBAC)

Definisi yang umum digunakan tersebut, menyiratkan beberapa poin penting sbb:

  1. Proses yang sistematik -> logis, berkerangka, ada tahapannya
  2. Memperoleh dan mengevaluasi bukti -> inilah yang dikerjakan auditor 
  3. Objektif -> tidak memihak 
  4. Asersi -> pernyataan satu pihak kepada pihak lain, contohnya: data, laporan keuangan 
  5. Tingkat kesesuaian -> hasil akhirnya seberapa sesuai 
  6. Kriteria yang ditetapkan -> umumnya kriteria yang digunakan di Indonesia adalah PABU (Prinsip Akuntansi Berterima Umum)
  7. Mengkomunikasikan hasil -> dalam bentuk audit report (tertulis), penjelasan selengkapnya di sub-judul di bawah.
  8. Pihak yang berkepentingan -> top management, bursa efek, head office, dsb.

Hasilnya?

Hasil audit adalah pendapat atau opini dari auditor. Meskipun tebal dan berisi macam-macam laporan keuangan auditan yang mendukung dsb, intinya pendapat auditor adalah yang terpenting dari sebuah audit finansial.

Hasil audit ada 5 jenis, dari paling oke ke paling nggak oke:

  1. wajar (unqualified) 
  2. wajar dengan alinea penjelas 
  3. wajar dengan pengecualian (qualified) 
  4. tidak wajar (adverse) 
  5. menolak memberi pendapat (disclaimer) 

Yap, bisa saja setelah audit dilakukan, auditor malah menolak untuk memberi pendapat! Bisa jadi disebabkan karena “dibatasi”-nya langkah auditor dalam memperoleh bukti-bukti yang cukup untuk menyatakan pendapat. 

Wajar (unqualified) yang dimaksud dalam istilah audit, mempunyai artian: bebas dari bias (keragu-raguan) dan ketidakjujuran, dan informasi yang disajikan lengkap (full disclosure). Memang sih terlalu abstrak, nggak seperti kalau kita menentukan kewajaran dengan patokan nilai atau harga, dan opini tersebut memang nggak bisa dikeluarkan oleh auditor yang belum menjadi partner.

—-


Sekian, sedikit kulit-kulit audit yang akan Anda dapatkan sekiranya berada di awal-awal belajar Auditing. Tertarik tau lebih banyak tentang audit? Lihat list postingan di bawah dengan tag: auditing.

ABC of Accounting (EG compilation version)

Tentu saja saya nggak sanggup kalau harus bikin A to Z of Accounting dalam 1 postingan, sehingga saya bikin aja ABC of Accounting (means Basic Things of Accounting). Akuntansi kan juga salah satu bahasan di Ekonom Gila, yang cukup rumit dan pada umumnya nggak gampang dimengerti dengan common sense, jadi marilah kita mulai dari gampang-gampang dan kulit-kulit aja. Siapa tau bisa membantu menurunkan bulu kuduk pembaca yang merinding… xixixi…

So, here is it… ABC of Accounting (EG compilation version) dari “dapur tacit” saya!

Why oh why?

Buat apa sih ada ilmu yang namanya Akuntansi segala? *versi cablak campur kesel*

Penjelasan Gila:

Informasi. Singkat kan jawabannya. Xixixi… Lebih spesifik sih informasi keuangan. Informasi keuangan itu bisa dilihat di laporan keuangan. Laporan keuangan digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan (bahasa kerennya sih stakeholder) buat bisnis doooong.

Ibarat kita bikin tugas kuliah, hasilnya sih selembar dua lembar, namun dari ketikan pertama dan ide-ide segar ataupun basi yang ada di sana, ada prosesnya dari ngumpulin data dan cari info sana-sini, mengolah-menganalisis-mengelompokkan, baru deh bisa jadi tuh tugas. Ya, gitu deh akuntansi juga kayak gitu.

Produk Akuntansi 

Di atas udah sebut sih, produknya sih informasi yang namanya “Laporan Keuangan”, kayak gimana tuh ya?

Penjelasan Gila:

Kertas gitu lah say, ada tulisan dan angka-angka. Atau versi elektroniknya ya kira-kira juga cem gitu, kertas di-scan or pdf version… Laporan keuangan itu 1 set, isinya 5 macem laporan. *ups… ini kok udah kayak kongkow sama temen gila ye ngejelasinnya, ya anggeplah saya cuma lagi ngobrol yang santay… bukankah lebih enak? Lanjooot!* 5 laporan itu punya nama dan guna masing-masing:

  1. Neraca (untuk liat aset dan kewajiban, wajib balance tuh dua sisi makanya disebut neraca)
  2. Laporan Laba Rugi (ada juga yang menyebutnya Rugi Laba dilandasi pemikiran konservatisme) 
  3. Laporan Perubahan Modal (kalau rugi modal berkurang, kalau laba modal bertambah kan, nah bisa keliatan di sini.  Laporan ini harus setelah ada Laporan Rugi Laba tentunya.)
  4. Laporan Arus Kas (untuk liat kas masuk dan keluar, di sini kita bisa liat “skala” transaksi sebuah perusahaan)
  5. Pengungkapan (keempat laporan di atas kan secara global, nah penjelasan detail ada di pengungkapan).

Logika

Pusing deh belajar akuntansi, banyak banget aturan buat cara ngitungnya. Harus begini begitu. Aaaaa… berguna sih berguna tapi kan pusing banget gitu loh menghafalkannya.

Penjelasan Gila:

Semua juga gitu kali… mau belajar apapun juga begitu kan. Nah, kalau mengikuti logikanya, dan mengulangi mengingat-ingat (menghafal), pasti juga bisa. Beda banget sama yang penting hafal terus bisa menjawab soal. Untuk jangka pendek kepepet besok mau ujian ya bener sih, hafalin aja.
Ya, paling nggak yang umum-umum ngerti dan hafal lah, kalau udah detail nggak kudu kale. Hare gene kan bisa searching, googling, buka buku, nggak usah dibawa susah. Di sini, di Ekonom Gila, kita belajar logikanya dengan fun. *loh kok jadi promo? xixixi ..*

Ekonom Gila tapi kok bahas Akuntansi sih?

Well, Fakultas Ekonomi kok ada jurusan Akuntansi sih? Sama jawabannya. Pernah loh Ekonom Gila membahas soal menyoal “brand” ini. Bacanya di sini ;)