Jika Sarjana Pulang Kampung

Oleh: Hilmy Bramantyo*

Adakah yang aneh dengan judul tulisan di atas? Anak muda diminta kembali ke desanya? Siapa yang nyuruh? Saya yang nyuruh, hehehe. Berawal dari semakin banyaknya pemuda/sarjana yang meninggalkan desanya, saya punya pemikiran sederhana saja
Desa ditinggalkan, Kota semakin padat, Lapangan Kerja Kota Sempit, Peluang di desa besar
Betul kan? Kalau desa ditinggalkan berarti ya peluang nyari nafkah di desa sebenarnya besar kan? Sekarang saya tanya, kenapa desa ditinggalkan sama pemuda atau sarjana-sarjana? Karena menganggap kota besar lebih banyak peluang, kota besar lebih banyak hiburan, dan prestise yang tinggi kalau bisa kerja di kota, betul gak? Nah, biasanya kita sering mendengar bahwa penggerak roda perekonomian ada di kota dengan segala macam industrinya bukan. Namun kali ini saya akan sampaikan pemikiran baru yang berkebalikan, pokoknya ngawur!
Dulu saya pernah belajar teori pembangunan Chenery yang menyatakan bahwa lapangan pekerjaan di desa sudah terbatas, sehingga arus tenaga kerja pindah dari desa ke kota, lapangan pekerjaan bergeser dari sektor pertanian ke sektor industri (mudah-mudahan benar isi teorinya). Mungkin saja teori itu benar di awal tahun ’70-90. Tambahan produktivitas per pekerja di desa tak sebesar di kota, sehingga pekerja berbondong-bondong terbang ke kota. Hingga akhirnya kita lihat saat ini kota-kota di Indonesia berkembang sebegitu pesatnya, pusat gaya hidup dimana-mana, restoran kaki lima hingga bintang lima mudah dijumpai, perumahan di kota begitu diminati, dan sebagainya. Namun bagaimana dengan pendapat bahwa jika mau cari kerja, carilah di kota?
Bolehlah saya berpendapat bahwa lapangan pekerjaan di kota sudah semakin terbatas, jika anda tak punya kualifikasi pendidikan mumpuni atau koneksi yang kencang, mungkin saja anda menjadi pengangguran terselubung atau lebih mudahnya, pengangguran. Buktinya, di kota besar seperti Jakarta mudah dijumpai pemukiman kumuh (slump area). Pemukiman ini biasanya terletak di bantaran kali, bantaran rel kereta, atau kolong jembatan. Menurut dugaan saya, mereka ini adalah orang yang berasal dari desa dan hendak mencari pekerjaan di kota seperti Jakarta, namun karena mereka hanya bermodalkan nekat, akhirnya mereka tak bisa mencari pekerjaan yang baik dan “terpaksa” kerja serabutan, yang pada ujung-ujungnya, mungkin kesejahteraan ekonomi yang hendak mereka cita-citakan tak tercapai. Dan tak hanya terjadi di Jakarta saja, kota-kota besar duniapun mengalaminya, dan itulah masalah umum perkotaan. Masalah ini tentunya diikuti dengan angka kemiskinan yang semakin meningkat saat ini saja jumlah orang miskin adalah 32 juta orang lebih (data 2009), walaupun jumlah orang miskin di desa masih jauh lebih tinggi daripada di kota. Akibatnya adalah Indonesia tak putus-putus dibelengu oleh rantai kemiskinan. Jadi, masih relevankah teori pembangunan Chenery? Masih perlukah mencari pekerjaan hingga ke kota-kota besar?
Menurut saya, malahan saat ini desa-desa yang ditinggalkan menyediakan begitu banyak lahan pekerjaan yang justru akan menambah produktivitas pekerjanya, dan ujung-ujungnya adalah membangun perekonomian desa. Bahkan sebenarnya pemerintah perlu tenaga kerja profesional untuk mengelola lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Hal ini terkait dengan keadaan pemerintah yang terus menerus impor beras, impor daging sapi, impor kedelai, bahkan impor garam! Maka, siapa bilang lahan pekerjaan di desa sedikit? Begitu banyak peluang yang tersedia bagi calon tenaga kerja ataupun tenaga kerja di usia produktif bahkan usia muda. Mau ternak sapi? rumput tersedia banyak, udara sejuk, cocok untuk ternak sapi. Mau ternak ayam? Pakan relatif lebih mudah dan murah dibanding di kota. Mau ternak ikan? air di desa lebih segar daripada kota. Satu hal yang patut diperhatikan adalah, membangun lahan pekerjaan di desa perlu semangat entrepreneurship, karena kita akan mulai membangun dari nol. Sungguh itu adalah hal yang menantang, dan menurut saya sudah saatnya kaum tua di desa menyerahkan pengelolaannya kepada anak-anak muda yang memiliki resistensi dan menyukai tantangan.
Satu hal yang sangat saya sayangkan selama berkuliah di FEB UGM, mata kuliah Ekonomika Pertanian kurang diminati (waktu zaman saya loh), kemudian Ekonomika Pedesaan juga entah kemana raibnya, sudah tak diajarkan lagi sejak zaman saya. Menurut saya, sedikitnya peminat bahkan sampai peniadaan 2 mata kuliah ini sungguh aneh. FEB UGM yang terletak di Yogyakarta yang masyarakatnya banyak hidup di desa dengan mata pencarian pertanian kok malah seolah menganggap sekarang era pertanian sudah selesai. Kalo saya jadi dekan FEB, akan saya masukkan 2 mata kuliah tersebut menjadi wajib, hehe…
Tak dapat dibayangkan, jika saat ini ada 10% dari lulusan perguruan tinggi kita kembali ke desa dan membangkitkan perekonomian desa, maka bagaimana keadaan desa di Indonesia 10 tahun mendatang? Bagaimana roda perekonomian Indonesia di masa mendatang? Mungkin pemerintah Indonesia tak lagi impor daging sapi, ikan, bahkan garam. Kesenjangan pertumbuhan antara desa dan kota jauh berkurang, anak-anak muda kita tak malu lagi terjun ke dunia pertanian, peternakan, dan berbagai sektor agribisnis lainnya, dan sasaran yang ingin dicapai tentunya pembangunan negara Indonesia tercinta melalui desa. Saya rasa itu tak mustahil, sangat mungkin. Maka, kenapa tak kembali ke desa anda masing-masing?
*)Penulis adalah Lulusan IE FEB UGM yang berprofesi jadi Pengusaha Ngawur
Advertisements