Credit Rating

Oleh: Dyah Restyani


Apa sih credit rating itu? Credit rating adalah peringkat yang mencerminkan opini dari Lembaga Pemeringkat tentang kemampuan suatu negara dan atau perusahaan dalam memenuhi financial commitment-nya. Hal ini diperlukan oleh calon investor yang berminat untuk memberikan pinjaman atau menanamkan modal dalam suatu negara. Salah satu Lembaga Pemeringkat misalnya yaitu Fitch Rating.

Seperti yang kita ketahui bersama, sejak akhir 2011, Fitch Rating menaikkan credit rating Indonesia yang tadinya BB+ menjadi BBB-. Artinya apa?

BBB- menunjukkan bahwa Indonesia telah masuk dalam kategori investment grade, yaitu berada pada peringkat yang menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia kondusif untuk berinvestasi. Lalu bagaimana dengan credit rating yang lain?

Tabel credit rating selengkapnya dapat disimak pada tabel berikut:



Sebagai perbandingan, di bawah ini data credit rating beberapa negara di ASEAN.


Dari tabel di atas, kita ketahui bersama bahwa Singapura adalah negara di ASEAN yang memiliki credit rating tertinggi diantara negara-negara ASEAN yang lain. Maka tak heran jika Singapura ibarat magnet bagi para investor. Para investor yang menanamkan modalnya di Singapura, selain mendapatkan keuntungan karena iklim investasi yang menguntungkan, juga memberikan kontribusi positif bagi Negara Singapura. Investasi yang masuk di negara tersebut tentu akan mendorong perekonomian Singapura sehingga melaju pesat setiap tahunnya.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana agar negara kita juga mampu mencapai credit rating AAA itu? Tentu hal tersebut merupakan PR jangka panjang yang sedang kita usahakan sedari dulu. :)




Semoga tulisan sangat sederhana ini bermanfaat untuk yang penasaran dengan credit rating.. :) btw jika ada yang salah, silakan dikoreksi :D
Advertisements

Ekonomi Politik Koalisi

Source Pict.: bisnis.com
Oleh: Muh.Syarif Hidayatullah

“Tidak ada musuh abadi dan tidak ada rekan abadi, yang ada hanya kepentingan”
Anekdot di atas sudah sangat lazim didengungkan dalam dunia politik. Kepentingan merupakan dasar dari semua tindakan politik. Sehingga wajar apabila Sumarsono (2001) mendefinisikan politik sebagai asas untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki. Akhir-akhir ini, masyarakat dipertontonkan implementasi dari anekdot tersebut, yaitu melalui perpecahan yang dialami oleh sekretariat gabungan (setgab) partai politik (parpol).
Terancam dan diancamnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk keluar dari koalisi parpol pemerintah menjadi topik pembahasan yang hangat selama beberapa saat terakhir. Sikap PKS terkait isu kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi pemicu utama. PKS dinilai tidak sejalan dengan kepentingan dari parpol koalisi untuk terus mendukung kebijakan pemerintah.
Menurut Riker (1962), koalisi adalah partnership untuk memilih dan melaksanakan strategi bersama (joint strategy). Fungsi dari koalisi adalah untuk menyatukan kepentingan sehingga dapat memenangkan proses voting di legislatif (Baron, 1989). Menilik dari definisi tersebut, maka apa yang dilakukan oleh PKS sudah keluar dari pakem koalisi yang seharusnya. Karena, PKS seharusnya menyetujui joint strategy dan memberikan suara (vote) atas hasil keputusan dari koalisi, seperti dalam isu BBM dan Century.
Sebuah koalisi dapat berjalan dengan baik apabila setiap anggotanya disiplin. Dalam hal ini, disiplin adalah setiap anggota koalisi dapat bergerak bersama menolak proposal (usulan) dari partai-partai non-koalisi (Riker, 1962). Sehingga wajar, salah satu tujuan utama dari politik adalah untuk mencapai kebulatan suara untuk menolak gagasan dari pihak lain (non-koalisi), dan dalam konteks ini adalah memberikan suara dalam voting-voting pada sidang DPR.  
Membelotnya PKS ini tentu sudah mencederai kepentingan Koalisi. Pada isu kenaikan harga BBM bersubsidi, pembelotan PKS bisa saja membuat koalisi kalah dalam pemungutan suara. Hal ini tentunya harus di evaluasi oleh setgab parpol koalisi. Setgab harus melakukan kalkulasi ulang terkait kekuatan dan efektivitas dari koalisi mereka.
Dalam ranah ekonomi politik dikenal sebuah terma yang disebut Minimum Winning sizeMinimum winning size adalah jumlah minimum dari sebuah koalisi yang ideal, atau sebesar 50%+1 dari jumlah pemilik suara. Pada umumnya, partai politik akan membentuk sejumlah koalisi sebesarminimum winning size, dan tidak akan lebih dari itu (Koehler, 1975). Hal ini dimaksudkan agar koalisi yang terbentuk least costly. Mengikutsertakan partai politik ke dalam sebuah koalisi adalah suatu “biaya”, seperti biaya pembagian kursi kekuasaan dan jabatan.
Menurut penulis, koalisi gemuk yang dibuat oleh Partai Demokrat justru sangat bermanfaat. Dengan adanya koalisi gemuk, dan jauh di atas minimum winning size, koalisi sudah memasuki wilayah aman. Menurut Farejohn, Fiorina dan McKelvey (1987), koalisi akan baik jika jauh di atasminimum winning size, agar menghindari kemungkinan terjadinya pembangkangan dari dalam tubuh koalisi. Hal ini terbukti dari berhasilnya koalisi partai pemerintah memenangi voting dalam isu kenaikan harga BBM bersubsidi walaupun terjadi pembangkangan dari anggota partai koalisi (PKS).
Tentunya kita harus menilai sikap PKS terhadap koalisi secara objektif. Sudah barang tentu bahwa langkah politik PKS dilakukan dengan kalkulasi yang cermat. Menurut Daniel Diermeir (2009), sebuah koalisi pemerintahan akan retak apabila sebuah “critical events” dirasa lebih buruk dibandingkan dengan payoff yang didapat oleh partai koalisi. Dalam hal ini, PKS mungkin sudah melakukan kalkulasi politik bahwa menyetujui kenaikan harga BBM bersubsidi akan berdampak negatif bahkan dibandingkan keuntungan apabila mereka tetap di dalam koalisi.
Kalkulasi seperti ini sangat wajar dalam dunia politik. Isu BBM terbukti sangat sensitif dan populis. Keberpihakan yang diambil akan sangat menentukan pencitraan partai. Dalam konteks ini, menolak mengikuti koalisi merupakan langkah strategis untuk mendongkrak popularitas PKS ke depannya. Langkah ini bukan tanpa “biaya”, karena sangat mungkin PKS akan kehilangan jatah kursi Menteri di Kabinet SBY. Kehilangan jatah kursi Menteri, berarti kehilangan satu saluran untuk dekat dengan rakyat. Hal ini tentunya menjadi dilema, sehingga PKS harus melakukan kalkulasi mana yang terbaik untuk menjaga kepentingannya ke depan.
Masa depan koalisi
Permasalahan dalam intra setkab ini bisa menjadi pembelajaran ke depan terkait manajemen dari koalisi. Ada beberapa hal yang sebenarnya dapat dilakukan. Pertama memperbaiki mekanisme pertukaran informasi. Kedua, memperbaiki koordinasi antar Kementerian dan kabinet. Ketiga, menerapkan resolusi konflik dan memperkuat peran setkab.
Pertama, memperbaiki mekanisme informasi. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa informasi memegang peranan penting saat ini. Minimnya informasi seringkali menjadi landasan dasar tumbangnya suatu koalisi. Menurut Baron (1989), ketidakpastian (uncertainty) informasi akan berakibat buruk bagi keberlangsungan koalisi. Setkab bisa meniru skema yang diterapkan di New Zealand, yang menerapkan skema “consultation ministers”. Fungsi dari consultation ministersadalah untuk menyebarluaskan informasi kepada anggota kabinet yang merupakan anggota koalisi.
Kedua, memperbaiki koordinasi antar Kementerian dan Kabinet. Hal ini perlu dilakukan mengingat seluruh partai politik anggota koalisi mendapat jatah kursi Menteri. Dengan memperbaiki koordinasi di level eksekutif, maka benturan kepentingan antar anggota koalisi di Kabinet dapat diminimalisir.
Ketiga, menerapkan resolusi konflik dan memperkuat peran setkab. Negara-negara seperti Jerman dan Denmark terbukti sukses menerapkan komite koalisi seperti Setkab. Kesuksesan penerapan komite ini dikarenakan adanya pertemuan rutin dan dipandangnya komite sebagai forum penting dalam manajemen politik (Seyd, 2002).   
Keberadaan koalisi sangatlah penting dalam percaturan politik Indonesia. Dinamika politik dan kebijakan publik Indonesia sangat bergantung dari bagaimana koalisi ini dapat berjalan. Rakyat sangat menunggu bagaimana dinamika politik elite ini berjalan, karena pada akhirnya, rakyatlah yang menanggung seluruh “biaya” dari manuver politik para politisi.

Batik dan Ekonomi Bangsa?

Oleh: Izzur Rozabi*

Indonesia merupakan negara terdiri dari berbagai macam budaya dan latar belakang yang mempunyai begitu banyak kekayaan dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Budaya itu sendiri merupakan sebuah identitas kebanggaan masyarakat Indonesia dan dengan kecintaan tersebut maka masyarakat Indonesia akan berjuang untuk memelihara identitas bangsa agar tetap terjaga eksistensinya. Permasalahan kebanyakan masyarakat Indonesia yang selama ini, ialah cenderung kurang mencintai budaya sendiri danbertendensi menyamarkan atau kurang bangga akan budayanya.
Berkembang pesatnya budaya asing yang masuk ke Indonesia dikarenakan derasnya arus globalisasi sebenarnya bukanlah hal yang harus dihindari, terlebih lagi apabila nilai-nilai yang dibawa adalah nilai-nilai yang baik dan bermanfaat. Namun, yang harus menjadi perhatian utama adalah kita sebagai warga Negara Indonesia harus tetap menjaga budaya sendiri dan memeliharanya agar tidak punah,berusaha menjadi warga dunia yang selalu keep in touch dengan teknologi dan perubahan, namun tetap memiliki global thinking and local action atau merupakan prinsip yang harus dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia.
Salah satu peninggalan budaya leluhur yang menjadi primadona bangsa adalah batik. Batik adalah salah satu Heritage of Indonesiayang berhubungan erat dengan cara pembuatan bahan pakaian. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober 2009.
Selain itu, batik juga termasuk kedalam binis industri kreatif yang mengacu pada dua hal. Hal yang menjadi acuan pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam (wax resist dyeing) sedangkan yang kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik wax resist dyeing disertai tambahan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Dan seperti yang kita tahu, bahkan di banyak tempat di Indonesia, sentra batik yang selama ini menjadi produk industri kreatif ini, merupakan karya yang dibuat dengan kerajinan dan tingkat seni tertentu melalui teknik yang rumit.
Batik merupakan budaya khas Indonesia yang harus dilestarikan. Batik yang merupakan salah satu hasil karya kebudayaan nasional bidang industri kreatif, berfungsi untuk memberikan identitas kepada aneka warna orang Indonesia. Akan tetapi sejauh ini orang Indonesia sendiri, khususnya pemuda kurang begitu memiliki tingkat penghayatan dalam memakai batik atau memakainya karena adanya suatu trend.
Sebagai bangsa yang masih harus berjuang dengan citra budaya batik , berbagi macam masalah kebutuhan primer, ekonomi, sosial-budaya, dan politik yang mengancam eksistensinya, saat ini bangsa Indonesia belum optimal menghasilkan karya-karya besar yang dapat dibanggakan sebagian besar warganya, yaitu yang dapat memberi kebanggaan dan identitas nasional kepada mereka. Untuk itu, sejak tahun 2009 pemerintah menggencarkan pelestarian batik dengan mempromosikan batik melalui beragam cara, salah satunya mewajibkan memakai baju batik pada hari tertentu dan pada acara tertentu pula. Seperti yang dilakukan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X sudah mengeluarkan surat edaran sejak tanggal 31 Juli tahun 2007 tentang penggunaan pakaian dinas harian yang isinya mewajibkan pegawai Pemprov setiap hari Jumat dan Sabtu memakai batik. Ini wujud komitmen Pemprov melestarikan batik. “Komitmen kita sudah sejak lama, ” kata kepala Bidang Hubungan Masyarakat Pemprov DIY Biwara Yuswantara.






*Izzur Rozabi, mahasiswa tingkat dua, Universitas Brawijaya.

Menjadi Tuan di Negeri Sendiri

Oleh: Marzuki*

Saat ini kiblat perekonomian dunia ada 2 yakni USA dan CHINA, lalu dimana posisi Indonesia, sudah menjadi rahasia umum jika Indonesia merupakan budak USA, yaa apalagi kalo hutang luar negeri kita yang seabrek gunung sampai – sampai anak cucu kita yang lahir langsung memiliki hutang yang ntah kapan minjamnya, hidup di Indonesia ini memang sangat aneh, mungkin hanya di negeri inilah satu-satunya tempat yang memiliki sumber daya alam yang terbesar di bumi ini. Penduduknya lebih miskin dari pada sebongkah pulau kecil yang disebut dengan Singapura yang bahkan lebih luas kota Jakarta.  Indonesia memiliki sumberdaya alam yang sangat melimpah, tapi mengapa semua hasil sumber daya alam itu sebagian besarnya di kirim ke Negara yang melakukan pengalian? Dan Indonesia hanya mendapatkan pajak yang tidak seberapa dengan hasil yang mereka peroleh, serta tenaga kerja yang diperlakukan seperti hewan di rumah sendiri, yaa inilah Indonesia menjadi tamu di Negara sendiri. Mengapa bisa menjadi demikian? Hal tersebutlah yang masih sangat sulit untuk dijawab oleh semua orang yang ada di Negara ini.
Indonesia memiliki orang-orang yang cerdas, jenius, professor, risk taker, kaum professional, seniman, musisi, dll, yang keseluruhanya memeiliki level yang diatas rata- rata, namun apa yang terjadi di lapangan? Orang-orang yang tampil hanyalah orang-orang yang memiliki level kelas 2, lalu kemana orang-orang Indonesia yang memiliki level kelas 1? Tentu saja mereka lari keluar negeri, karena merasa karya yang mereka hasilkan di dalam negeri tidak mendapat apresiasi dari pemerintah, mereka jauh lebih dihargai di luar negeri akan kerya mereka. Kita semua telah mengetahui di negeri ini bahwa ada satu rahasia umum yakni “jika bisa dipersulit, mengapa harus di buat mudah?” hal itulah yang menghancurkan negeri ini. Para pengambil keputusan tentu akan melihat setiap keputusan yang mereka ambil apakah akan mendatangkan keuntungan ataukah tidak, jika tidak yaa maaf saja.. kira-kira seperti itulah wajah pengambil keputusan yang ada di Negara ini.
Dengan semua permasalahan diatas, bisakah perekonomian kita bangkit dan menjadi tuan rumah di rumah sendiri? Tentu saja bisa, terdapat banyak cara, berikut beberapa cara yang saya tawarkan:
1. Cegah putra-putri terbaik bangsa untuk pergi keluar negeri, belajar di luar negeri itu baik, namun setelah mereka menyelesaikan pendidikanya, segera tarik mereka kembali kedalam negeri untuk membangun Negara ini. Tentu saja dengan imbalan yang sesuai untuk mereka.
2. Pemimpin yang memiliki mental baja, serta tidak takut akan tekanan dari Negara lain.
3. Kembalikan perekonomian kerakyaatan yakni koperasi. Sadar atau tidak saat ini kita telah menganiut ekonomi liberal, perekonomian kerakyaatan pancasila hanyalah sebuah teori yang tidak pernah terlaksana, koperasi kian hari kian tengelam, kembalikan perekonomian Indonesia seperti ciri khas yang dimiliki Negara ini.
4. Percaya akan kemampuan diri sendiri, saat ini putra putrid Indonesia memiliki ide yang sangat brilian tapi mengapa tidak ada yang muncul ke lapangan, butuh support dari pemerintah.
5. Lunasi hutang luar negeri secepat mungkin, saat ini hutang luar negeri Indonesia sekitar 1000 triliun rupiah, tentu angka yang sangat besar, namun jika ada keseriusan dari pemrintah tentu hutang itu bisa di bayar kapanpun kita mau, karena kita merupakan Negara yang kaya raya.
Demikian beberapa langkah dasar yang menjadi titik tolak agar Negara ini bisa berpijak dengan kaki sendiri, serta menatap masa depan dengan penuh ambisi.
Jika diperhatikan dan jika kita mau membandingkanya dengan Negara lain di dunia, secara rasional tentu kita akan berfikir bahwa Indonesia merupakan Negara terkaya di dunia, dengan sumber daya alam yang melimpah serta tidak akan habis. Flora dan fauna yang eksotis, terletak di antara persilangan dunia, lalu mengapa Indonesia masih berada di level Negara berkembang? Jawabanya karena kita tidak memiliki rasa percaya diri, mulai saat ini kita harus bisa bangkit dan menjadi super power, karena semua yang dibutuhkan untuk hal tersebut dapat kita penuhi sendiri.
Semoga artikel ini dapat bermamfaat bagi kita semua, serta dapat membangkitkan jiwa kita yang telah lama tertidur untuk bangkit kembali dan memimpin perekonomian dunia, mohon maaf jika terdapat kekurangan maupun kesalahan,karena saya hanyalah manusia biasa yang penuh dengan kesalahan, tiada manusia yang sempurna.


*Mahasiswa Jurusan Akuntansi 2009 Universitas Sriwijaya.

Revolusi Ekonomi Spektakuler: Dimulai dari Gadis 12 Tahun

*Dwi Andi Rohmatika, 843 kata

Pendidikan. Pengangguran. Kemiskinan.

Solusinya bukanlah internet. Solusinya bukan pula ilmu pengetahuan. Solusinya juga bukan pemerintah.

Solusinya adalah: Anak Perempuan…

Artikel ini terinspirasi oleh kisah masa kecil Sang Penulis dengan teman sekelasnya, sebut saja namanya Siti, di sebuah desa kecil di pedalaman daerah Sragen sana. Tepat ketika Si Penulis dan Siti sama-sama lulus SD, tiba-tiba saja Siti tidak bisa meneruskan sekolahnya lagi. Kenapa? Hanya satu kata yang keluar dari mulut Siti: Aku akan menikah. Si Penulis waktu itu tidak sempat menghadiri pernikahan Siti karena jauhnya desa Siti. Sekian tahun berselang, Si Penulis akhirnya bertemu dengan Siti lagi. Dia hidup di rumah yang sangat sederhana, bersama dengan ketiga anaknya. Sehari-hari, dia hanya mengasuh anaknya dan mengurus sepetak tanah yang tak seberapa. Suaminya bekerja sebagai tukang kayu di desanya. Jelas, kehidupan mereka jauh dari kata sejahtera.

Lebih dari 600 juta anak perempuan tinggal di negara-negara berkembang (Population Reference Bureau Database, 2007). Di Indonesia sendiri, anak-anak perempuan berumur 10-24 tahun berjumlah sekitar 33 juta jiwa dan mereka yang berumur 15-19 tahun menempati jumlah tertinggi dari periode umur lima tahunan lainnya (Populasi Penduduk Indonesia BPS, 2011). Ketika kehidupan mereka menjadi lebih baik, bukan hanya 33 juta jiwa tersebut yang menjadi lebih baik, tetapi kehidupan semua orang di sekitarnya dan kehidupan generasi yang akan datang tentu bisa menjadi lebih baik.

Ah, Masa’ iya? Bo’ong kali…

Ketika seorang anak perempuan di negara berkembang mendapatkan pendidikan selama tujuh tahun atau lebih, dia akan menikah empat tahun kemudian dan memiliki anak 2,2 orang lebih sedikit. Ketika wanita dan anak-anak perempuan menerima pendapatan, mereka menginvestasikan 90 persennya pada keluarga mereka, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya menginvestasikannya 30 hingga 40 persen (Fact Sheet dari Girleffect.org, 2011).

Itu adalah kenyataan yang terjadi di banyak negara-negara berkembang. Sedangkan di Indonesia sendiri, 32,6% perempuan menyatakan tidak pernah merasakan waktu luang karena harus terus bekerja. Dalam hal pendidikan, 49,4% perempuan usia sekolah yang keluar dari sekolahnya beralasan ketidakmampuannya dalam membayar biaya sekolah, sedangkan 26,8% lainnya keluar dari sekolah karena menikah (girlsdiscovered.org, 2011).

Jika dilihat-lihat, berapakah umur pembantu (bagi yang punya, atau bisa dicek lewat pembantu yang bekerja di rumah tetangga) yang ada saat ini? Aku tidak berniat memungkiri kalau baby sitter yang ada di rumah tante berumur 8 tahun lebih muda dariku. Ya, sebanyak 45,4% perempuan usia 15-19 tahun yang harus bekerja untuk mendapatkan uang. Tak jarang, mereka harus bekerja berpuluh atau beratus kilometer jauhnya dari rumah.

Di semua tingkat pendidikan, sebuah survei dilakukan pada pekerja yang mempergunakan alat transportasi komuter. Hasilnya, pekerja wanita mendapatkan upah lebih rendah daripada pekerja laki-laki hampir di semua tingkat pendidikan (mulai dari lulusan SD hingga lulusan universitas). Sedangkan secara keseluruhan untuk pekerja yang merantau, meskipun lebih banyak lulusan wanita dalam strata pendidikan yang sama, akan tetapi upah wanita tetap lebih rendah daripada laki-laki secara rata-rata. Kebanyakan dari para anak-anak perempuan dan wanita itupun bekerja di sektor informal (Data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, 2011).

Aku bisa berinvestasi. Kamu juga! ^^

Ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh para remaja wanita ini: ekonomi, pendidikan, perlindungan hukum, pembebasan mereka atas isolasi, pembebasan mereka dari paksaan kehendak orang di sekitarnya. Ketika seorang anak perempuan mulai beranjak remaja, mereka mulai dibebani oleh banyak hal, termasuk membantu mencari nafkah untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Sebagai ilustrasi (ini kisah nyata, loh!): ketika ada anak perempuan dan anak laki-laki yang harus bersekolah, sama-sama SD, tetapi biaya hanya cukup untuk satu orang saja, orang tua biasanya akan memilih meneruskan anak lak-lakinya untuk terus bersekolah meskipun anak perempuannya lebih hebat secara akademik.

Bagaimana cara berinvestasi? Sebagai salah satu sivitas akademika, aku juga akan berusaha memikirkan solusi dari segi pendidikan dan perbaikan perekonomian. Maklum, karena aku juga pemegang tagline: “Think Big, Do Small, Do Now!” maka solusi yang agak “gila” ini juga akan merambah pada apa yang bisa dilakukan saat ini untuk mengubah itu.

Salah satu cara untuk memberikan keterampilan dan pendidikan lanjut bisa dilakukan melalui cara Getok Tular (alias Tipping Point). Misalkan saja apa yang sudah aku coba lakukan pada baby sitter di rumah tante. Di tempat tante, aku dulu mengajari baby sitter di sana ntuk mengenal komputer. Secara basis fundamental yang ada, aku mengajarinya bagaimana cara menyalakan, mengetik, menghitung (Microsoft Word dan Excel), serta mengenalkannya pada internet. Setahun kemudian, dia pergi untuk menjadi TKW di Malaysia. Kni, dia tinggal di desanya. Sudah memiliki akun facebook, dan dia mengajari teman-temannya bagaimana cara mengetik di komputer melalui rental terdekat. Jika dia sudah memiliki modal yang cukup, dia berencana membuat rental sendiri (atau mungkin bahkan warnet).

Memulai usaha pun bisa dengan berbagai cara. Dalam Zag Model (Marty Numeier, 2007) memang ada beberapa cara jitu untuk memulai usaha. Melalui Focus, Difference, dan Trends disertai Communications, model enterpreneurship yang keberlangsungannya bisa terjaga pun bisa dilakukan. Misalnya saja, saat ini sedang banyak tren wanita yang mulai memakai jilbab dengan hiasan dan warna yang bermacam-macam. Maka, memanfaatkan tren tersebut, aku bisa mengajari baby sitter di rumah untuk menyulam dan nantinya hasilnya bisa dijual. Marketing, tentu saja sangat berperan di sini sehingga kelak, ketika dia sudah memiliki rumah sendiri, dia bisa membuka usahanya sendiri.

Ini ideku, apa idemu? ^^