Jamu Buyung Upik Tak Ada di Toko Sebelah Rumah? Cari Pakai Marketing Audit Yuuuk~

https://i0.wp.com/warungjamu.com/img/p/139-280-thickbox.jpg

Suatu siang di Bulan Agustus, saya ingin membeli JAMU BUYUNG UPIK di toko kelontong sebelah rumah. Sewaktu tiba di sana, kata penjualnya jamu ini sudah tidak dijual di sana lagi. Bagaimana bisa? Padahal sepuluh tahun lalu, toko ini bahkan menyediakan lebih dari 3 rasa? Mengapa tiba-tiba tidak menjual lagi?
Kalau ada yang lagi males makan karena habis patah hati atau sedang galau, ada satu obat mujarab yang tokcer abis. Apakah itu? JAMU BUYUNG UPIK!!! (yang bukan angkatan 80-90an pasti roaming) Jamu Buyung Upik (…. Ongkerio!!! –ini catchphrase nya. Agak aneh, hahaha) adalah jamu penambah nafsu makan yang diklaim aman untuk anak-anak karena diracik dengan bahan-bahan herbal dan tradisional. Jamu ini sangat terkenal di zaman saya masih SMP dahulu kala (kira-kira sepuluh tahun lalu). Lalu mengapa sekarang penjualannya tidak semasif dulu? Bahkan mungkin tidak banyak yang mengenal brand-nya saat ini. Apa yang salah dengan brand-nya? Apa yang salah dnegan marketing-nya?
Debottlenecking dengan Audit Marketing
Pengauditan adalah serangkaian proses sistematis untuk mendapatkan dan menilai bukti-bukti secara objektif terhadap pernyataan-pertanyaan dan kejadian-kejadian ekonomi atau asersi manajemen dalam melihat kesesuaiannya dengan kriteria yang ditetapkan dan menyampaikan hasilnya pada pihak yang berkepentingan. (Audit Keuangan)
Tapi proses audit tuh ya hampir-hampir sama sebenarnya. Makanya, muncullah audit marketing. Makanan apa pula it audit marketing? Marketing audit itu bertujuan: identifikasi akar permasalahan yang kurang optimal. Dengan proporsi 5A (Awareness, Attitude, Ask, Act, Advocate), maka permasalahan itu bisa diidentifikasi. Balik ke Jamu Buyung Upik yang nggak ada di toko sebelah rumah tadi, misalnya, ternyata diketahui dari 100 orang yang dipilih acak, hanya 50 orang yang kenal Jamu Buyung Upik (Awareness). Dari 50 orang itu, hanya 45 orang yang suka Jamu Buyung Upik (Attitude). Dari 45 orang itu, hanya 40 orang yang mau mencari informasi tentang Jamu Buyung Upik (Ask). Dari 40 orang, hanya 35 orang yang membeli Jamu Buyung Upik (Act). Dan dari 35 orang itu, hanya 25 orang yang bersedia merekomendasikan Jamu Buyung Upik pada orang lain (Advocate). Dari hasil audit ini, diketahui bahwa permasalahan muncul di Awareness: kurang banyak yang mengenal merek ini.
Permasalahan bisa diketahui saat jumlah responden pada tiap prosedur menurun sangat signifikan dalam hasil survei audit. Misalnya, majalah Playboy memiliki 99 orang yang mengetahui (Awareness), tetapi hanya 50 orang dari 99 orang itu yang suka (Attitude). Ini berarti majalah Playboy punya masalah di tingkat Attitude: tidak semua orang yang kenal merek ini suka dnegan positioning merek ini.
Penurunan jumlah responden yang signifikan di tingkat Ask dari Attitude berarti orang yang suka merek ini kesulitan mencari informasi tentang merek ini. Sedangkan kasus penurunan jumlah dari tingkat Ask ke Act yang signifikan berarti ada masalah di channel (barang tidak tersedia dalam area distribusi) atau price (harga yang terlalu mahal untuk konsumen). Kasus terakhir tentang penurunan jumlah orang dari tingkat Act ke Advocate berarti banyak pembeli yang kecewa dengan produk ini sehingga tidak mau merekomendasikannya pada orang lain. Nah, dengan mengetahui permasalahan tersebut, langkah marketing selanjutnya pun akhirnya bisa disusun dengan matang dan tepat sasaran. Jadi, permasalahan yang manakah yang terjadi pada Jamu Buyung Upik tadi? Hmmh… hipotesis yang ada di batok kepala saia sih bilangnya di tingkat Awareness, jamu ini sudah kalah dengan yang lain. Iklannya saja jarang di teve, mana mau ingat namanya?
Manfaat lainnya dari marketing audit ini juga: benchmark ke nilai pesaing atau komponen penting dalam industrinya. Misalnya, segmentasi pemasaran perusahaan pada dasarnya bisa dibagi berdasarkan empat level, geographic, demographic, psychographic, dan behavioral. Banyak industri yang melakukan segmentasi sampai ke level keempat, yakni behavioral misalnya yang dilakukan oleh Cossette Apparel Batik Eksklusif (ngiklan dulu gag papa ya cyiiiinnn). Tapi, misalnya industri property, sudah bagus bisa tersegmentasi sampai ke level tiga saja. Well, behavioral orang yang mau beli rumah atau tanah atau apartemen agak susah teridentifikasi kan? (kecuali pengantin baru, hahaha)
Akhirnya, marketing audit akan lebih seperti audit kinerja atau audit kepatuhan dalam dunia audit akuntansi. Proses audit ini, misalnya yang dilakukan di Jamu Buyung Upik, untuk mengetahui apakah hasil yang diperoleh saat ini (dari level engagement masyarakat dengan brandlewat 5A tadi) memang sudah sesuai dengan marketing plan yang ditetapkan oleh perusahaan. Salah satu metode analisis yang bisa dilakukan adalah dengan analisa customer experience journey. Bagaimana cara melakukannya? Sampai ketemu di tulisan berikutnya yaaaa! :)
* studi kasus yang diaplikasikan dengan teori dari Majalah Markeeters Juli 2013.
Advertisements

Karpet

Hari pertama menjelang puasa. Seperti pada umumnya, shalat taraweh akan dibuka. Disebuah masjid di selatan Jakarta, dibelakang salah satu hotel bintang lima. Setelah sholat isya berjamaah, ada seorang bapak takmir memberikan pengumuman. Saya kira  siraman rohani atau semacamnya. Tapi ternyata:
“Karpet ini baru diganti sebulan yang lalu. Harap jamaah menjaganya. Sumbangan seorang donatur hamba Allah. Yang anak2 jangan sampai ngompol di karpet. Jangan tidur-tiduran di karpet. Kita mbersihkannya susah, dicuci setelah sholat isya”.
Setelah pengumuman itu hening. Tidak ada sambutan lain. Langsung menuju taraweh.
Awalnya saya kaget, akhirnya saya tertawa. Sungguh “tausyiah” yang luar biasa. Tidak ada siraman tentang makna puasa seperti biasa. Imbauan tentang pentingnya meningkatkan amalan ibadah, atau petuah2 wajib semacamnya. Tak ada pula ajakan untuk mencintai fakir miskin, menyantuni anak yatim, atau bagaimana cara membantu mereka yang kekurangan. Pengumuman yang out of the box.
Kata pengamat2 soleh, kita sekarang berlomba-lomba mempercantik masjid, tapi lupa untuk mengisinya. Permasalahan klise modernisme. Ditengah banyaknya pengumuman pembangunan/renovasi masjid. Kotak sumbangan terus diedarkan. Dana terus dikumpulkan. Tapi jumlah jamaah belum tentu penuh memuaskan.
Pantas saja tidak penuh, karena mengikuti teori ekonomi, jumlah supply masjid terus bertambah. Sekarang setiap lingkup RT atau perkantoran punya masjid sendiri. Minimal ada musholla. Sehingga subsitusinya semakin banyak. Distribution point menjadi tersebar, dengan konsekuensi turunnya konsentrasi jamaah pada titik tertentu.
Pingin masjid rame? Gampang aja. Berikan direct material benefit kepada Jemaah. Selain menyediakan fasilitas yang aman dan nyaman (karpet empuk, AC dingin, free wifi), Adakan operasi sembako, pembagian daging kurban, kalau perlu sholat dapat door prize! Hahaha (meskipun pada dasarnya setiap sholat kita mendapat doorprize dari Allah swt- kalo keterima loh yaaaa hihi :p).
Tapi apa salahnya mempercantik rumah Tuhan? Di Mekah sekarang berdiri megah Abraj al Bait, kompleks hotel dan mall setinggi 600 meter dengan jam raksasa terbesar mengalahkan Big Ben London. Bangunan tertinggi kedua didunia dengan 800 kamar ini punya floor area seluas 1,5 hektar dan mampu menampung 1000 mobil. Kita juga bisa memarkir helicopter pribadi jika sedang bosan naik onta.
Memang salah satu tanda akhir zaman selain banyaknya kemaksiatan adalah jumlah umat yang banyak tetapi asyik bermegah-megahan dan cinta dunia. Tapi mari berpikiran positif. Islam mengajak umatnya cinta keindahan. Tidak jorok, ogah membuang sampah sembarangan, dan menjaga kebersihan. Termasuk keindahan masjid dan karpet.
Lagipula Paulo Coelho, pengarang Brazil yang tersohor itu, mendapatkan pelajaran hidup dari karpet.
 “Saat bangun pagi hari, masih di tempat tidur, saya bertanya kepada diri sendiri. Apa rahasia sukses? Saya menemukan jawabannya di kamar ini. AC berkata: DINGIN, hati kita harus sabar. Atap berkata: TINGGI, tetapkan cita-cita setinggi awan. Jendala berkata: Mari melihat dunia LUAR. Jam berkata: Setiap menit adalah HARAPAN. Cermin berkata: Sebelum bertindak, lihatlah DIRI sendiri. Karpet berkata: BerSUJUDlah! Pengetahuan suka bicara, kearifan cenderung mendengarkan”.

Roundabout Roundabout

Ada yang kenal manusia di samping ? Ini gambar dari film Into The Wild,

isinya tentang kehidupan pasca wisuda seorang Chris McCandless.

Banyak orang komentar, film ini bener2 menggugah, tapi menurut saya si biasa aja. Saya tenang-tenang kuliah sehabis SMA dan seiring berjalannya waktu, film ini pun melapuk dan hilang dari ingatan. 
Sampai kira-kira 3 minggu yg lalu, film ini kembali muncul dan mengusik pikiran.
Pemicunya ada 2:
dp bbm temen & quotes dari dialog film tsb di tumblr (tuh quotes-nya ada di gambar di atas).
FYI, sebentar lagi saya lulus kuliah (setahun lagi sih :p)

Keberanian si McCandless untuk lepas dari hidup a’la peradaban modern memang menggugah.
Tapi itu tetap terdengar mustahil untuk saya. Pikiran saya jauh lebih tertarik menyoroti pandangan pendapat McCandless soal karier (liat gambar Emile Hirsch di atas), dan apa pemicu lahirnya pendapat tersebut.

Bicara karier, ingatan saya langsung lompat ke buku dibawah ini:
                                           Judulnya,“Your Job is Not Your Career”. Buah karya Pak Rene Suhardono inilah yg pertama kali memperkenalkan saya perbedaan antara karier dan pekerjaan. 
Kalo saya gak salah, karier itu lebih mirip “alur jalan” atau “path”, sedangkan pekerjaan adalah titik langkah yang dilalui selama meniti “path” tersebut.
Buku itu juga sukses menjabarkan soal passion. Sesuatu yang sepengertian Saya berarti:

Sesuatu yang sangat kita minati, hingga sering tanpa sadar kita latih dan pelajari secara mendalam. Jadi pendorongnya murni karena kita menyukai aktivitas / pekerjaan tersebut. 

Klimaks buku itu kalo saya gak salah, ketika kita sampai pada suatu titik, dimana passion itulah profesi kita (full time job)

Saya gk tau bener gk itu yg dimaksud sebagai pesan dari penulis buku itu. Abis bacanya udah lama bgt si, hehehehe…

Setelah buku itu, pikiran saya lompat ke sebuah analogi atas kehidupan rata-rata manusia, era sekarang:
Yup, 2 kata: rat race

Penjelasan soal istilah ini bisa didapat melalui komik dibawah ini:
tak ketinggalan curcol bernutrisi tinggi dari Bang Tyler Durden :
Kalo masih gak paham, berarti katro… atau mungkin, tanpa sadar 
anda telah sukses terjebak dalam rat race“.
(kok kalo selip dikit bisa mirip ama death race ya hehehehhe…)
Ok ok, cukup soal resensi dan testi soal buku dan film. 
Let’s be original a little bit…
Setelah semua hal di atas, otak saya keinget sama kebijakan naiknya UMR Jakarta Desember lalu,
Waktu itu, saham Astra International terjun bebas saat isu mulai beterbangan dan penurunan terus terjadi sampai 2 hari pasca penetapan resmi aturan tsb.
Intinya pesan yg ingin disampaikan pelaku bursa saham adalah,
“Kami gk terlalu suka dengan hal ini.”
Ok, lalu pikiran saya mencoba mengaitkan hal ini dengan inflasi,
langkahnya kira-kira begini:
> UMR: Batas bawah gaji bagi pemangku jabatan terbawah

>> UMR naik, pekerja (employee) yg misalkan tadinya udah ngurangin belanja karena gajinya gak cukup, akan kembali “menormalkan” / menaikkan pengeluarannya.
Atau semisal sang pekerja tidak merasa perlu “menormalkan” pengeluarannya, maka dia bisa nabung atau investasi.

>>> UMR naik, pengeluaran gaji naik, maka HPP (COGS) naik.

>>>> kalau gak ada reorganisasi operasi atau kenaikan harga jual / kuantitas penjualan, profit perusahaan (employer)  tergerus.
gini ilustrasinya:
Jadi, kalau:
-b2 naik
-c3 naik
Maka ada ada 2 skenario:
 -Skenario A: Perusahaan menaikkan harga jual, karena beban produksi meningkat (perusahaan enggan memangkas profit margin. (cost push inflation).
-Skenario B: Para pekerja memilih untuk menaikkan standar hidup, dus membeli lebih banyak barang & jasa (demand pull inflation).
Jadi, kalo bener b2 & c3 sama2 naik, ya sama aja bohong.
Kenaikan upah pekerja langsung terhapus sama kenaikan harga barang & jasa di pasar,
dan jikalau si pekerja sempat menaikkan konsumsinya,
dan hal seperti ini terjadi secara agregat
(rata2 pekerja melakukan hal serupa),
maka kemungkinan tingkat konsumsi para pekerja akan turun lagi,
karena permintaan yg meningkat akan berpeluang menaikkan harga.
(mempertimbangkan sedikitnya lahirnya produk baru atau lapangan pekerjaan baru).
Berhari-hari saya mikirin, berharap dan ngebayangin, saya bisa ketemu semacam bukti ilmiah soal kemungkinan terjadinya hal di atas…
Sampai akhirnya post Suhu Kongming88 ini muncul di kaskus:

Penjelasan dari Suhu Kongming88:
kolom pertama (FCRPI) nunjukin IHK (indeks harga konsumen) / tingkat harga barang & jasa di pasar
kolom kedua (FCWI) nunjukin labor price index. (upah pekerja)
walaupun gak sangat kuat, tapi korelasi keduanya positif
(Jika IHK naik, LPI ikut naik dan bila IHK turun, LPI juga turun.)

kenapa?

karena kenaikan biaya tenaga kerja memaksa produsen menaikkan harga jual produknya 
(cost push inflation).

Doooorrrr !!!!!
 Akhirnya datang juga hal yg saya tunggu-tunggu…
Lo tuh tinggal bener2 spesifik ngebayangin apa yg lu mau dapetin !
layaknya orang lagi ngebidik sasaran tembak !
Maka yg lo bayangin itu datang / terjadi di saat paling tak terduga…
Ok, back to the topic,
Kalo UMR aja naik, otomatis gaji pekerja2 di tingkat lebih atas juga ikut naik.
Minimal liat kalo pegawai negara naik gaji, pasti rame-rame (serentak bareng-bareng).
Jadi kalo udah kaya gini, masih relevankah mimpi dalam bentuk kalimat,
Kapan ya naik gaji ?
Malah, kalau Saya boleh usul, kalimat di atas bisa diganti dengan kalimat,
Kapan ya saya bisa berkontribusi lebih ?
Kapan ya saya bisa handle lebih banyak tanggung jawab ?
Kapan ya saya bisa lebih pintar ?
Saya kira semuanya kembali ke awal,
kalo mau karier yang asik,
ya harus punya kerjaan yang asik juga.
Bayangin gini, kalo di rat race, bentuk rodanya tu tegak ke atas kan
(cek gambar tikus yg ber-hustlin‘ ria di atas)
Roda tegak itu kan perlambang harapan si tikus akan naik dia ke anak tangga berikutnya, yg berati nominal gaji yg lebih tinggi, yang kemudian diartikan sebagai  level kehidupan / kesejahteraan / kebahagiaan yg juga lebih tinggi
Namun sayang seribu sayang, semua itu hanyalah sebuah ilusi…
dan bahkan bisa dibilang cuma imajinasi yg tercipta akibat kekurang pahaman atas proses terjadinya inflasi !

Selanjutnya, mau gimana ?
Ada pepatah bilang, merubah kerjaan gk semudah membalik telapak tangan,
Ya memang iya, Saya juga setuju,
makanya sebelum merubah kerjaan, coba rubah dulu itu isi pikiran…
Sekarang bayangin aja, kalo roda di rat race itu jatuh, runtuh, dan tengkurep kaya roundabout di bawah ini:

Maka praktis yang anda kejar ya cuma mempercepat putaran roundabout atau beratraksi melewati pegangan / rintangan yg ada (tergantung cara pandang anda ini sih ;) )
Inget aja rasa seru / excitement waktu main kaya ginian semasa kecil dulu.
Selanjutnya soal menggapai sesuatu yg lebih tinggi, atau memberi efek positig bagi lingkup yang lebih luas.
Ya… anggap aja  roundabout-nya berbentuk kaya’ di bawah ini:

Jadi, selalu ada, yang harus dipanjat…

Soal apa dan gimana bentuk implementasi roundabout ini di alam kehidupan sadar anda,
Maka ada 1 hal yg harus anda temukan: passion.

Temet Nosce,-

Apa Maksudnya "Jika ada wanita yang melamar saya terlebih dahulu, maka saya akan menjanjikan dia peluang 80%"

Oleh: Aulia Rachman Alfahmy
Sebagai seorang “ekonom gila”, saya selalu terbiasa menggunakan angka dalam menjelaskan dan mengungkapkan sesuatu agar dapat dipahami dengan mudah. Kisah dari tulisan ini dimulai dari sebuah pernyataan yang cukup unik, “Jika ada wanita yang melamar saya terlebih dahulu, maka saya akan menjanjikan dia peluang 80% keberhasilan”. Terlepas saya suka dia atau tidak, dia cantik atau biasa-biasa saja, kaya atau miskin, intinya kita anggap tidak ada faktor lain yang memengaruhi (kecuali faktor agama kali ya? :P). Saya sudah berjanji memberikan “80%” saya kepada dia. Adapun saya melakukan ini karena 1) Saya menghormati keberanian perempuan menyatakan lebih dahulu; 2) Untuk saat ini, melihat dari kondisi saya yang belum mapan dan menjadi apa-apa, pastinya sang perempuan benar-benar melihat lebih dari sekedar materi, 80% adalah reward saya.
Tapi ada satu hal yang menganggu saya akhir-akhir ini. Apa sebenarnya makna dari ungkapan “80%” ini? Bagaimana praktik di lapangannya? Apa konsekuensi pernyataan ini bagi masa depan rumah tangga saya? Apakah ungkapan ini dapat menjelaskan siapa saya?  Apa manfaat mengetahui makna angka-angka ini bagi para pembaca Ekonom Gila?
Pengertian 80% pada Umumnya
Mari kita berasumsi 1) cateris paribus, pilihan atas pelamar objektif, tidak ada tendensi atau kecenderungan 2) bahwa yang namanya melamar hanya ada dua jawaban, “Ya” dan “Tidak”, jadi di sini kita beranggapan bahwa seseorang tidak akan memberikan jawaban menggantung, tidak ada jawaban, “sebenarnya saya menerima, tapi tunggu saya lulus/tunggu kamu lulus/tunggu kamu sudah kerja/tunggu kakak sudah nikah/dan jawaban-jawaban sejenis lainnya. Jika kita melamar seseorang, maka probabilitas normalnya adalah 50%, karena ada dua jawaban “Ya” dan “Tidak” (dalam rujukan hukum Islam, seorang wanita yang belum menikah, jika “diam” maka bisa dianggap menjawab “iya”, karena diasumsikan ia malu mengatakan “iya”). Nah, pencerahannya adalah dalam situasi normal, maka setiap lamaran yang kita ajukan ke seseorang sebenarnya memiliki probabilitas diterima 50%! (tentunya juga probabilitas ditolak 50% hehehehe), cateris paribus  :P.
Lalu apa makna 80%? Jika kita bersandarkan pada pengertian dan kasus 50%-50% di atas, maka bisa diartikan maksud dari 80% adalah sebuah ungkapan untuk memberikan penekanan atas probabilitas diterima yang lebih besar. Artinya hukum ya-tidak 50%-50% berubah menjadi 20% untuk tidak, dan 80% untuk iya. Dengan kata lain ini adalah sebuah ungkapan yang mengisyaratkan: “Ayo lamar aku duluan, InsyaAllah kamu akan saya berikan prioritas untuk diterima. Kemungkinan ditolakmu amat sangat kecil…”
Konsep Probabilitas ala Saya…
Penjelasan di atas tidak akan selesai begitu saja. Akan ada masalah jika ada yang bertanya, “Kalau memang hanya sekedar memberikan kecenderungan untuk diterima, kenapa gak 75%? Kenapa gak sekalian 99%? Apa bedanya 80% dengan 90%? Bukannya semua ungkapan ini sama saja? Kenapa harus 80%? Apa itu hanya retorika belaka, biar kelihatan cool dan keren?”.

Baiklah, mungkin memang saya dulu tidak sengaja beretorika. Terpaksa saya membuka buku-buku lama saya lagi, dan mungkin jawabannya ada di buku Basic Econometrics buatan Pak Gujarati dan logika yang dipakai cukup berbeda dengan logika 50-50 di atas. Dan mungkin nanti jika ada anak matematika yang membaca artikel ini, ia akan banyak mengkritisi tulisan ini karena mereka lebih mengetahui hakikat probabilitas ketimbang diri saya. Aka tetapi… lagi pula itulah kenapa ini blog ini disebut Ekonom Gila bukan? Hehehehehe. So nekat saja…

Pada Bab  5 yang ngomongin masalah interval estimation and hypothesis, pak Gujarati menyinggung apa yang dimaksud dengan confidence interval atau biasa disingkat dengan CF (biasanya dengan angka 90%, 95%, dan 99%). Misalnya dalam bagian ini Pak Gujarati menerangkan apa yang dimaksud dengan CF 95% dalam sebuah interval nilai 0.4268 sampai 0.5914. Beliau menjelaskan maksud CF itu seperti ini:

Given condition 95%, in the long run, 95 out of 100 cases interval like (0.4268, 0.5914) will contain true β2.   

Tapi beliau juga meningatkan!

We cannot say that the probability is 95% percent, that the specific interval (0.4268, 0.5914) contains the true β2 because this interval is now fixed and no longer random, therefore, either lies in it or does not: The Probability that specified fixed interval include the true β2 is therefore 1 or 0.

Anda bingung? Hahahahaha, Sama saya juga! Mungkin pengertian Gujarati di atas sebenarnya tidak bisa dipakai dalam kasus “dilamar = 80%” saya. Karena di atas adalah sebuah kasus yang harus digunakannya sebuah data empiris, ada observasi, ada standar deviasi, dan CF yang bergabung dan berujung pada sebuah kesimpulan pada diterima atau ditolaknya hipotesis. Tapi mungkin ada baiknya kita menggunakan sedikit pengertian di atas untuk kasus “dilamar = 80%” ala saya. Oke ini ala saya, silakan bagi teman-teman yang ahli matematika mengoreksi secara akademis tulisan ini, eheheheheh.
Terinspirasi dari pengertian CF di atas, saya menggunakan pengertian 80% seperti ini: Dalam jangka panjang dari kasus 100 wanita yang duluan melamar saya, maka 80 lamaran yang ada adalah lamaran yang saya terima. Wah artinya, apa saya punya bakal 80 istri?

Interpretasi Liar…
Baiklah, mari kita kecilkan angka 80% ini menjadi 8 dari 10 atau 4 dari 5. Jadi misalnya dalam jangka panjang ada 10 wanita melamar saya duluan maka 8 lamaran itu saya terima, atau lebih kecil lagi, jika dalam hidup saya (jangka panjang) ada 5 wanita yang melamar saya, maka 4 lamaran itu akan saya terima. Nah, sekarang sudah ada 4 istri, kalau di Islam kan boleh punya 4 istri? Apa ini maunya penulis? Hehehe: Bukan. Itu bukan concern saya, bukan jumlah orang yang diterima, tapi justru jumlah orang yang ditolak.
“Hikmah” dari probabilitas ala saya di atas adalah dapat dijelaskan seperti ini: anggaplah saya memiliki fans 100 orang wanita, dan anggaplah ada pengamatan peneliti peradaban, saat ini 10% dari fans wanita biasanya mau dan rela melamar duluan. Jadi dengan fans yang saya estimasi sekitar 100 orang maka ada 10 orang dalam hidup saya yang akan melamar saya duluan. Maka jika demikian ada 8 yang diterima dan 2 orang yang tidak diterima. Dengan demikian, jika saya konsisten dengan prinsip 80% dan jika kondisi-kondisi soal estimasi fans dan wanita pelamar benar, maka jatah menolak “wanita pelamar duluan” sepanjang hidup saya hanya ada 2 orang. Jika fans saya hanya ada 50 orang sepanjang hidup, maka 5 orangnya akan berani melamar duluan. Dengan prinsip 80% diterima, maka jatah menolak saya hanya 1 orang. Bagaimana jika hanya ada 3 pelamar dalam hidup saya, tidak ada yang bisa saya tolak sedikit pun, karena ketika saya menolak satu orang saja maka rumusnya bukan lagi 80% tapi 66,6%.
Oke apa hikmah dari “logika-logika” di atas? Menjawab pertanyaan dasar di atas bahwa angka 80% ada bedanya dengan 90% dan 70%. Ternyata ungkapan-ungkapan 70%, 80%, 90% menunjukkan perbedaan 1) tingkat kepercayaan diri seseorang atas seberapa banyak jumlah fansnya dan 2) bisa mengetahui seberapa banyak jatah orang yang bisa dia tolak. Semakin tinggi nilai probabilitasnya maka menunjukkan bahwa orang tersebut kurang percaya diri = merasa fansnya sedikit, artinya dia memiliki prinsip “Siapa saja! yang penting mau sama saya…”, Semakin rendah maka bisa dikatakan adalah orang yang sangat pemilih dengan memperbanyak “jatah menolak” = yakin bahwa dalam hidupnya akan banyak yang melamar dia.

Note: ingat bahwa ini adalah kasus di mana kita dilamar oleh seseorang tanpa tendensi/kecenderungan apa-apa, murni tanpa ada chemistry, objektif tanpa ada rasa di hati :p, jadi tidak bisa kita bantah oleh orang yag sudah menikah, “Saya ini pemilih loh, tapi..lamaran pertama atas diri saya saya terima tuh, karena memang saya dari awal sudah suka sama dia! Kosep ini batal!”. Itu kasus dengan asumsi yang berbeda.

Perbedaan Kondisi-Kondisi yang Dibutuhkan
Ingat bahwa 80% itu adalah standard saya pribadi bagi wanita yang “melamar duluan”. Kredit lebih saya berikan bagi mereka yang berani mengambil inisiatif dengan landasan berpikir bahwa di era peradaban saat ini wanita yang berani melamar duluan adalah wanita yang punya perbedaan dan nyali (not ordinary). Mungkin bisa jadi kasus ini bagi wanita berbeda, bagi mereka “Pria Melamar duluan” adalah hal yang biasa, dan tidak perlu diberikan kredit lebih. Tetap kembali ke konsep probabilitas awal 50-50, “iya” atau tidak” (note: konsep 50-50 sebenarnya tidak bisa diartikan jika ada 10 orang melamar, 5 orang adalah jatah ditolak, karena concern-nya di opsi pilihan.”ya” dan tidak”, karenanya probabilitas 50%).
Sebenarnya konsep 80% saya bisa diterapkan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Misal mbak A, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia seorang lulusan S1”, Mbak B, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia adalah seorang yang alim dan faqih dalam agama”, Mbak C, “Saya akan memberikan 80% kemungkinan diterima bagi pria yang melama saya jika dia adalah seorang yang kaya raya, atau Mbak D, “Saya akan memberikan 99,99% kemungkinan diterima bagi pria yang melamar saya jika dia adalah seorang yang lulusan S1, alim dan faqih dalam agama, seorang yang kaya raya dan ganteng…”, ingat: cateris paribus.
  1. Bagi mbak A: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria lulusan S1 melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok S1 itu
  2. Bagi mbak B: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria yang alim dan faqih dalam agama melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok alim dan faqih itu
  3. Bagi mbak C: Semisal dalam hidupnya ada 10 pria yang kaya raya melamar dia, maka jatah menolak dia 2 bagi kelompok kaya raya itu
  4. Bagi mbak D: Semisal dalam hidupnya ada 1 saja atau bahkan 100 orang pria lulusan S1, alim-faqih, kaya raya, dan ganteng melamar dia, maka tidak ada satu pun yang “sempat” dia tolak (satu aja belum tentu ada dalam hidup…)

Sama seperti saya, “Saya akan memberikan 95% bagi wanita yang melamar dulu, sholehah dan pinter”, dari 80% menjadi 95%, ada peningkatan probabilitas dan pengertian secara teknis di lapangan akan berbeda.
Hikmah dan Kesimpulan
Bagi orang yang ingin melamar saya: lihat kira-kira seberapa terkenal saya, seberapa keren saya, berapa kira-kira jumlah fans saya, berapa kira-kira orang yang akan melamar saya dalam jangka panjang, lalu cari tahu sudah berapa orang yang saya tolak, lamarlah saya ketika jatah menolak sudah habis dan anda akan saya terima sebagai bentuk konsistensi saya terhadap apa yang saya janjikan pada diri sendiri. Hehehehehehehe
Bagi kita semua (penulis dan pembaca Ekonom Gila): Menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik akan meningkatkan probabilitas diterimanya lamaran kita kepada seseorang, karena orang yang kita lamar akan kehabisan “jatah” untuk menolak.
Sekali lagi, mungkin banyak yang akan mengkritik pedas tulisan saya mulai dari konsep probabilitasnya yang ngawur hingga ke masalah “perasaan” hati dan kejelimetan saya soal hal-hal yang remeh temeh ini: Pernikahan, “Sudahlah Aulia, ngapain pusing-pusing hitung-hitung probabilitas, kalau suka ya terima aja, kalau gak suka tolak saja, tidak usah banyak dipikirkan, dirasakan saja….”.
Selama menjalani kehidupan ini, saya akhirnya sadar bahwa masa depan, serapi apapun manusia merencanakan, Allah yang berkendak. Manusia sebatas merencanakan, rencana Allah niscaya lebih indah. Termasuk dalam hal jodoh, kita tidak bisa tahu apakah memang benar-benar pasangan hidup yang ada di depan kita adalah yang terbaik dari kacamata pribadi dan perasaan kita saja, Allah-lah yang akan menunjukkan kepada kita siapa yang terbaik bagi kita, sekali lagi, manusia hanya bisa merencanakan”. Probabilitas yang rumit di atas adalah rencana saya, Allah-lah yang berkehendak di hasilnya. Saya akan kesampingkan emosi dan perasaan saya dalam menentukan sebuah pilihan yang besar dalam hidup saya: Istri, lalu akan menggantinya dengan bersikap objektif dan profesional melalui sebuah rencana dan doa agar selalu diberikan ilham yang benar dan baik bagi hidup dan agama saya. Semua kembali ke Allah…

“..either lies in it or does not: The Probability that specified fixed interval include the true β2 is therefore 1 or 0.”

Selasa, 4 Juni 2013
Waktunya untuk merenung dan merenungkan..

Blackberry Suicide (?)

By: Dipta Darmesti

Two days ago I saw the business news and I was surprised: Research In Motion (RIM) made Blackberry Messenger (BBM) available for Apple and Android products. Whoa, what the h*ll are they thinking?


As a business graduate, I used to learn that a business has to keep their competitive advantage. Yes, then what is a “competitive advantage”? A simple explanation from me, competitive advantage is one thing that make people turn to you, not anyone else. 

Once a company has its competitive advantage, the consumers will go to that company to find what they need. In a business, there is also a core competence. It is like “what your business is mainly about?” What I have learned during my studies is never outsource your core competence, so you can control your own business.


Back to RIM case, I found that the decision is weird. It is like I saw Mr. Krab gives a krabby patty to his rival, Plankton. I remember that I bought a Blackberry phone because it has the BBM and most of my friends use it. So, it would be easier to communicate between us. The BBM thing made Blackberry phone exclusive since no other phones have BBM. The BBM has been RIM’s competitive advantage. 

People buy the Blackberry phone because it has the BBM. Now, RIM will share their secret weapon to their rivals. What will happen to the phone sales? I guess Blackberry phone is committing suicide or cannibalized by the applications (apps), since Blackberry phone is “nothing” without BBM. As a customer, I would prefer Android phones if it provides BBM as well as Blackberry phones.

RIM has to be focus on its core competence, whether they want to offer the phone or the apps. By the decision, it seems like RIM switched into the apps business and they slowly kill the phone. In the BCG matrix system, the BBM apps would be the question mark and the phone is the dog, and had been the cash-cow before. 

Anyway it is just my opinion. RIM can choose its own business strategy. I hope they will not spill the milk. Let’s see what will happen next, will the question mark be a star or be the dog instead.