Eudaimonia

Oleh: Yoga PS
Suatu hari, Paulo Coelho, pengarang novel best seller Alchemist, sedang berlibur di Spanyol. Pada saat sedang berjalan di stasiun kereta, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Coelho ingin membantu pengemis itu, tapi sebelum memberi, ia berpikir: Hey, aku adalah seorang turis, pengemis seperti ini umum ditemui dimana pun.
Akhirnya ia pun bergegas pergi. Meninggalkan pengemis tadi.
Malam hari, entah mengapa, Coelho kembali terkenang wajah sang pengemis. Ia sudah bertemu ribuan peminta-minta, tetapi ekspresi sang pengemis menimbulkan iba yang mendalam. Ia sampai tidak bisa tidur. Terus menyesal. Mengapa ia tidak membantu orang yang kesusahan ketika ada kesempatan?
Besoknya, ia kembali ketempat sang pengemis berada. Nihil. Tak ada disana. Ia lalu memutuskan berjalan-jalan mengelilingi kota, berharap berpapasan dengan orang miskin yang terus menghantui hidupnya. Tapi tetap saja, hingga liburannya usai, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan.
Coelho lalu kembali ke Brazil. Berharap melupakan kejadian dengan pengemis itu. Tapi percuma. Sang pengemis terus hadir di kehidupan Coelho. Menciptakan penyesalan, ketersiksaan, dan penderitaan. Sadar jika Tuhan memiliki rencana besar, tidak butuh waktu lama bagi Coelho untuk kembali ke Spanyol. Kali ini bukan demi liburan penuh kesenangan, tapi menjawab teka-teki yang terus menghantui. Tujuannya Cuma satu: menunaikan kebaikan yang sempat tertunda!.
Satu-dua hari berlalu. Menjadi seminggu. Coelho sudah mengelilingi kota, hingga sudut-sudut tersempit. Hasilnya nihil. Pengemis itu bagaikan menghilang tanpa jejak. Waktu kepulangan sudah semakin mendesak. Coelho tidak menyerah. Ia menelpon agen perjalanannya, memberikan instruksi gila: tidak membeli tiket pulang ke Brazil. Ia takkan kembali sebelum menemukan pengemis malang yang seharusnya ia bantu.
Sampai akhirnya, suatu hari Coelho menemukannya. Di dekat stasiun kereta yang sama. Tak perlu berpikir lama, Coelho langsung menyerahkan semua uang yang ada di kantongnya. Lalu pergi, meninggalkan pengemis malang ini, meninggalkan Spanyol, dan kembali ke Brazil. Akhirnya ia menemukan kedamaian.
Kebahagiaan
Jika tujuan kehidupan adalah mencari kebahagiaan, maka apa yang dilakukan Coelho sungguh irasional. Bertentangan dengan logika ekonomi mana pun. Bagaimana mungkin ia menghabiskan ribuan dollar terbang dari Brazil ke Spanyol hanya untuk menemukan seorang pengemis!. Bukankah ketika kita memberikan harta kita, itu berarti kerugian secara ekonomis?
Tapi kenyataannya, kepuasan hidup tidak selalu dicapai hanya dengan memenuhi kebutuhan hidup. Manusia adalah makhluk dimensional. Tidak hanya berurusan dengan kebutuhan ekonomis parsial, tapi juga social emosional, dan transcendental spiritual.
Salah satu filsuf klasik Yunani, Epicurus, memberikan nasihat untuk manusia yang sedang mencari kebahagiaan: Lakukan apa yang membuatmu bahagia, jangan lakukan apa yang membuatmu menderita. Maka lahirlah hedonism. Memusatkan perhatian pada kesenangan, dan sebisa mungkin menjauhi penderitaan.
Aristoteles, membantah pendapat Epicurus. Bagi dia, eudaimonia, kebahagiaan, didapat dengan  mengembangkan potensi yang diberikan Tuhan, bagi kebaikan kemanusiaan. Pendapat senada didukung oleh penganut utilitarianisme, dan juga altruism. Anda baru menjadi ada, ketika berguna bagi yang lainnya.
Riset-rise modern juga membuktikan, orang yang berbagi, cenderung lebih berbahagia. Penelitian Elizabeth Dunn dari Universitas British Colombia menunjukkan responden yang mendermakan uang mereka, cenderung lebih bahagia dari responden yang menggunakannya hanya demi kepentingan pribadi. Penyelidikan neuro-biologi dari Duke University lebih dahsyat lagi, membantu sesama akan mengaktifkan bagian otak yang disebut posterior superior temporal cortex.
Saya sengaja mengutip pengalaman Coelho diatas, karena betapa seringnya saya menunda dan melewatkan kesempatan berbuat kebaikan. Belum lagi kebiasaan melakukan perhitungan dan hati yang sering dicengkam ketakutan. Takut kekurangan, takut penderitaan, dan takut mengalami kerugian. Saya sering lupa jika eudaimonia hanya ada didalam kerja-kerja sederhana untuk sesama.
Mungkin saya harus mengucapkan sumpah Khudai Khidmatgar, prajurit perdamaian yang dibentuk oleh Abdul Ghaffar Khan, seorang muslim pengikut setia Gandhi:
Karena Tuhan tak perlu dilayani, sementara melayani makhluk-Nya berarti melayani-Nya, maka Aku berjanji akan melayani manusia atas nama-Nya.

7 Tempat Hemat Pengganti Hotel [Travelnomics]

Oleh: Yoga PS

Pengen traveling tapi biaya terbatas? Santai cuk, untuk apa kita belajar ilmu ekonomi jika tak mampu memecahkan persoalan ini. Tapi sebelumnya kita harus tahu, cost structure sebuah perjalanan wisata. Busyet, udah kaya kuliah Akbi aja (Akuntansi Biadab.. eh Akuntansi Biaya).

Jika ditelusuri, sebenarnya ada tiga pos utama traveling:
  1. Transportasi > cara mencapai tempat wisata
  2. Konsumsi > cara bertahan hidup dan biar balik ga tinggal nama
  3. Akomodasi > biar ga dikira gelandangan dan ada tempat numpang line poop
  4. Prostitusi (oh, ini khusus wisata lendir. Bisa tanya bupati Garut yang lebih ahli)
Untuk mengamalkan prinsip ekonomis sebenarnya sederhana. Cara hemat ongkos transportasi adalah sering-sering hunting tiket promo sambil berdoa biar ga kehabisan. Untuk hemat konsumsi juga simple, cukup puasa Senin Kamis. Sahurnya Senin, bukanya Kamis. Pasti bisa saving duit banyak tuh. Nah, untuk penghematan akomodasi nih, jarang yang memberikan terobosan out of the box.

Penulis hanya ingin berbagi cara berhemat biaya penginapan/hotel. Tulisan ini disarikan dari pengalaman traveling sejak zaman SMP. Mulai yang nyaman pake travel nginep di hotel berbintang sampai ngegembel segembel gembelnya tidur di tempat berbintang (kagak ada atapnya, bener-bener beratapkan bintang :p).

Traveling terakhir saya adalah tour trans Sumatera mulai dari Jakarta – Lampung – Palembang – Jambi –  Pekanbaru – Samosir – Berastagi – Medan – Aceh – Sabang- Aceh – Jakarta pada Desember 2012 lalu. Dan boleh percaya boleh tidak (emangnya gw Tuhan kudu diimani?), saya hanya menginap di penginapan di tiga kota. Itupun karena ingin berwisata lebih lama.

Sisanya tidur dimana donk? Enak ya jadi jin, ngantuk tinggal masuk ke botol… Eits jangan syirik dulu donk. Ini saya bocorin tempat menginap pengganti hotel.

7 Tempat Senyaman Hotel

1. Rumah Kenalan

Inilah bukti silaturahmi menambah rezeki. Selain dapat akomodasi gratis, biasanya kenalan/keluarga kita bisa menjadi tour guide plus supir yang rela nganter jalan2 keliling kota :D. Untuk yang ga ada kenalan/sodara bisa coba menggunakan couchsurfing. Atau bikin aja iklan lewat jejaring social hehehe.


2. Kendaraan
 

Car sweet car. Tinggal berhenti. Matikan mesin. Kunci pintu. Senderkan jok. Rebahkan badan. Bisa bobo deh hehehe. Tapi paling enak kalo kita lagi naik bus/kereta/pesawat. Karena selain menghemat waktu, juga bisa menjadi tempat tidur mobile (Beberapa bus/kereta antara negara juga menyediakan tempat tidur). Saran saya, jika perjalanan yang kita tempuh lebih dari 5 jam, ambil jadwal terakhir (paling malam). Tidur selama perjalanan, dan esok hari setelah sampai, badan kita sudah bugar. Trust me it works ^_* ting. 

Saya menghemat waktu saat berkeliling Sumatera dengan modus ini. Beli tiket bus/kereta yang agak bonafide, plus jadwal paling malam. Habiskan siang berkeliling kota. Oh ya, jangan naik bus ekonomi jika ingin istirahat. Meski bus ekonomi dilengkapi fasilitas full sauna (panas meski malem), full music (minta recehan sambil nyindir klo pura2 tidur), juga full restaurant (dari tahu sampai salak ada yang jual).

3. Masjid


Karena tidur itu ibadah (maksa), maka tempat terbaik untuk melaksanakannya adalah di rumah Tuhan. Masjid menjadi pilihan asyik karena biasanya sejuk, sanitasi bagus, dan terbuka. Tapi tidak semua daerah masjid-nya open. Ada yang digembok saat malam. Pengalaman saya, untuk masjid di pusat kota lebih terbuka. Cukup lapor ke takmir. Ngaku aja jadi musyafir (biarpun tampang mukafir :p). Saya pernah dijamu takmir gaul. Sebelum tidur dikasi makan, tikar, dan teh hangat. Alhamdulillah.

4. Kantor polisi

 

Anda ga salah baca. Ya, kantor polisi! Ga sekalian dipenjara bang? Eh serius. Teman saya udah nyoba. Dengan modal 100rb dia pingin ke Bali dari Jogja. Sampai di Bali, dia kebingungan, tidur dimana yang gratis. Akhirnya dia nekat, lapor ke polisi. Ngomong jujur aja klo ga punya uang dan nyari tumpangan tidur. Pak polisi dengan baik hati mempersilahkan kawan saya tidur di ruang kantor. Gratis. Ga semua polisi mata duitan kan :)

5. Warnet

 

Pengalaman tidur di warnet saya dapat secara tak sengaja. Saat di Berastagi saya sengaja keluar dari hostel tempat saya menginap. Ingin menghirup udara malam sambil browsing mencari informasi tentang perjalanan selanjutnya. Saat jam 1 saya kembali dan wowww… hostelnya digembok brow. Balik deh saya ke warnet. Main game sampe pagi. Cuma 15 ribu semalam. Esoknya saya baru tahu jika semua penginapan di Berastagi mengunci pintu mereka. Makanya jangan harap dapat penginepan jika sampai di kota ini jam 12 malam. Nginep di warnet enaknya ya dapet fasilitas gratis internet. Tapi jangan nyari warnet remang-remang ya… hehehe.

6. Bandara/Terminal


Karena rata-rata check in sudah dibuka 24 jam sebelum keberangkatan. Bandara atau terminal bisa dijadikan pilihan. Toh fasilitas lengkap. Ada kamar mandi, wifi, dan dekat dengan tempat makan. Kelebihan lain: Anda ga akan ketinggalan flight (kecuali kalo ketiduran).

7. Alam bebas

 


Ini yang paling keren. Bermodal sleeping bag atau selembar koran kalo emang ngantuk maka tetep aja serasa spring bed hotel berbintang hehehe. Di pinggir pantai boleh. Emperan toko pun jadi. Kelebihannya selain gratis adalah fasilitas Air Conditioner merk “Angin Malam” yang tentu saja menusuk pilu. Huhu. Perlu juga diperhatikan keamanan barang bawaan karena fasilitas “open baggage” membuat orang dengan bebas mengambil barang Anda.

sumber gambar: dompu.info

So, kata siapa traveling harus mahal? Dengan sedikit “pengorbanan” kita bisa menyiasatinya. Tapi khusus bagi traveller perempuan saya rasa akan lebih baik jika bepergian bersama teman/muhrimnya. Lha wong yang travelling by angkot aja masih belum aman.

Tapi yakinlah jika kita berniat baik, berprilaku baik, dan berpenampilan baik, segalanya insya Allah baik. Meski banyak berita tentang kejahatan, yakinlah masih lebih banyak lagi kebaikan yang tidak diberitakan.

Jika dilihat lagi, lumayan banyak kan pilihan yang bisa diambil? Jelas lumayan lah.. daripada lumanyun :p. Silahkan temen-temen tambahin opsi lainnya.
Happy travelling!!!.

Membantu

Oleh: Yoga PS

“Ada yang bisa saya bantu?”

Pertanyaan ini sering kita dengar ketika berbelanja di toko atau menelpon call center. Biasanya diucapkan oleh penjaga toko atau resepsionis diujung telpon. Pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat bermakna. Mengapa? Karena pertanyaan diatas adalah dasar semua bisnis. Pondasi seluruh kegiatan ekonomi. Kekayaan milyaran dolar, dimulai dari sana.

Bisnis atau kegiatan ekonomi, sering kita anggap hanya sebuah hubungan transaksional semata. Si A memberikan barang/jasa kepada si B, dan sebagai balas jasa, si B memberikan uang. Tapi sesungguhnya lebih dari itu. Bisnis menciptakan hubungan kemanusiaan yang saling menguntungkan. Transaksi tercipta karena relasi aksi-reaksi.

Karena manusia adalah makhluk social dan takkan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain untuk melangsungkan kehidupan. Kita butuh pangan, sandang, papan, serta berjuta keinginan. Sedangkan para pengusaha, entrepreneur, kapitalis, (atau apapun Anda menyebutnya), adalah manusia terpilih yang mampu melihat kebutuhan manusia, dan “membantu” dengan menciptakan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan itu.

Pasar Adalah Orang yang Perlu Dibantu

Pada 1976 ketika berjalan-jalan di daerah sekitar kampusnya, Chittagong University, Muhammad Yunus menemukan kenyataan menyakitkan tentang pengrajin bambu. Mereka harus membayar bunga yang sangat tinggi kepada rentenir untuk bisa mendapatkan dana pinjaman. Yunus terkagum-kagum dengan semangat para pengrajin yang didominasi wanita. Mereka bekerja dengan rajin, dan terus berusaha membayar pinjaman meskipun dibebani bunga yang mencekik.

Ia sempat menemui bankir local dan bercerita tentang hal ini. Hasilnya adalah lelucon, bagaimana mungkin bank bisa memberikan kredit untuk mereka yang tidak pantas mendapat kredit? Pendidikan mereka rendah, tidak mengerti business plan atau system akuntansi. Yunus tak tinggal diam. Ia lalu menyuruh mahasiswanya mendata pengrajin, dan dengan uang pribadinya sebesar $27, memberikan kredit lunak. Selebihnya adalah sejarah. Grameen bank lahir, dan Yunus dianugerahi hadiah nobel.

Lain Bangladesh lain Indonesia. Jika pada 1970-an Anda ingin menyewa mobil di Jakarta, saya jamin Anda akan menemukan kesulitan. Bukan hanya kesulitan menemukan mobil yang disewa, tapi yang lebih puyeng: bagaimana menentukan tariff. Tidak ada harga standar. Semua tergantung kemampuan nego, tampang memelas ketika menawar, dan belas kasihan pemilik mobil terhadap penyewa.

Untuk membantu orang yang mencari moda transportasi aman dan nyaman inilah keluarga Djokosoetono mendirikan “Chandra Taksi”, embrio telur lahirnya Blue Bird. Taksi pertama yang menggunakan system argo yang jelas, dan layanan barang kembali jika ada bawaan penumpang yang tertinggal.

“Proses membantu” yang sama juga dilakukan oleh Bob Sadino. Pengusaha nyentrik yang terbiasa memakai celana pendek ini awalnya berganti-ganti pekerjaan. Sampai ia menjual telur dan kebetulan ia menemukan kenyataan jika banyak ekspatriat kesulitan menemukan tempat belanja bahan makanan segar yang berkualitas. Telur pun ditambah sayur mayur, daging, dan berbagai kebutuhan pokok. Akhirnya, berdirilah Kem Chicks hingga sekarang.

Melayani

Saat kita belajar analisa bisnis di sekolah bisnis, kita diajar untuk melihat competitive advantage untuk menilai sebuah bisnis. Sejauh mana superioritas produk/jasa perusahaan dibandingkan pesaingnya. Tapi menurut saya, bisnis yang baik adalah bisnis yang melayani sesama manusia. Profit? Itu hanya konsekuensi logis setelahnya.

Karena membangun bisnis pada dasarnya bukan tentang memenuhi kebutuhan diri sendiri, tapi bagaimana membantu orang lain. Ekonom menyebutnya kebutuhan pasar. Microsoft dan Apple membantu dunia dengan menciptakan system operasi computer yang mempermudah hidup manusia. Google dan Yahoo! membantu kita menemukan pengetahuan semesta di dunia maya. Mercedes dan Toyota membantu kita berkendara dengan nyaman di jalan raya.

Hukum Sang Pencipta sungguh sederhana. Yang membantu, akan dibantu. Yang menolong, akan ditolong. Yang berbuat baik, akan mendapatkan hasil baik. Mereka yang dipermudah hidupnya, adalah mereka yang mempermudah hidup sesamanya.

Seperti pesan pemenang nobel sastra pertama dari Asia, Rabindranath Tagore:

“Saya tertidur dan bermimpi jika hidup adalah kegembiraan. Saya terbangun dan melihat jika hidup adalah pelayanan. Saya melakukan dan percayalah, pelayanan adalah kegembiraan”.

Jika kita sedang kebingunan mencari ide bisnis, peluang ekonomis, atau ingin mendirikan perusahaan tahan krisis, cukup ajukan pertanyaan sederhana:

“Apa yang bisa saya bantu?”

Orang Miskin Naik Haji

Oleh: Yoga PS

Ilustrasi (Republika.co.id)
Haji itu ibadah yang diwajibkan bagi yang mau, bukan yang mampu. Karena pada dasarnya kita semua mampu, jika kita mau.

Mari berandai-andai. Anggap saja kita adalah masyarakat golongan miskin berpenghasilan pas-pasan dengan gaji UMR. Dengan penghasilan 1 juta, mampukah kita mengumpulkan uang 30 juta? Mampukah kita menunaikan rukun Islam kelima ini? Dengan biaya hidup yang terus mencekik, mampukah kita mengatasi harga-harga yang terus naik?
Secara teoritis ekonomis: bisa! Karena Tuhan itu Maha Kaya, yang kita butuhkan hanyalah perencanaan keuangan sederhana, dan keikhlasan komitmen untuk menjalaninya. Saya akan membagi tips financial road map sederhana, bukan lewat kejaiban sedekah yang diajarkan ustadz sebelah hehehe.

Financial Plan
Tapi sebelumnya, kita harus tahu berapa biaya untuk pergi haji 10 tahun lagi. Ini adalah goal point yang ingin kita capai. Melihat data historis, ONH tahun 2002 sekitar $2700 sedangkan pada 2012 ONH naik menjadi sekitar $3600. Melihat kenaikan ini, maka tingkat inflasi biaya haji sekitar 4% setahun.
Jika kita asumsikan cateris paribus bahwa laju kenaikan biaya ini tetap, maka pada 2022 biaya yang kita butuhkan sekitar $4800 (lihat table).
Sekarang mari asumsikan kita mampu menabung 1$ sehari (Rp.9500 – tergantung nilai kurs). Berarti ada 30$ per bulan. Dan 360 dollar setahun. Mari jadikan $360 ini modal awal dan tambahan investasi yang konsisten kita lakukan. Dengan nilai inflasi ONH 4% berarti kita membutuhkan instrument investasi dengan return lebih dari itu.
Apa saja pilihannya? Oh banyak sekali. Kita bisa menanamkannya di bank syariah, membeli reksadana syariah, membeli emas, berbisnis langsung, atau berinvestasi di saham-saham syariah. Untuk penyederhanaan hitungan, mari kita asumsikan uang tadi kita tanamkan di bank syariah dengan bagi hasil sebesar 5%. Angka ini saya dapatkan berdasarkan return riil yang ditawarkan di pasaran (pengalaman pribadi).
Cukup menabung 1 dolar sehari, maka dalam waktu 10 tahun kita sudah mampu berangkat ke tanah suci. Satu dolar saudara-saudara. Satu dolar itu seharga satu pak rokok, satu piring nasi goreng, dan pasti lebih kecil dari biaya pulsa yang kita keluarkan tiap bulan. Seperti kita lihat di table dibawah ini, dalam 10 tahun uang kita sudah mencapai $5100!!!. Insya Allah sudah cukup untuk berangkat haji.


Susu Aesop
Langkah konret yang bisa dilakukan adalah:
  1. Berdoalah dan luruskan niat
  2. Pergilah ke bank syariah, bukalah rekening baru khusus untuk dana haji Anda. Saya tidak menyarankan untuk membuka rekening khusus haji, karena berdasar pengalaman saya, dana itu tidak bisa ditarik dan bank tidak memberikan return investasi.
  3. Rincilah kebutuhan hidup, lalu pikirkan bagaimana cara mengurangi 1$ dalam satu hari (atau sesuai kemampuan Anda)
  4. Lakukan pemotongan dana di awal bulan, sisihkan $30 (atau berapapun) kedalam rekening haji.
  5. Investasikan dana itu dengan horizon waktu 1 – 5 tahun. Rentang waktu ini dipilih agar lebih fleksibel dalam melakukan reshuffle instrument investasi yang bisa dipilih.
Dan seperti semua perencanaan keuangan, hal terpenting adalah eksekusi, dan jangan terlalu banyak bermimpi. Aesop dengan sangat jelas mengingatkan hal ini lewat ceritanya tentang Pemerah Susu dan Embernya[1].
Alkisah, seorang pemerah susu telah selesai memerah sapi dan memanggul seember susu diatas kepalanya. Saat berjalan pulang dia berandai-andai.
“Susu yang saya perah ini sangat segar dan baik mutunya,” Ia mulai berpikir.
“Jumlah ini akan memberikan saya banyak cream untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari cream itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. 
Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!”
Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta kebanggaannya.

Karena itu, jika Anda miskin, yakinlah Tuhan itu Maha Kaya. Jika Anda tidak memiliki, yakinlah Tuhan itu Maha Memberi. Dan Jika Anda kebingungan, yakinlah Tuhan itu Maha pemberi petunjuk. Berdoalah, berusahalah, bersabarlah, dan katakanlah:

Tuhanku, izinkan aku memenuhi panggilan-Mu…

[1] http://www.ceritakecil.com/cerita-dan-dongeng/Pemerah-Susu-dan-Ember-nya-57

Diskon

Salah satu promo diskon
Oleh: Yoga PS
Dua minggu setelah musim lebaran, saya mencoba berjalan-jalan kesalah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Lagi butuh sepatu jogging, sekalian mau ngecek, apakah perayaan ritual konsumsi pasca lebaran masih berlanjut. Karena Anda tahu, konsumsi masyarakat Indonesia mencapai puncaknya saat ramadhan.
Tibalah saya disalah satu tenant sepatu. Harganya masih sama, berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi yang menarik adalah masih adanya promo diskon yang bagi saya, cenderung “menyesatkan”.

Permainan Psikologis

Coba bayangkan, ada dua jenis sepatu. Yang di diskon, dan yang tidak. Sepatu tanpa diskon berharga, anggap saja, rata-rata 500ribu rupiah. Sepatu dengan diskon, tertulis gede-gede 50% OFF, memiliki harga gross rata-rata 900ribu. Harga netnya? Silahkan dibagi dua = 450 ribu rupiah. Koq hampir sama aja dengan yang ga diskon sih?
Mungkin hal inilah yang sempat dikeluhkan YLKI saat perhelatan Jakarta Great Sale beberapa waktu lalu. penjual memberikan diskon setelah menaikkan harga base barang tersebut. Sehingga diskon sebenarnya tidak sebesar yang digembar-gemborkan. Diskon hanya berperan sebagai sweeter, pemanis, yang sayangnya terbuat dari gula buatan. Sehingga tidak baik bagi kesehatan keuangan.
Hal yang sama juga berlaku bagi industry travel. Baik pesawat, kereta api, dan kapal laut. Anda tahu kan maskapai penerbangan yang sering memberikan diskon promo, bahkan ada yang sampai seharga NOL rupiah. Apakah mereka rugi? Oh, jangan salah. Mereka justru mendapatkan keuntungan berlipat.
Karena pricing tiket pesawat menerapkan system floating real time yang terus berubah. Tidak ada harga pasti. Ada asymmetric information. Semakin jauh hari booking, harga semakin murah. Semakin mepet, semakin mahal. Tapi terkadang, selang beberapa jam jika seat masih kosong, harga bisa murah.
Yang jelas, tiket promo mampu meningkatkan awareness. Orang berlomba-lomba membuka website untuk mencari informasi. Mereka tergiur dari promosi tiket murah, yang meskipun dari 100 seat, mungkin yang di-promo hanya dua seat (itu rahasia perusahaan sih hehehe).
Secara psikologis, setidaknya ada beberapa peran diskon:
1. Feel good factor
Mendapat harga lebih murah itu sungguh menyenangkan. Perasaan “nyaman” inilah yang membuat konsumen selalu tergiur dengan kata diskon. Ada semacam rasa “kemenangan” saat mendapatkan diskon. Terkadang saya lebih merasa puas membeli barang seharga 1 juta dengan diskon 20%, daripada barang tanpa diskon senilai 800 ribu. Padahal endingnya sama.

2. Opportunity loss effect
Jika kita membeli sekarang dengan harga 1000, sedangkan besok harga menjadi 1200, maka ada opportunity loss yang hilang sebesar 200. Perhitungan “beli sekarang mumpung murah” ini membuat kita merasa aji mumpung dan menjadi alasan untuk membeli. Tapi kita harus ingat, konsumsi bukanlah investasi.

3. Sense of urgency
“Hari Senin, harga naik”. Salah satu bunyi warning iklan property di televisi. Kondisi ini memicu rasa takut kehilangan di dalam otak (entah amigdala atau hipotalamus?). yang jelas harus ada time limit. Jika diskon diberikan tanpa batasan, maka konsumen akan menanggapinya secara biasa saja. Seperti toko buku diskon Toga Mas, yang memberikan diskon minimal 20% for all item and all time (demi bisa membaca buku baru gratis, saya pernah bekerja sebagai pelayan di toko buku ini saat masih mahasiswa)
Kombinasi feel good factor, opportunity loss effect, dan sense of urgency inilah yang mendorong orang untuk terus berbelanja, terkadang dengan utang, dan mengoleksi barang yang tidak mereka butuhkan, untuk dipamerkan ke orang yang tidak mereka kenal. Saya punya teman perempuan yang selalu merasa “berdosa” jika window shopping di mall. Karena pasti ada aja tas belanjaan yang ia tenteng jika melihat papan diskon yang dipajang. Jika ditanya kenapa membeli, jawabannya enteng: mumpung lagi diskon!.
Eits, tapi bukan berarti diskon itu buruk ya. Justru bagus donk jika kita bisa mendapat harga murah. Tujuan saya menulis tentang ini agar kita jangan mudah diperdaya oleh kata diskon yang melekat. Karena bisa saja itu hanya permainan psikologis para pemasar.

Srigala Eskimo
Masyarakat Eskimo memiliki cara tradisional untuk berburu srigala menggunakan pisau. Di malam hari, mereka mengolesi pisau itu dengan darah dan menancapkannya di tanah dengan ujung tajam berada diatas. Srigala yang memiliki killer instinct dan haus darah akan mendatangi umpan pisau berselimut darah itu.
Srigala yang lapar akan mulai menjilat pisau , dan secara tidak sadar (ditengah hawa beku), melukai lidahnya sendiri. Lidah yang tersayat pisau akan mengeluarkan darah dan terus melumuri pisau yang sebelumnya telah berlumuran darah. Srigala yang bernafsu tidak akan bisa membedakan darah yang mereka jilat. Dan semakin lama mereka menjilat darah, semakin haus mereka akan darah. Dan semakin lemas tubuh mereka. Srigala yang haus darah, pada akhirnya akan mati kehabisan darah.
Demikian juga dengan konsumen konsumtif yang terbujuk rayuan diskon. Mereka terkena efek impulse buying. Sebuah pseudo profit. Keuntungan semu dalam jangka pendek. Para konsumen konsumtif yang melihat diskon dan harga miring, tergiur tanpa berpikir panjang. Meski harus berhutang. Meski lebih besar pasak, daripada tiang.
Seperti srigala yang terus jilat.. jilat.. jilat.. karena lapar.. lapar.. lapar..
Mereka pun terus beli.. beli.. beli.. karena diskon.. diskon.. diskon..