30++

Bagaimana cara menguasai pemikiran seseorang?
Pertanyaan ini terus menghantui pakar pemasaran, pengamat politik, ahli psikologi, dan pecinta propaganda. Milyaran rupiah dihabiskan untuk melakukan riset pasar, eksperimen lapangan, sampai neuro science research. Semua dilakukan agar mampu melakukan modifikasi prilaku seseorang. Membuat seseorang melakukan, apa yang kita ingin mereka lakukan.
Dalam dunia advertising, ada teori tentang effective frequency. Pemikirannya sederhana: seberapa sering sih seseorang harus melihat sebuah iklan hingga mampu mempengaruhi pemikirannya dan mengubah prilakunya?
Ada banyak teori yang menjelaskan. Salah satunya adalah Krugman 3 hit theory. Jadi, seseorang harus melihat pesan (entah itu iklan produk, politik, anjuran, imbauan) setidaknya tiga kali baru ia mengerti. Pertama kali melihat ia bertanya: “Apa ini?”, kedua kali melihat ia bertanya: “Apa hubungannya dengan saya?”, dan ketiga serta selanjutnya: “Ini mengingatkan saya”.
Sebelumnya ada teori dari Thomas Smith lewat karya klasiknya Successful Advertising yang ia tulis tahun 1885. Smith bahkan lebih ekstrim: setidaknya 20 kali pesan terulang untuk dapat menancap di alam bawah sadar seseorang. Prosesnya seperti ini:

The first time people look at any given ad, they don’t even see it.

The second time, they don’t notice it.

The third time, they are aware that it is there.

The fourth time, they have a fleeting sense that they’ve seen it somewhere before.

The fifth time, they actually read the ad.The sixth time they thumb their nose at it.

The seventh time, they start to get a little irritated with it.

The eighth time, they start to think, “Here’s that confounded ad again.”

The ninth time, they start to wonder if they’re missing out on something.

The tenth time, they ask their friends and neighbors if they’ve tried it.

The eleventh time, they wonder how the company is paying for all these ads.

The twelfth time, they start to think that it must be a good product.

The thirteenth time, they start to feel the product has value.

The fourteenth time, they start to remember wanting a product exactly like this for a long time.

The fifteenth time, they start to yearn for it because they can’t afford to buy it.

The sixteenth time, they accept the fact that they will buy it sometime in the future.

The seventeenth time, they make a note to buy the product.

The eighteenth time, they curse their poverty for not allowing them to buy this terrific product.

The nineteenth time, they count their money very carefully.

The twentieth time prospects see the ad, they buy what is offering.


(Jadi jangan heran kenapa kita melihat iklan yang berulang-ulang di layar kaca hehehe).
30++

Untuk mempengaruhi proses pembelian seorang konsumen saja dibutuhkan pengulangan hingga 20 kali atau lebih (20+++). Lantas, perlu berapa kali repetisi untuk mengubah kehidupan spiritual seorang manusia?
Mungkin karena itu, Tuhan menurunkan bulan ramadhan. Bulan penuh latihan. Ingat, ajaran ramadhan sudah lama lahir sebelum Thomas Smith menulis Successful Advertising. Ada 30 hari frekuensi. Tiga puluh hari yang mengajarkan manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, mendekatkan diri kepada Tuhan, mencintai sesama, sambil belajar hikmah dari rasa kelaparan dan kehausan.
Tiga puluh hari penyucian diri. Sebuah tingkat repetisi yang secara teori periklanan, sudah cukup untuk mengubah prilaku seseorang. Tapi pertanyannya, meskipun kita berpuasa sebulan penuh, mengapa tetap saja ada korupsi? Mengapa kita masih gampang marah? Mengapa masih terus memburu nafsu? Mengapa kita masih belum mencintai sesama?
Mungkin bukan hanya kuantitas, tapi juga dibutuhkan kualitas. Tantangan utamanya adalah membawa kualitas ramadhan ke bulan-bulan kedepan. Dan setidaknya, kita harus berusaha. Sedikit demi sedikit. Toh, kita semua masih dalam tahap belajar. Selama kita berusaha untuk konsisten, insya Allah perbaikan adalah harga paten.
Seperti kisah Sahl bin ‘Abdullah dari Tustar yang mendapat nasihat dari pamannya saat ia berumur tiga tahun,

“Jika dalam tidur tubuhmu gelisah, ingatlah dirimu. Dan jika lidahmu bergerak, ucapkanlah, ‘Allah besertaku, Allah memelihara diriku, Allah menyaksikan diriku.’ Ucapkanlah kalimat itu tujuh kali pada waktu malam.”

Ia mengikuti saran tersebut dan beberapa waktu kemudian pamannya menyarankan untuk meningkatkan amalan,

“Ucapkan kalimat itu lima belas kali pada waktu malam.” Sahl mematuhi pamannya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Setahun kemudian, pamannya berpesan, “Ucapkan kalimat itu sampai kau menuju liang kuburmu.”

Paman Sahl mengajarkan dzikir lewat amalan ringan yang terus meningkat. Harapannya, Sahl terbiasa dengan amalan sederhana dan mampu melaksanakan amalan yang lebih utama: selalu ingat kepada Sang pencipta.
Perubahan membutuhkan waktu. Butuh 20 kali frekuensi iklan yang efektif. Dibutuhkan waktu 21 hari untuk menetaskan telur menjadi anak ayam. Butuh waktu 28 hari seekor ulat berubah menjadi kupu-kupu. Memang hanya diperlukan 30 hari untuk menyelesaikan satu bulan ramadhan.
Tapi dibutuhkan waktu seumur hidup untuk mengamalkan ajarannya, dan kembali menjadi manusia seutuhnya.
Advertisements

Cut Loss

Oleh: Yoga PS
Saat tulisan ini ditulis, bursa saham lagi ikutan NASDEM, panas adem, terkena isu krisis Eropa. Tentu saya berharap awan mendung koreksi IHSG ini tidak ikut-ikutan slogan DEMOKRAT: Lanjutkan!!!. Semoga saat tulisan ini dibaca, bursa segera bergabung dengan PDI, percaya diri. Karena banyak investor GOLKAR, golongan terbakar, alias nilai assetnya turun. Termasuk saya. Hahaha.
Jadi “nyangkuters” itu ga enak. Suer. Kerjaannya Cuma ngeliatin ticker kode saham. Sambil terus berdoa siang malam sampai bernazar ngadain selametan kalo bisa rebound. Portofolio saham saya masih “nyangkut” di tiga emiten. Dua emiten punya “Dagumen” boss Lapindo yang katanya mau nyalon RI-1 dan satunya lagi ada di saham pertambangan (terima kasih pemerintah atas peraturan barunya). Tulisan ini ditulis agar pembaca tidak mengulangi kesalahan bodoh yang saya lakukan.
Dua Jenis
Pada dasarnya ada dua pendekatan stock picking: technical dan fundamental. Dan kesalahan fundamental saya adalah: tidak melakukan analisa fundamental!. Pada awal-awal investasi di bursa, saya selalu melakukan analisa fundamental, tapi karena ternyata analisa teknikal saja bisa memberikan gain (factor hoki :p), perlahan-lahan analisa fundamental menjadi membosankan dan menghabiskan waktu.
Analisa teknikal adalah pendekatan grafik. Biasanya jagoan analisa ini disebut chartis. Karena emang setiap hari kerjanya ngeliat candle stick chart (yang paling populer). Analisa ini menggunakan metode dasar yang digunakan pedagang beras di Jepang pada abad 17. Filosofinya sederhana: harga merefleksikan nilai pasar, dan sejarah selalu terulang.
Ada berbagai metode dan pendekatan teknikal. Mulai MACD, stochastic oscillator, relative strength index, volume analysis, dan sebagainya. Tenang… software di perusahan sekuritas biasanya sudah menyertakan tools untuk melakukan analisa teknikal. Kita sebagai investor tinggal memasukkan kode saham dan jenis analisa yang diinginkan, lalu dalam satu kali klik, voila… analisis sudah keluar.
Milih Jodoh
Tapi sayangnya, memilih saham Itu seperti memilih wanita cantik. Ada outside beauty, dan ada inner beauty. Wanita yang dari luar kelihatan cantik seksi, ternyata “dalemannya” bisa aja udah waktunya ganti mesin. Saham yang dari “luar” kelihatannya “hot”: harga bagus, trend naik, dan permintaan tinggi belum tentu aslinya bener-bener bagus. Bisa aja saham itu lagi dimainin bandar alias digoreng.
Proses scanning “daleman” (inner beauty, bukan daleman yang itu :P) adalah fungsi analisis fundamental. Analisa fundamental dapat memberikan fair value dari nilai saham itu sendiri. Ia berfungsi seperti scan X-ray, melihat competitive advantage perusahaan, kesehatan rasio keuangan, sampai memberikan comparison dalam satu industry.
Analisa fundamental berarti berurusan dengan laporan keuangan. Dan seorang analis fundamentalis sejati biasanya tidak terlalu peduli dengan gonjang-ganjing harga. Selama harga masih masuk akal dan performa keuangan masih hijau, dia tidak akan peduli meski harga pasar terkoreksi krisis sekalipun.
Mana yang paling bagus antara fundamental vs teknikal? Tentu saja gabungan keduanya. Seperti mendekati seorang gadis, analisa fundamental memberi tahu kita apakah si dia benar-benar cantik lahir batin. Dan analisa teknikal memberi tahu kita sinyal kapan masuk untuk pendekatan.
Bagaimana jika lagi posisi loss seperti saya? Biasanya para investor punya standar kapan harus cut loss. Tergantung investornya. Kalau type trader penurunan 1-2% saja dia sudah cabut. Tapi dalam pandangan behavior finance dimana investor itu cenderung risk taker saat loss dan risk averse saat profit, biasanya penyakit umumnya adalah: memegang saham loss terlalu lama dan menjual saham winner terlalu cepat.
Biar tulisan ini ga jadi ajang curhat, ada tiga learning yang diambil:
  1. Baca laporan keuangannya dan lakukan analisa fundamental sebelum membeli saham apapun
  2. Baca laporan keuangannya dan lakukan analisa fundamental sebelum membeli saham apapun
  3. Baca laporan keuangannya dan lakukan analisa fundamental sebelum membeli saham apapun
Saya rasa loss 20% adalah learning cost yang sangat baik (hiks.. hiks… T_T).

Segitiga Landak

Bagaimana menemukan bisnis yang cocok dengan kita?

Pertanyaan yang sering ditanyakan dalam seminar-seminar kewirausahaan. Biasanya dilontarkan oleh mereka yang belum pernah punya bisnis. Masih pemula dan terus meraba-raba. Dan pertanyaan ini pula yang kembali ditanyakan oleh seorang teman saya. Dia resign setelah menjadi auditor kantor akuntan public ternama guna mengejar cita-citanya menjadi pengusaha.

Okay, saya tidak ingin menggurui. Saya juga masih belajar. Beberapa kali berbisnis sejak SMA hingga kuliah. Mayoritas untung. Tapi tidak jarang juga rugi. Yang pasti, tidak ada bisnis saya yang sustain, berkelanjutan. Semua sifatnya musiman. Karbitan. Dadakan. Sporadic. Atau apa lah namanya.

Saya pernah berjualan buku bekas pelajaran saat tahun ajaran baru. Menjual bunga saat valentine. Takjil pisang ijo saat puasa. Bahkan menjadi pedagang asongan. Yang bertahan agak lama, saya pernah membuka dealer motor bekas selama 10 bulan, dan menjadi peternak bebek petelur selama 1 tahun. Semua dilakukan disela-sela jadi anak sekolahan.

Setelah lulus pertengahan 2011 lalu, sekarang status saya justru jadi pegawai kantoran biasa. Niatnya belajar sambil mencari modal social untuk membayar hutang yang masih ada. Hehehe.

So, saya tidak punya kapabilitas untuk memberikan petuah sakti. Saya hanya ingin berbagi model dari Jim Collins dan sedikit matriks yang saya ciptakan sendiri. Sedikit oleh2 dari teori di bangku kuliah yang tersisa. Semuanya tentang menemukan peluang bisnis yang ada.

Segitiga Landak

Jim Collins dalam karya masterpiece-nya, Good to Great, melakukan penelitian terhadap perusahaan paling sukses di dunia. Hasilnya, ia melihat semua perusahaan sukses menerapkan prinsip dari segitiga landak. Anda tahu landak? Binatang bercula satu. Oh, itu badak. Landak adalah hewan berduri yang jadi icon video game SEGA lewat tokoh Sonic the Hedgehog.

Prilaku landak sangat sederhana. Ia terfokus. Tidak gampang teralihkan ketika sedang berburu. Dan punya self defense mechanism yang bagus lewat duri-durinya. Yang jelas, menurut Collins, semua perusahaan hebat harus seperti landak: Sederhana. Focus. Dan punya pertahanan kuat.

Semua perusahaan hebat harus punya tiga hal: passion terhadap industry yang digeluti. Kemampuan berburu peluang secara ekonomis. Dan keahlian terbaik dibidangnya. Dari ketiga hal ini, kita bisa lihat jika passion memegang peranan penting. Passion adalah panggilan hidup. kecintaan terhadap bidang yang digeluti. Bukan Cuma panggilan profesi.

Passion terhadap keindahan teknologi membuat Steve Jobs mampu memimpin Apple untuk terus mengeluarkan produk yang luar biasa “cantik”. Passion terhadap transportasi membuat Soichiro Honda terus mencoba meski sudah gagal berkali-kali. Passion terhadap dunia finansial membuat Warren Buffet membuatnya menjadi salah satu investor tersukses di dunia.

Pesan dia:

Saya tidak berbeda dengan kalian. Jika pun ada, perbedaannya hanya bahwa saya bangun setiap pagi dan memiliki kesempatan untuk melakukan apa yang saya cintai.

Do what you love. Love what you do.

Temukan bidang yang Anda cintai. Jadilah ahli terbaik di dunia untuk bidang yang Anda sukai. Lalu lakukan komersialisasi. Uang akan datang dengan sendiri. Bagi yang suka memasak, bisa memulai bisnis kuliner. Yang suka komputer, bisa mencoba berbisnis IT. Jika suka otomotif, bisa membuka usaha bengkel.

Business passion matrix

Tapi pengalaman saya menunjukkan jika peluang ekonomi lebih berperan didalam bisnis. Percuma ada passion, tapi jika tidak ada peluang. Tapi banyak yang tidak punya passion, tapi karena ada peluang bisnis, tetap bisa sukses. Coba deh tanya ke pedagang di pasar, apakah mereka bercita-cita jadi pedagang pasar? Karena banyak pebisnis yang terkena the power of kepepet.

Berdasarkan passion dan peluang, maka saya menciptakan matrix passion sendiri.

Ada perpotongan antara peluang dan passion. Sehingga ada 4 jenis kondisi.

  1. It’s my life!!!. Kondisi ideal dimana bisnis yang kita geluti sesuai dengan passion yang kita miliki. Seneng ama baju, akhirnya punya brand design sendiri. Seneng nyanyi, jadi penyanyi sekaligus produser. Jika Anda berada di fase ini, dunia dan seisinya sudah ditangan Anda.
  2. Just do it. Peluang ada, tapi passion ga terlalu dalam. Pokoknya ada peluang, hajar bleh! Contohnya saya sendiri. Sekarang saya berjualan kue ke teman2 kantor. Karena saya melihat peluang dari teman2 yang ga sempat sarapan. Selain untuk seneng2, saya berlatih mengendus peluang, mengeksekusi, dan sebagai pancingan untuk mendapatkan “ikan” yang lebih besar. Rejeki kecil akan mengundang rejeki besar. (for your info: return harian jualan kue ini ngalahin return saham yang saya punya!).
  3. Keep trying. Passion ada, peluang lum ada. Contohnya saya lagi. Saya suka menulis, dan bercita-cita menjadi penulis. Tapi siapa yang mau membeli tulisan saya saat ini? So, just keep trying dude. Yakinlah akan tiba suatu masa ketika orang2 akan membutuhkan kita. Teruslah berkarya. Ingatlah hukum 10.000 jam yang ada pada sang juara.
  4. Forget it. Ga seneng, ga ada peluang. Ga usah dibahas. Just forget it.

Sekali lagi. Kita hidup di dunia hanya sekali. Besok mungkin kita sudah mati. Jadi, lakukan apa yang menurut kita berarti. Bertanyalah kepada diri sendiri, apa yang kita cari di dunia ini?

Karena kebahagiaan hidup ada di kedamaian hati.

Sedangkan kedamaian hati ada di kebersihan nurani.

Dan kebersihan nurani ada di kejujuran terhadap diri sendiri.

Jangan takut gagal. Takutlah jika takut mencoba.

Jangan takut miskin. Takutlah jika tidak mampu membantu orang miskin.

Tiga Rahasia Mendapatkan Harga Termurah Untuk Setiap Barang yang Kita Beli


Oleh: Yoga P$

Untuk mendapatkan harga termurah, sebenarnya sederhana: belajarlah seni tawar menawar.

Belanja ga pake nawar? Mana seru! Bagian inilah yang membuat saya paling bersemangat. Bagi saya, seni tawar menawar adalah praktikum kuliah negosiasi yang sejati. Lewat tawar menawar Anda akan belajar manajemen isu konflik, optimalisasi sumberdaya ekonomis, berupaya mencari win-win solution, serta 144 SKS mata kuliah psikologi social dan komunikasi massa (selain dapat diskon harga tentunya :p).

Tawar menawar pula yang membuat pasar kembali menjadi organisme sosial yang manusiawi. Kumpulan manusia. Bukan kumpulan harga-harga. “Fasilitas” yang tidak ada di gerai modern pusat perbelanjaan. Jika kita berbelanja ke gerai modern di mall, hanya tercipta komunikasi satu arah. Penjual dengan harga yang sudah ditentukan.

Take it, or leave it.

Berbeda dengan pasar biasa. Baik itu pasar yang sudah “modern” (tertata, tercluster, dan udah punya oyjeck klo uyjan juga ga beycheck) seperti Tanah Abang, Pasar Turi, Beringharjo, dll. Secondary market (pasar jual beli mobil contohnya) atau pasar online (cth: FJB kaskus).

Disini kita bertransaksi dengan manusia. Bukan system barcode atau kasir yang terpaksa tersenyum meski sedang dilanda masalah rumah tangga. Di pasar “tradisional”, Anda bisa bersentuhan langsung dengan pelaku ekonomi. Mendengar cerita mereka. Bercanda. Berbicara soal cuaca, daerah asal, isu politik, hingga gossip artis ternama. Hidup bukan hanya berurusan tentang harga.

Lantas, bagaimana cara tawar menawar biar dapat barang termurah? Cukup ikuti tiga langkah dari saya.

Tiga Cara Untuk Mendapatkan Harga Terbaik Untuk Setiap Barang yang Anda Beli

Jurus-jurus yang akan saya bagikan mungkin membuat proses belanja menjadi agak sedikit lama dan memerlukan pengorbanan ekstra. Jurus ini bisa Anda gunakan untuk melakukan pembelian di semua pasar yang membuka celah negosiasi. Baik itu offline atau online. Apa saja langkahnya? Sederhana. Cukup lakukan 3 hal berikut ini:

1. Cari informasi

2. Lakukan negosiasi

3. Pikirkan exit strategy

Kita mulai dari langkah awal: cari informasi.

Tujuannya adalah mendapatkan fair price untuk barang yang kita incar. Cari info sebanyak-banyaknya tentang harga produk. Berapa harga wajar untuk kualitas barang seperti ini? Berapa harga pasarannya? Pada harga berapa kita ingin membeli? Dimana penjual alternative yang ada? Sudahkah kita melakukan perbandingan harga? Apakah ada penjual yang rela melepas barang pada harga yang saya tawarkan?

Fase inilah yang membuat kaum hawa rela 2 jam muterin pasar hanya untuk menanyakan harga. Sudah mendapat fair price? Good. Kita bisa masuk langkah selanjutnya.

Lakukan negosiasi

Disinilah seninya. Kita tidak perlu membaca Getting to Yes karya Fisher dan Ury untuk menawar baju di Tanah Abang. Juga ga perlu mengambil mata kuliah 3 sks tentang topic ini (kebetulan, saya dapat E waktu kuliah). Cukup lakukan perbandingan harga yang penjual dengan tawarkan dengan harga pasar.

Inilah pentingnya langkah pertama. Kita sudah punya “modal” berupa informasi. Karena di pasar selalu ada asymmetric information. Penjual tahu lebih banyak daripada kita. Dia tahu berapa harga grosirnya, dimana distributornya, apa kelebihan kekurangan barang yang ia jual. Jika kita bisa tahu informasi kunci ini, sungguh merupakan senjata yang sangat ampuh untuk menawar.

Jika pedagang memberikan harga diatas harga pasar, katakan saja harga pasarnya (terkadang bisa 50% dari harga pembukaan). Jika ia tidak mau turunkan harga, tinggalkan. Cari penjual lain. Loh, katanya jurus rahasia bisa dapat harga termurah?

Saya harus mengklarifikasi. Tujuan kita adalah mendapat harga yang WAJAR (fair price), bukan termurah. Karena mahal-murah bersifat relative. Barang disebut mahal, jika diatas harga wajar pasar. Lagipula, jika kita mendapatkan harga dibawah harga wajar pasar (merusak pasar), hanya ada tiga kemungkinan:

a. Barang itu cacat (tiren, BM, selundupan)

b. Kita membeli dalam volume banyak

c. Kita rela jadi istri simpanan Abang yang jualan :p

Jika kita tahu harga grosirnya 10rb, tentu kita tidak akan bisa membeli dengan harga 10rb juga. Apalagi 9rb. Kecuali nawarnya sambil ngalungin golok ke leher abangnya hehehe. Menawarlah dengan wajar. Pedagang juga manusia yang butuh biaya untuk hidup.

Kita juga bisa menggunakan modal social yang kita punya. Modal social bisa berupa apa saja. Kedekatan family, kesamaan suku daerah asal, humor, track record kerjasama jangka panjang (langganan), sampai rayuan maut. Tujuannya agar penjual rela menurunkan margin keuntungan yang diambilnya.

Diskon harga akan semakin mudah didapat jika kita membeli dalam volume dan frekuensi tinggi. Tapi jika kita Cuma beli wortel satu biji ya wajar saja jika kesulitan mendapat diskon meski sudah katam membaca buku-buku negosiasi sambil kuliah di Harvard Business School sono.

Exit strategy

Pernah nawar, penjualnya ga mau, kita pergi, terus dipanggil-panggil lagi?

Makanya barang belum dibayar jangan dibawa kabur dulu donk! Hehehe. Maksud saya, penjual setuju dengan harga yang kita ajukan ketika pergi. Inilah jurus paling sakti untuk memenangkan negosiasi: berusaha menghancurkan negosiasi.

Exit strategy hanya boleh Anda lakukan pada final offer. Contohnya gini:

Kita: Berapa Bang?

Penjual: 35rb Mbak

Kita: Yah, bahannya Cuma kaya gini. Biasanya Cuma 15rb-an nih (sadis tidaknya kita menawar, tergantung fair price barang itu sendiri)

Penjual: yah mana boleh Mbak, ngambilnya 20rb (pasar itu tempatnya setan, jangan gampang percaya omongan penjual)

Kita: Iya, biasanya 15rb koq. Grosirannya kan Cuma 10rb. Apa saya ngambil di sebelah aja (naikkan bargaining power kita, berikan “ancaman” persaingan)

Penjual: Ga nyampe untungnya Mbak. Paling2 Cuma bisa turun jadi 30rb (Waduh ni mbak2 udah tahu harga pasar, tetep jual mahal ah)

Kita: ya udah klo ga mau 15rb. Boi boi. (cabut, cari penjual laen)

Saat kita pergi, tiba-tiba dipanggil.

Penjual: Ya udah deh, gpp (biar untung dikit yang penting laku)

Tuh kan, jika kita udah ngeluarin jurus exit strategy, pastikan itu jurus terakhir kita jika perundingan sudah buntu. Jangan sampe Anda kembali lagi. Karena itu akan menunjukkan jika kita benar2 butuh ama tu barang, dan secara otomatis menaikkan bargaining power penjual. Dan sekali lagi, jika memang harga pasarnya segitu, ya mau gimana lagi.

Take it, or leave it.

Cari pasar laggiiiiiii!!!! (kaya lagunya EsTeh Dua Gelas)

Segmentasi Diferensiasi Kyai

Oleh: Yoga PS 
Zaman dahulu, kita hanya mengenal filsafat sebagai induk seluruh ilmu pengetahuan. Mother of knowledge.Tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Khawarizmi, dan tokoh2 baheula dikenal sebagai ahli disegala bidang. Mulai politik, pengetahuan alam, biologi, seni, social budaya, hingga hukum. Namun zaman terus berubah. Tuntutan kompleksitas pengetahuan memaksa kita menggolongkan pengetahuan menjadi kamar-kamar yang lebih kecil.
Pengetahuan mengalami spesialisasi. Pengelompokan menjadi sub-bagian yang lebih spesifik. Ilmu pengetahuan alam digolongkan fisika, kimia, biologi (SMA bangettt), atau ilmu social masih bisa dibagi lagi menjadi ekonomi, politik, antropologi, sosiologi, gigologi (zzzzzzz) dan masih banyak lainnya. Lantas apa hubungannya dengan Ustadz yang ahli agama? Yang jelas bukan hubungan intim (astaghfiruloh kakak…), atau hubungan kelamin (inget puasa kakak…). Bukan juga hubungan *&*&#*@ (sorry terpaksa disensor).
Marketing Dakwah
Coba antum perhatikan televisi. (Cieeh. Antum…) Oke cuk, coba perhatikan televisi atau jalan2 ke toko buku. Tapi jangan toko buku porno ya (mulai deh…). Kita akan menemukan sebuah spesialisasi dakwah. Dalam artian, ustadz zaman sekarang memiliki kekhususan bidang dakwah yang digeluti.
Yusuf Mansur terkenal dengan anjuran sedekah. Abu sungkan dengan terapi sholat khusyu’. Quraisy Shihab konsisten dengan tafsir qur’an. Ary Ginanjar dengan ESQ untuk kalangan eksekutif. Arifin Ilham dengan majelis dzikir yang mengharu-biru. Uje ustadz Jeffry dengan gaya gaul dan bintang iklannya, atau Aa Gym dengan anjuran poligaminya (kalo ini Cuma bercanda hehehe.. sorry A’).
Trennya apa: Sudah ada diferensiasi dalam “memasarkan” dakwah!!! Ustadz-ustadz ngetop zaman sekarang lebih terfocus pada salah satu aspek dalam islam, menciptakan diferensiasi dan nilai tambah, serta “memasarkan”-nya dengan sangat baik. Apakah salah? Tentu tidak. Toh, dakwah itu perlu pemasaran!. Dakwah itu artinya panggilan. Iklan itu juga dakwah. Karena berasal dari bahasa arab I’laan yang berarti pengumuman.
Segitiga PDB
Menjadi Da’I ngetop hampir seperti menjadi artis. Ia harus mampu menghibur dan membuat pendengar terkesan. “Konsumen” (dalam hal ini jamaah) juga mengalami segmentasi. Ibu-ibu lebih doyan dengan gaya “Mamah curhat donk…”, atau yang suka melambai-lambai, “jamaaaahhh… ooh… jamaahhhh”. Yang dimongin ya masalah rumah tangga dan kelakuan bejat suami.
Sedangkan segmen remaja lebih sreg dengan model ustadz gaul dan ganteng lengkap dengan nyanyi-nyian dan pertanyaan standar sejuta zaman: “Bagaimana hukum pacaran dalam Islam???”. Kadang-kadang ada juga yang tanya bahasa arabnya I love U. Biar jadi pacaran syariah katanya. Ada-ada aja. Haha.
Sementara kalangan eksekutif paruh baya ada yang lebih menyukai pendekatan klasikal spiritual. Ceramah di hotel berbintang. Pake sound system megah. Visualisasi wah. Ada nangis-nangisnya segala. Ga tau nangis beneran atau nangis karena udah bayar mahal-mahal dan ternyata ngerasa biasa aja.
Jika Anda sedang ikutan Pildacil (Pemilihan Dai Licik :p) saya sarankan untuk menciptakan segitiga PDB (Positioning, differensiasi, dan brand) Anda sendiri. Yang unik, otentik, dan sukar ditiru. Sedikit nyontek teori marketing, positioning adalah citra yang ingin Anda ciptakan di benak jamaah. Diferensiasi adalah pembeda, apa yang membedakan Anda. Sedangkan brand adalah “merk” atau nama yang ingin Anda jual.
Contohnya Yusuf Mansur. Positioning: ustadz sedekah. Diferensiasinya jelas: ceramah pake humor dan testimony pelaku sedekah. Hasilnya, brand ustadz yusuf Mansur ahli sedekah. Inget sedekah, inget Yusuf Mansur.

Jika saya ingin jadi ustadz ngetop, saya harus tampil beda. Ga akan sukses kalau Cuma ngekor yang sudah ada. Karena sudah banyak yang ngebahas rahasia sholat, maka saya pengen jadi ustadz yang menyingkap rahasia TIDAK sholat. Wah pasti rame kayaknya.
“Kejaiban Tidak Sholat..” wuiihh judul buku calon best seller tuh. Tapi siap-siap juga jadi calon babi guling buronan FPI. Hehehe.
Kyai Kampung
Berbeda dengan ustadz gaul dan ngetop di layar kaca, selalu ada tempat untuk “kyai kampung” di hati saya. Pembela agama Allah yang sesungguhnya. Saya masih mengingat jasa Cak Dji dan Cak Toha, guru ngaji saya dulu. Mereka tidak dibayar. Tidak juga terkenal. Mereka hanya guru ngaji biasa di musholla dekat rumah saya.
Saya masih ingat betul ketika diperkenalkan dengan si alif, ba, ta, dan rombongannya. Merangkai kalimat. Menghapalkan ayat. Lalu ada pelajaran tentang sholat. Mencari arah kiblat.
Mereka menyampaikan Islam tanpa “diferensiasi” macam-macam. Islam ya Islam. Lengkap dengan akidah, syariah, dan muamalah. Ada rukun agama, ada rukun iman. Ada surga, ada neraka. Ceramahnya biasa saja. Tidak membuat saya tertawa. Atau menangis tersedu-sedu didalam dada. Semua disampaikan dengan sederhana. Tapi justru semakin mengena.
Karena sesuatu yang disampaikan dari hati, akan sampai ke hati.
Semoga amal mereka dibalas di hari akhir nanti.