Ketika Nasi Begitu Menyeramkannya

Saya tak menyangka nasi sebegitu menyeramkannya. Kesimpulan ini saya ambil setelah saya membaca artikel tentang dunia perberasan kita dan wawancara vivanews dengan Menteri Perdagangan kita, Gita Wiryawan. Sedang berbicara tentang Toefl PNS kementrian yang dipimpinnya yang sempet bikin heboh orang-orang (terutama orang-orang DPR yang tersindir), Gita tiba-tiba mengingatkan wartawan tentang kondisi beras kita.
Gita memang bukanlah Menteri Pertanian. Bukan pula anak seorang petani. Tapi pemikirannya tentang beras dan petani sungguh sangat menarik buat saya. Sebenarnya pemikirannya adalah hal yang sangat klasik, sebuah pemikiran yang sebenarnya sudah didengung-dengungkan sejak dulu. Tapi entah mengapa dulu begitu hambar di telinga saya. Tapi mendengar langsung dari Gita, saya jadi berpikir. Inti dari idenya hanyalah diversifikasi pangan, namun kali ini terdengar berbeda. Berikut saripati dari wawancara tersebut yang sudah saya ramu dengan “kegoblokan” saya.
Bicara pangan, pasti bicara produksi. Bicara produksi, mentok lah kita. Hanya ada dua upaya untuk meningkatkan produksi kita, intensifikasi dan ekstensifikasi. Ekstensifikasi hanyalah angan-angan, bukannya bertambah, malah berkurang. Intensifikasi terkendala dengan beberapa, pasokan pupuk macet, minimnya tenaga kerja (sapa yang mau jadi petani hayo?), litbang pembibitan yang angin-anginan, dll. Intinya banyak hal yang kompleks dan komprehensif yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini.
Masalah produksi ini merembet ke masalah impor beras yang selalu ramai untuk dibicarakan. Kok bisa?ya iyalah, masa ya iya dong. Pertumbuhan produksi yang rendah beradu dengan tingkat konsumsi yang sangat sulit dikendalikan membuat pemerintah mengambil keputusan kontroversial ini. Semua pengamat dan pemerintah ramai berdebat kusir: sebenernya cukup tidak sih ni beras produksi dalam negeri?si pengamat bilang cukup, si pemerintah bilang kagak.
Nah, yang membuat saya tertarik dari Bung Gita ini adalah beliau mencoba keluar dari debat kusir ini dengan memberikan fakta yang membuat saya cengo. Pertama, Gita menyuruh kita berkaca pada data WHO, kok WHO, beras kan FAO (ini yang saya sebut out of the box). Negara kita ini Negara dengan penduduk penderita diabetes nomor 4 terbanyak di dunia. Karena apa? Konsumsi gulanya luar biasa. Konsumsi karbohidratnya luar biasa.
Kedua, sadar ga sadar ternyata perut anda itu terisi beras rata-rata 139 kg/kapita/tahun alias 11,58 kg/kapita/tahun alias 386 gr/kapita/hari. Bandingkan dengan Thailand atau Malaysia yang hanya 60kg beras/kapita/tahun. Angka ini yang membuat konsumsi beras nasional kita mencapai 33 juta ton beras per tahunnya.
Ketiga, jumlah konsumsi ini yang, terlepas dari adanya mafia impor atau tidak, nyatanya membuat kita harus impor beras senilai 15 Trilyun Rupiah per tahun karena mengimpor beras sebanyak 3 juta ton. Andaikata kita mampu mengurangi konsumsi beras sampai 40 kg per orang per tahun maka kita bisa menghemat beras sebesar 10 juta ton. Jadi kita malah bisa ekspor beras sebesar 7 juta ton per tahun.
Keempat, terkait protein. Kebalikan dengan beras, asupan protein kita hanya 2,1 kg per orang per tahun. Tak sebanding dengan Thailand yang mencapai 40 kg per orang per tahun. Berkurangnya konsumsi beras akan membuat pemerintah bisa memberikan subsidi yang lebih besar bagi sektor peternakan, perikanan dan tanaman palawija, sumber protein. Saya bukan dokter, tapi saya tahu yang membuat pintar itu protein, bukan karbohidrat.
Kelima, daripada ngikutin saran Pandji yang artis itu agar petani Indonesia menanam ganja karena harganya tinggi, dengan berkurangnya konsumsi beras maka petani agak bisa lebih sejahtera. Kok bisa?lah iya wong petaninya nemu tambang emas.hehe.sebenernya saya ga tau logika ekonomi benerannya. Tapi ini hanya practice saya ketika dulu pernah bertani dan beternak. Marjin petani beras itu sedikit sekali, sudah begitu panennya 3 bulan sekali. Belum lagi factor cuaca yang tak bisa dilawan. Mau cari sampingan, tapi terkendala keterbatasan modal. Dengan berkurangnya konsumsi beras akan diikuti dengan meningkatnya produksi tanaman alternative yang artinya petani akan memiliki portofolio tanaman. Ingat teori investasi?don’t put eggs in one basket. Sama saja. Dengan menanam beras saja, mereka bisa cilaka. Pasar tanaman alternatif nanti akan berkembang, sehingga petani punya pilihan tanaman. Dana subsidi pertanian karbohidrat pun bisa berkurang dan dialihkan ke subsidi protein. Surplus beras pun dapat kita gunakan untuk ekspor. Entahlah yang kelima ini hanya di bayangan saya saja.
Yang jelas atas fakta ini semua saya berpikir tentang ketahanan perberasan kita. Ngeri saya ketika mengetahui fakta-fakta mencengangkan ini. Dan semenjak itu saya pribadi bersumpah untuk mengurangi konsumsi beras saya. Kalau Gadjah Mada bersumpah Palapa, maka si 2012 ini saya akan bersumpah beras. Saya akan mengurangi konsumsi beras saya untuk satu kali makan. Misal, saya akan makan siang tanpa nasi. Yang jelas, ini akan baik untuk badan saya dan moga dengan ini petani kita bisa makin sejahtera.
Asal jangan mensubstitusi beras ada dengan makanan impor,,,sama aja boong bos.

Gombal Gila Ekonom Cinta, eh Gombal Cinta Ekonom Gila


Sekarang-sekarang ngetrend sekali segala yang berhubungan tentang gombal-gombalan. Bahkan sebuah stasiun TV menjadikan lelucon ini sebagai mata tayang utama sebuah program. Bahkan dikompetisikan. Inilah hasil lamunan saya dengan harapan wanita kelepek-kelepek mendengar gombalan saya (ngarepkawin.com) dan sekaligus merangkum kisah ekonomi Indonesia yang nge-trend di tahun 2011.

Century.

Abang : Sayang, kok kamu makin lama makin mirip Sri Mulyani sih?
Adek : Kok bisa?
Abang : Karena kau telah membail-out hatiku.

Abang : Duh kok kasus century mulu sih ni di TV?
Adek : Iya nih bosen bgt
Abang : tapi agak mirip cerita cinta kita sih
Adek : hah, mirip dari mana?
Abang : Iya mirip banget, sama-sama merupakan kisah tak berujung.
Tuh buktinya ga selesai-selesai

Abang : Kasihan tuh pemerintah jual Bank Mutiara ga laku-laku
Adek : Iya ya bang, rugi deh pemerintah kita 6,7 Trilyun. Tapi adek yakin deh klo abang dijual juga ga akan laku.hehehe.(becandain si abang)
Abang : Iya dek abang ngerti (sambil sedih).
Gimana mau laku kalau seluruh dunia ini sudah tau kalau hatiku telah terjual padamu seorang

Investasi emas

Abang : Dek, investasi emas yuk. Lumayan nih 2011 ini kenaikan bisa sampai 40% lho.
Adek : Iya bang, temen-temenku malah pada ikut kebun emas lho. Bisa lipat ganda lho investasinya lebih dari 40%
Abang : Ah masa sih,,ad lho yang lebih menguntungkan
Adek : Apa tuh bang?
Abang : Investasi cinta di kebun hatimu.

IHSG

Adek : Bang, Alhamdulillah Bang, TINS naek 6%, JSMR naek sampe 8%, malah unilever bisa sampai 12% bang. Saham kita semua tuh
Abang : Iya ya Dek. Subhanallah banget portofolio saham kita termasuk yang paling atraktif di IHSG (indeks harga saham gabungan)
Adek : Iya bang, biar kata Dow Jones ma bursa eropa babak belur, ternyata bursa kita tetep nomor 4 di dunia tahun 2011.
Abang : Ah, jadi inget masa muda.
Adek : Kenapa masa muda?
Abang : iya kamu kaya UNVR, paling atraktif, makanya aku pilih kamu sebagai tempat melantai emiten cintaku.
Adek : Ih gombal,,asal jangan bikin portfolio cinta aja ama yang lain.
Abang : Ga akan lah sayang,,ga mungkin itu, tapi nyari saham di secondary market boleh dong?
Adek : Enak Aja!!!!

Krisis Eropa & Dunia

Adek : Bang, Yunani bangkrut lho. Konon katanya Spanyol sama Italia bakal nyusul. Aduh moga-moga krisisnya ga sampe sini deh.
Abang : Kualat tu negara. Ngutang mulu sih. Utangnya banyak ga bisa bayar gitu deh jadinya. Tapi Alhamdulillah deh.
Adek : Negara lain mau sekarat kok malah seneng?
Abang : Bukan
Adek : Terus apa?
Abang : Abang Alhamdulillah soalnya dulu pas akad nikah dibayar tunai. Coba kalo utang juga kan bisa kaya krisis kaya Yunani.
Adek : wuuu,,enak aja. Mang kena krisis apa?
Abang : Krisis cinta dari adek karena ngambek ga dibeliin cincin.

Indonesia masuk Investment Grade versi Fitch

Adek : Hebat juga Indonesia ya Bang.
Abang : Kenapa?
Adek : Sekarang udah masuk rating investment grade, itu tandanya kita termasuk ramah investasi ya bang?
Abang : Oh iya itu. Tapi itu mah biasa aja
Adek : Biasa gimana, baru pertama kali lho!
Abang : Iya biasa aja, dibanding kamu yang selalu di rating pertama dalam hidupku.

Demikian kilas balik ekonomi Indonesia versi gombal yang terlintas dikepala saya. Bagi yang ingin ditambah kami persilakan. Mohon maaf kalau tidak sempurna, karena sempurna hanya milik Allah semata. Eh, tapi sekarang dah ada yang ny aingin tuhan. Sempurna juga milik Andra & The Backbone :p. Sukses terus ekonomi Indonesia di 2012!!!

Standar Kebahagiaan

Menurut kamus, standar adalah kesepakatan-kesepakatan yang telah didokumentasikan yang di dalamnya terdiri antara lain mengenai spesifikasi-spesifikasi teknis atau kriteria-kriteria yang akurat yang digunakan sebagai peraturan, petunjuk, atau definisi-definisi tertentu untuk menjamin suatu barang, produk, proses, atau jasa sesuai dengan yang telah dinyatakan. Saat ini hampir semua hal telah terstandarisasi, dari sekolah, jembatan, jalan, rumah, hingga helm.

Seperti tertulis di atas, standar biasanya diatur dalam sebuah dokumen tertulis, tapi pada kenyataannya, banyak persepi-persepsi masyarakat yang berterima umum dan menjadi standar. Standar sukses misalnya, senang atau tidak, orang dikatakan sukses bila: Lulus tepat waktu, dengan IPK bagus, diterima jadi PNS atau karyawan BUMN, dapat pasangan cantik, nikah, punya anak,  kemudian pensiun (dan kemudian mati). Begitu pula dengan deskripsi standar sebuah kebahagiaan.

Apa saja sih “Standar” hidup bahagia saat ini? 

 Berdasarkan tulisan Yodhia Antariksa perhitungan yang didapat sebagai berikut :

  • Biaya Kebutuhan Hidup Sehari-hari, *dengan asumsi hidup di kota besar (Jakarta, Medan, dsb) Kebutuhan sehari-hari adalah untuk makan (diselingi sebulan sekali makan sekeluarga di mal); untuk membayar iuran keamanan, bayar listrik, air PAM, langganan koran, beli sabun, rinso, odol, dan juga jajan/uang saku anak-anak serta sumbangan kanan kiri. Estimasi saya, Anda mesti mengeluarkan uang sejumlah Rp 4 juta per bulan untuk kebutuhan ini.
  • Biaya Transportasi dan Komunikasi, Dengan asumsi Anda membawa mobil ke kantor, dan biaya bensin ndak ditanggung oleh kantor; maka kita bisa menghabiskan sekitar Rp 1,5 juta per bulan untuk bensin, tol dan biaya parkir. Ditambah pengeluaran pulsa telpon dan langganan internet speedy, kita akan spend sekitar Rp 2 juta untuk pos ini.
  • Biaya Kredit Mobil , Jika Anda membelinya dengan kredit (65 % masyarakat kita membeli mobil dengan kredit) serta dalam jangka 5 tahun; maka itu artinya kita mesti mengalokasikan dana sekitar Rp 4 juta per bulan untuk keperluan ini.
  • Biaya Kredit Rumah, sebuah rumah mungil ukuran 4 L (lu lagi lu lagi karena saking kecilnya ukuran rumah) untuk keluarga muda di area BSD (Bekasi Sono Dikit, maksudnya) sudah mencapai harga sekitar 400 juta-an. Dengan jangka waktu 10 tahun, dan dengan suku bunga yang alamak kok makin melangit, maka Anda harus mengeluarkan sekitar Rp 4 juta untuk kredit “istana peristirahatan”.

TOTAL : Rp 16 juta per bulan !! (dikutip dari “Berapa Besar Gaji yang Harus Anda Peroleh untuk Bisa Hidup dengan Layak?” oleh Yodhia Antariksa. http://strategimanajemen.net)

Dari artikel di atas dapat dilihat (walaupun secara implisit) bahwa standar sebuah kebahagiaan hanya diukur dari sisi eksternal. Istilah ekonominya disebut eksternalitas =D, yaitu kerugian atau keuntungan yang diderita oleh pelaku ekonomi akibat tindakan pelaku ekonomi lain. Berdasarkan teori ekonomi, eksternalitas, positif atau negatif akan membuat pasar tidak efisien, dan menurut saya ini berlaku juga untuk kebahagiaan. keterlibatan faktor eksternal dalam menentukan kebahagiaan seseorang akan akan membuat kebahagiaan itu sendiri tidak efisien. Keuntungan dan kerugian dalam teori tadi saya analogikan dengan kebahagiaan dan kesedihan seseorang. Orang akan bahagia jika dapat hadiah mobil, orang akan sedih bila mobil miliknya tertabrak, orang akan bahagia bila mendapat pujian dari orang lain, orang akan sedih bila mendapat hinaan dari orang lain. Hal ini membuat “pasar kebahagiaan” dalam diri kita menjadi labil karena faktor dari luarlah yang paling berperan menentukan bahagia atau tidaknya seseorang.

Lalu apa Solusinya?

Dalam perekonomian, eksternalitas dapat dikontrol, misalnya dengan lindung nilai, asuransi, dsb. Begitu pula dengan kebahagiaan, untuk mendapat kebahagiaan sejati seseorang harus mampu mengontrol dirinya agar tidak terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal tadi.
Selain itu kebanyakan dari kita merasa tidak bahagia bukan karena tidak bahagia, tapi kita tak merasa pantas untuk bahagia. Contohnya adalah kita tidak merasa pantas untuk bahagia karena mendapat nilai A- dan bukan A+, kita merasa tidak pantas bahagia karena hanya memiliki mobil bekas, kita tak merasa tak pantas bahagia  karena punya istri cantik, baik, setia namun agak gendut dsb. Yah kebanyakan dari kita punya kesempatan yang sangat banyak untuk merasa bahagia, namun tidak kita amini. Bernafas, makan, minum, berjalan, berlari, hidup!


Bagaimana caranya?

Untuk lebih mudahnya, saya akan bercerita terlebih dahulu. Ini adalah kisah tentang “Mata air para Sufi” , kisah ini saya retelling dari buku karangan Tere Liye dengan beberapa perubahan. Alkisah ada seseorang yang ingin mencari hakikat dari kebahagiaan, ia lalu pergi ke desa Sufi. Ia bertanya pada semua Sufi disana namun tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Seorang  Sufi lalu menyuruhnya untuk menghadap “guru” para Sufi, orang yang paling bijaksana diantara mereka. Oran tersebut lalu pergi menemuinya. Ia lalu bertanya kepada Sang guru, “Wahai orang bijak, bagaimana saya bisa mendapatkan kebahagiaan yang sejati?” Sang guru pun menjawab, ” Buatlah sebuah danau yang jernih hingga aku bisa melihat dasarnya.” Orang tersebut kemudian mulai  membendung aliran sungai lalu mengalirkannya kesebuah cekungan, ia membendung beberapa aliran sungai hingga cekungan tersebut mulai berubah menjadi danau. Awalnya danau tersebut kotor, lalu lama kelamaan kotoran tersebut mengendap dan menjadi jernih. Dipanggilah Sang guru untuk melihat danau buatannya. Saat Sang guru datang, turunlah hujan. Air sungai yang mengalir ke danau menjadi kotor, dan kotorlah danau tersebut. “Sayang sekali, sepertinya kamu belum berhasil”, kata Sang guru. Tak putus asa, orang tersebut lalu membangun saringan disetiap pintu masuk aliran air, walaupun hujan deras, aliran ke danau tersebut tetap jernih. Dipanggilah kembali Sang guru. Sang guru melihat danau dan kemudian ia mengambil sebuah tongkat lalu ia tusuk-tusukkan ke dasar danau. Maka keruhlah kembali danau tersebut. Orang tersebut memang pantang menyerah, ia lalu menggali danau tersebut. Siang malam ia menggali danau tersebut hingga sangat dalam. Sampai pada titik tertentu, tersembulah air dari dasar danau. Sekarang danau tersebut memiliki mata air sendiri. Datanglah Sang guru, ia lalu kembali menusuk-nusukkan batang kayu ke dasar danau, dan ternyata airnya tetap jernih. “Nah, itulah sumber kebahagiaan yang kamu cari, kebahagiaan sesungguhnya berasal dari dirimu sendiri. Kebahagiaan yang timbul dari diri sendiri tak akan rusak oleh perlakuan buruk orang lain, hinaan, dan musibah, seperti danau yang kau buat. Namun untuk dapat memperolehnya dibutuhkan perjuangan yang keras, kau harus siap menerima penderitaan, hidup jauh dari kenyamanan, kau harus melatih hatimu seperti yang kau lakukan ketika berjuang membuat danau tersebut.”

Yah singkatnya, make your own happiness !, jangan terlalu terpengaruh pendapat orang lain, consult to the expert, but follow your heart (anonimous). Maaf kalau artikelnya terlalu filosofis, saya hanya berusaha menjadi seorang barista yang meramu berbagai kopi pengetahuan. Tentang rasa hasilnya saya serahkan ke pembaca =)

Oleh Thontowi A.S

sumber :
Ayahku (bukan pembohong), Tere Liye
http://strategimanajemen.net
lakefountains.com
larahatisunyi.blogspot.com

3 Permintaan Ekonom (Aladdin)

Oleh: Ahmad Munadi

Inilah kisah di negeri 1001 koruptor. Negeri ini bersebelahan dengan negeri 1001 malam. Dongeng yang diceritakan ke kanak-kanaknya hampir sama. Negeri 1001 malam mengenal sebuah cerita Aladdin, seorang pria miskin. Aladdin berprofesi sebagai pencuri pasar. Cita-citanya adalah ingin menikahi Jasmine seorang wanita cantik jelita putri kerajaan.
Sayang seribu satu sayang, Aladin adalah seorang ekonom masa lampau. Coba saja kalo Aladin menjadi ekonom sekarang, pasti dia akan gabung ke grup ekonomgila. Kenapa ke ekonom gila? Karena di ekonomgila  ada banyak ekonom yang bisa jelasin cinta dan asmara :D Tetapi Tuhan memang adil, Aladin dapat yang lebih sakti yaitu lampu ajaib. Lampu ajaib dapat mengabulkan 3 permintaan Aladdin.
Alkisah di negeri 1001 koruptor, Aladdin kurang lebih kondisinya sama seperti di Aladdin negeri 1001 malam. Ia miskin dan bercita-cita ingin menikahi putri kerajaan yang cantik dan jelita. Aladdin dulu ingin menikahi bu BeYe, tapi dia tau kalu Bu BeYe punya Pak BeYe maka ga jadi. Hatinya kemudian tertuju ke Aliya Rahasia tapi dia kalah duluan sama pria bernama Ibas-Ibas. Akhirnya sekarang dia jatuh cinta ke Syahrono.
Loncat cerita, Aladdin kemudian menemukan sebuah lampu. Lampu itu diusapnya sehingga muncul sesosok jin. Jin besar yang memiliki kekuatan dahsyat. Jin tersebut keluar karena rumahnya diusap oleh Aladdin. Jin tersebut baik hati sehingga ia menawarkan 3 permintaan kepada Aladdin. Ketiga permintaan Aladdin akan dikabulkannya.
Aladdin senang luar biasa. Ia ingat cerita 1001 malam ketika masa kanak-kanaknya. Maka Aladdin berkata “Jadikan saya orang paling kaya sedunia”. Aladdin berharap dengan menjadi orang paling kaya sedunia ia dapat menyilaukan mata Syahrono. Dia ingin Syahrono melihatnya dan berkata wah sesuatu banget ketemu kamu Aladdin.
Ternyata Jin tidak berbohong, karena Aladdin menjadi orang paling kaya sedunia. Hanya dalam 1 bulan ia menjadi orang paling kaya sedunia. Berkali-kali ia menang lotre, menang kuis berhadiah duit, dapet doorprize mersedes dari bank, dan lain sebagainya. Hanya dalam satu bulan ia berhasil menjadi orang paling kaya sedunia sesuai permintaannya.
Singkat cerita setahun kemudian Aladdin memanggil jin. Ia mengusap-usap lampu dan keluarlah jin. Jin keluar dan berkata “kamu punya 2 permintaan lagi”. Aladdin tidak menghiraukan perkataan jin, Aladdin hanya marah-marah. “Jin kamu memang mengabulkan permintaan saya, dalam sebulan saya menjadi orang paling kaya sedunia. Tapi sekarang saya bukan menjadi orang paling kaya lagi, sudah ada orang yang lebih kaya daripada saya! Kamu berbohong, Saya menuntut kamu sebelum harta saya semakin berkurang!”. Jin tidak menghiraukannya, dan berkata “Sekarang apa permintaan keduamu?”. Aladdin yang kesal kemudian berkata, “Saya ingin jadi terkenal sebagai orang paling berkuasa di negeri ini”
Sebulan setelah kejadian tersebut Aladdin benar menjadi orang paling berkuasa. Aladdin muncul di banyak koran dalam beragam bahasa, majalah anak-anak wanita dan pria. Mendadak semua media tertuju ke orang paling berkuasa di negeri ini. Jabatannya lebih tinggi dari Presiden dalam sebulan. Kekuasaannya membuat kagum banyak orang di negeri ini.
Setahun sejak permintaan keduanya, Aladdin kembali mengusap lampunya. Jin keluar dan berkata “Sekarang apa permintaan terakhirmu Aladdin?” Aladin mengacuhkannya dan berkata sambil marah-marah, “Sekarang sudah dua kali jin. Sudah dua kali kamu berbohong. Sebulan sejak permintaan kedua memang saia jadi berkuasa dan terkenal, tetapi kemudian orang-orang semua iri kepada saia. Orang-orang itu sedikit demi sedikit terkenal dan sedikit demi sedikit orang-orang lain mencoba mengambil kekuasaan saia. Kamu harus memperbaikinya sebelum kuasa saya hilang dan saia semakin tidak terkenal”. 
Jin tak menghiraukannya dan berkata “Apa permintaan terakhirmu?”. Aladin membalasnya, “Jin apa kau tak punya hati? Kau amat mencurigakan, kau pembohong. Kau Aneh. Kau punya kuasa yang besar tetapi kau mengabulkan permintaanku padahal aku yakin dengan kuasamu kau bisa berkehendak sesuka hati dan tak perlu mengabulkan permintaanku. Kau mencurigakan jin. Kau Aneh!”. Jin tetap tak menghiraukan dan mengulangi perkataannya “Apa permintaan terakhirmu?” . Aladdin pun berkata “Aku tidak akan menyatakan permintaan terakhirku sampai kau menjelaskan semuanya!”
Akhirnya jin memutuskan angkat bicara, “Aladdin hamba Tuhan yang baik. Aku diciptakan tanpa mengenal hawa nafsu. Aku diciptakan memiliki kekuatan yang besar tapi aku tak punya nafsu sehingga aku tidak serakus dirimu yang ingin memiliki harta ternbanyak. Aladdin, aku tak punya nafsu maka aku tidak pernah dengki terhadap orang lain seperti kamu yang khawatir kekuasaanmu hilang. Aladdin dunia ini tercipta seimbang, aku contohnya yang punya kekuatan tapi tak punya nafsu. Aladdin kamu punya kemauan, kamu punya nafsu, kamu ingin mendekati Syahrono tapi sejauh ini kamu tergoda oleh nafsumu yang lain. Aladdin, dalam 2 tahun ini sudah sejauh mana usahamu dalam mendekati Syahrono? Aladdin menurutmu nafsu itu baik atau buruk?”
“Aladdin hamba Tuhan yang baik. Perlu kamu ketahui bahwa dalam setiap harta yang kamu miliki ada bagian milik orang lain. Sama dengan dalam setiap jabatan yang kamu miliki ada tanggung jawab yang menghinggapi. Ketika kamu miliki harta atau jabatan yang besar dan tidak diimbangi dengan pemenuhan tanggung jawab maka akan ada yang hilang sesuai dengan hukum keseimbangan. Aladdin sudah dua tahun kamu melupakan tujuan akhirmu untuk Syahrono. Sejauh ini kamu meminta segala tentang dirimu bukan tentang dirinya, maka tak akan ada kemajuan bagimu dengannya. Aladdin aku hanya menjelaskan kamu bahwa apa yang kamu usahakan setara dengan apa yang kamu dapatkan. Sudah jelaskah sekarang penjelasanku.” 
“Sekarang apa permintaan terakhirmu?”

Kamar Hotel dan Anggaran Negara

Oleh: Umi Gita*)

Lagi lagi saya terbangun di sebuah kamar salah satu hotel berbintang di jakarta. Melakukan sebuah ritual kebiasaan kantor saya;konsinyasi-yang mungkin juga ritual kebiasaan bagi institusi pemerintah.

Menyenangkan? Awalnya menyenangkan karena tidur di hotel, dijamu makanan enak walaupun harus berjibaku dengan rapat hingga malam.

Tapi kini membosankan…

Apa saya ini tidak bersyukur ya? Tapi saya tidak tahu mengapa harus ada kegiatan seperti ini di institusi pemerintahan? Mengapa harus di hotel? Dan itu ada petunjuknya di Standar Biaya Umum (SBU),pedoman biaya untuk merencanakan dan merealisasikan anggaran.

Dan makin lama,rapat semakin tak bermutu. Apalagi bila sudah menghadapi tiga bulan terakhir menuju akhir tahun. Seluruh kementerian berlomba lomba meningkatkan realisasi anggarannya. Yang penting penyerapan tinggi, soal content dan output nanti dulu. Yang penting setiap konsinyasi ataupun perjalanan dinas ataupun kegiatan ada laporannya.

Tapi hanyakah untuk kelengkapan administrasi realisasi keuangan? Apa imbas perubahan bagi kementerian itu sendiri? Atau yang lebih penting lagi adalah imbas untuk masyarakat luas?

Suatu hari saya dapat tugas untuk menghadiri workshop perencanaan kas kementerian di kementerian keuangan. Saat itu saya didogma bagaimana penyerapan APBN merupakan salah satu indikator ekonomi. Ekonomi negara ini ditopang oleh APBN,asalkan penyerapannya lancar,uang menjadi berputar,terutama yang akun belanja modal dan belanja barang.

Saya pun di dogma,betapa kementerian kementerian ini betapa masih kacaunya dalam merealisasi anggaran. Tiga bulan terakhir mesti grafiknya meningkat. Dan ada pula yang penyerapannya masih rendah seperti kantor saya itu. Padahal ketika setiap pengajuan RAPBN seluruh kementerian, uang negara tidak cukup. Alhasil kementerian keuangan ambil pinjaman luar negeri. Ternyata di akhir tahun, pinjaman itu tidak terpakai. Pinjaman kan juga ada bunganya. Anggaran yang tak terpakai namun bukan pinjaman pun hanya masuk ke Bank Indonesia menjadi SUN atau obligasi (mohon koreksi bila salah) yang juga tak menghasilkan bunga atau apalah.

Fiuhhh…ternyata anggaran negara itu rumit. Saya hanyalah kroco yang memainkan peran kecil sebagai staf PPK (pejabat pembuat komitmen). Namun, bila saya melakukan kesalahan, PPK saya bisa masuk penjara. Toh kasus kasus korupsi saat ini masih didominasi dengan persoalan pengadaan barang/jasa.

Kembali ke soal kamar hotel. Entah mengapa, senyaman nyamannya kamar hotel tetap lebih nyaman dan hangat di rumah. Dan bila tak terpaksa, saya selalu berusaha pulang ke rumah setelah rapat selesai. Ya, benar kata seorang kawan, pekerjaan itu tak akan ada habisnya. Mengutip kalimat dari novel Susanne Diary’s for Nicholas;

“dalam kehidupan kita bagaikan memainkan 5 bola sekaligus. 5 bola itu adalah integritas, keluarga, persahabatan, kesehatan dan pekerjaan. Hanya satu yaitu bola ‘pekerjaan’ yang merupakan bola karet, sedangkan lainnya adalah bola kaca. Ketika bola karet jatuh maka ia akan memantul. Sedangkan ketika bola kaca jatuh maka ia akan retak.”

Kini kumengerti arti hidupku. Saya memang harus mengabdi pada negara sebagai pegawai. Namun, negara pun perlu dibangun dari keluarga yang kokoh, baik dari segi ruhani dan intelektualnya.

Dalam SBU 2012 katanya tertera lembur atau rapat di kantor, uang hariannya lebih besar dibandingkan konsinyasi di hotel. Saya si seneng seneng saja. Tapi bagaimana nasib pengusaha hotel?

Ah,saya tidak dalam ranah tersebut hehehe

7 oktober 2011
-gadis kecil dengan jutaan mimpi-

*)Calon Ibu-ibu pejabat perekonomian RI yang memiliki background psikologi