Gross National Happiness

Oleh:  Thontowi Ahmad Suhada*

Gross National Happiness– Istilah ini mungkin terlihat mengada-ada atau menggelikan, sebagian dari kita mungkin hanya menganggap istilah tersebut adalah plesetan dari Gross Domestic Production (GDP) yang umum dipakai sebagai indikator kesejahteraan sebuah negara. Namun ternyata istilah tersebut memang ada. Istilah tersebut pertama kali diperkenalkan pada tahun 1972 oleh mantan Raja Bhutan Jigme Singye Wangchuck. Konsep tersebut kemudian dikembangkan secara serius oleh Karma Uru sebagai sebuah ukuran kesejahteraan penduduk. Konsep ini mendasarkan kesejahteraan pada 7 aspek yang cukup komprehensif, aspek tersebut antara lain :
  1. Economic Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran metrik statistik ekonomi seperti utang konsumen, pendapatan rata-rata, rasio indeks harga konsumen, dan distribusi pendapatan
  2. Environmental Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran statistik metrik lingkungan seperti polusi, kebisingan dan lalu lintas
  3. Phisical Wellness: Dinyatakan melalui pengukuran statistik metrik kesehatan fisik seperti tingkat severe illnesses
  4. Mental Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran statistik metrik kesehatan mental seperti penggunaan antidepresan dan kenaikan atau penurunan dari pasien psikoterapi
  5. Workplace Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran metrik statistik tenaga kerja seperti klaim pengangguran, job change rate, keluhan tempat kerja dan tuntutan hukum terkait pekerjaan.
  6. Sosial Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran statistik metrik sosial seperti diskriminasi, keselamatan, angka perceraian, tingkat konflik dan tuntutan hukum dalam keluarga, tuntutan hukum publik,dan tingkat kejahatan
  7. Political Wellness: Dinyatakan melalui survey langsung dan pengukuran statistik metrik politik seperti kualitas demokrasi, kebebasan individu, dan konflik asing.
Yah dari berbagai indikator di atas pasti langsung terbayang bagaimana nilai GNH Indonesia.
Konsep diatas tentu sangat idealis dan tentu sangat sulit menemukan data sekomprehensif itu. Namun konsep ini cukup mengilhami beberapa penelitian lain seperti penelitian sederhana yang dilakukan Adam Kramer, seorang psikolog dari University of Oregon. Dia mengukur GNH suatu negara berdasarkan tingkat penggunaan kata-kata positif atau negatif dalam status jejaring sosial seperti facebook. Status positif (senang, bahagia, semangat) mengindikasikan tingkat kebahagiaan yang baik, sedangkan status negatif (sedih, putus asa, kecaman) mengindikasikan tingkat kebahagiaan yang buruk.
Saya tidak ingin memperdebatkan GNP sebagai indikator yang layak dipakai atau tidak, yang ingin saya sampaikan adalah bahwa di dunia ini telah mulai muncul berbagai pandangan baru tentang bagaimana bahagia itu, kesejahteraan itu. bahagia yang tidak hanya dari satu sisi, sejahtera yang tidak hanya dari satu sisi, entah itu sisi yang dapat terlihat, maupun yang tak terlihat. Sudah saatnya bagi kita membahagiakan orang lain baik itu teman kita, pacar kita, maupun lingkup yang lebih besar : masyarakat Indonesia dari berbagai sisi. Pribadi, Kepala keluarga, CEO, bahkan Presiden harus menyadari bahwa letak kesejahteraan tidak hanya bisa diberikan dengan materi. Menghargai, memberikan rasa aman, kebebasan bekerja, jaminan kesehatan, kualitas lingkungan, dan kondisi persaingan yang sehat; jauh lebih penting daripada sekedar uang maupun materi. Jangan sampai kita sudah merasa membuat keputusan, kebijakan yang terbaik namun ternyata menjadi sia-sia karena melupakan berbagai variabel diatas.
—————————————————
Live with Faith, Not with hate.
Work with smiles, Not with sighs
Love with sincerity, Not with falseness
And You will see Happiness
poet by  Reza Antonious
artikel by: Thontowi A.S
sumber :
  1. ^ Zencey, Eric (2009-08-10). “G.D.P. R.I.P”. The New York Times. http://www.nytimes.com/2009/08/10/opinion/10zencey.html. Retrieved 2010-05-04.
  2. ^ McDonald, Ross (2005). Rethinking Development. Local Pathways to Global Wellbeing. St. Francis Xavier University, Antigonish, Nova Scotia, Canada. pp. 3. http://www.gpiatlantic.org/conference/papers/mcdonald.pdf.
  3. ^ Templeton, Sarah-Kate (December 5, 2004). “Happiness is the new economics”. London: Timesonline. http://www.timesonline.co.uk/article/0,,2087-1388623,00.html. Retrieved 2007-01-08.
dari wikipedia =D
*) Mahasiswa Manajemen FEB 2007, seorang yang percaya bahwa Tuhan adalah seorang “Manager” bukan Ekonom, apalagi Akuntan (ngajak ribut ni  :p, profil menyusul)
Advertisements