Mari Kita Merdekakan Kembali Yang Sudah Merdeka!!!

Oleh: Santi Novaria, 966 kata

Mungkin yang membaca catatan ini akan tertawa atau tersenyum sinis yang disamar-samarkan. Mengatakan kalau saya sok kritis, sok menggugat pemerintah, sok tidak pernah melihat orang miskin,  sok peduli. Maka sekali lagi saya berkelit, bahwa ini cuma rekam jejak sekedarnya, sekedar suka-suka, rekam sekedar memaknai program kerja Pemerintah mengenai pengentasan kemiskinan yang katanya telah berhasil menekan angka kemiskinan menjadi 29,89 juta jiwa (sumber: Badan Pusat Statistik Online/September 2011 ). Benar-benar rekam sekedarnya.

Menjadi masalah kemudian adalah celetukan seorang teman-yang lagi-lagi juga sekedar celetuk ringan-yang akhirnya membuat saya berpikir, “Negara gak punya duit buat ngasih mereka kesejahteraan yang layak.”

Dueng! Aha! Benar juga.

Uang. Mungkin sudah terlalu lama kita jadi pengagum Om Keynes yang memuja uang sebagai satu-satuya pemecah masalah. Kebijakan moneter terjadi karena uang, pengangguran, barang-barang naik, inflasi, kemiskinan, semuanya balik lagi ke uang. Mungkin kita bakal gila kalau peredaran uang lenyap di muka bumi meski kita masih punya tanah yang subur, hewan-hewan peliharaan yang gembil-gembil.

Saya gak ngerti mau ngejabarin persoalan ekonomi yang ruwet ini mulai dari mana. Saya bodoh banget kalau udah ngomongin soal hukum, politik, dan ekonomi.

Terlalu ribet, terlalu sok-sok-an, terlalu susah, TER-LA-LU lah pokoknya.

Kaya tak seberapa, bodohnya minta ampun.

Yap!

Intinya kan karena kita udah ngerasa nyaman dengan kondisi yang serba kecukupan makanya anteng-anteng aja, eh, pas ngelihat isi dompet, baru mules. Hidup di negeri yang berlimpah tapi gak tau cara masak makanan. Pengen beli, duit gak punya. Terpaksa cari ‘pembantu bersertifikat’, dan sayangnya masih belum ‘ngeh’ kalo harta dirampas sedikit demi sedikit. Ujung-ujungnya, jatuh miskin. Gak ada cara lain, terpaksa ngejual apa yang bisa dijual. Satu fenomena yang komplit,  sudah miskin, bodoh pula.

Berangkat dari kebodohan, berbondong-bondonglah pemerentah menyekolahkan anaknya keluar negeri. Pulang-pulang, ijazahnya pake Bahasa Inggris, dielu-elukan. Elu! Elu! Elu! Elu yang salah! Elu yang gak mau ngedengar perintah! Elu yang harusnya tanggung jawab! Pokoknya di elu-elukan lah. Kita butuh solusi, bukan Ijazah dan saling menyalahkan.

Kita butuh implementasi, bukan analisa ditambahin imajinasi. Bukaaaaan, kakak! Kita butuh duit, dan sumbernya ada di sekeliling kita.

Jadikan Legal Apa yang Seharusnya Sah

Kemarin, saya iseng masuk ke satu forum yang lagi ngediskusiin satu pertanyaan tapi mancing kerusuhan virtual yang fatal.

Intinya, pro dan kontra tentang pelegalan lokalisasi. Gak tau kenapa, saya malah milih jadi satu dari sekian banyak yang ‘udeh, mending dijadin legal aja kali.’

Saya sekarang udah gak tau lagi mana yang benar dan mana yang salah. Yang saya tahu, tempat ‘lendir’ kan banyak banget tuh di Indonesia. Pelacuran, dari pada  jadi tempat ‘terbuka tapi terselubung’, mendingan dilegalkan sekalian, kalau perlu dibuatkan member card bagi pelanggan tetapnya.

Gilak!

Otak lo di kemanain? Lo mau nambahin PELACUR jadi daftar cita-cita buat masa depan anak-cucu lo?

Santai, sob!

Sebetulnya kalau dari kecil kita sudah memperkenalkan bahwa seks bebas berisiko tinggi, pasti tidak akan penasaran dan tidak lagi merasa aneh.

Kalau pun dibuat legal, otomatis ada yang namanya penarikan pajak dong.

Misal, jika Tarif short time Rp. 100.000 dibagi pajak 10% = Rp. 10.000  X 1000 psk X 1 tahun X banyaknya lokalisasi legal X 33 provinsi. Maka, jumlah pajak yang diterima pemerintah kurang lebih… banyak banget

Terus gimana dengan HIV/AIDS atau penyakit menular lainnya? Contoh dong kinerja Bupati Malang, Bapak Rendra Kresna yang menggagas ATM kondom di tempat-tempat lokalisasi (Sumber: Metrotvnews.com)

Atau, ada saran buat kamu yang anti-prostitusi. Tinggal ajak teman kamu yang se-ide, tandatangan di spanduk gede, ajukan petisi kepemerintah dengan menggratiskan pemakaian WTS. Saya jamin, kalau ide kamu didukung penuh oleh pemerintah, Prostitusi di dunia bakal gulung tikar. Perempuan mana sih yang mau dipake gratis. Bener gak sik?

Hentikan Semua Fasilitas Buat Rakyat Miskin yang Menguntungkan Orang Kaya

Subsidi Bahan Bakar misalnya. Itu salah satu bentuk pengayaan bagi masyarakat kaya tapi seolah-olah memihak rakyat miskin. kalimatnya aja yang keren, subsidi. Tapi lihat! Yang untung tetap jutaan manusia yang bermobil, memakai mobil ke mall dengan modal bensin Rp.4500 dengan harga yang seharusnya Rp.9000. Dan kita yang bahagia dengan kata subsidi, memakai motor, hujan-hujanan, panas-panasan, temans!

Bayangkan apa yang bisa didapatkan oleh 29,89 juta jiwa penduduk miskin dengan penghapusan subsidi tadi.  Uangnya bisa dialihkan untuk subsidi bahan lain yang lebih diperlukan masyarakat.

Jembatan penyeberangan, di kota saya sedang dibangun dua jembatan penyerangan yang menurut saya makin menunjukan siapa yang kaya dan siapa yang miskin.

Anda yang pejalan kaki, silahkan naik jembatan yang tinggi, bawa kantong belanjaan anda yang berat itu naik-turun tangga dengan alibi agar tidak tertabrak mobil saat menyeberang. Dan orang yang bermobil bebas ngebut dengan lancar tanpa terganggu pejalan kaki.

Padahal logikanya, justru yang bermobil yang harusnya sabar menunggu pejalan kaki menyeberang karena barang belanjaan mereka masuk bagasi, tidak kerepotan menggendong anak, tidak kehujanan, tidak kepanasan pula. Bahasa simpelnya, mending mana, duit bangun jembatan dikasih ke orang kaya atau buat ngebanguan fasilitas kesehatan buat masyarakat?

Hahahahaha. Untungnya saat menuliskan ini saya masih belum juga menjadi Sarjana. Kalau tidak, bisa dianggap socialist freak.

Lebih Baik Jadi Petani di Negeri Sendiri daripada Jadi Jongos dan Disiksa di Negeri Lain

Kalau yang ini, saya agak muter otak buat mikirnya. Ngeri, cuy.

Tapi gini deh, Negara kita kan Negara agraris. Itu berarti, sebagian besar sumber daya alam dan mata pencarian penduduknya dari bertani. Tapi kok memasok beras dari Thailand

Indonesia sempat menjadi gudang PALAWIJA di tahun 90’an. Kenapa? Karena saat itu – saya masih kecil banget dan belum inget apa-apa –  istilah TKI belum booming di masyarakat kita. Kita masih senang menjadi petani, kita masih bangga dengan cangkul, caping, lumpur dan ketek basah.

Kita masih bahagia hidup sebagai petani karet, kita masih bisa menertawakan cuaca saat nelayan pulang tak banyak tangkapan. Kita masih bangga, kita masih bahagia, kita masih bersyukur dengan negeri kiya yang Gemah Ripah Loh Jinawi. Negeri yang kaya minta ampun dan suburnya kebangetan.

Oukey. Sebagai penutup, mari kita kembali lagi menjadi Indonesia yang Merdeka. Karena ‘Merdeka’ berasal dari bahasa Sansakerta, Mardika, artinya pandai, terhormat, bijaksana dan tidak tunduk kepada seseorang selain raja dan Tuhan. Mari sama-sama kita aminkan. Amiiiinnn.

Biodata:

Santy Novaria, seorang muda yang terengah-engah menghabiskan waktunya di STMIK Putera Batam mempelajari Akuntansi tapi tetap bingung membedakan antara Hutang, Harta dan Aktiva.

Sangat mencintai Batam sebagai kota tinggalnya hingga saat ini.
Siapapun yang (semoga ada) ingin mengajukan beberapa pertanyaan berhubungan dengan apa saja bisa langsung ke: nova_tul@yahoo.com
atau ke twitter @Idung_Jambu

Saya 30% Indonesia

Oleh: Putu Sanjiwacika Wibisana, 697 kata

Joko Widodo kembali menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. Yah, betapa tidak, baru-baru ini walikota yang terkenal merakyat dan memihak wong cilik itu mengejutkan sekaligus membanggakan segenap pembaca warta ketika ia mempensiunkan Toyota Camry hitam mulus rakitan 2009nya dan beralih ke SUV hasil ‘prakarya’ anak SMK. Sesuatu yang nggak pejabat banget (kata B*b*t Waluyo). Halah, dua pejabat itu memang selalu berseteru.

Tapi di artikel ini saya tidak akan membahas mengenai Joko Widodo, apalagi Bibit Waluyo. Secara, saya seorang (calon) ekonom (gila), jadi harus objektif dan tidak diintervensi kepentingan politis :D Saya akan mengulas lebih jauh mengenai isu cinta produk dalam negeri yang selalu dijargonkan Kementrian Perdagangan dan bagaimana realitanya dalam perekonomian Indonesia, secara sederhana karena dosen saya gak suka yang ribet-ribet.

Perekonomian Asia Tenggara, khususnya Indonesia memasuki suatu babak baru, tepat dua tahun yang lalu yaitu tanggal 1 Januari 2010. ASEAN-China Free Trade Agreement, atau ACFTA, begitulah nama seremnya. Suatu perjanjian akan liberalisasi perdagangan di kawasan ASEAN China, barang-barang mengalir dengan mudahnya tanpa ada hambatan tarif maupun kuota. Sebagai negara dengan penduduk terbanyak di Asia Tenggara, spontan Indonesia kebanjiran produk-produk asing yang berasal dari negara-negara mitra, khususnya China. Semua barang yang beredar labelnya Made in China. Handphone Made in China. Pulpen Made in China. Gayung mandi pun Made in China. Tentunya semua datang dengan senjata utama mereka: harga murah. Ya tahulah, karakteristik masyarakat Indonesia. Price matters, man!

Alhasil, neraca pembayaran pun menjadi korban pertama. Surplus perdagangan Indonesia yang pada tahun 2009 sebesar 10 miliar USD, merosot menjadi 6 miliar USD ketika ditutup pada akhir 2010. Kementerian Perdagangan pun bak kebakaran jenggot, dari ‘panas yang tidak tertahankan’ itu munculah suatu program 100% Cinta Produk Indonesia.  Kalau dilihat secara ekonomis, alasannya sederhana. Program untuk menekan laju impor sebagai akibat dari konsumtifisme masyarakat, yang apabila dibiarkan dalam jangka panjang akan menguras devisa negara. Kalau devisa negara habis? Terlalu mengerikan untuk diceritakan -_-

“Prioritaskan mengkonsumsi produk Indonesia, bangga dengan produk negeri sendiri!”, yah barangkali jargon 100% Indonesia itu esensinya seperti itu. “Saya makan tempe karena saya cinta Indonesia”. Boleh jadi pernyataan itu benar. Tempe memang produk asli Indonesia. Tapi nyata-nyatanya kendati semua orang Indonesia makan tempe setiap hari, belum bisa memperbaiki surplus perdagangan. Mengapa demikian?

Now just wait a minute. Sebagai konsumen yang cerdas, mari kita ‘selami’ lebih dalam asal muasal tempe tersebut. Kemenristek pun mengungkap suatu fakta yang mengejutkan. Ternyata si tempe itu sendiri 70% kedelainya diimpor dari USA! Impor yang sudah dilakukan sejak jaman orde baru, semenjak krisis kedelai tahun 1970. Kalau seperti ini, tempe tentunya sudah bukan lagi menjadi produk asli Indonesia. Lebih tepat disebut sebagai “The American Tempe”. Informasi-informasi seperti inilah yang acapkali tidak diketahui konsumen Indonesia. Ada cerita yang sama di industri air mineral. Air minum bermerek A*UA boleh jadi diproduksi dengan mata air Indonesia, tapi modalnya sepenuhnya dimiliki D*none yang notabene perusahaan orang Eropa sana. Sungguh miris.

Lantas apa hubungannya tempe, air mineral dengan mobil baru Jokowi?
Jokowi membeli mobil yang bernama Esemka Rajawali itu seharga Rp 95 juta dan dijadikan mobil dinas Walikota Surakarta. Menurut para perakitnya yang notabene siswa dua SMK di Solo tersebut, 80% nilai bahan baku mobil tersebut berasal dari dalam negeri, hanya 20% yang merupakan bahan impor. Tentunya dengan informasi semacam ini, konsumen bisa membedakan lebih jauh, yang mana yang 100% Indonesia dan yang tidak. Pemerintah haruslah meningkatkan transparansi informasi dan menjadi pionir dalam mencintai produk negeri sendiri. Sebagai pemimpin, pemerintah bisa memulai kampanye 100% Indonesia dengan meneladani rakyatnya melalui penggunaan produk-produk lokal, tidak hanya sebatas mengkumandangkan jargon. Pemerintah kini harus memiliki fungsi baru dalam perekonomian yang serba bebas dan berbasis pasar: meningkatkan mobilitas informasi sehingga dicapai oleh para pelaku pasar. Tidak lain untuk mendekati asumsi pasar persaingan sempurna: informasi sempurna, yang konon katanya memberikan kesejahteraan maksimum bagi masyarakat. Masih banyak produk Indonesia lain yang tidak dikenali masyarakatnya sendiri, misalnya laptop Zyrex. Tak lupa juga mengembangkan pendidikan dan mengoptimalkan penggunaan SDM lokal. Bayangkan siswa SMK yang rata-rata masih berusia 17 tahun sudah bisa membuat mobil, seberapa besar potensi yang kita miliki di negeri permai ini? Jangan sampai putra bangsa seperti mereka dijarah negeri tetangga. Dengan demikian, Indonesia perlahan-lahan bisa terlepas dari oligarki ekonomi yang menyengsarakan dan menjadi bangsa yang mandiri sejahtera dan berprestasi (utopis banget).

Jadi, simpelnya Jokowi baru 80% Indonesia, sedangkan kita yang makan tempe tiap hari baru 30% Indonesia. 100%-nya kapan yah?

PENULIS: Putu Sanjiwacika Wibisana
ALAMAT: Depok, Sleman, DIY
                Mahasiswa Ilmu Ekonomi UGM Angkatan 2011
                Mahasiswa yang dibuat gila oleh dosen PE yang notabene eks-Kepala BKF

Pembalap dan Pemain Sinetron

Oleh: Ode Kustriani Atmaja*, 966 kata.

Assalamualaikum kawan, bagaimana kabar kantung kalian hari ini? Hahaha, ini kan blog Ekonomi Gila, kalau bicara tentang ekonomi pasti berhubungan sama uang, uang dan uang. Kalau siswa-siswi jurusan IPA belajar biologi tentang penyakit kanker yaitu pertumbuhan sel abnormal. Sedangkan, istilah ‘kanker’ menurut siswa-siswi jurusan IPS adalah ‘kantung kering’. Nah, makanya di awal tadi, saya menanyakan tentang kabar kantung kalian.
Oh iya, sebelum memulai tulisan ini (sepertinya sudah mulai dari tadi :p) saya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun yang pertama untuk blog Ekonomi Gila yang di prakarsai oleh om Yoga dan mas Aul. Traktirannya ya :). Ups, dalam ilmu ekonomi, kita kan di ajarkan untuk berhemat dan berinvestasi, tidak boleh menghambur-hamburkan uang.
Teman-teman, mungkin kalian bertanya-tanya apa hubungannya judul tulisan saya kali ini dengan tema lomba. “Jangan langsung menilai orang dari fisiknya, tapi lihat sikapnya juga”. Nah, seperti itu pula prinsip kita jika hendak membaca tulisan. “Jangan menilai tulisan dari judulnya tapi baca dulu isinya”.
Sobat, masih ingatkah hari-hari menjelang berakhirnya tahun 2011 kemarin? Banyak proyek-proyek pembangunan di beberapa provinsi di Indonesia yang baru dikerjakan. Padahal, anggaran untuk pembangunan mulai berjalan resmi sejak tanggal 1 januari 2011. Proyek-proyek tersebut terindikasi di kerjakan dengan kecepatan extra alias sistem kebut. Hmm, tak heran banyak siswa-siswi yang belajar menggunakan sistem kebut, belajar semalam suntuk hanya untuk ulangan besok. Karena pemimpin-pemimpinnya pun mencontohkan hal seperti itu :D.
Proyek-proyek seperti pembangunan pembatas jalan, pembangunan pagar taman kota dan  pembangunan jembatan penyebrangan dilakukan ‘asal jadi’ karena ingin mengejar target. Pekerjaan itu, dilakukan tanpa memikirkan dampak dan hasilnya. Pekerjaan yang dilakukan terburu-buru tentu saja hasilnya tidak baik. Mengingat kerugian uang pajak serta kualitas dari pembangun itu sendiri tidak akan bertahan lama. Misalnya: jembatan dari sistem kejar target hanya akan bertahan maksimal 2 tahun.
Hingga 7 Desember 2011, Penyerapan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum baru mencapai 74,92% atau sekitar Rp. 42,7 triliun dari total anggaran Rp. 57 triliun. Padahal, batas waktunya 15 Desember 2011. Sedangkan Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto menargetkan penyerapan anggaran 75%, berarti masih kurang 0,08%. Maka demi mengejar target, Kementerian Pekerjaan  Umum harus mengebut dengan menggunakan anggaran rata-rata Rp. 500 sampai 700 miliar per hari.
Rendahnya penyerapan anggaran juga terjadi di Kementerian Perhubungan. Sampai awal desember lalu, realisasi penyerapan anggaran baru 62,73% atau sekitar Rp. 14,59 triliun dari total anggaran senilai Rp. 23,27 triliun. Pada Direktorat Perkeretaapian anggaran terserap Rp. 2,3 triliun dari Rp. 4,7 triliun atau sekitar 50.19%, Direktorat Perhubungan Udara mencapai Rp. 3,02 triliun dari Rp 5,35 triliun atau sekitar 56,57%, Direktorat Perhubungan Laut realisasi angaran senilai Rp. 4,9 triliun dari Rp. 7,7 triliun atau  sekitar 63,44% dan yang menyerap anggaran Kementerian Perhubungan terbesar adalah Direktorat Perhubungan Darat yaitu Rp. 1,3 triliun dari 2,09 triliun atau 63,7%. (Rakyat Merdeka)
Jika realisasi saat ini baru 62,73%, sedangkan target penyerapan anggaran hingga akhir tahun adalah 85,34% berarti masih kurang 22,67%. Maka, Kementerian perhubungan harus mengebut anggaran sekitar Rp. 650 sampai 750 miliar per hari.
Melihat kenyataan di atas, maka balapan pekerjaan menjadi hal yang di lakukan kementerian-kementerian tersebut. Jika Rossi dan Stoner saling susul-menyusul, balap-membalap dan kebut-kebutan di sirkuit, begitu pun dengan menteri-menteri di Negara ini. Mereka mengebut anggaran hingga tercapai target tanpa memperhatikan kualitas bagi kesejahteraan rakyatnya. Jika Naysila Mirdad dan Dude Harlino membintangi sinetron kejar tayang, maka pemimpin kita membintangi sinetron kejar target penyerapan anggaran. Pemimpin kita Pembalap dan Pemain Sinetron?
Menteri Perhubungan beralasan, rendahnya penyerapan anggaran karena sulitnya pembebasan lahan, proses pelelangan, adanya kontraktor yang bermasalah serta kehati-hatian para pengelola anggaran dalam menggunakannya.
Jika siswa-siswi di sekolah sering mengadakan lomba cerdas cermat, mungkin para pemimpin-pemimpin kita ini perlu di ikut sertakan. Karena lomba cerdas cermat adalah melatih kecepatan dan ketepatan siswa-siswi dalam menjawab pertanyaan.
Jika kita analogi kan, permasalahan menggunakan anggaran Negara tersebut seperti halnya menjawab pertanyaan dalam lomba cerdas cermat, dimana setiap peserta harus menjawabnya dengan cepat dan tepat. Begitu pun seharusnya pemimpin negeri ini, cepat dan tepat memutuskan kontraktor mana yang akan mengelola pembangunan tersebut, bagaimana perincian pengeluarannya serta desain yang tentunya harus memperhatikan kualitas serta keseimbangan lingkungan.
Bukankah orang-orang berdasi yang menjabat sebagai menteri itu adalah orang-orang terpilih yang tentunya bisa merencanakan pembangunan lebih matang? Bandingkan saja dengan siswa-siswi SMA yang hendak mengadakan pentas seni. Mereka membuat proposal, mencari sponsor, mencari bintang tamu, menyusun rundown dan semua dilakukan dengan perencanaan sekitar dua sampai tiga bulan. Terkadang mengorbankan waktu belajar mereka dengan mengajukan surat dispensasi. Berat tentunya, tapi memang seperti itu, jika kita ingin rencana kita sukses maka harus ada yang di korbankan. Siswa-siswi SMA yang ingin mengadakan pentas seni tidak dibayar oleh pihak mana pun. Sedangkan pemerintah di bayar dengan uang rakyat puluhan juta. Tentunya rakyat berharap para petinggi negeri ini bisa menjalankan pembangunan dengan baik.
Pemerintah menargetkan penyerapan hingga akhir tahun mencapai diatas 90%. Kendati kenyataannya sampai awal Desember, realisasi penyerapan anggaran baru 69,15% atau Rp. 913,2 triliun dari Rp 1.320,7 triliun. Artinya, hingga tanggal 15 Desember, Pemerintah harus menggenjot penyerapan naik minimal sebanyak 20,85% atau Rp. 276,53 triliun demi mencapai target anggaran sebanyak Rp. 1.188,63 triliun. Tapi sayang, target tersebut tidak tercapai karena di akhir 2011 kemarin, Menteri Keuangan membeberkan penyerapan anggaran hanya 88% atau sekitar Rp. 1.162,2 triliun.
Sistem kebut anggaran di akhir tahun sepertinya sudah menjadi budaya di kalangan pemimpin negeri kita. Walau pun demikian, Menteri Keuangan tetap optimis perekonomian Indonesia mencapai 6,7% di tahun berikutnya dan penyerapan anggaran akan lebih baik.
Ok kawan, jadi sebenarnya uang di Negara kita memang banyak. Tentunya harus di gunakan se-optimal mungkin untuk kesejahteraan rakyat. Tidak perlu tergesa-gesa yang penting hasilnya maksimal. Tapi jangan terlalu lama juga, karena bisa ketinggalan sama Negara tetangga. Cepat dan tepat, itu lah pembangunan yang diharapkan rakyat dari para pemimpin-pemimpin yang memegang Negara ini. Tak semua pemimpin di negeri ini adalah pembalap atau pemain sinetron kejar target penyerapan anggaran. Saya percaya masih ada pemimpin jujur yang bercita-cita memajukan Indonesia. Semoga semangat pemimpin bercita-cita mulia itu menular pada pemimpin lainnya. Amin :)
Wassalamualaikum sahabat.

* Siswi SMA Negeri 1 Cikarang Utara.

Ekonomi Mazhab Nasionalisme

Oleh: Gigih Prihantono*, 1055 kata
Setiap kali mendengar pertanyaan perekonomian kita bagus yang didasari data BPS serta Bank Indonesia  pertumbuhan ekonomi sebesar 6,1% (2010) laju inflasi sebesar 7,0 (2010) serta arus investasi masuk sebesar US$ 13,304 Miliar (2010)  tapi mengapa bangsa ini tidak maju-maju? Saya sebagai mahasiswa ilmu ekonomi selalu terteror. Rasa terteror tersebut semakin meningkat mana kala pertanyaan tersebut selalu dilontarkan dari tahun ke tahun, dari seminar ke seminar bahkan terakhir dari blog ini (ekonom gila). Setelah saya buka beberapa literature lama dan coba untuk mencocok-cocok-kan jawaban atas pertanyaan tersebut maka tidak ada kalimat pembuka yang pas selain kalimat pembuka dari almarhum Ernest Gallner, satu dari seorang ahli yang mendalami teorisasi nasionalisme:
“Nasionalisme merupakan sebuah gejala ajaib dimana tidak sepenuhnya jelas penyebabnya mengapa gejala ini terjadi. Mengapa manusia lama yang terikat pada sarang sempit primordialnya diganti bukan oleh ajaran filsafat pencerahan tentang manusia universal, melainkan oleh manusia khusus yang lolos dari ikatan lamanya, dan kemudian menghidupi mobilitas dalam batas-batas yang kini ditetapkan secara formal, yaitu sebuah kultur dalam lingkup negara-bangsa”.
Mengapa kalimat tersebut saya pilih sebagai pembuka? karena saya yakin seyakin-yakinnya bahwa nasionalisme merupakan akar dari sebuah ekonomi suatu bangsa (hal senada juga disampaikan oleh ekonom Joan Robinson). Membicarakan masalah ekonomi yang umumnya dipahami sebagai urusan meningkatnya pertumbuhan, memainkan tingkat suku-bunga, kemudahan keluar-masuk investor atau juga ketakutan akan penurunan indeks saham, ekonomi mazhab nasionalisme pasti merasa asing dengan sebutan diatas. Apa lagi ditambah data kenaikan penjualan mobil yang berkisar antara 400-600 unit/hari menambah sederetan keterasingan jika bicara tentang  ekonomi mazhab nasionalisme. Rasa asing terebut berubah menjadi sebuah hambatan yang akhirnya menjadi sebuah apriori untuk memelajari ekonomi mazhab nasionalisme. Dan ketika kita memperbincangkan ekonomi mazhab nasionalisme dibeturkan dengan masalah globalisasi atau masyarakat ekonomi 2015 tentunya akhirnya turun ke pertanyaan kemungkinan dan ketidakmungkinan, sehingga menimbulkan berlapis-lapis kesulitan adalah satu kepastian.
Komunitas Konsumen
Kapital, tenaga kerja dan teknologi didalam ilmu ekonomi disebut fungsi produksi cobb-douglass yang menjadi alat analisis popular dalam studi serta penelitian ekonomi. Kaitan ketiganya bersifat intrinsik, dalam arti hanya dengan kaitan mutual ketiganya proses produksi terjadi. Pola itu berlaku pula untuk berbagai barang/jasa yang kita konsumsi.  Selanjutnya barang dan jasa ditawarkan kepada pasar untuk kemudian produsen mendapatkan imbal hasil berupa laba. Barang dan jasa yang telah dilempar ke pasaran tidak otomatis laku seperti yang dikatakan oleh Hukum Say “production creates its own demand”.
Namun pemikiran tersebut hendaknya perlu direvisi ulang. Perkembangan pasar dunia modern telah menciptakan berbagai derivative berbagai macam iklan yang ditawarkan. Sehingga hukum say yang ditolak dan dianggap tidak relevan kini mulai sedikit menemukan sebuah kerelevanan di jaman modern. Beberapa tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2003, Harry B Priono pernah menulis sebuah opini di harian kompas yang menceritakan bahwa permintaan tidaklah bersifat alami. Permintaan dapat dibuat dengan menggunakan kecanggian sebuah iklan dengan sasaran mempengaruhi tiga insting manusia yaitu: nafsu kepemilikan, sifat privilese dan memainkan daya tarik romantisme-sensualitas. Sama seperti sebuah negara yang tidak serta muncul menjadi negara akibat mekanisme pasar tetapi hal tersebut tercipta dari sebuah kesengajaan.
Sepanjang sejarah perekonomian modern Indonesia jarang sekali mengalami underconsumption selalu terjadi overconsumption. Sebagai contoh, data historis dari BPS antara tahun 2007-2009 konsumsi masyarakat Indonesia mengalami peningkatan berturut dari 5% , 5,3% dan 4,9%  atas dasar harga konstan 2000. Maka benarlah statemen wakil Menteri Keuangan dan wakil Menteri Perdagangan bahwa konsumsi domestik yang tinggi merupakan penopang perekonomian dalam negeri. Namun dari data makro yang dipaparkan, kita tidak tahu apakah konsumsi masyarakat yang tinggi merupakan bagian dari normal consumption atau merupakan Konsumerisme? Normal consumption merupakan pembelian barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan sedangkan konsumerisme merupakan sikap yang bermewah-mewahan atau berlebih-lebihan bahkan masuk menjadi sebuah ideology baru emo ergo sum (saya shoping maka saya ada). Nah, sifat konsumerisme inilah yang dibidik oleh perancang iklan dan perusahaan-perusahaan dari Jepang, Cina dan India atau singkatnya multinational corporation (MNC).
Premis Ekonomi Mazhab Nasionalisme
Jantung pemikiran ekonomi mazhab nasionalisme adalah ekonomi pertama-tama merupakan sebuah urusan matan pencaharian (livelihood). Mata pencarian adalah sebuah usaha (effort) untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mungkin ini terdengar sederhana namun sering kita lupakan. Salah satu sebabnya adalah mengartikan sebuah ekonomi dengan mekanisme pasar. Saya tidak menolak adanya mekanisme pasar, tetapi mengartikan ekonomi sama dengan mekanisme pasar adalah sebuah kesesatan yang sangat sesat. Sama dengan mengartikan pendidikan dengan pembelajaran di lembaga formal yang mengeluarkan ijasah. Pemikiran ekonomi mazhab nasionalisme Lantaran diartikan sebagai mekanisme pasar, ekonomi tidal lagi diartikan berurusan dengan mata pencarian tetapi pada sebuah akumulasi (value added). Itulah mengapa istilah ekonomi selalu dikaitkan dengan bisnis sehingga terbentuk mainframe bagaimana mengubah 5 miliar, menjadi 100 miliar kemudian menjadi 1500 miliar dengan atau tanpa mempedulikan tumbuh atau tidaknya mata pencarian.
Salah satu contoh nyata dapat kita lihat pada buku saku dari A. Prasetyanko, bahwa hari ini urusan pangan telah berubah dari urusan moral-ekonomi menjadi sebuah bisnis murni. Hari ini petani lebih senang untuk menanam jagung, kelapa sawit karena mempunyai prospek lebih menguntungkan dari pada menanam padi. Maka tidak-lah kita tergaket-kaget bahwa kita selalu import meskipun ada juga unsure kesengajaan diluar itu. Persoalan menjadi semakin rumit apa bila yang dimaksud petani di buku tersebut bukan-lah petani secara orang per-orang, tetapi industri pertanian yang amat besar seperti: Monsanto, DuPont, Dow Agriscinces dan Syngenta. Maka tidaklah mengherankan untuk dapat melayani dan menjaga akumulasi tersebut tetap ada, maka diterbitkan sebuah wacana-wacana didalam media-media untuk tetap memelihara kelupaan kita tentang urusan mata pencarian tersebut.
Sungguh sebuah ilusi jika kesesatan tersebut merubah Negara ini menjadi lebih baik. Dalam konteks tersebut, ilusi juga bermetamorfosis menjadi sebuah ambisi. Seluruh ambisi tersebut tertuang dalam format rencana jangka panjang pembangunan nasional 2011-2025 salah satunya dipersiapkan untuk menyongsong era bonus demografi. Bahkan ilusi tersebut semakin menjadi dengan timbulnya wacana bahwa jika mayoritas negara kita berhasil memperoleh skor Toefl sebesar 600 maka akan menjadi sebuah negara maju. Ilusi tersebut akan dengan sendirinya memudar jika kita bandingkan persentase kemampuan berbahasa Inggris orang Cina, Korsel, Rusia bahkan Jepang.
Di balik ilusi tersebut pemikiran mazhab nasionalisme bekerja berdasarkan gagasan anti-naturalistik yang berjalan diantara ketegangan abadi antara kehendak bebas individualitas dan keterjeratan sosialitas. Ketegangan tersebut jangan serta merta dicabut dari akarnya yang tentu akan menciptakan sebuah ilusi baru. Dalam kondisi saat ini, mungkin mungkin visi ekonomi mazhab nasionalisme terlalu menyilaukan. Namun, ijinkan saya untuk menurunkan sinar kemilaunya hanya pada tingkatan jika tulisan ini mampu menyentuh hati dan pikiran saja pada para pembaca blog ekonom gila. Selebihnya saya mengucapkan selamat ulang tahun dan saya berharap dapat berjumpa dengan para pendiri blog ekonom gila dalam ruang dan waktu yang entah kapan bisa ditetapkan.

*Studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga.

Investasi Emas, Baikkah…

Oleh: Adib*, 876 kata.
Belakangan, cukup marak masyarakat memperbincangkan investasi dengan emas sebagai salah satu komoditinya. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya pemberitaan dan tulisan baik dari media cetak, koran, bahkan di berbagai seminar yang memperbincangkan masalah investasi emas ini. Emas lebih dipilih oleh para investor daripada komoditi investasi lainnya lantaran emas tidak terpengaruh oleh inflasi (zero inflation effect). Selain itu, harga emas yang terus membumbung naik dalam 10 tahun terakhir ini, hingga saat ini nilainya berada di atas 500.000 per gram, membuat para investor tergiur untuk menginvestasikan modalnya pada logam mulia ini.
Jika kita lihat grafik pergerakan harga emas, secara umum harganya mengalami kenaikan, walaupun tidak dipungkiri, ada juga penurunannya, seperti pada tahun 1980an, tahun 1998, karena adanya krisis moneter, maupun di tahun 2008 karena pengaruh krisis yang melanda Amerika Serikat waktu itu. Harga emas melonjak drastis pada tahun 1980, namun kemudian harganya kembali turun, hingga baru bisa menyamai harga awal pada tahun 2002, atau 26 tahun kemudian. Namun, setelah itu harga emas secara umum melonjak cukup drastis.
Namun, jenis investasi yang cukup ramai diperbincangkan dan dilakukan oleh masyarakat saat ini adalah investasi emas di perbankan syariah maupun di pegadaian syariah, baik dalam bentuk istilah “berkebun emas’, cicilan emas, maupun yang lainnya.
Secara umum, kita pasti sudah tahu apa yang namanya berkebun emas, karena seringnya diperbincangkan di dalam berbagai diskusi. Dalam berkebun emas, kita dapat berinvestasi emas hanya dengan modal sepertiga dari harga emas. Caranya, yaitu dengan menggadaikan emas yang kita miliki, agar mendapatkan dana dari pihak perbankan, lalu membeli lagi emas tersebut di tempat lain, dari modal yang kita dapatkan, dan kiita gadaikan lagi, begitu seterusnya, dilakukan secara berulang-ulang.
Keuntungan tersebut akan diperoleh, apabila setelah panen emas atau setelah kita menebus semua emas yang kita gadaikan, dan asumsinya, dana yang kita peroleh lebih besar dari modal yang kita keluarkan, tentunya setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang ada. Dalam melakukannya, masyarakat memilih perbankan syariah, maupun pegadaian syariah yang sekiranya menawarkan biaya titip yang paling murah, untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Namun, bagaimanakah metode berkebun emas tersebut dalam pandangan islam?
Berbagai versi menyatakan pendapatnya masing-masing. Yang menghalalkan berkebun emas ini, mereka mengambil dalil dalam hukum islam secara umum, yaitu asas ibahah, dimana pada asasnya, segala sesuatu dalam hal bermuamalat boleh dilakukan, sepanjang tidak ada dalil yang melarangnya. Secara umum, belum ada dalil yang mengharamkan metode berkebun emas ini. Apalagi, dengan diperkuat dengan adanya fatwa MUI Nomor 25 tentang rahn, dan juga nomor 26 tentang rahn emas, membuat pihak yang setuju dengan metode berkebun emas ini semakin mantap. Dengan jelas, MUI telah menghalalkan tentang rahn emas, sesuai dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.
Namun, tidak sedikit yang menyatakan bahwa metode berkebun emas ini adalah haram, dan merupakan suatu penyimpangan dalam berbisnis yang islami. Jika dilhat dari akadnya, maka hal ini sudah sesuai syariah, karena mennggunakan akad beli dan gadai. Namun, dalam berkebun emas, permasalahannya bukan dari akadnya. Boleh jadi, akad yang digunakan adalah beli gadai. Namun, sistem yang dibangun secara keseluruhan di sini lebih menjurus ke investasi, dengan menggunakan akad gadai sebagai modal utamanya.
Nah dengan memanfaatkan kenaikan harga sebagai tujuan untuk mendapatkan keuntungan ini, apakah termasuk spekulasi? Setidaknya, motifasi kita dalam membeli emas ada 3. Yaitu trading emas dengan maksud konsumsi, seperti membeli emas sebagai salah satu perhiasan untuk kita pakai. Kedua trading emas dengan maksud utuk lindung nilai (hedging). Dan yang ke tiga adalah trading emas dengan maksud untuk spekulasi.
Jika tujuan investasi emas kita adalah untuk hedging, maka kita cukup membeli emas, lalu kita simpan emas tersebut. Bisa di rumah, maupun di perbankan, agar lebih terjamin. Namun, dalam berkebun emas ini motifnya lebih tertuju ke arah spekulasi, yakni dengan menggadaikannya secara berulang-ulang, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Dalam teori berkebun emas, seperti yang dikemukakan oleh Rully Kustandar misalnya, metode berkebun emas ini cocok untuk investasi jangka panjang, dengan asumsi kenaikan sekitar 30 persen per tahun. Namun, masyarakat lebih cenderung untuk menjual emasnya apabila harga emas tiba-tiba meningkat tajam. Hal seperti ini jelas-jelas adalah suatu spekulasi, dan haram hukumnya, terlepas dari banyaknya pendapat yang mempertanyakan bahwa spekulasi seperti apakah yang dihalalkan.
Yang jelas, berkebun emas lebih menjurus ke arah maysir (gambling), yaitu memperoleh sesuatu dengan sangat mudah tanpa bekerja keras/mendapatkan keuntungan tanpa kerja. Spekulasi atas kenaikan harga emas termasuk maysir, karena tidak prokuktif, dan tidak meningkatkan pasokan barang dan jasa. Hal ini jelas-jelas bahwa pelaku memperoleh suatu manfaat tanpa adanya usaha yang nyata, dan tidak seseuai dengan semangat dan keunggulan ekonomi Islam yang sangat menekankan tumbuhnya sektor riil secara wajar.
Kenaikan yang sangat tajam dari harga suatu aset (emas) merupakan tanda-tanda bahwa gelembung yang terjadi pada harga aset tersebut sudah mendekati titik jenuh. Semakin tinggi pohon yang dinaiki, semakin sakit ketika terjatuh. Semakin tinggi harga emas dan semakin banyak orang yang ikut membeli, maka akan semakin banyak korban ketika harga emas jatuh dan semakin besar kemungkinan krisis mengikuti.
Sehingga, Bank Indonesia berencana untuk membatasi investasi dengan model berkebun emas ini, tidak hanya secara moral dengan menghimbau perbankan syariah untuk membatasi produk gadai emasnya, tetapi, umungkin ke depannya juga akan dilakukan pembatasan dalam melakukan gadai emas di perbankan syariah, yakni maksimal hanya satu kali top up/ gadai saja untuk mencegah terjadinya bubble (penggelembungan) emas.
Boleh saja kita berinvestasi emas, asalkan jangan ikut-ikutan berperilaku spekulatif. Alangkah lebih baiknya jika kita menginvestasikan modal kita dalam bentuk riil dan produktif, untuk meningkatkan perekonomian kita.

* Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.