Sensasi Pasar Tradisional

Ajegile tante, ada gitu sensasinya? Yang ada becek dan bau… Hahaha… ehm… coba deh ada yang mengklaim pasar tradisional sebagai budaya negaranya, jiwa patriot kita berkobar-kobar untuk merebut dan mengakui kembali “Ini Hanya Ada di Indonesia”, “Hanya Milik Indonesia”, dengan berbagai aksi patriotisme romantis abissss… Aaaah sudahlah kok jadi sentimen gitu, kalo mau curcol ya curcol aja gitu looooh…

Well, saya mau dari customer view aja banding-bandingin dikit, soalnya pengelolaan atau dampak perekonomian nggak ahli-ahli banget, apalagi akuntansi untuk pedagang pasar saya tidak menguasai dan nggak tau nyari di mana. Xixixi… Dalam perbandingan ini tentunya dengan modern market (supermarket dan hypermart, berbeda dengan makna pasar tradisional yang well organized yang pernah dibahas EG).

See, Ask, and Go

Inilah kepraktisan yang saya cintai dari pasar tradisional. Datang, lihat, dan kalo nggak kelihatan tanya “jual xxx ga?”, bahkan kalopun ga ada jual masih saya tanyain “yang jual xxx di mana ya?”, kalo udah ada barangnya dan sesuai dengan yang dikamsud tinggal tanya harga, mulailah aktivitas menawar (walaupun beda 1000 atau 500 itu nggak signifikan bagi saia, entah mengapa selalu minta turunin harga… hahaha…), terus bayar, barangnya jangan lupa dibawa, dan pergi. *Hidup pecinta kepraktisan!*

Simple! Ga bikin laper mata (seperti belanja di modern market)! Mau beli apa, ya beli then go! Nggak beli yang nggak perlu dan hemat waktu.

Berasa Ratu

Pembeli adalah raja, katanya orang. Well, berhubung cewek ya ratu dong ya, hahaha… gimana sih tuh rasanya jadi ratu? Coba aja ndiri! Saya sih sedikit-banyak merasa jadi ratu beberapa menit sewaktu belanja di pasar tradisional.

Baru terlihat “kayak mau beli doang” saya ditanyain mau beli apa, kalau ada ditunjukkan ke tempat barang tersebut berada, kalau nggak ada diberi referensi tempat lain yang menjual. Mau beli boleh pakai gaya suka-suka, mau milih sendiri or dipilihin, mau berebutan dan dorong-dorongan juga hayuk… wakakakaka…

Senyuman selalu menghiasi wajah penjual, sambil menyebutkan harga dan menerima bayaran. Udah bayar terus nanya-nanya lagi masih diladenin dan beli yang kelupaan nggak usah pake antri lagi, langsung serobot… Hahaha… senang saia!

Kesepakatan 

Mungkin saya memang lemah dalam memilih dan menawar. Dalam memilih, maklom saja hanya mengandalkan insting dalam memilih soalnya seumur-umur nggak pernah milih sayuran ataupun buahan, kalau daging dan ayam *aiiiiih…* menyentuh saja nggak berani. Kalau menawar yaaa hanya sekedar nawar (formalitas biar ga terkesan oon dan tajir… bedeeeeh…) dan parahnya nggak kekeh nawar… hahahay… gimana seh ini?

Yang saya lihat adalah kesepakatan harga sebagai suatu solusi. Mungkin untuk orang seperti saya yang tergolong newbie berbelanja di pasar tradisional, membuat kesepakatan harga dengan saya adalah perkara mudah bagi penjual! Saya nggak punya referensi harga sih, tapi bukan nggak mungkin kalau saya nantinya tau (semakin kecil asimetri informasi) dan saya berjiwa getol, masih bisa dinego. 

FYI saya price senstive loh kalau belanja di modern market! Saya liat yogurt Cimory dijual 9000 aja saya nggak mau beli, setau saya sih biasanya 6000 lah, dan coba deh kalaupun saya mau nawar, manager G***** nggak bakal nurunin harga Cimory, got it? Di modern market, ada kesepakatan tidak tertulis: Penjual menetapkan harga, dan pembeli beli aja!

Kenyamanan Berbelanja 

Yang menjadi faktor psikologis dan kenyataan bahwa modern market lebih diminati, dikarenakan kenyamanan berbelanja di sana, bersih dan adem. Kalau saya rasa-rasa, ada satu lagi sih: karena nggak ada rasa segan kalau-kalau nggak cocok harga terus nggak jadi beli. Harga telah tertera, pembeli hanya memutuskan. Bahkan ngeliat-liat 1 jam dan megang semua barang tapi nggak beli apa-apa juga boleh, definisi saya: kenyamanan cuci mata!

Memang, kelemahan terbesar dari pasar tradisional adalah kenyamanan berbelanja. Mengapa harus malu untuk sesuatu yang memang nyata-nyatanya benar: pasar tradisional nggak jauh dari kesan jorok! Kita masih bisa memilih yang sesuai dengan mood kok, lagi mau praktis (ini mah tergantung orangnya sebenarnya), memuaskan hasrat nawar or mencari kenyamanan dan cuci mata ;)

***

Ya, gitu deh… sekedar curcol dan berbagi. Lebih suka yang mana, ehm… sensasinya beda-beda sih!

Advertisements

Kreativitas vs Orisinalitas

Seyakin apa Anda untuk mengatakan bahwa ide Anda murni berasal dari pemikiran Anda sendiri, tanpa ada kontribusi dari apa yang pernah dibaca atau didengar? Mungkin tanpa sadar apa yang pernah diri kita pelajari dari sana sini meresap di alam bawah sadar, bergabung dengan ide-ide lain, lalu menghasilkan ide yang baru. Ide baru tersebut disebut kreativitas atau orisinalitas?  

Apa sih batasannya?

Archimedes, orang yang menemukan berat jenis. Penemu gila ini mendapat ide saat masuk ke dalam bak mandi yang penuh air dan meluaplah air di bak tersebut kemudian dihitung volum yang tertumpah. Volum tersebut dibagikan dengan volum air untuk mengetahui berat jenis. Dengan cara yang sama ia membuktikan bahwa berat jenis mahkota akan lebih rendah daripada berat jenis emas murni apabila pembuat mahkota tersebut berlaku curang dan menambahkan perak ataupun logam dengan berat jenis yang lebih rendah. (intermezo:  mungkin ada pertanyaan mengapa saya sering menggunakan teori yang berasal dari ilmu pasti sebagai pembanding, jawabannya: karena ilmu tersebut pasti!). Teori berat jenis yang orisinil?

KFC atau ayam goreng Suharti? Keduanya enak dengan cita rasa yang berbeda, keduanya orisinil, tapi lebih suka yang mana yah tergantung masing-masing lidah. Nggak apple to apple karena walaupun sama-sama ayam tapi berbeda bumbu dan cara pengolahan? Cara pengolahan membuat ayam yang sama-sama ayam mentah menjadi ayam matang yang berbeda. Apa ini, jadi bumbu dan cara pengolahan adalah orisinalitas atau kreativitas?

Ekonom Gila, brand yang bagus kan untuk mendeskripsikan pada orang yang baru saja mendengar/membaca frasa tersebut “ekonom gila”: pasti ada hubungannya dengan ekonomi dan gila? Coba saja kalau 2 orgil itu memutuskan namanya Dodolnomics, apa yang ada di pikiran Anda? Kalau Ekonom Mesum sih, jangankan nulis (mungkin) liat aja saya udah ogah *maklum ntar ada kamera yang lagi shoot saya ngirain saya liat konten mesum lagi… hahaha… memang saya dewan ya? Becanda mulu nih… hahaha… maksud saya, gimana kalau cuma brand-nya saja berbeda tetapi kontennya sama: Ekonom Gila, Dodolnomics, Ekonom Mesum. Jadi, brand kreativitas dan konten orisinalitas? Tapi kontennya nggak muncul serta merta loh, berasal dari gabungan informasi yang disatu-satukan dengan bahasa sendiri. Kreativitas itu adalah orisinalitas?

Renren, produk yang lahir dari pengkondisian sistem tirai bambu China yang tetap ingin sejalan dengan perkembangan dunia. Renren itu Facebook khusus China, yang miripppppp banget (katanya) sama Facebook *nggak tau memang nggak bisa akses atau inet saya yang lemod abis, penasaran juga sama tampilan Renren. Murni kreativitas?

Entahlah, saya sih secara common sense aja bilang yang nggak orisinil itu yah yang niru banget gitu loh.

Kreativitas vs Orisinalitas 

Yang orisinil yang terbaik? Mengapa jejaring pertemanan Friendster nggak dibuka lagi setelah ada Facebook? Hmm… ini contoh ayam ya, jejaring pertemanan sih sama (bahan mentah sama), tetapi fitur beda (bumbu beda). Menurut saya Facebook lebih unggul karena kita benar-benar disentuh kehidupannya, kalau jaman Friendster dulu sih sekedar nulis testimoni untuk dapat testimoni, right?

Di tengah kekalutan akan ada yang menjiplak Ekonom Gila *lebai deh ah… hehehe… saya tadi sih sempat cek dengan googling “ekonom gila” ternyata nggak ada tuh yang mirip-mirip sama Ekonom Gila dan nggak menemukan juga artikel Ekonom Gila yang di copas *copas cantumin sumber sih gpp, itu bantuin promosi. Saya bertanya-tanya: apa sih yang saya takutkan? Kreativitas takkan mati sih sekalipun dicomot, hanya saja ego kita terlukai (ini melanggar HAKI!) tapi secara materi nggak ada yang direnggut kan?

Bagaimana bila sudah berkaitan dengan uang? Misalnya hari ini kita usaha warteg, lumayan rame, untungnya sih kalau kita proyeksikan 1 bulan balik modal. Eh, besoknya tetangga kita buka warteg, menunya persis sama hanya dia melakukan branding dengan spanduk gede warna ngejreng “Warteg G403L” dan gara-gara itu semua yang kemaren beli di warteg kita sekarang ke warteg tetangga! Parahnya setelah kita marah-marah ke warteg tetangga dia malah bilang: lo sih nggak kreatif!

Jadi, apa yang paling penting: orisinalitas atau kreativitas? Atau sebodo amat apa beda keduanya, yang penting ide tersebut menarik dan diinginkan oleh pasar sehingga bisnis kita punya going concern?

Chefnomist

Oleh: Dyah Resty 

Sore-sore makan kue sambil minum teh hangat..ditemani musik dan buku.. Rasanya cozy banget. Iseng-iseng pikiran ini melayang.Ternyata ekonom itu mirip-mirip ya dengan chef?
Chef
Menentukan kebutuhan (ingin masak apa?) Mengecek kelengkapan bahan yang ada (apa cukup atau ada yang kurang untuk membuat masakan yang diinginkan?) Meracik berbagai bahan dan bumbu sesuai takaran sehingga menghasilkan masakan yang lezat di lidah dan bermanfaat juga bagi tubuh.
Ekonom
Menentukan kebutuhan perekonomian negara (Berapa persen pertumbuhan yang ingin dicapai? Berapa banyak pengangguran dan persoalan kemiskinan yang ditargetkan diatasi? Etc). Mengecek kelengkapan infrastruktur, suprastruktur, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk mewujudkan tujuan yang ingin dicapai. Membuat kebijakan, peraturan-peraturan terkait sesuai kebutuhan, berdasarkan takaran, agar tujuan dapat tercapai.
Secara sederhana tampak ada persamaan antara chef dan ekonom. Tapi ternyata ada perbedaannya juga. Chef seminim apapun kemampuannya.. yang namanya chef sudah tentu ahli mengolah makanan menjadi masakan yang lezat. Masakannya disukai sebagian besar orang-orang. Entah orang itu lapar atau tidak.
Sedangkan ekonom..tidak semua kebijakan yang dihasilkannya benar-benar “lezat” dan bermanfaat untuk semua pihak. Tetap saja ada yang dirugikan dari sebuah kebijakan yang diterapkan,entah itu banyak ataupun sedikit. Coba lihat chef masa kini. Mereka sudah tampak seperti Farah Quinn. Memasak dengan kombinasi bahan tradisional dengan cara memasak yang praktis, modern, dan ala barat. Hasilnya adalah masakan yang tampak sederhana cara membuatnya, dan tetap lezat rasanya.
Sama juga kan seperti beberapa ekonom masa kini? Mengombinasikan permasalahan-permasalahan konvensional negara dominasi agraris dengan menggunakan teori-teori modern yang diterapkan di negara lain yang jauh lebih maju sebagai solusinya. Tapi bedanya, untuk yang ini, rasanya nggak selezat masakan ala chef Farah Quinn.
-*-

Woman Loves Money

Oleh: Titoeyt Cherry*

Ketika berjalan kaki sepulang kuliah malam dan menuju halte bus, aku berbincang dengan temanku yang berasal dari Brunei. Aku iseng sekadar tanya tentang Sultan Brunei dan kedua istrinya. Temanku malah balik nanya, istri yang ke-berapa. Dan, ternyata temanku menceritakan kalau istri Sultan Brunei hanya satu semenjak beliau menceraikan kedua istrinya yang kebetulan orang Malaysia. Kutanya alasan kenapa Sultan Brunei menceraikan keduanya, karena kedua istri mudanya suka uang, jawab temanku. Dengan singkat, aku malah menimpali, “Woman loves money…
Singkat cerita, Sultan Brunei itu menceraikan istrinya setelah kedua istri muda itu rupanya mengambil harta suaminya secara diam-diam padahal Sultan bisa memberikannya dengan cuma-cuma jika mereka meminta secara langsung. Ini ilustrasi pertama.
Ilustrasi kedua, di acara keluarga, aku berkumpul dengan saudara-saudaraku dan ketika itu tiba-tiba tanteku berceletuk kepada ayahku untuk minta dicarikan jodoh tetapi inginnya suami yang kaya. Latar belakang tanteku ia adalah wanita yang independen, sudah kerja lebih dari tujuh tahun di kantor akuntan publik tetapi rupanya meski sudah mandiri secara keuangan, calon suami yang kaya menjadi prioritas utamanya.
Ilustrasi ketiga, aku pernah membaca sebuah artikel kalo tidak salah dari Reader Digest Indonesia. Meski kini hidup di jaman modern, simbol kejantanan dan kebetinaan dari kaum adam dan kaum hawa masih berlaku. Dulu, di jaman purba, laki-laki yang kasar, kuat dan keras identik dengan kejantanan di mata perempuan. Mengapa hal ini penting? Karena kehidupan alam di bumi dulu begitu keras dan dengan hidup bersama laki-laki yang kuat dan keras wataknya, perempuan merasa terlindungi. Jaman modern kini berubah, kejantanan tidak identik dengan laki-laki yang berotot, macho atau perkasa bahkan penampilan bisa dikatakan nomor sekian jika di kantongnya banyak pundi-pundi bergemirincing. Sehingga, laki-laki yang banyak uang terlihat jantan di mata perempuan karena dunia modern kini cenderung terkorup oleh materialisme atau apa-apa dilihat dari uang.
Laki-laki yang membaca tulisan saya, mungkin langsung melotot, wah gawat kalo semua perempuan kayak begitu atau ada perempuan yang protes, saya nggak gitu tuh. Analogi perempuan suka uang itu seperti laki-laki suka perempuan cantik. Secara naluriah, laki-laki kalo liat perempuan cantik lupa kalo dia sudah punya pacar atau istri untuk beberapa detik dan menit begitu juga dengan perempuan secara naluriah suka dengan laki-laki yang punya banyak duit.
Hal ini mungkin terlihat sepele, tapi bisa jadi realitas dan fenomena sosial yang ada. Bagi perempuan yang lahir di keluarga menengah ke atas tentu tidak masalah ketika sang ayah mampu memenuhi kebutuhan belanja anak perempuan mereka. Bagi perempuan berpendidikan dan memiliki karir, mereka juga tidak mempermasalahkan ketika pasangan mereka, tidak kaya-kaya amat soalnya mereka sendiri mampu kok. Hanya saja, bagi mereka perempuan yang miskin, atau hidup berkekurangan dan tidak memiliki skill, maka satu-satunya cara adalah menjual diri.
Terkadang kemiskinan membuat orang kufur nikmat, kata pepatah. Jika melihat kasus tahun 2009-2010 tentang pelacuran remaja usia dini dengan iming-iming uang beberapa juta di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, itu sungguh hal yang miris. Tetapi, jangan salah juga terkadang perempuan yang merupakan pekerja kantoran demi mendapat kehidupan yang lebih baik mereka menghalalkan segala cara seperti selingkuh dengan atasan atau merebut suami orang. Ini realitas di kehidupan kota besar seperti di Jakarta. Hingga pernah saya mendengar teman mengatakan hidup di Jakarta terkadang hanya membuat hidup demi uang, berkeluarga dan berusaha mempertahankan agar pasangan tidak selingkuh.
Hal yang menginspirasi saya menulis tentang perempuan dan uang karena beberapa hari yang lalu saya menonton You Tube tentang pelacuran di balik jilbab di Iran. Menyedihkan ketika seorang ibu yang ditinggal suaminya harus melacurkan diri di tengah malam sambil membawa bayinya hanya demi menghidupi dirinya dan bayinya. Ketika kaum hawa seperti saya sedang asyik belajar entah master atau PhD, atau sedang asyik berkerja, ada sekolompok perempuan yang harus terseok-seok di ujung jalan menanti pelanggan hanya demi segenggam uang. Ini realita!
*) Penulis Ekonom Gila (profilnya belum dibuat :P)

Wednomics

Nikah aja kok ribet?! Iya, bener itu… bukan saya loh yang nikah, tapi saya sedang mengamati dan (sedikit) mencari informasi tentang hal tak terlupakan yang ingin dicapai sebuah rangkaian pesta pernikahan yang ribet dan menelan biaya yang dapat membiayai berdirinya sepuluh bahkan lebih usaha kecil.
Lupakan soal makna, mari kita berbicara tentang komponen yang lebih kurang personal: uang. Banyak pasangan muda yang menunda pernikahan karena kendala belum mengumpulkan bekal (uang) yang cukup untuk rangkaian pesta pernikahan. Rangkaian, seperti kereta apa saja? Ya, rangkaian.
Rangkaian Pernikahan
Saat belum memiliki dana yang lumayan saya sudah menceburkan diri untuk mendatangi Wedding Expo yang mengharuskan saya membayar sekian puluh ribu rupiah. Saya termakan bujuk rayu seorang teman yang mengatakan kita bisa icip-icip gratis di dalam (tanpa mengatakan fakta bahwa kita harus berpura-pura akan memesan catering dari pengusaha catering yang kita icip-icip). Yang namanya expo, pasti lengkap dari A sampai Z, mulai dari: foto pra-nikah, perawatan pra-nikah, percetakan undangan, baju pengantin, baju keluarga, baju pengiring, make-up, wedding organizer, sewa gedung dan dekorasi, cincin kawin (kenapa bukan cincin nikah ya), kue pengantin, jasa video dan pemotretan, catering, florist, mc dan hiburan musik, paket honeymoon, bahkan sampai penjual e-frame juga eksis.
Terbayang kan, itu hanya hal-hal umum loh? Ada hal-hal lain yang saya rasa akan dilakukan oleh pasangan yang akan menikah (yang tentunya butuh biaya) seperti: membeli majalah yang membahas pernikahan, mencari tanggal baik, menyebarkan undangan, membeli mahar, mengurus surat-surat pernikahan, lamaran, dan biaya pulsa telpon untuk mengurus ini itu. Ada juga komponen yang free seperti: mengikuti penataran pernikahan (di gereja), membuat wedding blog, menyebarkan undangan melalui facebook.

Pernikahan Spektakuler 2011
Mari kita intip budget yang dihabiskan oleh pernikahan spektakuler di tahun 2011: Pernikahan Pangeran Willian dan Kate Middleton yang akan digelar akhir April 2011 memiliki budget 369 milyar, selengkapnya tentang pernikahan tersebut dapat dilihat dari official website.
Ternyata pernikahan spektakuler tersebut itu bukan hanya besar dari sisi expense, tetapi ada juga potential income yang bisa didatangkan dengan bantuan banyak kreatifitas (selain yang vendor untuk pesta pernikahan). Beberapa contoh:
  • Papa John’s mengeluarkan pizza dengan topping wajah kedua mempelai. Potential income untuk gerai pizza tersebut kan?
  • Fashion. Topi dan gaya berbusana Kate Middleton dijadikan trendsetter. Potential income untuk industri fashion kan?
  • Komik. Dua seniman Inggris Rich Johnston dan Gary Erskine berkolaborasi menghasilkan komik 60 halaman berjudul Kate & William – A Very Public Love Story“. dua seniman Inggris . Potential income untuk kartunis kan?
  • Hingga penjualan kondom dengan gambar pasangan itu di bungkusnya (ini menimbulkan kecaman) 
Memang, untuk cari duit kita harus kreatif ya seperti contoh-contoh di atas?
Tentang Pesta Pernikahan
Saya sempat berpikir untuk mendirikan sebuah wedding organizer di kota kelahiran, kota Padang. Tetapi saya berpikir lagi, apakah mungkin bisa terlaksana ya? Karena pernikahan di sana cenderung sederhana, biasanya diadakan di rumah atau di gedung perhimpunan, dengan gaun pengantin sewaan. Untuk mengurus ini itu nggak ribet. Namun, tetap saja membutuhkan uang yang seperti saya sebut-sebut: dapat membiayai usaha-usaha kecil. Daripada menabung bertahun-tahun atau berhutang untuk biaya pernikahan, apa nggak lebih baik digunakan untuk modal usaha?
Secara pribadi masih bingung dengan aspek ekonomis dan psikologis. Dari sisi ekonomis: toh, esensinya menikah, mengapa harus boros? Lagipula pernikahan saya juga nggak akan memberi inspirasi bagi orang untuk ‘cari-duit’. Dari sisi psikologis: untuk sekali seumur hidup apa nggak wajar untuk dirayakan? Jadi???
* ekonom gila yang sedang dalam dilema *