Spousonomics: Solusi untuk Keretakan Rumah Tangga Anda!

Gara-gara dulu Mas Gilang pernah suggest buku yang kayaknya bagus ini (pas zaman-zamannya Para Ekonom Gila Cinta masih pada mabuk kepayang sekian tipe: galau jomblo, galau nggak laku-laku, galau mau nembak, sampai galau mau nikah) akhirnya saya bela-belain juga membaca ini buku dengan harapan buku ini akan menyelesaikan masalah galau skripsi saya (loh?!? Hahaha~). Buku ini berjudul “Spousonomics: or How to Maximize The Biggest Investment of Your Life” karya Paula Szuchman dan Jenny Anderson. Tulisan ini akhirnya sengaja dibuat khusus untuk kakak seperguruan Ekonom Gila, Mas Syarif, dan kakak pemandu AAI saya zaman dulu, Mbak Kiki. Tapi jangan salahkan saya kalau setelah membaca tulisan ini, aka nada dua kubu pembaca: Kubu yang merasa masalah-masalah rumah tangganya terpecahkan DAN Kubu yang merasa menikah itu kok ya rada merepotkan ya (pendapat pribadi, hahaha~).

Dalam tulisan ini, percaya atau tidak, dalam sebuah survei pada sekian banyak keluarga yang ada di US tentang permasalahan apa yang bisa mereka selesaikan sehingga akhirnya pernikahan mereka bisa awet, top 3 jawabannya adalah: Uang, Anak-Anak, dan yang terakhir… Pekerjaan Rumah Tangga (dan segala tetek-bengeknya). Jadi, lagi-lagi percaya atau tidak, saya akan menuliskan sekian banyak teori ekonomi yang dipakai di buku ini untuk menyelesaikan masalah-masalah rumah tangga tadi (dengan sedikit penyesuaian dengan keadaan di Indonesia dan Teori Comparative Advantage, Teori Efisiensi Pareto (Pareto Efficiency), sampai pada Teori Kegagalan Pasar (Market Failure). Penasaran? Kita lihat pesan-pesan sponsor berikut ini, wehehehe~

Keretakan Rumah Tangga #1

Gara-gara sebegitu banyaknya pekerjaan rumah yang ada, Ani dan Budi (bukan nama sebenarnya) pasangan yang baru menikah 3 bulan memutuskan untuk membagi pekerjaan rumah sama rata berdasarkan bagian rumah depan-belakang. Ani mendapatkan segala pekerjaan yang berhubungan dengan rumah bagian belakang (memasak, mencuci baju, mencuci piring), dan Budi mendapatkan pekerjaan yang berhubungan dengan rumah bagian depan (memotong rumput, mencuci mobil, membersihkan lantai rumah dan halaman). Sekilas tampak sama jumlahnya kan? Tapi mereka tidak bahagia. Kenapa? Karena Ani merasa bebannya lebih berat karena dia memerlukan waktu lama untuk menyelesaikannya, sedangkan Budi dilihatnya selalu cepat selesai dan santai-santai sambil minum kopi.

Teori Comparative Advantage

Setelah Ani menemui pakar “Ekonom Cinta”, Sang EC pun memberikan saran menggunakan Teori Comparative Advantage. Jadi, Ani dan Budi tidak membagi pekerjaan berdasarkan “bagian rumah depan-belakang” tapi dengan “siapa yang bisa selesai lebih cepat”. Katakanlah untuk pekerjaan memasak ternyata Budi bisa menyelesaikannya dalam 20 menit sedangkan Ani baru bisa selesai dalam 40 menit (tentu dengan hasil sama enak loh ya!). Dan ternyata Ani bisa menyelesaikan pekerjaan membersihkan lantai rumah dan halaman dalam waktu 25 menit saja dibanding Budi yang memerlukan waktu 55 menit untuk menyelesaikan semuanya. Hal ini berarti, bahwa mereka bisa membagi pekerjaan berdasarkan kelebihan masing-masing (comparative advantage) untuk mendapatkan hasil yang paling efisien. Bahkan, jika ternyata Ani bisa menyelesaikan banyak pekerjaan dengan waktu lebih sedikit dari Budi, tetap saja ada sesuatu yang bisa mereka “perdagangkan”. Caranya? Budi bisa menawarkan untuk memilih pekerjaaanp-pekerjaan yang rasio waktu penyelesaiannya lebih kecil. Bingung?

Memotong Rumput

Mencuci Mobil

Ani

15’

20’

Budi

20’

35’

Rasio

0,75

0,57

Dari rasio di atas, Budi bisa memilih untuk mencuci mobil dan Ani yang memotong rumput. Tidak efisienkah? Bukankah semuanya lebih cepat jika Ani yang mengerjakan sendiri? Ouch! As if she would like to do that! Tapi karena Budi memang lambat di semuanya, benefit yang bisa diperoleh Ani dari skenario di atas adalah dia bisa saving waktu lima menitnya daripada dia yang mencuci mobil dan Budi yang memotong rumput. Yak! Mudah kan? Tapi ya itu… siap-siap stop watch untuk menghitung seberapa cepat siapa melakukan apa! :)

Keretakan Rumah Tangga #2

Ino dan Bidi (lagi-lagi bukan nama sebenarnya) baru saja menikah. Dan seperti pasangan lainnya, mereka berdua sama-sama bekerja –Ino bekerja sebagai dosen dan Bidi bekerja sebagai salah satu karyawati sebuah perusahaan IT. Tahun-tahun awal pernikahan mereka sangat membahagiakan, setiap hari mereka mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama, bersepeda saat weekends, menonton film baru, dan berbagai hal lainnya. Dan setelah sekian lama berlalu, sebuah hal membahagiakan datang: Bidi pun hamil. Setahun setelah dia melahirkan anak pertamanya, dia melahirkan sepasang anak kembar lagi (produktif sekali mereka, hehehe~). Dan akhirnya Bidi memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurus rumah tangga. Akan tetapi, dia mulai uring-uringan ke Ino karena menurutnya Ino hanya bekerja mencari uang dan tidak pernah membantunya mengurus rumah. Sedangkan menurut Ino, saat dia menawarkan diri untuk membantu, Bidi selalu menolak dan melakukan semuanya sendiri untuk hasil yang terbaik baginya.

Teori Pareto Efficiency

Ada beberapa pilihan untuk pasangan ini, (1) Ino dan Bidi seharusnya bisa mempekerjakan pembantu sehingga Bidi bisa bekerja lagi –yang membuatnya bahagia, (2) Bidi bisa memaksa Ino untuk melakukan setengah pekerjaan rumah tangga yang dibebankan padanya –yang akan membuat Ino merasa keberatan tentu saja. Dan mereka tidak akan menyetjui semua itu. Jadi, mereka bertanya pada Ekoom Cinta dan lagi-lagi sang EC menjelaskan pilihan terbaik mengikuti Teori Pareto Efficiency.

Saat ada delapan potong pizza, aku dan adikku membaginya sama rata –masing-masing mendapat 4 potong. Tapi aku sudah kenyang hanya dengan memakan 2 potong (pencitraan biar aku kelihatan kurus) dan adikku masih lapar walau sudah memakan 4 potong. Jadi aku memberikan dua potongku kepadanya, tanpa aku merasa kurang puas karena bagianku berkurang dan dia merasa puas dengan tambahan bagian itu. Itulah Pareto Efficiency.

Jadi, dengan teori itu, Bidi mulai mengubah pemikirannya. “Jika aku mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga selama semingguan ini, maka aku berhak mendapatkan satu malam free untuk diriku sendiri,” tuturnya. Jadi, setiap sabtu malam, Ino harus pulang cepat dan mengambil alih semua pekerjaan rumah sehingga Bidi bisa mendapatkan waktu luang untuk pergi bersama teman-temannya atau apapun yang dia suka. Ino sangat menyetujuinya, dan Bidi lebih dari puas untuk mendapatkan waktu pribadi untuknya sendiri.

Keretakan Rumah Tangga #3

Setiap pasangan perlu mulai berhati-hati jika menemukan beberapa hal di bawah yang masuk dalam kategori ini:

Karakteristik Market Failure

  1. Jika Sang Istri selalu masak makanan yang terlalu asin, terlalu asam, terlalu pedas, atau terlalu manis.
  2. Jika Sang Istri/Sang Suami mengadakan aksi tutup mulut selama tiga hari berturut-turut.
  3. Jika piring terbang selalu menghiasi setiap pertengkaran kecil/besar yang terjadi di rumah.
  4. Jika Sang Istri/Sang Suami serasa hidup sendiri di bulan dan mengacuhkan yang lainnya.
  5. Jika Sang Istri/Sang Suami memilih tidur di sofa.
  6. Dan silakan ditambah sendiri…

Yak! Memang masih banyak sekali masalah yang muncul di mahligai rumah tangga (padahal aku sendiri belum ngerasain juga, hahaha~) dan banyak teori-teori lain yang bisa dipakai untuk menyelesaikannya (misalnya, Sunk Cost! Ini diahas di lain kesempatan yaaa~).

Nah! Ada yang mau coba mengaplikasikan teori-teori Spousonomics (alias teori couple) ini bersama Sang Penulis artikel? Silakan kirim CV atau Short Profile ke andihime@gmail.com under the subject of “Spouse Application” no longer than August 31st, 2012. Only shortlisted candidates notified for further interview. Any inquiries, feel free to send to the same email :)

Revolusi Ekonomi Spektakuler: Dimulai dari Gadis 12 Tahun

*Dwi Andi Rohmatika, 843 kata

Pendidikan. Pengangguran. Kemiskinan.

Solusinya bukanlah internet. Solusinya bukan pula ilmu pengetahuan. Solusinya juga bukan pemerintah.

Solusinya adalah: Anak Perempuan…

Artikel ini terinspirasi oleh kisah masa kecil Sang Penulis dengan teman sekelasnya, sebut saja namanya Siti, di sebuah desa kecil di pedalaman daerah Sragen sana. Tepat ketika Si Penulis dan Siti sama-sama lulus SD, tiba-tiba saja Siti tidak bisa meneruskan sekolahnya lagi. Kenapa? Hanya satu kata yang keluar dari mulut Siti: Aku akan menikah. Si Penulis waktu itu tidak sempat menghadiri pernikahan Siti karena jauhnya desa Siti. Sekian tahun berselang, Si Penulis akhirnya bertemu dengan Siti lagi. Dia hidup di rumah yang sangat sederhana, bersama dengan ketiga anaknya. Sehari-hari, dia hanya mengasuh anaknya dan mengurus sepetak tanah yang tak seberapa. Suaminya bekerja sebagai tukang kayu di desanya. Jelas, kehidupan mereka jauh dari kata sejahtera.

Lebih dari 600 juta anak perempuan tinggal di negara-negara berkembang (Population Reference Bureau Database, 2007). Di Indonesia sendiri, anak-anak perempuan berumur 10-24 tahun berjumlah sekitar 33 juta jiwa dan mereka yang berumur 15-19 tahun menempati jumlah tertinggi dari periode umur lima tahunan lainnya (Populasi Penduduk Indonesia BPS, 2011). Ketika kehidupan mereka menjadi lebih baik, bukan hanya 33 juta jiwa tersebut yang menjadi lebih baik, tetapi kehidupan semua orang di sekitarnya dan kehidupan generasi yang akan datang tentu bisa menjadi lebih baik.

Ah, Masa’ iya? Bo’ong kali…

Ketika seorang anak perempuan di negara berkembang mendapatkan pendidikan selama tujuh tahun atau lebih, dia akan menikah empat tahun kemudian dan memiliki anak 2,2 orang lebih sedikit. Ketika wanita dan anak-anak perempuan menerima pendapatan, mereka menginvestasikan 90 persennya pada keluarga mereka, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya menginvestasikannya 30 hingga 40 persen (Fact Sheet dari Girleffect.org, 2011).

Itu adalah kenyataan yang terjadi di banyak negara-negara berkembang. Sedangkan di Indonesia sendiri, 32,6% perempuan menyatakan tidak pernah merasakan waktu luang karena harus terus bekerja. Dalam hal pendidikan, 49,4% perempuan usia sekolah yang keluar dari sekolahnya beralasan ketidakmampuannya dalam membayar biaya sekolah, sedangkan 26,8% lainnya keluar dari sekolah karena menikah (girlsdiscovered.org, 2011).

Jika dilihat-lihat, berapakah umur pembantu (bagi yang punya, atau bisa dicek lewat pembantu yang bekerja di rumah tetangga) yang ada saat ini? Aku tidak berniat memungkiri kalau baby sitter yang ada di rumah tante berumur 8 tahun lebih muda dariku. Ya, sebanyak 45,4% perempuan usia 15-19 tahun yang harus bekerja untuk mendapatkan uang. Tak jarang, mereka harus bekerja berpuluh atau beratus kilometer jauhnya dari rumah.

Di semua tingkat pendidikan, sebuah survei dilakukan pada pekerja yang mempergunakan alat transportasi komuter. Hasilnya, pekerja wanita mendapatkan upah lebih rendah daripada pekerja laki-laki hampir di semua tingkat pendidikan (mulai dari lulusan SD hingga lulusan universitas). Sedangkan secara keseluruhan untuk pekerja yang merantau, meskipun lebih banyak lulusan wanita dalam strata pendidikan yang sama, akan tetapi upah wanita tetap lebih rendah daripada laki-laki secara rata-rata. Kebanyakan dari para anak-anak perempuan dan wanita itupun bekerja di sektor informal (Data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, 2011).

Aku bisa berinvestasi. Kamu juga! ^^

Ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh para remaja wanita ini: ekonomi, pendidikan, perlindungan hukum, pembebasan mereka atas isolasi, pembebasan mereka dari paksaan kehendak orang di sekitarnya. Ketika seorang anak perempuan mulai beranjak remaja, mereka mulai dibebani oleh banyak hal, termasuk membantu mencari nafkah untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Sebagai ilustrasi (ini kisah nyata, loh!): ketika ada anak perempuan dan anak laki-laki yang harus bersekolah, sama-sama SD, tetapi biaya hanya cukup untuk satu orang saja, orang tua biasanya akan memilih meneruskan anak lak-lakinya untuk terus bersekolah meskipun anak perempuannya lebih hebat secara akademik.

Bagaimana cara berinvestasi? Sebagai salah satu sivitas akademika, aku juga akan berusaha memikirkan solusi dari segi pendidikan dan perbaikan perekonomian. Maklum, karena aku juga pemegang tagline: “Think Big, Do Small, Do Now!” maka solusi yang agak “gila” ini juga akan merambah pada apa yang bisa dilakukan saat ini untuk mengubah itu.

Salah satu cara untuk memberikan keterampilan dan pendidikan lanjut bisa dilakukan melalui cara Getok Tular (alias Tipping Point). Misalkan saja apa yang sudah aku coba lakukan pada baby sitter di rumah tante. Di tempat tante, aku dulu mengajari baby sitter di sana ntuk mengenal komputer. Secara basis fundamental yang ada, aku mengajarinya bagaimana cara menyalakan, mengetik, menghitung (Microsoft Word dan Excel), serta mengenalkannya pada internet. Setahun kemudian, dia pergi untuk menjadi TKW di Malaysia. Kni, dia tinggal di desanya. Sudah memiliki akun facebook, dan dia mengajari teman-temannya bagaimana cara mengetik di komputer melalui rental terdekat. Jika dia sudah memiliki modal yang cukup, dia berencana membuat rental sendiri (atau mungkin bahkan warnet).

Memulai usaha pun bisa dengan berbagai cara. Dalam Zag Model (Marty Numeier, 2007) memang ada beberapa cara jitu untuk memulai usaha. Melalui Focus, Difference, dan Trends disertai Communications, model enterpreneurship yang keberlangsungannya bisa terjaga pun bisa dilakukan. Misalnya saja, saat ini sedang banyak tren wanita yang mulai memakai jilbab dengan hiasan dan warna yang bermacam-macam. Maka, memanfaatkan tren tersebut, aku bisa mengajari baby sitter di rumah untuk menyulam dan nantinya hasilnya bisa dijual. Marketing, tentu saja sangat berperan di sini sehingga kelak, ketika dia sudah memiliki rumah sendiri, dia bisa membuka usahanya sendiri.

Ini ideku, apa idemu? ^^


Marketing is All About Choosing: Studi Kasus Bakso Pangsit

Oleh: D.A. Rohmatika

Cerita ini diilhami oleh pengalaman saya yang baru sekitar sebulan ini magang di sebuah perusahaan fast moving consumer goods berskala internasional. Sebagai seorang marketing intern dari jurusan Akuntansi yang tergolong amatir minim pengalaman kerja di bidang marketing, project saya kali ini cukup membuat kurang tidur berhari-hari. Di manakah letak masalahnya? Di sinilah dia berada…

“In univ,u know all the inputs to get an output.But in real case,u even need to identify the processes,and not all inputs available” (Manager, October 19th, 2011)

1. Aku tahu pengen apa, tapi bagaimana?

Di dunia bisnis, tidak segalanya berjalan seperti yang kita tahu “seharusnya” seperti itu dalam teori. Terkadang kita memang tahu tujuannya, meningkatkan profit, misalnya. Tapi bagaimana? Dengan cara apa? Katakanlah seorang pedagang bakso dan mie ayam ingin meningkatkan penjualan dagangannya. Bagaimana dia melakukannya? Dia harus menganalisa (halah, bahasanya buat tukang bakso agak susah dicerna apa ya) konsumennya: yang banyak datang ke sana siapa saja, laki-laki atau perempuan, orang kerja atau pelajar, mereka datang naik apa, biasanya mereka datang sendiri atau bergerombol, sampai pada mereka biasanya makan bakso/mie ayam lebih banyak memakai kecap atau saos.

Selain konsumen, dia juga harus menganalisa hal-hal lainnya, misalnya situasi sekitarnya termasuk kompetisi: Apakah kiosnya dekat dengan kampus, apakah UMR daerah itu naik sehingga gaji pelanggannya juga ikut naik, apakah warung mie ayam yang berada di pojok jalan lebih laris dan ramai darinya dengan mengeluarkan mie ayam jumbo atau apakah warung mie ayam bandung di tikungan jalan itu akan dibuka bulan ini.

Jauh dari kata mudah ataupun simpel seperti kasus-kasus yang ada di dunia perkuliahan, karena terkadang menentukan masalah utamanya saja lama dan berbelit-belit. Misalnya, Pak Tukang Bakso dan Mie Ayam (disingkat Pak Tuboyam) ingin meningkatkan profitnya sebesar 10% per tahunnya. Jika dia ternyata tahu bahwa per bulannya rata-rata ada tambahan 5 orang pelanggan tetap, apakah dia bisa meningkatkan bulan depan menjadi 10 pelanggan? Atau dia tak usah meningkatkan jumlah pelanggan yang datang, tetapi meningkatkan spending value mereka, jika awalnya jumlah pembelian per orang rata-rata hanya Rp10.000,00 apakah dia bisa meningkatkannya menjadi Rp12.000,00? This is not a matter of “giving the right answer” but more to “having the right question”.

2. Aku tahu pengen apa dan harus bagaimana, tapi mana datanya?

Katakanlah Pak Tuboyam akhirnya tahu bahwa meningkatkan spending value pelanggan lebih relevan karena tidak ada kantor baru yang akan dibuka di wilayah itu. Untungnya, dia sangat rajin mendata pelanggan sehingga dari kasirnya dia bisa tahu bahwa 30% pelanggan membeli mie ayam, 30% membeli bakso, dan 40% membeli miso (mie ayam bakso). Dari ketiga dagangannya itu, dia tahu bahwa pembeli mie ayam dan miso rata-rata memesan es jeruk juga sebagai minumannya dan pembeli bakso memesan es teh. Dari sumber yang terpercaya, dia tahu bahwa warung mie ayam di ujung jalan menyediakan pelengkap lain seperti kerupuk, gorengan, maupun camilan keripik. Sayangnya, dia tidak punya data detail tentang komposisi pembelian di warung itu; apakah pembeli mie ayam di sana lebih suka makan mie ayam dengan gorengan, atau kerupuk, atau camilan keripik itu? Atau apakah dia harus menyediakan produk baru; mie ayam pangsit dan bakso pangsit seperti warung yang pernah dia tahu di ujung kota? Apakah produk ini lebih laris dan seberapa lariskah di sana? Atau apakah pembeli bakso di tempatnya lebih suka memakai kecap daripada saos? Bagaimana dengan pembeli mie ayam? Apakah begitu juga? Inilah yang membuat Pak Tuboyam bingung: modalnya terbatas untuk bisa melakukan semua usaha meningkatkan value spending tetapi dia kesulitan memilih karena tidak mempunyai semua data yang dibutuhkan. Marketing is all about choosing.

3. Aku tahu semua data ini, tapi mana yang sesuai?

Akhirnya Pak Tuboyam berhasil mendapatkan banyak sekali data-data dari berbagai sumber: data pertumbuhan penduduk di wilayahnya sampai data jumlah pelanggan dan preferensi produk bakso atau mie ayam yang sering mereka beli. Dari semua data-data yang na’uzubillah banyaknya itu, manakah yang harus dia pakai untuk mendukung analisis dan hipotesisnya? Apakah data peningkatan penjualan saja cukup? Apakah data proporsi pelanggan berdasar gender, tingkat penghasilan, atau preferensi produk saja cukup? Apakah data jumlah pelanggan yang datang ke warung saingannya bisa dipakai untuk memprediksi pendapatannya? Semua data itu nantinya harus diolah dan dianalisis, dan karena keterbatasan waktu maka Pak Tuboyam harus pintar-pintar mengekstrak data mana yang kira-kira bisa mendukung hipotesisnya.

4. Jadi, dari mana aku harus mulai…?

Yak, setelah berpanjang-lebar menganalisis Pak Tuboyam dari atas-bawah-samping, mendingan diurutkan saja biar jadi lebih sistemastis. Semuanya diawali dari WHO yang kemudian menjadi WHAT dan akhirnya HOW (teori-teori pemasaran pada umumnya, hanya lebih simpel). Tapi semua itu tidak terpisah satu sama lain loh, semuanya saling berkaitan. Bahkan, jika ada yang ganjil, bisa saja kembali lagi ke fase sebelumnya dan mengutak-atik lagi.

Misalnya, Pak Tuboyam akhirnya lebih memilih WHO sebagai target pasar adalah pria umur 18-30 yang hobi makan siang di luar, bekerja atau kuliah yang terletak sekitar warungnya, suka mendengarkan musik Indonesia terbaru, sudah memiliki pasangan, berpenghasilan minimal Rp700.000,00 per bulan, dan yang lainnya. Ketika dia masuk ke WHAT dan mengambil keputusan untuk menambah produknya dengan mie ayam pangsit, dia menemukan fakta bahwa pria rata-rata lebih suka makan mie ayam dan wanita lebih suka makan bakso. Data lainnya, ternyata setiap periode Februari-Maret, ternyata banyak pelanggan wanitanya yang jadi sering makan di sana dan pelanggan prianya tiba-tiba jadian/menikah dan mengajak pasangannya makan di sana. Kembalilah dia ke WHO dan karena rencananya adalah meningkatkan pendapatan dalam tiga bulan ke depan, maka akhirnya dia berkeputusan untuk membatalkan fokus spending value bagi pelanggan prianya, tetapi lebih pada pelanggan wanitanya dengan mengeluarkan produk bakso pangsit.

Setelah itu dia menuju ke HOW yang lebih kepada bagaimana caranya agar para pelanggan wanitanya banyak yang membeli bakso pangsit ini. Mulailah dia membuat pilihan-pilihan lagi: menawarkan diskon khusus, ladies day (setiap hari ini jika makan ke sana maka minuman gratis), sampai memasang poster-poster artis cowok Korea yang sekarang sedang digandrungi. Kembali lagi karena jangka waktu target penjualannya yang sempit dan budget yang terbatas, dia harus memilih opsi yang paling baik di antara semuanya.

“Marketing is all about choosing” (Brand Manager, September 21st, 2011)

Tapi tidak sembarangan memilih, semuanya harus didukung dengan analisis matang dan data yang mumpuni. Jika tak ada, asumsi pun diperbolehkan asal bisa dinalar (tentu saja pembuatan asumsi juga tdak terlepas dari tren penjualan tahun lalu dan data-data yang ada lainnya). Yak, semoga dengan adanya tulisan ini, para calon pedagang bakso dan mie ayam nggak jadi minder, “Dagang bakso aja kok repot.” Atau malah membuat bingung pedagang yang sudah ada, “Oalah, Mbak… mau nambah menu bakso pangsit aja kok mikirnya ribet, kelamaan.” Yah, namanya juga contoh ^^ Beginilah the real business world

Teka-Teki Akuntansi

Oleh: D. A. Rohmatika

Diambil dari status Facebook salah satu teman saya, sebut saja dia Putri (ya memang itu namanya, haha). Soalnya susah loh… Mau tahu? Begini katanya:

“Aku jadi pusing… Aku mau beli kapal jadi aku hutang A = 50 juta dan B = 50 juta sehingga totalnya = 100 juta. Aku membeli kapal dengan harga 97 juta, jadi uangnya sisa 3 juta. Untuk mengurangi hutang, aku mengembalikan 1 juta ke A, 1 juta ke B, dan 1 juta sisanya aku kantongi. Jadi hutangku dengan si A = 49 juta dan hutang dengan si B = 49 juta. Tetapi bila dijumlahkan = 49 juta + 49 juta = 98 juta + 1 juta di kantongku = totalnya ada 99 juta, padahal tadi awalnya ada 100 juta. Bagaimana ini???”
Pertanyaan ini jangan dikira remeh temeh nggak penting loh. Pertanyaan ini bahkan pernah diterbangkan sesuka hati di ruang T300 alias ruang yang biasa dipakai untuk pendadaran. Jadi, kunci pertanyaannya di mana? Nah, karena pertanyaan inilah si Penulis merasa ilmu akuntansi yang didapat 365 hari x 4 tahun ini ternyata memang benar-benar bermanfaat (lebih banyak manfaat daripada madharatnya *edisi Bulan Ramadhan*). Jadi di manakah kuncinya? Hmm… tahukah rumus dasar akuntansi yang selalu dipakai sejuta umat? Bunyinya:
Aset = Modal + Utang
Kenapa begitu? Karena para akuntan itu adalah orang yang “nyinyir”, “cerewet”, “banyak tanya” dan bukan orang gampangan, terutama gampang percaya (sebutan gampang untuk skeptis). Jadi, daripada omongan orang, dia lebih percaya dengan bukti yang bisa dilihat di depan mata, bisa diitung, diterawang, diraba (quizflash: mirip dengan karakter zodiak apa hayo?). Dasar si akuntan yang banyak tanya, kalau ada aset pasti dia tanya, dapat dari mana? Modal sendiri atau utang orang lain?
Nah, dalam kasus di atas ketika ingin membeli kapal, si aktor yang bingung (sebut saja Bunga) meminjam masing-masing uang 50 juta pada si A dan si B. Jadi, uang yang di tangannya ada 100 juta. Uang yang dipegang Bunga dinamakan aset. Ketika dia membeli kapal seharga 97 juta dan uangnya sisa 3 juta, namanya tetap saja aset hanya saja dalam bentuk uang kas dan kapal (sama-sama bisa dilihat kan? Ini buat lebih gampangnya, nggak termasuk intangible asset yaaa). Nah, saat Bunga mengembalikan uangnya ke si A dan si B masing-masing 1 juta, maka dia tinggal memiliki utang ke si A dan si B masng-masing 49 juta. Lalu uang yang dia pegang 1 juta bagaimana? Benar! Uang itu kalau dijumlah dengan harga kapal totalnya 98 juta, sama dengan total utangnya. Masih bingung? Begini gampangnya…
Aset = Utang + Modal
100 juta (kas) = 50 juta (pinjam si A) + 50 juta (pinjam si B) + 0 (modal sendiri)
97 juta (kapal) + 3 juta (kas) = 50 juta (pinjam si A) + 50 juta (pinjam si B)
Saat Bunga mengembalikan uang pada si A dan si B masing-masing 1 juta maka…
97 juta (kapal) + 1 juta (kas) = 49 juta (pinjam si A) + 49 juta (pinjam si B)
Mudah kan? Ternyata hanya seperti itu ya… hahaha~ Inilah salah satu kegunaan Akuntansi! :)

Sorry, Won Bin… LG Put Your CF in a Wrong Place…

When marketing to a woman, do not forget her husband. When marketing to a girl, do not forget her mother. When marketing to parents, do not forget their children. (Assoc. Prof. Hooi Den Huan, 2009 – NTU)

Oleh: Dwi Andi Rohmatika

It is actually an unfinished research driven from a silly question after watching LG advertisements in Indonesia. Well, what’s wrong with that? Yes, I realized that unique difference also after having a short discussion with Prof. Maykel. So, let me explain a little bit about this silly-yet-interesting matter.

So, what is wrong with Won Bin then? Does he make something weird in the commercial film (CF) or what? Well, no he doesn’t. But he himself in the LG advertisement is weird! Yet, I am saying this upon the Indonesian consumers’ point of view. I absolutely recognize that Won Bin is extremely well-known in Indonesia since he is a senior actor and his dramas are very famous (lets say, there were Endless Love, Hotelier, etc when I was a teens). However, the purchasing behavior in Indonesia is indeed “different” from what LG try to portray.
In marketing world, it has been known that opposite gender will attract another gender very well. That is why we often found out a beautiful-sexy-seducing model on the automotive showroom. Well, it does not necessarily relate to every kind of products. Of course you need a girl to advertise a lipstick or cosmetic products to other girls. But for some certain products, the “sex appeal” matters here.
Lets take the example of other electronics ads on TV screen in Indonesia, mostly using beautiful women appear; Kathy Sharon and Julie Estelle for Sharp fridge ads, Mulan for TV ads, Sherina for TV ads also, and Agnes Monica for LG TV ads few years ago. Well, all of them use women in their ads, don’t they? And I do think this is driven by one motive: most consumers in Indonesia are men! Well, it is men (or husbands) who act as decision makers for such electronic tools, though.

Abother TV Ads -Mostly Using Women Models in Indonesia

Personally, I think what makes LG uses this international ads in Indonesia is because of the Korean rising (or hallyu wave) in Indonesia. But, this trend mostly get “teens fever” and could not be generalized to all people in Indonesia. Although my mother might watch the Korean dramas, I don’t think she remembers the actor’s name. Or even I don’t think she realizes their appearances in any CF. So, I consider this matter as a second problem.
Well, no offense though. I don’t say that it is wrong to put such Korean faces on Indonesian ads. All they have to do is observe the consumers thoroughly and carefully examine the impact of the ads. The result of my skimming examination still see that put women on such ads is the best choices. So, giving the ads of Lee Young Ah (another model of LG) in Indonesia will be better.

Lee Young Ah -LG Ads

And to overcome the second problem I elaborate above, using the Indonesian artists as a brand ambassador is still much better to be recognized among people on their 20s-40s. Using Korean stars on ads could give best impact to teens (or people who are concerned as hallyu wave lovers). Therefore, as I said earlier, this article is just a raw hypothesis only. If any of readers could get any data about the numbers of LG TV sold before and after Won Bin’s CF in Indonesia, then it could strengthen (or destroy) this hypothesis. As what I know, Samsung also using Hyun Bin’s CF to advertise its TV. Is this action pulled out by the success of Won Bin’s LG CF or this ads is used because LG does? We don’t know the answer as long as the data doesn’t exist then.