Business Valuation at A Glance

By: Dipta Dharmesti

I actually write this to make an easy way to recall my memory about my job description. Last year, I worked in a medicine factory as a quality assurance specialist. But now I am a business valuation analyst of an American business valuation company. When my friends ask me, “Where do you work at?” My answer is, “In a business valuation company.” Then they ask, “What is business valuation?”

Business valuation company is not popular in the country where I live, Indonesia. Here, people don’t even care about valuing a business, because they don’t know the purpose of business valuation. Let me explain, there are several reasons for a company to know their business value: employee stock options (ESOP) sharing, gift or property tax (if they want to share the tax income of some properties they have), stock options, partnership, marital dissolution, and more.

Business valuation is in the area of finance and accounting and I am totally new for this job. What do I do in my office? The essence of my job is making business valuation reports for the clients. Basically, there are three approaches of valuing a business:

1. Income approach
Each company must have periodical financial statements. It is an analyst’s job to examine the financial statements, especially the revenue or income part, perform some calculations, and conclude the value of the firm or company. There are two major parts to be examined: capitalization of earnings (Cap. Earnings) and discounted cash flows (DCF) or cash flows. By the case and conditions (e.g. valuing controlling or non-controlling, minority or majority interests), analyst will decide to use control premiums or discount to adjust the value.

2. Market approach
Market conditions influence the value of a company. Talking about discounts, there are two kinds of discount considered: Discount of Lack of Control (DLOC) that represents shareholders’ control of the firm, and Discount of Lack of Marketability (DLOM) that represents the ability for a firm to be marketed (sold).

Market approach consists of two methods:
– Public Company (PC) guidelines
This method compares client company’s financial to public companies’ that have similar business. Data collected from subscribed sites, and those subscriptions are expensive. Analyst has to see the business description and sort the companies which have similar business as client’s. Beside the description, analyst had to see those public companies’ sales.

– Merger & Acquisition (M&A) guidelines
When using M&A method, analysts will collect M&A transaction data of certain periods from subscribed sites. Then, like the PC method, sort the data, perform some comparisons and calculations. M&A tends to represent control of the firm, while PC method usually follows the nature of DCF.

Then, the analyst will decide to use control premiums or discounts, based on the case and conditions.

3. Asset approach
This kind of approach is based on client company’s assets. Net Asset Value (NAV) used in this method. Again, analyst’s job is to examine client’s financials and perform some calculations before deciding the company’s value. Control premiums or discounts can be used to adjust the value, based on the company’s conditions.

In a business valuation report, there are company background, profiles, ownership, tax status, economic outlook, and industry analysis, beside the financial methods.

Advertisements

Apakah Atasan yang Baik Harus Galak?

Oleh: Dipta Dharmesti

Sekian tahun yang lalu saya “dicekoki” ilmu manajemen oleh dosen-dosen saya. Salah satunya ilmu untuk men-treatment karyawan, siapa tau di kemudian hari saya jadi bos :D Teori yang satu ini saya pegang sampai sekarang dan selama saya bekerja, teori ini sering nggak diaplikasikan oleh para atasan di tempat kerja saya. Malahan dulu sewaktu saya cerita kalau saya diajari teori ini, saya ditertawakan. Teman-teman saya enggan mengaplikasikannya.

Teori motivasi X dan Y pertama kali dikemukakan oleh Douglas McGregor tahun 1960-an. McGregor mengelompokkan karyawan menjadi 2 tipe, yaitu:

Tipe X
Tipe ini diasumsikan sebagai karyawan yang malas, tidak suka bekerja, dan (cenderung) berpendidikan rendah. Kalau di Indonesia ya SMA ke-bawah. Posisi atau jabatan karyawan ini biasanya level pelaksana atau blue collar. Untuk membuat karyawan tipe ini bekerja adalah dengan supervisi (pengawasan) dan aturan yang ketat. Petunjuk cara bekerja harus diberikan sejelas mungkin dan rinci (ini yang banyak dilanggar juga, si bos sering nggak sabar ngajari bawahannya). Atasan yang galak, rese, dan aturan yang ketat cocok untuk bawahan tipe X ini, supaya tidak menyimpang dari pekerjaannya.

Tipe Y
Tipe Y ini diasumsikan sebagai karyawan yang suka bekerja dan (cenderung) berpendidikan tinggi. Sarjana ke-atas, lah. Posisi dengan tingkat pendidikan seperti ini biasanya level staf ke atas, atau pengambil keputusan (yang banyak “pakai otak” :p). Oleh karenanya, supaya lebih termotivasi dalam bekerja, karyawan tipe ini lebih suka diberi kebebasan menggunakan otaknya. Kalau salah ya cukup ditegur dengan halus atau disindir. Bila karyawan tipe Y ini diperlakukan seperti karyawan tipe X, maka yang terjadi bukannya kerja produktif, malah jadi sebel dan berantem sama atasannya (lho malah curhat :p).

Contoh yang mudah dipahami untuk mengaplikasikan teori ini adalah dengan melihat bagaimana seorang supervisor lini produksi mendidik para operator mesin, dengan bagaimana seorang manajer mendidik supervisornya. Seharusnya sih berbeda :p

Hal yang mungkin membuat sulit untuk menerapkan teori ini adalah sesuatu yang disebut “seni membaca orang”. Seharusnya seorang atasan memiliki rasa “seni” ini setelah bekerja beberapa saat dengan bawahannya, sehingga dapat mengidentifikasi “tipe” bawahan tersebut, apakah tipe X atau tipe Y.

Hal lainnya yang biasa bermasalah adalah “berkaca sebelum berbuat”. Banyak orang tidak melakukan ini. Padahal hal ini penting lho. Sekedar berbagi informasi, dalam dunia profesi Apoteker, terdapat beberapa kode etik, salah satunya memperlakukan sejawat sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan. Jadi, harus “berkaca” dulu sebelum melakukan sesuatu. Kalau memiliki bawahan yang sudah “terbaca” perilakunya, maka sang atasan hendaknya berpikir dahulu seandainya dia menerapkan suatu kebijakan kepada bawahannya.

Hal sulit yang ketiga adalah tidak mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan, terutama yang berhubungan dengan emosi. Bukan mengesampingkan persaan, karena manusia bukan robot, tetapi bila hal yang membuat bad mood itu ada di luar lingkungan kerja, sebaiknya jangan ditunjukkan saat bekerja, otherwise rekan-rekan kerja Anda yang jadi korban. Contohlah seorang teller atau resepsionis hotel yang tetap tersenyum kepada konsumen, walaupun mungkin sedang jengkel dengan rekan kerja atau keluarganya. So bagi teman-teman yang sudah jadi bos, jadilah bos yang baik bagi bawahan Anda. Bos yang baik nggak harus galak kok :)

Loyalitas = Kesetiaan :)

Oleh: Dipta Dharmesti

Di kuliah Advanced Consumer Behavior beberapa pertemuan yang lalu, ada artikel menarik dari Reto Felix tahun 2009 yang berjudul Explaining Loyalty: The Personal Relationship Analogy. Sekedar bagi-bagi ilmu saja nih, biar lebih mudah memahami “loyalitas” di bidang pemasaran.
Reto Felix membuat perumpamaan untuk menjelaskan loyalitas dengan hubungan sepasang manusia. Menurut dia, loyalitas atau kesetiaan itu ada 6 tipe, yaitu:
1. Behavioral loyalty
Tipe ini diumpamakan sebagai seseorang yang sangat setia dengan pasangannya, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Intinya, kesetiaan itu sudah menjadi habit atau kebiasaan yang wajib dilakukan terhadap pasangannya yang hanya seorang itu, sehingga bila diwujudkan dalam perilaku pembelian suatu merek, yang dibeli ya merek itu terus karena sudah menjadi kebiasaan. Akan aneh bila kebiasaan itu tidak dilakukan.
2. True loyalty
True loyalty diumpamakan sebagai seseorang yang cinta mati pada pasangannya, sehingga ia dapat memahami dan memaafkan keburukan pasangannya itu. Bila sang pacar lupa menjemput, pasangannya masih mau jadi pacarnya. Dalam perilaku konsumen, misalkan saat membeli makanan di rumah makan langganan, bila masakan terasa kurang asin ataupun misalkan kurang kerupuk, pelanggan tersebut masih memaafkan dan mau untuk kembali ke rumah makan itu.
3. Inertia
Ini digambarkan sebagai orang yang pasrah, “aku terpaksa memilih pasanganku itu karena adanya ya hanya dia, yang mau sama aku ya cuma dia.” Kalau diterapkan pada perilaku konsumen, ya, konsumen loyal pada perusahaan karena hanya perusahaan/produk/merek tersebut yang mampu memenuhi kebutuhannya (bisa juga perusahaan monopoli). Contoh: rumah tangga dengan PLN.
4. Latent loyalty
Kalau tipe yang ini sih sering ditemui, yaitu secret admirer. Seorang cowok suka dan setia pada seorang cewek, namun belum berani mengungkapkan perasaannya. Ya, otomatis belum “memiliki” si cewek itu dong. Ini biasa terjadi bila terdapat “halangan” untuk membeli suatu merek yang kita kagumi. Biasanya sih karena budget terbatas. Contohnya: kebanyakan orang setia pada merek mobil BMW, mengaguminya, dan ingin memilikinya, namun apa daya, uang belum cukup untuk membelinya.
5. Multi-brand loyalty
Tipe ini dianalogikan sebagai orang yang berpoligami atau poliandri, punya pasangan lebih dari 1 orang dan setia pada semua pasangannya itu. Ya, dalam perilaku konsumen, ada orang yang setia pada lebih dari 1 merek. Pembeli tipe ini tidak terlalu peduli pada merek, yang penting fungsi produk. Jenis produk yang biasa “diselingkuhi” adalah produk convenience, seperti tissue.
6. Confirmative loyalty
Tipe ini adalah tipe pasangan yang suka ngetes, masih coba-coba. Gimana tuh? Sudah punya pasangan, masih coba-coba sama yang lain untuk menguji. Kalau lebih bagus pasangannya ya dia akan kembali, tapi sebaliknya, bila bagus “yang lain”, ya putus deh… Dalam perilaku konsumen, orang yang sudah setia pada 1 merek kadang-kadang masih mencoba-coba merek yang lain, terutama bila merek itu baru. Kalau merek lama ternyata lebih bagus, ya konsumen itu akan kembali menggunakannya, tapi kalau sebaliknya, si konsumen akan beralih ke merek yang baru.

Termasuk tipe apakah Anda? :)

Marketing (Fun) Facts

Oleh: Dipta Dharmesti
 
Did You know….?

1. Coca-Cola diformulasikan oleh seorang farmasis (seperti saya :) bernama John Pemberton dari Eagle Drug and Chemical Company, Georgia, U.S.A. Penemuan Coca-Cola ini merupakan sebuah bukti bahwa farmasis memang pintar dalam memformulasikan sesuatu, namun bodoh dalam pemasaran (no offense lho… karena saya sendiri juga seorang Apoteker). Pada saat itu, minuman Coca-Wine sedang populer dan Coca-Cola merupakan versi non-alkohol dari wine tersebut. Ini yang membuktikan “kebodohan” sang penemu dalam marketing: Coca-Cola dijual sebagai obat paten! Kalau ditanya obat apa, menurut sang penemu, Coca-Cola dapat menyembuhkan kecanduan morfin, mual, pusing, bahkan impotensi. Hebat ya si Coca-Cola?

Sayangnya, si penemu malah tidak sukses, karena tidak mampu memasarkan produknya dengan baik. Dia menjual formula Coca-Cola kepada beberapa temannya, salah satunya Asa Griggs Candler, seorang pebisnis apotek, bank, dan pabrik obat (bukan Apoteker lho, karena dia jebolan SMU). Di tangan Candler, Coca-Cola mulai dijual sebagai minuman, bukan obat. Candler juga beriklan dengan memasang logo Coca-Cola di berbagai tempat, juga menyediakan “kupon Cola” yang mendongkrak penjualan, begitu seterusnya hingga Coca-Cola Company menjadi besar seperti saat ini. Ya, ahli kimia dan farmasi belum tentu ahli pemasaran bukan? Hehehe….

2. “Kodak”, nama ini tentu tak asing di telinga kita. Para pencetus merek ini konon mencari satu kata yang pas dan dapat dibaca dengan bunyi yang sama di seluruh dunia. Setelah disurvei sana-sini ketemulah nama “Kodak”.

Oh ya, another Kodak’s fact yang bisa jadi pembelajaran dunia marketing adalah jangan terpaku pada satu produk. Pemasar berangkat dari kebutuhan dan keinginan konsumen. Gampang-nya, untuk membajak sawah secara efisien diperlukan suatu alat. Kira-kira mana yang menang: pemasar yang menyediakan traktor atau pemasar yang fokus membuat satu cangkul berkualitas bahkan bertatahkan berlian? Ilustrasi ini membuat kita lebih mudah memahami marketing concept. Demikian pula kasus Kodak. Dulu Kodak dikenal sebagai merek kamera film (langsung cetak!) dan film yang terbaik di dunia. Kodak terus berusaha membuat film berkualitas paling baik. Namun mereka terkena marketing myopia alias terlena dengan film-nya, sampai tidak menyadari adanya “celah” kamera digital yang dikembangkan Sony :) Saat kamera digital muncul, para produsen kamera film dan film terpukul. Bahkan banyak yang bangkrut. Namun, Kodak “selamat” karena mampu mengikuti digitalisasi, walaupun bukan (belum) sebagai market leader lagi.

3. Pernah dengar merek mobil “Datsun”? Sekarang jadi “Nissan”. Pernah kan? Perubahan nama “Datsun” jadi “Nissan” disebabkan oleh pengucapannya. Merek mobil ini juga dipasarkan di Amerika Serikat. Orang sana yang berbahasa inggris tidak suka mengucapkan merek “Datsun” karena mirip dengan pengucapan “dead-son” yang berarti anak laki-laki yang meninggal. Pemasar kemudian mengganti mereknya menjadi “Nissan” yang dibaca seperti “nice-son” yang berarti anak laki-laki yang baik. Wha, padahal kalau di Indonesia kan artinya malah batu kuburan… Tapi orang Indonesia sih cuek aja, yang penting mobil bagus, hehehe… Language matters!

Kedua logo ini masih versi lama


4. Kenal Ronald McDonald? Yup, dia maskot McD yang bentuknya badut tersenyum :) Tapi di Jepang, maskot McD bukan si Ronald, tapi sepupunya Ronald, si Donald McDonald (kayak nama orang Sunda, euy!). Tahukah Anda bedanya? Perhatikan baik-baik senyum kedua maskot ini… Ya, si Donald giginya ga kelihatan! Masih ingat ajaran orang tua yang kalau menguap/tertawa mulutnya ditutupi? Ajaran Jepang juga demikian. Tidak sopan kalau gigi sampai terlihat. Maka, maskot McD di sana dibuat tidak terlihat giginya :D
Selain itu, orang Jepang punya masalah bilang huruf “L”. Kadang-kadang mereka nggak bisa membedakan “R” dengan “L”. Nah, biar selamat, si Ronald digantikan sepupunya: Donald.




5. Bagi penggemar kopi, kalau pergi ke timur tengah mungkin tidak menemukan Starbucks sebanyak di Indonesia. Starbucks mengalami beberapa kesulitan untuk memasuki pasar timur tengah, terutama di Arab. Kesulitan ini disebabkan oleh logo Starbucks. Di Arab (terutama Saudi), logo itu diprotes karena menampilkan sosok wanita tanpa jilbab dengan rambut terurai dan wajah terekspos. Sosok ini tidak sesuai dengan kaidah berpakaian di sana. Sedangkan masalah lainnya, logo tersebut mirip dengan Queen Esther, seorang ratu Yahudi-Persia. Masalahnya, orang timur tengah cukup sensitif dengan Jews atau Yahudi. Akhirnya pihak Starbuck mengklarifikasi bahwa logonya bukan Queen Esther, melainkan putri duyung. Sedangkan kemunculan logo tersebut dikurangi (di cabang Uni Emirat Arab lebih ditonjolkan tulisan “Starbucks Coffee” dengan font khas Starbucks).

Cabang Starbucks di Mall of Uni Arab Emirates