Sulitnya Memahami Dirimu: Panduan Sekilas Memahami Laporan Keuangan

Cinta itu timbul dari pemahaman. Nggak paham maka nggak sayang, betul nggak? Seringkali kita tuh jatuh cinta sama orang yang memahami kita bukan??? So, gimana caranya memahami agar mencintai lembar-lembar laporan yang isinya angka-angka dan bikin pusing itu? Ada makna katanya dibalik semua angka dan beberapa patah kata yang ada di sana, walaupun nih yah bagi sebagian orang: angka dan kata itu hanya bermakna tunggal: musingin!!! Karena ada yang request nih (ahahahaha…. somse banget pake ngeles ada yang request), maka dengan selapis ilmu yang tercantol di kepala dan beberapa pembelajaran kembali, yuk yuk yuk kita ungkap caranya….

Bahan-Bahan Dasar1

Ngemeng-ngemeng soal memahami, bukannya nggak niat juga sih, tapi bingung, harus mulai dari mana yak? Betul??? Pernah kita bahas tentang tujuan laporan keuangan dan jenis-jenis laporan keuangan* dalam ABC of Accounting, monggo disimak.
*penjelasan menggunakan konteks umum yaitu laporan keuangan perusahaan swasta; bukan banking, non-profit, atau pemerintah. 

Sebuah laporan (ada juga yang menyarankan untuk menyebutnya statemen, akan kita bahas kemudian tentang istilah tersebut), terdiri atas elemen-elemen. Elemen merupakan gambaran besar, yang secara rinci terdiri dari pos-pos (item). Ibarat peta, suatu wilayah bisa kita samakan dengan statemen; lalu tanda jalan, jembatan, gunung, dsb dapat kita samakan dengan elemen. Sementara nama-nama jalan itu disamakan dengan pos.

Ada 10 macam elemen dari statemen keuangan: aset, kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distirbusi ke pemilik, laba komprehensif, pendapatan, biaya, untung, rugi; dan seringkali ditambah 3 lagi: aliran kas dari kegiatan operasi, aliran kas dari kegiatan investasi, dan aliran kas dari kegiatan pendanaan. Elemen tersebut kemudian dirinci lagi dalam pos-pos, contoh: aset dirinci dalam pos kas, persediaan, aset tetap, dsb.

Kira-kira harus ngerti nih yang beginian:

Benchmark-nya apa?

Pernah nggak sih kalau pacaran berantemnya gini: kamu berubah, dulu kamu nggak begini! Berarti kita lagi mem-benchmark si pacar dengan dirinya sendiri di masa lampau. Atau seperti ini: mendingan juga si Yoga, dia itu nggak seperti kamu yang begini! Bisa dibilang kita bandingin dengan waras kalau si Yoga itu cowok dan pacar kita itu juga cowok, dan mengapa tiba-tiba kita bandingin sama Yoga? Bisa jadi karena Yoga itu cowok yang menurut kita paling keren (market leader), atau dulu kita punya saham di Yoga atau ada rencana mau balik sama Yoga. Ya, gitulah. Laporan keuangan juga semacam gitu. Info yang ada di laporan keuangan itu kalau nggak dibandingin ke mana-mana ya buat apa juga kita orak-arik, terima saja apa adanya.

Naik-Turun

Udah tau pos yang mau dianalisis, udah tau benchmark yang mau dipakai, terus apa? Naik dan turun. Just like that, dalam konteks bandingin sama tahun lalu kita pengen dapat gambaran tentang kenaikan dan penurunan suatu pos dari tahun lalu.

Caranya mudah, membandingkan angka tahun ini dan tahun lalu. Contohnya: kas. Misalnya: tahun ini 4 juta, sementara tahun lalu 3 juta. Selisihnya = 4 – 3 = 1 atau naik 25%. Bila menurut kita 25% itu material (penting banget karena bedanya kita anggap besar), bisa dicari tau kenapa kok bisa begitu. Umumnya (secara teori sih) bisa kita kaitkan dengan yang lainnya) misalnya piutang dagang mengalami penurunan sebesar 1 juta juga, nah bila hal ini dapat dipastikan kebenarannya, dapat disimpulkan lonjakan 1 juta kas itu berasal dari pelunasan piutang dagang yang lebih lancar tahun ini. Untuk memastikan hal tersebut tentunya butuh waktu, dan biasanya dilakukan oleh auditor.

Dalam konteks bandinginnya dengan market leader di industri yang sama, atau dengan perusahaan dalam bidang sejenis yang ingin dibandingkan, lebih enak kalau menggunakan rasio.

Rasio  

Apa lagi tuh? Ga seribet rumus fisika kok. Rasio adalah perbandingan-perbandingan yang mengandung arti gitu (dalam konteks keuangan). Kok bisa ya laporan keuangan perusahaan yang satu dibandingkan dengan yang lain dan valid nggak tuh kalau dibandingin? Kalau penyusunan laporan keuangannya sama-sama sudah sesuai dengan standar, valid-valid aja.

Lebih dalam pembahasan rasio bisa didalami lewat buku teks atau googling, sekilas bisa lihat di Wikipedia (klik untuk link-nya), contoh cara pakainya gini: kita pakai rasio lancar (current ratio). Rasio ini membandingkan aset lancar dengan kewajiban lancar. Gunanya untuk mengetahui likuiditas keuangan jangka pendek, kalau aset lancar dengan kewajiban lancar sebanding (bila dibandingkan hasilnya satu) atau lebih dapat diartikan nggak ada masalah dalam pembayaran hutang jangka pendek. Apa yang harus kita lakukan? Kita hitung rasio lancar perusahaan A, anggap saja hasilnya 0,8. Lalu perusahaan B, anggap saja hasilnya 1,2. Jadi, misalnya kita mau ngasih hutang jangka pendek, pasti lebih prefer ngasih ke perusahaan B daripada A, soalnya rasio lancarnya lebih bagus. Tapi nggak menutup kemungkinan dikombinasikan dengan analisis lainnya dulu sebelum ada keputusan begitu.

—–

Finish! Kira-kira begitulah temans >.< boleh kalau ada yang mau mengembangkan lebih lanjut tentang: rasio-rasio keuangan ataupun pembahasan tiap elemen laporan keuangan loh :)

Referensi: 

1Suwardjono. Teori Akuntansi: Perekayasaan Laporan Keuangan. Jogjakarta: BPFE-Yogyakarta, 2008. hlm 181-183

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s