Entrepreneurship: It’s All Size

Anak-anak kecil jaman saya, terbiasa dengan cita-cita menjadi: insinyur, dokter, dan presiden. Kayaknya hebat banget gitu ya? Jujur sih, jamn dulu pertama kali naik pesawat, saya pengen jadi pramugari. Mengapa sih kita punya cita-cita dengan image yang hebat begitu? Karena orang tua kita? Karena buku teks saat kita SD dan demikian yang diajarkan guru kita? Karena lagu Susan (yang kalau gede pingin jadi apa)? Padahal ya, setelah kita susah-susah sekolah, bahkan kuliah, cari kerjaan minta ampun susahnya. Udah dapat kerjaanpun, kita masih lirak lirik untuk dapat yang lebih baik (payout-nya). Sebenarnya sederhana saja bukan, cita-cita setiap orang itu sebenarnya sama saja: tidak merasa kekurangan dalam hidupnya. Nggak kurang materi, nggak kurang pamor, nggak kurang segala-galanya, bisa melakukan apa saja yang disukai dan memperoleh yang disukai, intinya nggak kurang bahagia.

Entrepreneurship: sebuah kisah

Ini kisah nyata, saya alami sendiri. Menjalani hari-hari dnegan rutinitas sebagai pekerja kantoran membuat saya jengah. Padahal kerjaan saya tidak termasuk pekerjaan yang day-to-day, maksudnya kerjaan saya nggak sama setiap harinya. Hari ini mungkin berkeliling cari info ke pasar, hari besok bisa jadi ngolah data. Atau hari ini ngintip data pendapatan PT A, kalau besok PT B. Esensi dan prosedur banyak yang sama, hanya saja bervariasi dan mestinya nggak membosankan.

Setelah saya mencoba menjadi entrepreneur dadakan (coba saja, nggak usah banyak mikir), memang ada perbedaan. Waktu itu saya berjualan minuman berbahan dasar potongan agar-agar dan air gula. Saya bebas bereksperimen dengan resep, harga jual, cara menjual, warna, ukuran produk, jam kerja, hingga pada suatu titik: saya nggak merasa bebas lagi. It’s all about money!

Ada suatu keharusan untuk membuat minuman dan mengantar minuman agar saya memperoleh pendapatan dan bisa makan. Lantas apa bedanya dengan keharusan bekerja di kantor di saat saya ingin tidur siang? Bedanya hanya tempat bekerja dan posisi saudara-saudara! Mulai detik itulah saya memperoleh pencerahan tentang entrepreneurship yang bukan berarti: memiliki usaha/ berusaha sendiri.

Lalu entrepreneurship itu apa??? 

Entrepreneurship is the act of being an entrepreneur, which can be defined as “one who undertakes innovations, finance, and business acumen in an effort to transform innovations into economic goods”.

Entreprenur itu bukan punya usaha sendiri, tetapi orang yang mau berusaha lebih, begitu deh kalau mau kita simpulkan dengan ringan. Exactly, inilah kesimpulan yang ada dalam hati saya saat bosan dengan rutinitas membuat minuman sebagai aktifitas menghasilkan uang. Awalnya memang cukup menyenangkan, seperti main game (ahahahahaha…) tapi kenyataan memang berkata lain.

Meskipun banyak teori yang dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan sebuah bisnis, pada prakteknya nggak segampang itu. Sebaliknya, mikir doang tapi NATO (not action talk only) juga adalah pilihan yang nggak bijak, tapi act without well-planning juga nggak bijak kan. Nah loh, pusing kan?! Mau teori yang simple tentang memulai usaha? Ada panduan dua faktor yang bisa dijadikan pedoman: passion dan peluang (pernah dibahas oleh di sini).

Diawali dengan inovasi dan pada akhirnya nggak terlepas dari masalah menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomis (menghasilkan uang). Again, it’s all about money, bukan sekedar inovasi tiada henti yang nggak menghasilkan uang. Namun, intinya bukan uang, tetapi inovasi, begitu begitu begitu bukannnn?

“Punya usaha sendiri” itu juga nggak harus berjualan atau berdagang, termasuk juga kerja lepas (freelance). Dan yang saya lihat, inovasi bukan sekedar sesuatu yang belum ada sebelumnya, tetapi juga cocok dengan apa yang menjadi kebutuhan atau yang tanpa disadari dibutuhkan oleh orang-orang.

Memulai menjadi entrepreneur

Nggak harus punya suatu usaha yang berdiri sendiri. Setelah insaf dan belajar dari yang saya alami sendiri, menjadi entrepreneur itu bukan semata-mata punya cukup uang sebagai modal usaha, lalu memulai usaha dan berharap akan berjalan sesuai harapan.

Bahkan ya, bagi teman-teman yang masih berstatus karyawan, meskipun udah jenuh dan pengen mati di kursi kerja masing-masing, lihatlah kondisi itu sebagai peluang! Kalau saya dapat kembali ke masa-masa itu (hiks hiks…), maksudnya masa saat menjadi pegawai kantoran dan merasa hal tersebut membosankan, justru sebenarnya bisa jadi ajang untuk belajar menjadi entrepreneur.

Banyak hal tentang industri/perusahaan tempat kita bekerja yang dapat dipelajari saat menjadi karyawan, pengetahuan itu juga modal kan. Tentang cara mengerjakan duty kita, bisa dicari cara-cara sendiri yang inovatif, lantas bagaimana agar ide tersebut dapat diterima dan menjadi masuk akal bagi atasan kita. Kalau mau langsung praktek usaha kecil-kecilan, bisa seperti Yoga yang meneropong kebutuhan (yang kadang tidak disadari) orang-orang disekelilingnya: sarapan. Return dari jualan kue buat sarapan di kantornya katanya ngalahin return dari sahamnya.

Intinya, perenungan saya tentang entrepreneruship, yang bisa dibilang bercokol lebih dari 6 bulan namun baru sekarang bisa terungkap dengan kata-kata adalah: apapun yang kita lakukan sekarang dan profesi apapun yang dijalani sekarang, bisa kok menjiwai entrepreneur. Meskipun kalau bukan punya usaha sendiri berarti value-added yang ada dan menghasilkan lebih untuk perusahaan tempat bekerja. It’s all size!

2 thoughts on “Entrepreneurship: It’s All Size

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s