Spiderman’s Career Cycle Part 1

Oleh: Riza Rizky Pratama
Seperti yang dikatakan oleh mbak Oliv, jangan ragu untuk mengeluarkan setiap genggam tacit yang kita miliki. Setelah menyelami beberapa ide yang ada di kepala, sekonyong-konyong muncullah ide untuk kembali mengangkat artikel seputar karir (sebelumnya sudah pernah loch, bisa cekidot di sini). Inspirasi itu datang dari film laba-laba superheroHollywood, Spiderman. Film yang dibintangi oleh Tobey McGuire ini (mirip saya loch haha :P) berkisah tentang seorang pemuda bernama Peter Parker yang mendapat “amanah” superhero setelah digigit laba-laba hasil rekayasa genetika. Film Spiderman telah dibuat dalam 3 seri (ketiganya sudah saya tonton hehe) dan seri keempatnya akan segera dirilis. Eittsss, kok malah jadi bahas film sich?? Ini kan blog ekonomi bukan blog film??. Hehehe tenang saja, saya hanya ingin mengangkat tentang siklus “karir” yang dialami oleh Peter Parker, mulai sebagai mahasiswa culun hingga menjadi pahlawan super yang bermanfaat bagi semua orang serta kaitannya dengan siklus karir kalangan pekerja. Hmmm lantas apa hubungannya siklus karir si spidey dengan siklus karir kalangan pekerja pada umumnya? Untuk mengetahui korelasi di antara keduanya, simak hasil “pertapaan” gila saya berikut ini :-D.

Spiderman’s #1 Career Cycle: Welcome Great Power!!

Alkisah, ada seorang pemuda pintar nan sederhana bernama Peter Parker. Meski pintar namun tampilannya tidak menunjang kecemerlangan otaknya. Jadilah ia mahasiswa culun yang sering dilecehkan teman-temannya. Namun nasibnya berubah ketika ia dan teman-temannya sedang studi tur di sebuah museum di Amerika. Di museum itu dia digigit laba-laba super yang lepas dari sarangnya. Singkat cerita, Peter “resmi” menjadi superhero professional sejak kejadian tersebut.

Ok, terus apa hubungannya dengan siklus karir di dunia kerja? Saya akan sedikit kembali ke bagian awal film garapan Sam Raimi ini agar alur pikir “gila” saya menjadi jelas. Selanjutnya, ketika Peter mulai menyadari bahwa ia dianugerahi kekuatan super, muncullah beragam keinginan dibenaknya. Salah satunya adalah dia ingin membeli mobil agar bisa bergaya di depan Mary Jane a.k.a MJ (tebar pesona :P). Agar keinginannya terwujud, dia kemudian mengikuti kompetisi gulat dengan ganjaran uang tunai yang mampu memenuhi keinginannya tersebut.

Ketika Peter berniat pergi ke kompetisi itu dengan dalih pergi ke perpustakaan kota, Ben Parker (paman Peter) bersikukuh ingin mengantarnya. Meskipun tidak mengetahui niat Peter, insting paman Ben yakin bahwa keponakannya telah mendapatkan kekuatan besar. Singkat cerita, si paman memberikan “petuah sakti” kepada Peter sebelum ia keluar dari mobil: with great power, comes great responsibility. Setelah itu, paman Ben akhirnya mati karena tertembak oleh perampok mobilnya (end of first story, to be continued :P).

Hmmm nampak seperti resensi film ya? Well, saya sengaja menampilkan fragmen itu karena tanpa disadari dibalik cerita itu terkandung pesan siklus pertama ketika memasuki dunia kerja. Siklus itu saya namakan welcome to the jungle (saya namakan sendiri haha). Bagi kalangan fresh graduate (seperti saya :P) atau yang dulu pernah mengalaminya, pasti tidak asing dengan kalimat “sakral” tersebut.

Ya, siapapun kita pastilah bangga ketika berubah status dari hanya seorang mahasiswa menjadi pekerja profesional di bidang masing-masing. Pada masa itu, timbul bermacam-macam keinginan sebagai wujud “kompensasi” atas pekerjaan yang telah kita dapat. Keinginan untuk mentraktir teman, beli barang-barang yang dahulu hanya bisa dilihat di etalase toko (curcol haha), beliin hadiah buat pacar (bagi yang punya :P) dan segudang keinginan lainnya begitu membuncah dalam dada. Eitsss, tapi kita semua perlu ingat nasehat paman Ben tadi.

Mungkin jika dianalogikan dalam konteks karir, paman Ben ingin bilang kepada kita dengan kalimat berikut: with great job, comes great responsibility (halah opo iki :P). Saya dan mungkin juga anda yang berprofesi di bidang apapun terkadang sering lupa bahwa dibalik profesi yang kita lakukan terdapat tanggung jawab besar tidak hanya terhadap diri sendiri tetapi juga keluarga, kerabat dan masyarakat luas. Makna power yang disampaikan paman Ben kepada Peter dapat kita artikan sebagai kekuatan untuk menghasilkan kinerja yang prestatif dan bermanfaat bagi orang lain. Untuk hal yang satu ini, saya pun masih terus belajar :-).

Ok, artikel ini merupakan bagian perdana dari hasil pemikiran saya setelah beberapa kali nonton film Spiderman di televisi (thank you Trans TV :-D). Silahkan diendapkan terlebih dahulu di alam bawah sadar anda sambil menunggu artikel siklus karir Spiderman 2 dan 3 yang tak kalah gokilnya (Pede Abiss :P). Salam Ekonom Gila.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s