Less Pain More Gain yang nggak menyesatkan!

No Pain No Gain. Untaian kata ini udah sering lah kita denger, bahkan kita juga mengiyakan bahwa memang bener kok kayak gitu. Banyak hal yang dikaitkan dengan ide ini, dari kita lahir pun kita sudah belajar tentang kesaklekan teori ini. Merangkak hingga berjalan, kita mampu karena jatuh. No pain no gain. Belajar sepeda juga gitu, nggak langsung bisa. No pain no gain. Sekolah, ga belajar maka ga naik kelas. No pain no gain. Kerja juga, mau gaji gede harus tunjukkan prestasi. No pain no gain.


Ada nggak seeeeeeh yang no pain but gain??? *xixixi… ada nggak ya? Ehm… ini terbukti loh, saya udah googling, adanya sih LESS pain MORE gain… Well, sebenarnya juga sih *aih, mao ngaku apa coba…* mau menyambung artikel yang ada di EG (Ekonom Gila) yaitu: Menguak Mitos Prinsip “mengeluarkan biaya serendah-rendahnya memperoleh pendapatan setinggi-tingginya”.

Biaya dan pendapatan 

Kita bahasakan “less pain more gain” menjadi bahasa yang ekonomi “less expenses more earnings” (biaya serendah-rendahnya dan pendapatan setinggi-tingginya). Siapa sih yang nggak mau? Ya kan?

Untuk memudahkan kita berpikir, butuh asumsi di sini bahwa hasil yang dibicarakan bersifat keuangan belaka *xixixi kok jadi kayak film yang sering nyebut fiktif belaka ya* dan tidak termasuk yang intangible seperti goodwill.

Logikanya, tak ada hasil (pendapatan) bila tak ada upaya (biaya), bukan sebaliknya: ada pendapatan baru ada biaya. Suwardjono juga bilang begitu:

kesatuan usaha harus menghasilkan atau menyediakan barang atau jasa untuk menciptakan pendapatan dengan cara menyerahkan atau menukarkan barang/jasa tersebut.

 Laba yang nggak menyesatkan!

Secara ekonomi, hasil dan biaya tersebut ditandingkan, diliat yang mana yang lebih gede. Ya, ini mah jaman SMA kita juga udah dapat logikanya, bahkan kalo di rumah ada warung yang kita jagain, jaman udah bisa hitungan kita juga udah tau kalo pendapatan lebih gede dari modal (biaya), ya untung (laba). 

Jual beli dan produksi dengan frekuensi yang tinggi, menyebabkan hal mudah ini tak lagi mudah. Menghitung laba menjadi tidak semudah mengurangkan pendapatan dari penjualan dengan biaya yang dikeluarkan. Paling ideal, biaya untuk pendapatan tersebut harus matching *ya gitu deeeh… kayak baju harus matching sama tas dan sepatu… woakakaka…* Ehm, berhubung kitab sakti saya buku Suwardjono, jadi saya mao ngutip lagi: 

diperlukan dasar asosiasi yang tepat dan rasional antara kedua komponen tersebut agar laba mempunyai makna atau nilai sebagai pengukur kinerja yang terandalkan.

Logika Akuntansi untuk Laba 

Laba yang tepat dan rasional tentunya yang bener “sebener-benernya” pengukuran biaya dan pendapatannya. Untuk perusahaan yang berkegiatan terus menerus, biasanya mengalami beberapa hambatan dalam hal pengukuran dan pelaporannya:

  • Biasanya kan laporan keuangan dibuat bulanan tuh, kalau produksi 1000 barang, tapi yang terjual (pendapatan) hanya untuk 100 barang, gimana? *nyablak banget ya, secara ene bukan textbook jadi gpp ea… 

Solusi akuntansi: kos perioda. Untuk memudahkan pendapatan untuk 100 barang ditandingkan dengan biaya untuk 100 barang, sementara 900 barang sisanya dianggap aset (tepatnya pos persediaan). Namun, bukan berarti logika ada pendapatan baru ada biaya berlaku ya. Bedanya adalah ada biaya yang telah diakui (100 barang) dan yang belum diakui (900 barang yang dianggap persediaan). 

  • Hampir sama sih: ada biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi untuk masa waktu tertentu (contoh aja sewa mesin deh 1 tahun sebesar 12 juta dibayar tunai bulan ini), tapi nggak semua dong langsung dijadikan biaya, bisa nggak punya laba bisa-bisa bulan ini…  

Solusi akuntansi: dasar akrual. Asumsikan, produksi tiap bulan rata-rata sama banyak, maka nggak masalah (masuk dong logikanya) kalau kita mau bagi 12 biaya 1 tahun tersebut sebagai biaya bulan ini. Hanya 1 juta yang menjadi biaya bulan ini sementara 11 juta sisanya dianggap aset (tepatnya pos akrual atau biaya dibayar di muka). Nah, tiap bulan akuntan akan mengurangi pos akrual dan menjadikannya biaya (ini namanya di-depresiasi). 

  • Lebih rumit lagi, kebalikan dari contoh 2: uang sewa mesin bayarnya bulan depan aja, si boss bisa nego karena sekarang lagi nggak ada duit, tapi biaya bulan ini kan? Gimana neh melaporkannya?  

Solusi akuntansi: penangguhan (deffering). Tetap dong kita perhitungkan 1 juta tersebut menjadi biaya bulan ini, sebagai tandingannya 1 juta tersebut dianggap kewajiban (tepatnya pos beban tangguhan). 

  • Yang jarang terjadi, mungkin saja karena kompetitor kita satu-satunya ngalamin musibah dan nggak bisa beroperasi lalu semua konsumen beralih kepada kita. Gila, laba menanjak tajam nih, tapiiii kan ini mungkin hanya terjadi sekali dalam seabad…  

Solusi akuntansi: pos luar biasa. Kita laporkan laba itu sebagai untung luar biasa (windfall gains) sehingga nggak bikin rancu. Sebaliknya bila mengalami rugi luar biasa (extraordinary losses) juga dapat dilaporkan terpisah dari biaya biasa. 

Kesimpulan yang sesuai dengan judul:
Jadi, less pain more gain (alias laba segede-gedenya) boleh saja, asal perhitungannya benar sehingga nggak menyesatkan (nggak bikin kecele) pengguna laporan keuangan. Kalau tak cukup baca sekali untuk memahami solusi akuntansi, kita sama. Jangan sedih ya… cup cup… xixixi…


Acuan dan kutipan:
Suwardjono, Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan (Yogyakarta: BPFE, 2008), hlm. 234 – 238.


– hasil perenungan dan penulisan kembali apa yang telah dibaca, semoga dapat menjadi rintisan Accounting for Idiots versi Ekonom Gila – 

2 thoughts on “Less Pain More Gain yang nggak menyesatkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s