Tanggung Jawab Sosial Industri Otomotif dan Segala Seluk Beluk Permasalahannya

Oleh: Rizki Arditya

Awalnya pemikiran ini lahir dari sebuah fenomena sosial Jakarta atau kota besar lainnya yang sepertinya sudah jadi bagian hidup. Ya, kemacetan di mana mana, yang seakan akan terlihat seperti parade mobil dan motor atau pameran otomotif terbesar yang pernah ada namun diadakan setiap hari atau bahasa kerennya “The Biggest Auto Show”, atau bisa juga dibilang jalan raya yang seharusnya sebagai sarana untuk “berjalan” tiba tiba menjadi “lahan parkir” karena macet tidak bergerak!.
Sisi positif dari kejadian ini adalah sebagai sarana untuk silaturahmi antar manusia, karena mobil atau motor susah bergerak kita bisa mengobrol bersama, menambah kenalan, bahkan merokok bersama atau saling menawarkan makanan kecil (Indah nya Silaturahmi). Sisi negatif dari hal ini ya saya yakin anda semua pasti bisa menebaknya. Ya betul! Ledakan eksplosif caci maki, beraneka ragam nama nama hewan bahkan bahasa imajinasi yang tidak ada kesan EYD yang pada kamus bahasa apa pun tidak akan pernah anda temukan.
Okey, sekarang saya mencoba mencurahkan isi hati, sisi positif atau mungkin sisi negatif yang berbaur menjadi sebuah pemikiran dan akhirnya menjadi “surat cinta” ini.
CSR sebagai singkatan dari bahasa Zimbabwe, Corporate Social Responsibility. Entah mengapa yang terlintas pada pikiran saya pertama adalah Industri Otomotif, produsen kendaraan bermotor bukannya pemerintah yang sudah dengan sangat susah payahnya berusaha dan menasihati warga masyarakat untuk memakai kendaraan umum (padahal yang memerintah itu pakai mobil mewah). Cukup sudah curahan hati saya, sekarang kita coba kembali ke permasalahan dan pemikiran saya tadi.
Industri otomotif, salah satu penyumbang terbesar bagi Kas negara kita ini tiap tahunnya selalu mencoba untuk menjual lebih dan lebih atas produk produk andalan mereka. Model model yang mengesankan, performa mesin atau iming iming efisiensi bahan bakar pun terus dikembangkan untuk menarik perhatian, dan menjual sebanyak banyak nya setiap tahun kepada konsumen Indonesia yang bangga disebut sebagai pasar potensial ini (bukan kah seharusnya malu atas “sanjungan” itu). Sebuah pengamatan kecil kecilan pun pernah saya lakukan sewaktu masih kuliah dulu, saya melihat bagaimana dealer dealer otomotif khususnya motor akan selalu “panen besar” atas penjualan produk produk motor di saat para petani di daerah khususnya pedesaan juga panen atas sawah mereka, selalu saja beraneka ragam dealer motor akan datang dan menawarkan kredit motor yang menggiurkan, katakanlah hanya dengan uang 300rb – 500rb rupiah para petani sudah dapat memboyong motor ke rumah. Pertanyaan yang muncul di benak saya adalah, apakah mereka mampu membayar cicilan setiap bulannya? Saya pun mencoba memberanikan diri bertanya kepada salah satu petani, dan alangkah terkejutnya mendengar jawaban mereka “Ya yang penting punya motor Mas, kaya tetangga tetangga yang lain” ada indikasi bahwa ternyata mereka membeli motor salah satunya untuk status sosial, bukan semata mata hanya untuk functional value, ya wajar sebenarnya, namun itu tadi bagaimana dengan cicilan tiap bulannya? Jawaban mereka adalah, “Gampanglah Mas, kalau ga lunas ya paling kan ditarik lagi, yang penting pernah punya motor” Dan kenyataan yang ada pun ternyata sangat banyak kredit kredit kendaraan yang macet di daerah seperti ini. Bukankah ini sebenarnya cukup merusak ekonomi dengan banyaknya kredit kendaraan yang macet? (Mungkin teman teman dari bidang Ilmu Ekonomi bisa membantu).
Saya pun berpikir, mengapa mereka tidak membeli peralatan pertanian seperti traktor atau bajak sawah, atau mungkin hewan ternak, yang jelas bisa menjadi investasi mereka, bukan dengan membeli motor tiap tahunnya yang pada akhirnya harganya pun turun. Hal ini hanyalah sedikit dari permasalahan yang ada khususnya yang berdampak pada ekonomi di daerah daerah kemudian masalah lain yang cukup membuat saya miris adalah banyaknya kendaraan di kota besar yang setiap tahunnya makin membludak. Apakah sebenarnya mereka (produsen otomotif) tidak berpikir bahwa produk mereka terus membanjiri pasar namun sarana wilayah atau jalan raya tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan produk produk hebat mereka? Lalu di sisi lain terkait lingkungan, apakah mesin high tech yang efisien bahan bakar dan menjadi andalan mereka itu pada akhirnya justru malah menjadi alat hebat mutakhir untuk membakar lapisan ozon dan justru terbuang sia sia (sangat efisien kah)?
Sekarang kita lihat tentang CSR, yang seharusnya menjadi wadah solusi atau bentuk kepedulian dan tanggung jawab perusahaan terkait lingkungan di mana mereka tumbuh besar. Kita lihat sebagai contoh, produk sabun kesehatan yang melakukan CSR atau Community Development dengan cara meng edukasi konsumen untuk melakukan gerakan cuci tangan, hal yang cukup relevan dan sangat berguna bukan? Kemudian salah satu perusahaan tambang mineral yang selama ini “merusak tanah” untuk mendapatkan hasil bumi, mereka menerapkan program untuk menanam pohon atau membuat taman dengan menutup kembali lahan garapan mereka dengan tanah yang sebenarnya sudah “dirusak”, serta memberikan penyuluhan dan pelatihan dengan mengikut sertakan warga masyarakat dan komunitas sekitar untuk turut berpartisipasi dan memberikan mereka lahan pekerjaan.
Nah, industri otomotif yang selama ini memberikan solusi transportasi nyaman dengan menjual produk produk andalan mereka, justru malah tidak membuat nyaman dan menyadarkan kita bahwa terkadang jalan kaki ternyata selain sehat juga bisa lebih cepat dan efisien bahan bakar (Yup, saya pernah membuktikannya!). Hal yang mereka lakukan dengan pemahaman CSR mereka adalah dengan membuat program touring keluarga bersama dengan mobil atau motor hasil produksi mereka (menghabiskan bahan bakar dan membuat kemacetan atau tidak menurut anda?), atau malah terkadang membuat perayaan besar dan memberikan undian atas tercapainya target penjualan mereka yang sudah berjuta juta unit (apakah ini bentuk tanggung jawab dan memberikan solusi? Ayo beli terus produk kami ya biar dapat undian lagi!).
Akhirnya saya sebagai orang awam mencoba berpikir mencari sebuah solusi dengan batas pemahaman saya yang apa adanya ini. Apakah lebih baik pada akhirnya jika produsen otomotif melakukan recycle bahan baku atas produk produk lama mereka? Okey penjelasannya adalah, anggap saja saya memiliki sebuah mobil dari produsen A, saya memiliki mobil tersebut sudah 5 tahun atau lebih, kemudian pemikiran konsumtif saya membawa saya untuk ingin membeli mobil model terbaru dari produsen A tersebut, dan pihak dealer produsen A tersebut menawarkan sebuah solusi untuk menjual mobil lama saya tersebut kepada mereka ya seperti tukar tambah dengan mobil baru, berarti saya mendapatkan mobil baru itu dengan potongan harga atas penukaran mobil lama saya, di satu sisi jelas itu cukup menguntungkan bagi saya, kemudian bagi produsen jelas menguntungkan adalah mereka dapat me recycle bahan baku dengan “menghancurkan” mobil model lama itu untuk di cetak kembali bahan baku nya menghasilkan mobil mobil terbaru mereka. Hal ini juga akan membuat konsumen loyal kepada produsen A dengan program potongan harga tersebut, dibandingkan dengan mereka menjual kepada pihak kedua, dan membeli mobil model baru yang pemikiran saya adalah justru menambah populasi kendaraan bermotor.
Pada akhirnya tulisan ini hanyalah sebuah pemikiran dari fenomena yang menurut saya meresahkan dan saya mencoba untuk mencari solusi dengan keterbatasan pikiran saya ditengah stress saya dengan keadaan ini setiap harinya. Semoga pemikiran ini pun bisa menjadi sebuah pilihan dan sedikit solusi, bagaimana pemikiran anda? Mari kita berbagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s